jump to navigation

Berlepas Diri Dari Perwalian Setan Rabu, 3 Oktober, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Love, Artikel.
trackback

tabarra.JPG

WAJIBKAH TABARRA’?
Di dalam Islam ada ajaran penting yang diabaikan oleh kebanyakan umat Islam, yaitu : Tawalla dan Tabarra’, atau Berwali kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman, yang pada artikel sebelumnya saya sebut sebagai Wala Positif atau nama lainnya : Perwalian Ilahi. Dan lawan dari Perwalian Ilahi adalah Wala Negatif atau Perwalian Setan. Terhadap Perwalian Setan ini Al-Quran memerintahkan umat Islam untuk berlepas diri (bara’a) dari mereka.

Perintah Allah Swt atas pondasi penting Islam ini ditegaskan dalam al-Quran : “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung (wali) bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS Al-Anfal [8] ayat 73)

Tak ada lagi bantahan bagi orang-orang yang beriman untuk melaksanakan kewajiban penting ini, jika mereka benar-benar beriman kepada Al-Quran. Jika orang-orang yang ingkar saja melakukan perwalian (walaupun perwalian Setan; lihat saja bagaimana AS, Zionis Israel dan Uni-Eropa satu dengan lainnya saling melindungi) , namun mengapa orang-orang beriman enggan berwali kepada Allah Swt, Rasul-Nya dan Ahlul Bayt? Jika mereka enggan melakukan kewajiban ini, maka pastilah terjadi kekacauan dan kerusakan di muka bumi ini! Demikian Allah Swt mengancam orang-orang yang mengaku beriman.

Di dalam al-Qur’an yang mulia, Allah Swt berfirman : “Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ia (pamannya) itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim tabarra’ (berlepas diri) daripadanya” (QS 9 : 114)

Akar kata tabarra’ adalah bara’a yang artinya kebebasan. Namun istilah ‘tabarra’ berarti : berlepas diri dari wala negatif. Tabarra adalah salah satu dari delapan prinsip di dalam Islam (Shalat, Zakat, Puasa, Khumus, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Hajji, Tawalla wa Tabarra’ dan Jihad).

Kewajiban tabarra’ sama dengan wajibnya shalat, hajji, puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Meninggalkannya pun berdosa sama seperti kita meninggalkan kewajiban-kewajiban agama lainnya. Hanya saja kewajiban ini berhubungan langsung dengan aspek sosial politik, sehingga sedikit orang yang mau membicara­kannya dengan sungguh-sungguh. Hal ini pun karena sebagian kaum muslimin menganggap “tabu” membicarakan politik dalam konteks agama. Bahkan lebih jauh lagi ada yang (kaum sekuler) beranggapan bahwa politik harus dipisahkan dari agama.

TABARRA’ DI DALAM AL-QUR’AN DAN HADIS
Di dalam al-Qur’an yang mulia, Allah Swt berfirman : “Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ia (pamannya) itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim tabarra’ (berlepas diri) daripadanya.” (QS Al-Taubah [9] ayat 114)

“Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri (bari’un) dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am [6] ayat 19)

Prinsip tabarra’ ini mengajarkan kepada kita agar kita memu­tuskan hubungan dengan musuh-musuh Allah, yaitu semua unsur, semua aktivitas yang berhubungan dengan Wilayat Syaitan. Adapun yang dikatakan sebagai Wilayat Syaithan adalah Perwalian yang dipimpin oleh syaithan., baik itu syaithan jin maupun syaithan manusia. Al-Qur’an menyebutkan : “Sesungguhnya kekuasaan (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya sebagai wali (pemimpin, penolong, sahabat, kekasih, atau pun pelindung) dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah” (QS Al-Nahl [16] ayat 100)

Mereka yang termasuk orang-orang yang berwali kepada syaitan adalah: Orang-orang zalim, orang ingkar, orang-orang yang memusuhi orang-orang yang beriman dan para wali Allah.

Di dalam hadis-hadis yang diriwayatkan lewat jalur Ahlul-Bayt jelas-jelas menegaskan bahwa Tawalla dan Tabarra’ telah menjadi salah satu pondasi Islam yang teramat penting.

Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Islam dibangun atas 5 pilar, yaitu : menegakkan shalat, menunaikan zakat, pergi hajji ke Baitullah (Ka’bah), berpuasa di bulan Ramadhan serta berwali kepada Wilayat Ahlul Bayt. Untuk 4 hal (di atas) ada keringanan dari Allah, tetapi tidak demikian dengan Wilayat (Perwalian). Tidak ada keringanan untuk Wilayat atas mereka yang tidak memiliki harta. Sementara kewajiban zakat tidak jatuh bagi mereka yang tidak memiliki harta, begitu pula dengan kewajiban hajji. Bagi mereka yang sakit, Allah memberikan keringannan shalat dengan cara duduk dan bagi mereka yang berpuasa bisa berbuka, namun bagi kewaiban Wilayat, baik orang itu sehat maupun sakit, baik ia mempunyai harta atau tidak, maka ia tetap mesti melaksanakan kewajiban tersebut.” (Syekh Shaduq, Kitab al-Khishal 1:278)

Imam Al-Jawad as berkata :
”Allah telah mewahyukan kepada sebagian nabi-nabi-Nya :
“Adapun zuhudmu terhadap dunia
menyegarkanmu untuk beristirahat.
Adapun keterputusanmu daripada-Ku
merupakan pencelaanmu kepada-Ku.
Tetapi sudahkah kamu memusuhi musuh-musuh-Ku
dan berwali kepada wali-wali-Ku?”

(Bihar al-Anwar 78 : 357)

Laa hawla wa laa quwwata illa billahi.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: