jump to navigation

DARI KETERBATASAN MENUJU KE KESEMPURNAAN (Bagian ke-1) Jumat, 5 Oktober, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Kearifan Universal, Tasawwuf.
trackback

keterbatasan2.JPG

Satrio Pinandito Motinggo

“Wahai manusia!
Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh
menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya”

(Al-Qur’an Surat Al-Insyiqaq ayat 6)

Sejatinya, bebatuan, pepohonan, hewan-hewan dan manusia, semuanya menampakkan kecenderungan mencari kesempurnaan. Kecenderungan batu-batuan membentuk bukit menjadi gunung. Gelombang ombak menggapai ke atas seolah-olah sedang berusaha untuk mencapai sesuatu yang melebihi capaiannya.

Kecenderungan burung juga demikian. Mereka senang terbang di udara dan melayang ke atas. Sedangkan manusia yang merupakan puncak dari segala ciptaan (makhluk), memiliki kecenderungan dari bayi untuk berdiri, bahkan bayi yang belum bisa berdiri, menggerak-gerakkan tangan dan kakinya menunjukkan hasrat untuk berdiri.

Kesemuanya itu menunjukkan hasrat untuk menjadi sempurna. Hukum gravitasi hanya sebagian saja di antara yang kita ketahui dari dunia sains, yang percaya bahwa bumi menarik semua miliknya. Akan tetapi sedikit sekali orang mengetahui bahwa ruh juga menarik segala sesuatu kepadanya, dan ini merupakan sisi lain hukum gravitasi yang sebenarnya sudah lama diketahui oleh para mistikus.

Hukum gravitasi bekerja dari dua sisi; dari sisi bumi yang menarik semua miliknya ke bumi, dari sisi ruh yang menarik semua jiwa kepadanya. Bahkan orang-orang yang tidak menyadari hukum gravitasi ini pun sedang berusaha menuju kesempurnaan, karena jiwa secara terus menerus ditarik menuju ruh.

Mereka juga berjuang menuju kesempurnaan. Dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari juga dapat kita sadari bahwa manusia (kita) tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Ia selalu ingin lebih dan lebih lagi, seperti kedudukan yang lebih tinggi, kekayaan yang lebih banyak atau nama yang lebih masyhur. Manusia selalu berusaha ke arah ini.

MANUSIA TIDAK PERNAH PUAS
Alasan mengapa manusia selalu tidak pernah puas adalah karena ia tidak pernah menyadari bahwa seluruh usahanya itu, sejatinya sedang menuju kepada kesempurnaan. Oleh karena itu orang-orang yang berjuang mencapai kesempurnaan memiliki jalan yang berbeda-beda. Bagaimanapun tiap-tiap atom di alam semesta ditujukan untuk berjuang dan berusaha agar kelak menjadi sempurna.

Dengan kata lain, jika orang bisa melihat apa yang sedang terjadi di gunung-gunung, ia akan mendengar gunung itu terus-menerus berteriak, ‘Kami sedang menunggu suatu hari ketika kami akan dibangkitkan. Akan datang suatu hari kebangkitan, hari penyingkapan.

Diam-diam kami sedang menunggunya.’ Bila kita masuk kedalam hutan dan melihat pohon-pohon tegak berdiri di sana, mereka juga akan berkata kepada kita bahwa mereka sedang menunggu dengan sabar. Semakin lama seseorang duduk di sana semakin terasakan bahwa pohon-pohon itu sedang menunggu hari penyingkapan.

Semua makhluk seperti itu. Akan tetapi manusia karena setiap hari begitu hanyut oleh berbagai tindakan dan ketamakannya, ia menjadi lupa dan tidak lagi sadar akan hasratnya akan penyingkapan, karena tugas kesehariannya, keserakahannya, kekejamannya kepada makhluk-makhluk lain, membuatnya secara terus menerus dikuasai oleh hasrat-hasrat buruk, dan oleh karena itu pula ia menjadi tidak dapat mendengar jeritan jiwanya sendiri, dan mulai kehilangan kesadaran, kepekaannya, dan hasrat akan penyingkapan untuk mencapai puncak, untuk maju dan mencapai kesempurnaan.

DAPATKAH MANUSIA MENCAPAI KESEMPURNAAN?
Sudah merupakan sifat Tuhan untuk merealisasikan kesempurnaan ciptaan-Nya. Seorang seniman berhasrat menelurkan yang terbaik bagi karya-karyanya, karena ada kepuasan baginya. Pada setiap makhluk ada suatu keinginan untuk keluar, yaitu untuk mencapai puncak.

Fitrah manusia juga seperti sifat Tuhan, yaitu kepuasan-Nya terdapat dalam mewujudkan kesempurnaan. Perbedaan kita dengan Tuhan adalah Tuhan itu besar sedangkan kita kecil. Kita terbatas dan Tuhan tidak terbatas. Kita mewakili ketidaksempurnaan dan Tuhan mewakili kesempurnaan. Lalu apakah mungkin manusia mencapai kesempurnaan?

Bila seseorang melihat betapa terbatasnya manusia, maka ia tidak pernah percaya manusia bisa mencapai kesempurnaan. Tidak ada akhir terhadap keterbatasannya dan ia bahkan tidak pernah mengerti apa arti kesempurnaan. Ia menjadi pesimis bila mendengar kata sempurna.

Di dalam sebuah Hadits Qudsi diriwayatkan bahwa Allah SwT telah mewahyukan kepada Nabi Daud as,”Berakhlaklah kamu dengan akhlak-Ku! Sesungguhnya sebagian dari akhlak-Ku adalah sabar!59]

Bisakah kita meniru Allah Yang Mahasempurna? Jika hal itu tidak bisa kita lakukan, maka mustahil Allah memerintahkannya kepada Nabi Daud.

Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya ada kemungkinan ke arah itu. Semua filsafat, semua agama dan ajaran suci condong kepada realisasi yang disebut kesempurnaan.

Filsafat atau agama yang tidak menunjukkan jalan kepada kesempurnaan sudah pasti akan hancur dan gagal. Ada yang hilang di dalamnya. Tetapi jika kita melihat agama sebagai satu dan hakikat agama itu sama di segala zaman, disampaikan oleh para guru umat manusia yang berbeda-beda dan diinspirasikan oleh Satu Ruh Pembimbing dan sama, satu cahaya kearifan dan sama, maka kita dapat melihat mereka semua menerima kebenaran yang sama.

Hanya saja ketika ditafsirkan oleh orang-orang di masa, periode dan ras yang berbeda-beda, agama itu menjadi berbeda-beda pula. Tetapi kebenaran yang mendasari semua agama itu satu dan sama. setiap guru yang mengajarkan bahwa kesempurnaan itu tidak untuk manusia, maka ia justru merusak ajaran yang ada dalam semua agama. Ia tidak memahaminya, karena sesungguhnya objek utama semua agama adalah berjuang mencapai kesempurnaan.

Sebagian ilmuwan mengatakan, ‘Yang kita dambakan di dunia sekarang ini adalah keharmonisan yang lebih besar, perdamaian yang lebih besar, kondisi yang lebih baik. Kami tidak menginginkan kesempurnaan spiritual.’

Sementara kecenderungan setiap orang adalah mencari segala hal selainnya lebih dulu dan baru kemudian mencari kerajaan Allah. Itulah kenapa manusia tidak berkembang menuju kepada kesempurnaan.

Di suatu zaman sebelum Yesus dilahirkan, Budha telah berkata, ‘Ahimsa paramo dharma ha’ ketiadaan marabahaya adalah hakikat agama. Beliau mengajarkan manusia agar bersahabat bahkan kepada serangga yang terkecil sekalipun. Beliau mengajarkan persaudaraan atas segala makhluk.

Sementara kita lebih suka bertengkar, berselisih dan bahkan berperang! Di bawah berbagai kondisi yang ada sekarang ini kita dapat mengharapkan perang di manapun di dunia ini. Kenapa demikian? Semua datang dari mencari kesempurnaan di jalan yang salah. Alih-alih mencari kesempurnaan spiritual, malah mencari kesempurnaan kebumian.

Tetapi apa yang ada di bumi itu terbatas, dan bila seseorang mencari kesempurnaan kebumian, bumi pun tidak akan sanggup menjawab berbagai tuntutan manusia. Apakah yang kita dapat meraih apa yang kita dambakan atau pun tidak, perjuangan akan terus berlangsung.

(Bersambung)

Catatan Kaki :

59] Mustadrak al-wasail 2 : 425, Bihar al-Anwar 79 : 137, Miskan al-Fawaid hlm. 42.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: