jump to navigation

Islam Gincu, Tukul, dan John Lennon Selasa, 9 Oktober, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel, Opini.
trackback

ilham.JPG

Ilham D. Sannang*

 

 

 

Sabtu, 6 Oktober 2007, pk 16.30-17.00 wib. Metro TV. Acara Khazanah Religi Nusantara. Dipandu oleh Prof Komaruddin Hidayat, rektor UIN-Jakarta.

Tamu hari itu adalah Buya Prof. Ahmad Syafii Maarif, mantan ketua umum PP Muhammadiyyah. Topiknya, hubungan Islam dan Barat. Beliau sungguh figur yang tepat untuk topik ini, sebab beliau adalah tokoh muslim yang pernah kuliah di Universitas Chicago, Amerika Serikat di bawah bimbingan F. Rahman yang terkenal itu.

Yang paling berkesan dari acara hari itu adalah sitiran Buya terhadap Moh. Hatta, proklamator RI. Bung Hatta suatu ketika pernah berkata agar kita jangan menjadi Islam Gincu, tapi jadilah Islam Garam. Apa makna?

Gincu terlihat, tapi tidak terasa. Garam sebaliknya, tidak terlihat, tapi terasa.

Lalu Buya menyebutkan contoh. Islam punya prinsip bagus, an-nazhafatu minal iman (kebersihan adalah bagian dari iman). Slogan ini kita hafal dari TK hingga universitas, kita pampang di tempat-tempat sampah dan ruang-ruang publik, tapi realitasnya justru tidak kita temukan dalam lingkungan Indonesia. Lingkungan fisik maupun lingkungan hati pejabat-pejabat kita sungguh jauh dari bersih, terbukti negara kita selalu unggul dalam prestasi korupsi sedunia.

Kontras sekali dengan Singapura. Negara non-muslim ini tidak memampang slogan kebersihan di mana-mana, tapi kebersihan itu dapat kita saksikan di mana-mana. Tong kosong nyaring bunyinya. Tong penuh tak menyaringkan apa-apa.

Perempuan yang kurang PeDe dengan kecantikan wajahnya cenderung memakai gincu, lipstick, bedak, dll segala kosmetik berkilo-kilo di wajahnya bukan? Seringkali kita berlindung di balik topeng-topeng lahir untuk menutupi kekurangan diri-batin. Orang yang minder akan berusaha sekuat tenaga menutupi keminderannya: maka kita lihat gaya-gaya overacting dalam busana, cara bicara, cara makan, cara mencari hiburan, cara belajar, cara beribadah, singkatnya overacting dalam berbagai gaya dan sikap hidup.

Yang kosong “di dalam”, kosong batin, sekuat tenaga akan berusaha mengkompensasi kekosongannya itu dengan memenuhi aspek “luaran”, memenuhi tampilan lahir. Sikap inilah sesungguhnya yang coba disindir oleh Tukul: orang yang isi kepalanya tidak mahir berbahasa Inggris, dan menganggap bahasa Inggris sebagai simbol status — simbol kaum intelek– akan berusaha menghiasi percakapannya dengan berbagai istilah bahasa Inggris supaya dianggap intelek, modern, dan trendi. Hasilnya? Hanya menjadi bahan tertawaan orang.

Sebagian orang, dengan memakai baju koko, serban, dan pici putih, memutar-mutar tasbih, berteriak lantang “Islam rahmatan lil-‘alamin“. Namun perilakunya kasar, wajahnya sangar. Kemana-mana membawa tongkat pemukul yang siap membuat badan memar. Bukan damai dan rahmat, tapi teror yang ditebar. Kata-kata dan sikapnya menebarkan kebencian dan sikap tidak suka masyarakat. Sekuat tenaga mereka berteriak, berkhotbah, “Islam adalah rahmat bagi semua”, tapi sikapnya sendiri tidak membuktikan isi ceramahnya. Maka dia pun jadi tertawaan orang… bukan… justru jadi cibiran dan umpatan orang. Lupakah dia akan sabda nabi, “(ciri) seorang muslim adalah yang orang lain itu selamat dari (kejahatan) lidah dan tangannya”? “Sayangi yang di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu”?

Yang korupsi berusaha mengkompensasi korupsinya dengan naik haji berkali-kali atau menyumbang pembangungan masjid. Kalau pakai serban dan menyumbang masjid, jelas terlihat oleh publik bukan? Namun sikap jujur lebih sulit dilihat. Dan, mungkin lebih sulit dilakukan, karena merupakan sifat batin.

Maka, ketika bicara masalah lahir-batin ini, “Islam gincu” – “Islam garam”-nya Hatta, atau “Islam Sooontoloooooyooooooo”-nya Bung Karno (dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”), kita teringat lagu bagus dari John Lennon berikut ini:

(Liriknya penulis modifikasi agar pesannya menjadi lebih kuat tertancap dalam hati…dari “You” menjadi “I”, dari “your” menjadi “my”, dst). Ada yang tahu lagunya?

Crippled Inside

Artist(Band): John Lennon

I can shine my shoes and wear a suit
I can comb my hair and look quite cute
I can hide my face behind a smile
One thing I can’t hide
Is when I’m crippled inside

I can wear a mask and paint my face
I can call myself the human race
I can wear a collar and a tie
One thing I can’t hide
Is when I’m crippled inside

 

Well now I know that my
Cat has nine lives
Nine lives to itself
But I only got one
And a dog’s life ain’t fun
Mamma take a look outside

 

I can go to church and sing a hymn
I can judge you by the color of your skin
I can live a lie until I die
One thing I can’t hide
Is when I’m crippled inside

 

Well now I know that my
Cat has nine lives
Nine lives to itself
But I only got one
And a dog’s life ain’t fun
Mamma take a look outside

 

One thing I can’t hide
Is when I’m crippled inside
One thing I can’t hide
Is when I’m crippled inside

_____________________________________

*penulis adalah editor di Penerbit Mizan Pelangi.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: