jump to navigation

Janganlah Engkau Bersedih Selasa, 23 Oktober, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Opini.
trackback

jangan-sedih.jpg

Quito R. Motinggo

Rasulullah saww bersabda, ”Barangsiapa yang memandang kepada apa yang ada pada tangan manusia niscaya panjanglah kesedihannya dan kekallah duka citanya” (Bihar al-Anwar 77 : 172)

Tak seorang pun yang tak pernah merasakan kesedihan. Jika Anda seorang milyarder sekali pun, pastilah Anda pernah merasa sedih. Kesedihan datang tidak memandang bulu, apakah ia seorang kaya, miskin, tua, muda, pria, wanita, hatta para nabi dan orang-orang suci pun pernah mengalaminya.

Bagaimanapun  kesedihan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kadang manusia merasa bahagia, dan terkadang pula ia mengalami kesedihan. Tapi apakah sebenarnya kesedihan itu?

Apakah Kesedihan itu?
Seperti perasaan-perasaan lainnya kesedihan tak bisa kita definisikan. Kita hanya bisa melihat tanda-tandanya seperti : kelopak mata yang sayu, bahkan yang sering terjadi adalah airmata menetes atau menangis, kepala senantiasa menunduk, otot-otot melemah, dada menjadi sesak, bibir diturunkan (cemberut). Walaupun semua tanda-tanda ini tidak mutlak sifatnya, namun hampir semua perasaan manusia bisa kita lihat dari bola matanya.

Itulah sebabnya ada ungkapan “Pancaran sinar matamu adalah cermin jiwamu”. Kesedihan dan kegembiraan seseorang bisa kita lihat dari sinar matanya atau air mukanya secara keseluruhan.

Dua Macam Kesedihan
Imam Ali as berkata, “Barangsiapa yang sedih atas urusan dunia, maka dia telah marah pada keputusan Allah…” (Nahjul Balaghah, Hikmah 228)

Perasaan sedih seseorang yang berlebihan atas masalah-masalah duniawinya menunjukkan bahwa ia tidak rela atau ridha atas qadla dan qadar yang telah ditetapkan Allah atasnya. Allah Swt tidak melarang siapa pun yang sedang mengalami kesedihan, toh kesedihan itu merupakan salah satu sifat alami manusia.

Namun jika kesedihan tersebut menjadi berlebihan, yaitu ia tidak lagi mau bersabar atas kesulitan yang dihadapinya, maka Allah Swt menjadi murka kepadanya.

Mungkin hal inilah yang dimaksud dalam perkataan Imam Ja’far al-Shadiq as : “Barangsiapa yang di pagi harinya disedihkan oleh urusan dunia, maka di pagi itu dia berada dalam murka Tuhannya.” (Bihar al-Anwar 77:43)

Nah, inilah yang disebut sebagai kesedihan atas perkara-perkara duniawi.

Para awliya’ (kekasih-kekasih) Allah tidaklah merasa sedih dengan urusan-urusan duniawi mereka. Mereka juga tidak merasa takut dan gentar atas apa yang terjadi atas diri mereka jika semua kesulitan maupun penderitaan itu menyangkut urusan duniawi belaka.

Allah Swt menyifatkan orang-orang seperti ini di dalam Al-Quran yang mulia : “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS Yunus [10] ayat 62)

Namun jika kesedihan itu menyangkut urusan akhirat, seperti kesedihan karena perbuatan dosa atau maksiat yang dilakukannya, maka kesedihan yang seperti ini adalah kesedihan yang terpuji.

Rasulullah Saw diriwayatkan pernah berwasiat kepada sahabat Abu Dzar : “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya orang mukmin itu lebih gelisah terhadap dosanya melebihi kegelisahan seekor burung ketika dimasukkan ke dalam sangkar.” (Al-Thabarsi, Makarim al-Akhlaq, Bab Wasiat Rasulullah Saw kepada Abu Dzar)

Apa Saja Yang Menyebabkan Manusia Menjadi Sedih?

1. Angan-angan dan Syahwat
Manusia sering menjadi sedih karena pengaruh angan-angannya. Rasulullah Saw bersabda, ”Banyaknya angan-angan atas dunia dapat mendatangkan duka dan kesedihan.” (Bihar al-Anwar 73 : 91) Angan-angan seseorang atas perhiasan-perhiasan duniawi (seperti harta, kedudukkan maupun wanita) pada akhirnya akan menimbulkan kesedihan. Karena, umumnya harapan dan angan-angan yang terwujud dan sesuai dengan keinginan kita lebih sedikit ketimbang yang tidak terwujud.

Dan jika terwujud pun kita selalu merasa tidak puas, dan angan-angan lainnya pun muncul dan muncul lagi. Tidak ada habis-habisnya. Semua ini karena angan-angan senantiasa terjebak menjadi budak syahwat kita sendiri. Dan inilah pangkal segala kesedihan kita seperti sabda Rasulullah Saw, ”Seringkali syahwat yang hanya sesaat dapat mewariskan kesedihan yang panjang.” (Bihar al-Anwar 77:82). Tentu saja kesedihan yang panjang di sini adalah kesedihan di akhirat kelak.
Na’udzubillah…

2. Keraguan dan Ketidakridhaan
Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah dengan kebijakan-Nya dan keutamaan-Nya telah menjadikan harapan dan kegembiraan berada dalam keyakinan dan keridhaan dan menjadikan duka dan sedih berada dalam keraguan danm ketidakridhaan.” (Bihar al-Anwar 77:61)

 Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya Allah dengan keadilan-Nya, kebijakan-Nya, dan pengetahuan-Nya, telah menjadikan harapan dan kegembiraan di dalam keyakinan dan keridhaan (kerelaan) atas (ketentuan) Allah dan Dia (juga) telah menjadikan kedukaan dan kesedihan di dalam keraguan. Oleh karena itu ridha-lah engkau kepada (ketentuan) Allah dan berserah-dirilah (pasrah) kepada urusan-Nya.” (Bihar al-Anwar 71:152)

Keraguan, sekali pun disertai optimisme selalu mematahkan gairah dan semangat seseorang. Keraguan juga melemahkan rasa tanggung jawab seseorang atas kewajiban-kewajibannya. Dunia Barat yang saat ini telah sedemikian maju oleh sains dan teknologi justru banyak mendulang ketidakbahagiaan.

Padahal kita semua mengetahui bahwa tujuan awal sains dan teknologi yang selama ini dikejar manusia adalah kebahagiaan manusia itu sendiri, namun ketiadaan keyakinan di dalam pribadi-pribadi manusia modern (Barat) saat ini menjadikan mereka selalu berada dalam penderitaan mental maupun spiritual.

Ironisnya, bangsa-bangsa Muslim di banyak belahan dunia saat ini justru meniru budaya dan pola hidup orang-orang Barat yang jelas-jelas telah berada dalam puncak ketidakbahagiaannya. Sebagian besar dari mereka (kaum Muslim) ustru meninggalkan keyakinan mereka pada Al-Quran maupun ajaran-ajaran Nabi.

Mereka merasa minder dan rendah diri melihat kemajuan duniawi yang diperoleh Barat. “Padahal al-‘izzah (kekuatan, kemuliaan dan kejayaan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (QS Al-Munafiqun [63] ayat 8)

Iman yang lemahlah yang membuat bangsa-bangsa Muslim tidak memiliki rasa percaya diri, selalu bergantung kepada bangsa-bangsa yang justru menginginkan kehancuran bagi Islam. Lihatlah pemerintah Saudi Arabia, lihatlah Pakistan, lihat juga bangsa kita sendiri yang mayoritas adalah kaum Muslim!

Tidakkah mereka pernah membaca ayat ini? Tentu saja mereka pernah dan selalu membacanya, namun mereka tidak memiliki keyakinan yang kuat atas janji-janji Tuhan mereka.

Apakah mereka kaum Muslim di dunia tidak pernah membaca janji-janji Tuhan seperti yang terdapat dalam firman-firman-Nya di bawah ini?

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan  itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’râf [7]:96)

Sayangnya pemimpin-pemimpin bangsa kita lebih memercayai janji-janji AS, si Setan Besar ketimbang janji-jani Tuhan mereka. Mereka melakukan shalat, puasa , zakat dan hajji, namun mereka tidak memercayai bahwa kekuatan yang sebenarnya (The Really Super Power) adalah milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman!

Lihat juga Malaysia! Bangsa ini justru ingin merendahkan dan menghina saudara-saudara Muslimnya, yaitu bangsa Indonesia, namun memuja Barat (Inggeris dan AS) sebagai berhala mereka!

Inilah bukti keraguan mereka atas Al-Quran yang seharusnya menjadi sumber keyakinan mereka dari Yang Maha Kuat, bukan semata-mata menggantungkan diri pada kemakmuran dan teknologi tinggi!

Apakah meeka tidak pernah membaca firman Tuhan mereka :
Janganlah kalian bersikap lemah, dan jangan pula kalian bersedih hati, padahal kalianlah orang-orang yang paling tinggi (mulia), jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran [3] ayat 139)

Apakah mereka tidak melihat bagaimana bangsa Muslim di Iran telah membuktikan kepada seluruh bangsa-bangsa di dunia bahwa Islam benar-benar telah memuliakan dan membahagiakan serta mengangkat derajat mereka setinggi-tingginya?

Mereka tidak takut atas ancaman AS, Uni Eropa dan Israel, karena mereka hanya takut kepada Allah Swt. Walaupun begitu mereka tetap lebih mengutamakan perdamaian ketimbang perseteruan! Laa hawla wa laa quwwata illa billah!
(Besambung)

Iklan

Komentar»

1. puja - Senin, 29 Oktober, 2007

saya sangat berterima kasih atas artikel ini… semoga kita bisa dijauhkan dari segala kesedihan.. krn apapun hidup ini adalah Alloh SWT yang telah memberinya kepada kita… semoga juga kita menjadi orang yang lebih bertaqwa kepada Alloh SWT..amin ya robbal alamin…

2. Quito Riantori - Selasa, 30 Oktober, 2007

Amin..ya..Ilahi Rabbi..terima ksih juga buat Puja..salam sejahtera selalu…

3. aulia - Rabu, 29 Oktober, 2008

rahmat dan perlindungan allah selalu bersama kita..!
insya allah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: