jump to navigation

Kemarahan Membangkitkan Fantasi Selasa, 23 Oktober, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

marah2.jpg

Imam al-Shadiq as mewasiatkan kepada sebagian sahabatnya, “Barangsiapa yang marah kepadamu tiga kali, tetapi ia tidak mengatakan padamu kata-kata yang buruk, maka jadikanlah dia sebagai sahabat dekat(shadiqan)-mu.” 1]

Beberapa hal yang membuat kita sangat marah adalah :
– seseorang menipu atau menghina kita,
– anak yang melawan atau memberontak,
– kekasih yang memperlihatkan perhatiannya yang besar pada orang lain.

Lalu kita memikirkan semua hal tersebut secara terus-menerus; kita senantiasa membicarakannya sehingga menjadi hal-hal tersebut menjadi sebuah obsesi, seperti sebuah film yang diputar berulang-ulang.

Akibatnya yang kita dapatkan adalah kemarahan kita yang justru bertambah. Sebuah riset mendukung gagasan ini. Menurut Ebbesen, Duncan, dan Konecni (1975) baru-baru ini beberapa karyawan yang telah dipecat bersepakat untuk membicarakan tentang rasa permusuhan mereka terhadap perusahaan yang telah memecat mereka. Ternyata pembicaraan ini meningkatkan rasa permusuhan mereka.

Menurut Zillmann (1979), kaum pria bisa lebih mudah mengingat tentang penganiayaan yang mereka alami ketimbang kaum wanita. Menurutnya, kaum pria lebih lama menyimpan kemarahannya ketimbang kaum wanita. Atau dengan kata lain wanita lebih mudah memaafkan ketimbang kaum pria.

Kita tidak biasa menemui seseorang yang selama bertahun-tahun menyimpan kemarahannya dan kemarahannya itu meledak ketika ia menjumpai kembali mantan istri atau mantan suaminya atau orangtuanya atau bahkan bosnya yang pernah ‘menjajahnya’. Agaknya ingatan-ingatan yang tidak menyenangkan memelihara sebuah dendam yang pada gilirannya menjadi bahan bakar lebih bagi fantasi-fantasi agresif.

Tampaknya ada 2 elemen yang dapat membangkitkan kemarahan seseorang:

(1) fantasi-fantasi yang mengobsesi permusuhan dan

(2) ketiadaan imajinasi kreatif atau fantasi. Contohnya, Sirhan sangat terobsesi ingin membunuh Robert Kennedy. Di pihak lain, sebuah penelitian juga memperlihatkan bahwa orang yang sering bertindak agresif mempunyai sangat sedikit kemampuan berpikir atas perbedaan-perbedaan, atau cara-cara yang lebih kreatif untuk mengendalikan situasi atau terhadap orang yang sedang marah (Singer, 1984).

Hal ini mengingatkan saya pada kaum Wahabi. Mereka adalah orang-orang yang cara berpikirnya sangat sederhana. Pola pemikiran mereka pun sedemikian sederhana. Ada indikasi bahwa mereka ini adalah orang-orang yang malas berpikir mendalam sehingga tindakan mereka cenderung agresif atas perbedaan-perbedaan yang mereka hadapi.

Tavris (1984) mengatakan bahwa jika pembicaraan menguatkan kepercayaan-kepercayaan Anda dari ketidakadilan, kesalahan, atau kejahatan orang lain, maka hampir bisa dipastikan semua itu justru meningkatkan kemarahan Anda. Hal seperti ini tidak akan terjadi hanya jika pembicaraan (atau pikiran) kita lebih menanamkan pengertian yang lebih atas ketidaksukaan (kita) pada orang lain ditambah gagasan-gagasan yang lebih positif bagaimana cara mengatasi atau cara menurunkan kemarahan kita.

Catatan Kaki:
1] Al-Wasail al-Syi’ah 12 : 147, Di dalam kitab Mu’dan al-Jawahir hlm. 34, kata syarra diganti dengan su’u, dan kata shadiqan diganti khalilan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: