jump to navigation

Mengapa Pendidikan Sekolah Anak-anak Kita Cenderung Menzalimi? Senin, 29 Oktober, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Kearifan Universal, Tasawwuf.
trackback

pendidikan.jpg

Satrio P. Motinggo

Seorang ayah yang bijak benar-benar mengenal anaknya sendiri.” ~ Shakespeare

Bila kita melihat dunia saat ini dengan segala kondisinya, kita akan heran jika melihat orang-orang yang hidup sebelum kita mengatakan bahwa hidup itu adalah suatu kesempatan. Itu lebih baik ketimbang prinsip hidup yang kita jalani sekarang ini.

Misalnya saja dalam dunia pendidikan, tahun demi tahun pelajaran di sekolah-sekolah dan kampus-kampus, makin sulit. Agar lulus ujian para pelajar harus belajar dengan begitu kerasnya. Demikian juga di bidang-bidang lainnya.

Orang-orang yang hidup sebelum kita jauh lebih bahagia, karena mereka mengenal kenikmatan yang sederhana, yang disertai kasih sayang dalam kehidupan mereka di rumah. Kesenangan-kesenangan sekarang ini tidak seperti kesenangan di masa lalu yang lebih bijak.

Dahulu, orang-orang sebelum kita menikmati puisi, kisah-kisah atau musik yang berasal dari tanah yang mereka pijak. Dan semua itu dapat dibuktikan ketinggian mutunya. Saat ini seni, budaya termasuk musik-musik kita cenderung hanya meniru atau bahkan menjiplak dari negeri-negeri lain seperti Barat misalnya. Ada semacam kebanggaan yang hilang atas seni dan budaya bangsa kita sendiri.

Apakah rasa percaya diri kita telah pupus?

Ataukah perhatian dan penggalian seni atau budaya kita sendiri yang kurang?

Sebaliknya dunia teater kita nampak semakin tumbuh dan bermutu, ada kedalaman, ketinggian atau bahkan idealisme. Namun sayangnya, kemasannya yang konvensional berakibat nilai komersialnya tidak bisa diandalkan.

Apabila seseorang menulis puisi, musik, atau drama dengan tema-tema yang lebih mulia, ironisnya mereka tidak memperoleh pasar. Ketika seseorang membawa sesuatu yang lebih tinggi nilainya, tidak seorang pun yang berminat untuk menikmatinya.

Tampak dunia saat ini di dalam segala bidang bahkan pendidikan sekalipun dikomersialisasikan dan direndahkan, semuanya dikonsumsikan sesuai dengan selera pasar, atau disesuaikan dengan keinginan dan hasrat-hasrat rendah masyarakat.

Ketika seseorang ingin menciptakan sebuah karya seni atau kreativitas di bidang apa pun, pasti yang pertama ditanyakan : apa yang diinginkan masyarakat, bukan apa yang dibutuhkan masyarakat!

Semakin arif kita, semakin arif pula kita melihat perubahan-perubahan yang terjadi.

Sesungguhnya dalam hidup ini ada 4 tahapan : masa kanak-kanak, masa remaja, masa muda, dan masa tua. Tiap-tiap tahapan ada suatu kesempatan yang besar. Misalnya dalam masa kanak-kanak, adalah masa kesadaran berada di surga. Anak yang hidup di dunia kesengsaraan, pengkhianatan, kejahatan, hidupnya bahagia juga, karena ia belum tersadarkan dengan aspek kehidupan lain. Ia hanya mengenal sisi baiknya saja, kehidupan yang indah.

Ia menikmati surga di bumi, belum mengenal atau menyadari sifat jahat dan bodoh manusia. Ia masih menghirup udara surga dan kemalaikatan dan kecenderungan mengapresiasi dan menyukai semua yang indah.

Masa kanak-kanak adalah masa untuk menjadi seperti raja. Kesempatan ini hilang dicabut oleh orang tua yang terlalu dini menyekolahkan anak mereka dan membebaninya dengan berbagai pelajaran. Kita tidak perlu khawatir dalam mempersiapkan pelajaran bagi si anak agar ia sanggup menjawab semua pelajaran di sekolahnya.

Kerajaan yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka akan hilang tercerabut dari mereka. Masa kanak-kanak adalah masa bebas dari kegelisahan dan kekhawatiran. Sementara orang tua membebani mereka dengan pelajaran, setelah itu akan diapakan pelajaran ini?

Kekuatan dan kecerdasan anak justru akan hilang bila dibebani dengan pelajaran-pelajaran yang tidak perlu sebelum pikiran mereka tumbuh. Kecenderungan semacam ini kian hari kian meningkat.

Jika kehidupan tidak begitu rumit, kita tidak perlu pusing-pusing seperti orang hidup di masa kini. Karena kita telah menyulitkan diri kita sendiri, kita menginginkan lebih dan lebih banyak lagi sehingga menjadi tidak lagi jelas apa yang sebenarnya kita butuhkan dan akhirnya kita tidak mendapatkan semuanya. Kita ingin kehidupan yang melebihi kebutuhan kita, namun malah menyengsarakan diri kita dan bahkan orang lain.

Demikian juga di masa remaja, jumlah pelajaran yang dibebankan kepada mereka merupakan kesalahan terbesar yang dilakukan manusia sekarang ini. Tetapi budaya remaja sekarang tampaknya sudah hilang sehingga kekurangan inspirasi. Kita sudah tidak tahu lagi apa yang dibutuhkan anak-anak muda.

Mereka tidak diberikan gagasan-gagasan yang mulia, atau inspirasi-inspirasi yang mendorong mereka melakukan hal-hal yang besar. Pola mereka sekarang tampak seragam. Umumnya, mereka tidak lagi menghormati pahlawan, tidak ada rangsangan yang diberikan untuk takjub atau terinspirasi oleh seorang musisi atau penyair besar.

Hal ini dikarenakan pendidikan yang diberikan dengan seragam atau dengan porsi yang sama, padahal sesungguhnya kebutuhan mereka tidak sama.

Di samping itu, masa remaja adalah suatu kesempatan ketika cara yang bagus, aspirasi yang tinggi, dan gagasan-gagasan yang mulia dapat diajarkan. Remajalah yang sangat antusias menerima segala yang datang kepada mereka, mencernanya dan mengungkapkannya kembali dalam bentuk kreativitas maupun pola berpikir.

Tetapi bila masa remaja hanya digunakan untuk bekerja keras sepanjang hari dan berjuang agar ujiannya lulus maka sedikit saja waktu yang mereka miliki untuk berekreasi atau untuk hal-hal lainnya, sehingga masa kreatif mereka pun hilang secara sia-sia.

Orang-orang yang memahami gagasan ini menyadari bahwa di sepanjang hidup, masa remaja adalah kesempatan yang paling besar. Kesempatan ini tidak pernah datang lagi. Musim semi kehidupan tidak pernah datang lagi, ia hanya datang sekali.

Bila kesempatan ini tidak digunakan sebaik-baiknya serta tidak diinspirasikan sesuai dengan yang semestinya, maka ini sama saja dengan memelihara tanaman tetapi tidak menyiraminya dengan air. Sebab inilah masa ketika kita harus menyiraminya. Ada ribuan dan bahkan jutaan remaja di kampus-kampus yang tidak memiliki pola pikir yang baik, dan tidak diberikan inspirasi kepada mereka.

Mereka hanya dapat menunjukkan bahwa mereka telah lulus ujian dan mereka telah banyak memperoleh ilmu, sementara ilmu yang membuat jiwa mereka berkembang tidak mereka dapati selama masa remaja, masa ketika pikiran mereka lebar, masa ketika anak dengan segala antusias dan kapasitasnya untuk berkonsentrasi sehingga dapat menerima segala yang baik dan yang indah.

Para musisi dan penyair yang telah menciptakan karya-karya besar, terinspirasi ketika mereka masih remaja. Mereka melihat contoh, contoh hidup yang mengesankan mereka. Karena masa remaja adalah masa yang menentukan apakah si anak menjadi orang besar dalam menghadapi hidup atau tidak jadi sama sekali, sementara peluang ini hanya datang sekali seumur hidup.

Apakah ia ingin menjadi seorang businessman ataukah politisi, seorang profesionalis, saintiskah atau musisi, di masa remaja inilah ia harus memulainya dan diberi inspirasi dengan sebuah ideal. Masa itu seperti tanah yang subur. Benih apapun akan tumbuh bila disemai kepadanya.Tetapi jika peluang itu lenyap, tidaklah mudah untuk meraihnya kembali.

Selain pendidikan untuk berbagai macam profesi dan pekerjaan, masih ada lagi kapasitas yang terabaikan di masa itu; yaitu penguatan kualitas hati. Masa kini hanya ada satu dalam seratus orang yang kualitas hatinya tajam. Walaupun secara insting kualitas hati ini muncul, tetapi selalu ada usaha yang datang untuk menumpulkannya.

Apa yang dimaksud dengan kualitas hati? Ada intuisi, ada inspirasi, dan ada wahyu. Semua itu berasal dari budaya hati, dari kwalitas hati. Seseorang yang kuat hatinya melalui banyak belajar, belum tentu intuitif.

Orang yang mempelajari semua tehnik musik dan syair belum tentu menajamkan kwalitas hati. Kwalitas hati adalah sesuatu yang harus dikembangkan di dalam diri. Bila tidak ada perhatian yang diberikan untuk mengembangkannya di masa remaja, apa jadinya kelak? Ia akan menjadi seorang yang mementingkan diri sendiri, sombong, tidak santun dan tak mau berkorban.

Ia percaya bahwa sifatnya inilah yang akan menjaganya, dan orang menyebut orang seperti ini sebagai manusia praktis. Tetapi jika setiap orang seperti dia, tidak ada yang dapat diharapkan dari hidup ini kecuali konflik yang berkepanjangan. Agama atau sisi naluriah penghambaan manusia juga mati karena kwalitas hatinya tumpul.

Bahkan jika ia pergi ke mesjid, gereja, atau tempat ibadah lainnya, keshalihannya hanya bersifat intelektual. Ia hanya dapat menikmati sesuatu yang bersifat intelektual. Ia hanya takjub dengan penjelasan matematis, tetapi jika ada rasa barokah dan perasaan naiknya kesadaran ke dunia yang lebih tinggi, ia tidak dapat mengalaminya karena ia hidup di dunia intelek.

Ada 2 pengalaman hidup yang prinsipil. Pertama, pengalaman yang disebut sebagai sensasi, dan yang lainnya adalah eksaltasi atau pemujaan. Yang umumnya dialami oleh manusia masa kini adalah sensasi; semua keindahan yang kita lihat, garis atau warna, semua yang kita lihat dengan mata, yang kita rasakan atau sentuh. Dengan kata lain ia bersifat inderawi. Hidup dalam sensasilah yang membuat manusia menjadi bersifat materialis waktu demi waktu hingga akhirnya ia tidak mengenal ruh.

Pemujaan atau pengagungan, adalah kebahagiaan yang lebih besar, kesenangan yang lebih tinggi, dan membuat manusia merdeka dari kehidupan lahiriahnya untuk kebahagiaannya, ini tidak dikenal oleh mayoritas manusia. Apakah pengagungan itu?

Jiwa dapat melalui 4 pengalaman yang berbeda-beda, dan semuanya dibutuhkan jiwa. Sayangnya manusia masa kini tidak mencari keempat pengalaman ini dan malah mencari pengalaman lainnya. Salah satunya adalah hasrat jiwa untuk mengalami kebahagiaan, kemudian diganti dengan keinginan untuk senang.

Sementara kesenangan itu datang dari sensasi, sedangkan kebahagiaan dari pengagungan. Jiwa tidaklah puas dari buku-buku, dari belajar atau mempelajari hal-hal lahiriah. Misalnya ilmu sain, ilmu seni, adalah ilmu-ilmu lahiriah. Ia memberikan semacam kekuatan, kepuasan, tetapi kita tidak pernah terpuaskan. Ilmu lainnya adalah ilmu yang sedang dicari oleh jiwa. Jiwa tidak pernah puas kecuali mendapatkan ilmu tersebut.

Tetapi ilmu ini tidak datang dari mempelajari nama-nama dan bentuk-bentuk. Ia tidak dari belajar. Jangan heran bila anda membaca dalam beberapa buku Timur bahwa pengikut Mahatma pergi ke pegunungan kemudian duduk di sana selama bertahun-tahun.Saya tidak mengatakan bahwa kita harus mencontohnya, tetapi kita dapat mengapresiasi apa yang mereka peroleh dari sana.

Mereka pergi ke sana untuk menjelajahi kehidupan, aspek kehidupan yang tak terlihat dan tak terjelajahi selama ini. Mereka duduk di sana selama bertahun-tahun dalam meditasi. Mereka hidup dari dedaunan, buah-buahan dan apa yang mereka dapati di hutan. Mereka berkonsentrasi. Yang mereka peroleh bukanlah ilmu yang dipelajari dari dunia ini, tetapi ilmu yang lebih besar yang dapat dipelajari dari dalam diri.

Kita mungkin pernah melihat patung Budha sedang duduk bersila dengan mata tertutup. Apa arti dari simbol tersebut? Ada ilmu yang dapat dipelajari tidak hanya dengan menutup mata tetapi juga pikiran dari dunia lahiriah. Menutup mata pun tidak membuat konsentrasi menjadi lebih baik bila pikiran kita masih berkeliaran. Orang-orang yang dapat melakukan konsentrasi, dapat melakukannya tanpa menutup mata. Bahkan sambil bekerja pun ia dapat melakukan konsentrasi.

Hal ketiga yang dialami dan diinginkan dalam hidup adalah kebahagiaan. Dan dapat diperoleh dengan menghubungkan kita dengan diri. Hal keempat adalah kedamaian. Ia dapat diperoleh dari hal lahiriah, dari kenyamanan dan pikiran yang istirahat.

Setelah masa remaja datang masa dewasa. Masa ketika ia telah mengumpulkan ilmu. Masa ketika ia telah mengalami kehidupan, telah mengalami senang dan susah, telah belajar dari pelajaran yang diperoleh dari pekerjaannya, dari rumah, dari setiap sisi kehidupan. Lalu apa kesempatan atau peluangnya? Memanfaatkan yang diperoleh dari pengalaman tersebut.

Namun penyair Persia, Sa’di mengatakan, ‘Wahai diri ini, engkau telah datang di usia dewasa, dan engkau tidak lebih baik dari masa kanak-kanak.’

Jika ia tidak belajar dari apa yang diperolehnya, ia akan kehilangan kesempatan dalam hidupnya. Karena pada masa ini yang dibutuhkan bukan hanya uang, tetapi pengalaman dan ilmu, semakin banyak ia belajar, semakin kaya ia kelak. Semakin ia mengenal kekuatan yang ia miliki, semakin sukses dan bermanfaat ia jadinya. Pribahasa Kuba mengatakan,”Ketika matahari terbit, dia terbit untuk setiap orang”

“Ketika satu pintu tertutup, pintu lainnya terbuka” [Don Quijote]

Di samping itu, masa ini adalah masa seseorang mulai mengenal berbagai kewajiban dalam hidup, jika ia tidak mengenalnya maka ia akan dapat belajar darinya. Mengenal kewajiban memperhatikan orang-orang di sekitarnya, yang mengharapkan bantuan, nasehat, pelayanan, inilah saat ketika ia harus sadar akan segalanya.

Inilah masa yang indah, ketika pohon mulai berbuah, ketika seorang penyanyi terdengar indah atau seorang pemikir dapat sepenuhnya mengekspresikan dirinya. Jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, hilanglah kesempatan yang paling berharga dalam hidupnya.

Usia dewasa juga memiliki manfaat tersendiri. Sementara usia tua adalah masa ketika merekam seluruh hidupnya, apakah ia simpatik, baik, arif, bijak, ataukah bodoh. Usia dewasa memiliki kesempatan untuk memberikan inspirasi atau memberikan pelayanan kepada mereka yang membutuhkan. Ia dapat menunjukkan kepada mereka cara yang lebih baik dalam memandang hidup.

Tetapi bila ia tidak menyadari kesempatan ini, ia akan bertindak seperti anak-anak, sementara pada masa kanak-kanak diberi tugas untuk orang tua, di masa remaja dibebani tugas untuk orang dewasa.

Jika kita dapat memahami setiap momen itu dalam hidup, setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun, kita dapat memperoleh manfaatnya hanya jika kita mengenal kesempatan itu. Tetapi kesempatan terbesar yang dapat manusia sadari dalam kehidupannya adalah menyempurnakan tujuan hidup ini, untuk apa ia diutus ke bumi ini.

Namun jika ia kehilangan kesempatan itu, apapun yhang ia kerjakan di dunia ini, apakah ia telah mengumpulkan kekayaan, harta yang banyak, atau telah meraih nama besar, ia tidak akan pernah puas. Sekali mata seseorang tertutup dan mulai melihat dunia, ia akan mendapati kesempatan yang lebih besar ketimbang yang ia pikirkan sebelumnya.

Manusia semiskin dirinya, seterbatas dirinya, tidak ada di dunia ini yang dapat ia kerjakan jika ia tidak mengenal apa yang seharusnya ia kerjakan. Manusia harus mengetahui bagaimana mengoperasikan pemikirannya, bagaimana mengerjakan hal-hal tertentu, bagaimana memfokuskan pikirannya pada objek yang harus ia kerjakan.

Jika ia tidak tahu maka pikirannya tidak lain seperti mesin. Jika manusia mengenal kekuatan perasaan, dan menyadari bahwa kekuatan perasaan dapat mencapai ke mana saja dan menembus apa saja, maka ia dapat mencapai apa saja yang ia hasratkan.

Ada kisah Persia tentang Shirin dan Farhad. Suatu kali Shirin, sang gadis yang dicintai Farhad, menguji cinta Farhad padanya. Ia berkata, ‘Farhad, jika kamu benar-benar mencintaiku, coba kamu buatkan jalan untukku menuju pegunungan.’ Farhad menjawab, ‘Baiklah, saya siap kamu uji.’

Maka Farhad pun pergi ke gunung itu dengan cinta yang membara di dadanya. Ia selalu menyebut nama Shirin setiap kali memecahkan batu untuk meratakan jalan. Dan ketika itu kekuatan palunya seribu kali lebih besar karena menyertakan perasaan di hatinya.

Sekarang manusia telah melupakan kekuatan terbesar yang ada dalam perasaannya. Ia dapat menghancurkan batu besar, namun umumnya manusia sudah kehilangan perasaannya. Menyadari kekuatan perasaan ini dan mengungkapkannya adalah suatu kesempatan yang diberikan oleh kehidupan.

Tetapi kesempatan yang lebih besar lagi adalah membebaskan diri dari tawanan keterbatasan-keterbatasan hidup. Dalam beberapa bentuk, setiap manusia adalah tawanan, kehidupannya terbatas, namun ia dapat keluar dari batasan ini hanya jika ia menyadari kekuatan dan inspirasi jiwanya.

Belajarlah dari seekor nyamuk! Dia tidak pernah menunggu sesuatu menjadi terbuka. Dia justru membuat sesuatu menjadi terbuka!” [Kirk Kirkpatrick]

“Ketika sekuntum bunga mekar, sang lebah datang tanpa diundang!” [Rama Krisna]

Iklan

Komentar»

1. Qinimain Zain - Kamis, 2 Oktober, 2008

(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

Strategi Pendidikan Milenium III
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: