jump to navigation

Bahagia Dan Rasa Syukur Kamis, 8 November, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

bahagia1.jpg
Quito R. Motinggo

If one only wished to be happy, this could be easily accomplished; but we wish to be happier than other people, and this is always difficult, for we believe others to be happier than we are.

Jika seseorang hanya ingin bahagia, hal ini dengan mudah dapat terpenuhi; namun kita ingin lebih bahagia ketimbang orang lain, dan hal ini selalu sulit (terpenuhi), karena kita percaya bahwa orang lain (selalu) lebih bahagia ketimbang diri kita.
~ Montesquieu.

Mungkin karena kita tidak mengetahui apa sebenarnya kebahagiaan itu, tanpa kita sadari kita sering merasa tidak bahagia atau bisa jadi kita kurang mensyukuri keadaan kita yang mungkin saja terbilang “lumayan” ketimbang banyak orang yang masih hidup jauh di bawah standar kewajaran. 1]

Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu faktor yang dapat menumbuhkan rasa bahagia kita adalah rasa syukur kita atas apa yang telah kita peroleh dari jerih payah kita mencari rezeki dengan cara yang jujur dan halal. Betapa banyak orang yang tidak melihat faktor ini yang padahal sebenarnya merupakan faktor terpenting dari upaya untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Rasulullah Saw pun telah bersabda, “Lihatlah orang-orang yag berada di “bawah” kamu, jangan kamu lihat orang-orang yang berada di “atas” kamu, agar supaya kamu bisa mensyukuri keadaanmu.” (Hadis Masyhur)

Jika kita selalu melihat orang-orang yang berada di atas kita, yang sedang berada dalam kejayaan, kesuksesan dan berkelimpahan harta, maka nafsu kita akan meronta dan menggoda kita seraya berbisik kepada kita : “Lihatlah keadaan orang itu dan lihat keadaanmu! Engkau memang bernasib sial, malang dan tidak hoki!”

Bisikan-bisikan seperti ini terus terdengar di telinga batin kita, tidak henti-hentinya mengganggu jiwa kita sehingga timbul perasaan kesal terhadap diri kita, rasa iri dan dengki dan akhirnya prasangka buruk kepada Tuhan.

Seseorang boleh saja melihat kesuksesan orang lain untuk mengejar cita-cita dan harapan yang lebih tinggi, namun jika apa yang kita lihat itu hanya menjadi obsesi mati yang mengendap di dalam jiwa kita maka itu semua bisa menjadi penyakit jiwa yang sangat berbahaya. Di bawah ini saya kutip sebuah keluhan-keluhan seorang ibu rumah tangga yang menurut saya – maaf – kurang bersyukur. Tulisan ini saya ambil dari kolom psikologi Kompas yang diasuh oleh Leila Ch. Budiman :

Mengipasi Api Cinta

Leila Ch Budiman, psikolog

Suasana pasangan yang menjadi agak hambar (10 Juni 2007) telah membuat pembaca ikut menolong buat menghidupkan lagi kehangatan kasih sayang di antara mereka.

Perkawinan Ny M telah lebih dari 20 tahun. Meskipun masing-masing masih bekerja, terasa ada kekosongan, sebab aktivitasnya hanya begitu-begitu saja. Anak-anak sudah keluar rumah dan berbagai gejolak hidup pernah dialami mereka. Tiap kali istri mengajak suaminya keluar rumah, suami menolak dengan berbagai alasan, hingga istri pun agak malas “melayani” suaminya.

Jangan terlambat – Ny P di Jateng

Mbak Lei, kami juga telah “over seket” dan perkawinan kami, seperti yang dialami pasangan Ny M, juga pernah mengalami kebosanan luar biasa. Terutama kalau saya bandingkan sikap Masku dengan teman-teman lain yang serba sigap. Kalau saya minta tolong, Masku sering kali lupa, tetapi teman-teman priaku di kantor sigap menolongku, juga tangkas mengantar kalau perlu.

Persis seperti suami Ny M, Masku juga betahnya di rumah melulu. Kalau sudah ada kopi-koran atau TV sudah lupa semua, termasuk lupa week end. Jadi begitulah, kami hampir tidak pernah ke mana-mana, kecuali ke kantor saja.

Kadang-kadang saya iri pada pasangan yang bisa enjoy keluar bareng hanya untuk menikmati wedang ronde atau jalan pagi bersama atau hanya bersama ke apotek saja.

Semua jadi berbeda setelah baru-baru ini suami sahabat dekatku meninggal mendadak karena serangan jantung. Menyedihkan sekali, sahabatku sangat terpukul sekali. Matanya selalu sembap, juga saya tidak pernah melihat dia begitu putus asa dan menjadi kurang terurus.

Tiba-tiba saya disadarkan betapa beruntungnya saya, masih punya suami….. Melihat Masku baca koran dengan secangkir kopi di dekatnya, saya merasa hangat dan damai. Mau keluar air mata saya mengingat pedihnya kalau ia pergi, tak akan ada lagi teman mengobrol, teman gocek, teman bengong. Saya masih dapat menikmati kehadirannya yang selama ini saya sepelekan. Kesadaran ini luar biasa, yang membuat kebersamaan kami menjadi sangat berharga.

Semoga Ny M tidak disadarkan setelah semua sudah terlambat, hanya tinggal penyesalan saja, tetapi dapat mensyukuri dan menyuburkan kehangatan bersama….

Ke jenjang lebih tinggi – Sri M di Smg

Ibu M, sadarilah hidup ini selalu diwarnai dengan berbagai masalah. Seperti Ibu katakan, walaupun Ibu dan suami sudah mapan dan anak-anak sudah oke, ternyata masalah lain muncul juga. Socrates berkata, hidup yang selalu diwarnai berbagai masalah adalah hidup yang layak dijalani. Jika tidak ingin masalah, maka kuburanlah tempatnya.

Masalah adalah cara Tuhan untuk menguji kemampuan manusia di dalam mengatasinya, apakah ia akan tegar, loyo, atau menjadi stres. Sikap tegar dalam menghadapi masalah itu artinya Ibu dirangsang mengembangkan kepak sayap-sayap kejiwaan dalam diri Ibu sehingga menjadi terbuka.

Dalam bahasa masa kini, Ibu didorong memasuki wilayah dunia spiritual. Makin banyak masalah yang mampu Ibu hadapi dengan tegar, anggun, dan cerdas, tandanya Ibu akan dinaikkan levelnya ke jenjang yang lebih tinggi.

Beberapa tips yang insya Allah dapat memecahkan masalah Ibu:

· Bersyukurlah pada segala sesuatu yang Ibu miliki. Jangan ributkan hal-hal sepele yang berpotensi menimbulkan masalah lebih besar.

· Jangan egois dan jangan mengejar kepuasan diri sendiri sehingga lupa atau malas melayani suami. Suami boleh jadi juga sama-sama jengkel, bertanya kenapa Ibu tidak mau “melayani” dengan baik, padahal itu kan tugas Ibu juga. Ingat, kalau suami menyeleweng, apa Ibu tidak menyesal?

· Urusan fitness boleh dan sah-sah saja, tetapi hal itu jangan menjadi tujuan utama. Ingat negeri ini penuh dengan masalah krusial yang menuntut uluran tangan kita semua, termasuk Ibu. Banyak di antara kita hidupnya tidak bernasib baik seperti Ibu. Ingat, maaf jika ibu pemeluk Islam, perhatikan Al Quran bahwa orang yang mendustakan agama adalah mereka yang lalai terhadap kaum duafa.

· Percayalah kalau Ibu aktif dalam kegiatan sosial, memberi simpati dan empati, serta memberdayakan mereka, insya Allah akan ada kekuatan Ilahi yang akan memecahkan masalah Ibu dengan cara elegan, cerdas, dan arif. Selamat memasuki jenjang hidup lebih tinggi dan berkualitas.

Santailah – Ny I di Ozi

Bu Lei yang baik, saya baca persoalan Ny M di internet nyaris tengah malam, wah saya iri sekali dengan masalahnya! Keluarga mapan yang masih mempunyai waktu ke fitness center dan anak-anak mereka sudah menjelang dewasa dan oke.

Saya sebagai keluarga muda yang hidup di luar negeri (di sini tidak ada yang mempunyai pembantu), saya tidak punya waktu bersantai. Dengan dua anak kecil (3 dan 5 tahun) serta seorang remaja yang tidak mau diatur, saya juga bekerja paruh waktu. Hidupku bagai titiran yang tidak pernah berhenti bergerak. Sejak gelap saya mempersiapkan berbagai keperluan buat keluarga, lalu saya bekerja paruh waktu di luar rumah, kemudian menjemput anak-anak yang berbeda jam keluarnya, belanja, masak, mengurus anak-anak dan rumah sampai malam. Akhir pekan justru paling sibuk, membersihkan rumah, cucian bertumpuk-tumpuk, tentu saja sambil mengurus keperluan si kecil pula.

Suami ke kantor sepanjang hari dan hari Minggu membawa pekerjaan kantor ke rumah, kadang potong rumput dan bantu cuci piring. Jangankan mau duduk nonton TV berduaan, mencari waktu untuk mandi saja sukar.

Saya percaya, ketika Ny M baru menikah dulu, pasti penuh perjuangan pula. Maka, nikmatilah waktu-waktu senggang Anda sekarang, baik ketika punya kegiatan sendiri maupun bersama teman seperjuangan hidup Anda, sang suami Ny M!

Sumber : Kompas, Minggu, 8 Juli 2007

Catatan Kaki :

[1] Standar kewajaran di sini tentu saja sebatas tercukupinya sandang pangan, padahal saat ini pendidikan anak sudah semestinya sudah termasuk tolok ukur kewajaran. Jika pendidikan anak sampai perguruan tinggi termasuk standar kewajaran, maka alangkah masih banyaknya penduduk Indonesia yang berada di bawah standar kewajaran.

Beberapa waktu lalu saya melihat foto di koran Kompas, di mana dua orang ibu-ibu sedang memanggul setumpuk kayu bakar di punggung mereka. Mereka terpaksa menggunakan kayu bakar, karena sulitnya memperoleh minyak tanah.

Betapa keadaan ekonomi penduduk Indonesia saat ini sangat parah ketimbang yang disampaikan oleh para pakar ekonomi kita. Apakah hal-hal seperti ini bukan sebuah pengkhianatan terhadap bangsa sendiri?

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: