jump to navigation

Zikir Dan Kerendahan Hati Kamis, 8 November, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Zikir, Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

zikir-7-kerendahan.jpg

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hati, dengan kerendahan hati dan penuh rasa takut dengan suara yang rendah, di waktu siang maupun malam, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al- Qur’an Surah Al-A’raf [7] : 205)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi Musa as : “Sesungguhnya Aku hanya menerima shalat orang yang merendahkan diri terhadap ke-Agungan-Ku. Ia sekalipun tidak pernah membesar-besarkan dirinya atas makhluk-Ku dan ia senantiasa melazimkan hatinya dengan rasa takut kepada-Ku, menghabiskan siang harinya dengan selalu berzikir kepada-Ku, dan mencegah dirinya dari segala syahwat demi Aku.” 29]

SEORANG DARWIS DAN LELAKI LUGU

Seorang darwis yang berpikiran sederhana dari madzhab agama yang keras suatu hari menyusuri pinggiran sungai. Ia sedang terpaku pada masalah-masalah akhlaq dan pengajaran, karena bentuk ajaran inilah yang populer di masyarakatnya. Ia menyamakan agama rasa dengan pencarian terhadap Kebenaran Sejati. Tiba-tiba pikirannya terganggu oleh suara zikir dari seberang sungai. Tampak seorang lelaki yang terlihat lugu sedang berzikir dengan suara keras. “Tak ada yang penting dengan masalah itu, ”katanya pada diri sendiri”karena laki-laki itu salah mengeja lafadz zikir. Ia bukannya mengeja dengan Yahu…, melainkan Uyahu”. *]

Tetapi tiba-tiba ia sadar kalau ia mesti memberitahu kesalahan ucapan lelaki tersebut. Sang darwis akhirnya menaiki perahu dan menuju ke seberang. Setibanya di seberang ia mendekati lelaki tersebut dan katanya, ”Saudaraku, engkau telah melakukan kesalahan di dalam mengucapkan lafadz zikir. Semestinya engkau mengucapkan Yahu, bukan Uyahu”.

“Terima kasih”,kata si lelaki lugu dengan santun. Setelah sang darwis memberi pelajaran “kecil” , ia pun kembali menaiki perahu untuk kembali ke seberang tempatnya semula. Si lelaki lugu itu pun mulai kembali berzikir dengan zikir yang diajarkan oleh sang darwis.

Tetapi menjelang sang darwis tiba di seberang, kembali ia mendengar lafadz yang salah dari si lelaki lugu. Sang darwis berpikir bahwa si lelaki tersebut betul-betul bebal. Di luar dugaan sang darwis melihat si lelaki bergegas dengan tergesa-gesa berjalan di atas air menghampirinya tanpa kakinya menyentuh air sungai. Sang darwis begitu terperanjat dan terpukau melihat si lelaki lugu melakukan keajaiban tersebut.

Setiba di hadapan sang darwis, lelaki lugu tersebut secara mengejutkan justru berkata kepada sang darwis, “Maaf saudaraku, aku mohon engkau mengajarkan kepadaku lafadz yang benar yang tadi engkau ajarkan, karena terus terang aku merasa sulit mengingatnya”. 30]

KISAH NABI DAWUD AS, SEEKOR KATAK DAN TASBIH
Abdullah Al-Qurthubi menyebutkan bahwa Nabi Dawud as berkata : “Aku akan bertasbih kepada Allah pada malam ini dengan tasbih yang belum dilakukan oleh makhluk lain.”. Katak memanggilnya dari sungai kecil di rumahnya,”Apakah engkau berbangga di hadapan Allah dengan tasbihmu. Sesungguhnya telah tujuh puluh tahun lisanku tidak pernah kering dari menyebut Allah. Sesungguhnya aku selama 10 malam tidak makan dan minum karena disibukkan dengan dua kalimat.”Nabi Dawud bertanya,”Apakah itu?”Katak itu berkata ,”Wahai yang disucikan semua lisan.Wahai yang diingat setiap tempat .”Nabi Dawud a.s. berkata kepada dirinya,”Apa yang kukatakan untuk mencapai ini?”

Di dalam hadis disebutkan,”Perkataan yang lebih dicintai oleh Allah adalah Subhanallah Wa al-Hamdulillah wa la ilaha Illa Allah wa Allahu Akbar.Tidak masalah dari mana pun engkau memulainya.” 31]

KERENDAHAN HATI NABI SULAIMAN DAN KEUTAMAAN TASBIH
Dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman bin Dawud as lewat dengan arak- arakan. Burung-burung menaunginya, binatang-binatang liar dan ternak, jin, manusia, dan segala binatang berada di sebelah kanan kirinya. Dia melewati seorang hamba dari Bani Israil lalu berkata kepada beliau,” Demi Allah, wahai anak Dawud, engkau telah dikaruniai kerajaan yang besar.”

Nabi Sulaiman mendengarnya dan berkata, ”Sesungguhnya bacaan tasbih dalam catatan amal seorang Mukmin lebih baik dari yang dikaruniakan kepada anak Nabi Dawud. Karena, sesungguhnya apa yang diberikan kepada anak Nabi Dawud akan hilang, sementara tasbih akan kekal.” 32]

Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata : “Pencerahanmu karena engkau diperhatikan oleh Allah (semestinya) akan menjadikanmu rendah hati, malu, dan bijaksana.” 33]

Tidak munculnya kerendahan hati di dalam hati manusia merupakan sebuah awal bala’ atau malapetaka. Manusia yang tidak memiliki kerendahan hati adalah manusia yang malang. Tidak adanya kerendahan hati di dalam dirinya menunjukkan kebodohannya atas pengetahuan tentang diri dan Tuhannya.

Hanya orang yang mengenal diri dan Tuhannya sajalah yang memiliki kerendahan hati dan hanya orang-orang yang sombonglah yang tidak mengenal dirinya dan Tuhannya. Hal inilah yang mewajibkan seseorang untuk mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Karena pengenalan kepada diri kita sendiri merupakan awal ibadah, awal dari segala bentuk penghambaan kepada Tuhan.

Diriwayatkan bahwa Allah SwT berfirman kepada Musa as, ”Wahai Musa, kapan saja engkau mengingat-Ku, jadikan setiap tubuhmu gemetar mengingat-Ku. Ketika mengingat-Ku berendah dirilah dan bersikap tenang. Ketika engkau mengingat-Ku, letakkan lidahmu di belakang hatimu. Ketika engkau berdiri di hadapan-Ku, berdirilah sebagaimana berdirinya seorang hamba yang hina. Bermunajatlah kepada-Ku dengan hati gemetar dan hati yang tulus.” 33a]

Kerendah hatian dapat melampaui
segala pendakian tahap demi tahap
Ia adalah pintu yang tak terkunci
karena semua telah diserahkan kepadanya!
Hati para pencinta Tuhan telah membentuk
sebuah lingkaran kerendah hatian
maka kerendah hatian
adalah guru dari para guru
dimana seluruh hati adalah muridnya

(Rumi, Diwan i Syams : 9326-28)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Catatan Kaki :

29] Sayyid Mahmud Abul Faidh al-Husaini, Jamharatul Auliya’
30] Idries Shah, Tales of Dervishes I, hal. 138
31] Muhammad Abu Yusr al-Abidin, Hikayat Ash-Shufiyyah
32] Ibid
33] Bihar al-Anwar 93 : 158)
33a] Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin 1 : 161-3
*] Yahu : Wahai Dia (Allah)

Iklan

Komentar»

1. pian - Selasa, 14 April, 2009

mudah..mudahan kita di ridhoi oleh Allah dalam menjalani hidup


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: