jump to navigation

Cinta Altruistik Para Kekasih Tuhan (Bag. 1) Selasa, 20 November, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Love, Artikel.
trackback

cinta-altruistik1.jpg

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki
dengan bergegas seraya berkata :
‘Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu,
ikutilah orang-orang yang tiada meminta balasan darimu
dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.’

(QS Yasin [36] : 19-20)

CINTA Tuhan kepada makhluk-makhluk-Nya, ibu kepada anak-anaknya, dan cinta para nabi dan para kekasih Tuhan kepada manusia adalah contoh cinta yang tiada mengharapkan imbalan.

Cinta para kekasih Tuhan adalah contoh cinta altruistik yang paling menarik dan terbilang luar biasa, karena mereka tidak sedikitpun mengharapkan imbalan atas cinta yang mereka berikan kepada manusia.

Mencintai saudara sedarah bukanlah suatu yang terbilang istimewa, karena binatang pun mencintai darah dagingnya, merawat dan menjaga anak-anaknya. Atau cinta orang yang tidak berdaya mencintai majikannya, karena hidupnya memang bergantung kepadanya, begitupun cinta anak-anak kepada orang tuanya karena mereka membutuhkannya.

Hanya cinta yang tidak ditujukan demi kepentingan tertentulah yang akan mampu berkembang menjadi cinta yang sesungguhnya. 1]

Cinta seperti ini, yaitu cinta yang tidak menginginkan apa-apa untuk dirinya sendiri ini barangkali merupakan jenis cinta yang paling sulit dicapai. 2] Tetapi para kekasih Tuhan, bukan saja tidak menginginkan apa-apa, bahkan pada tataran (maqam) tertentu mereka sanggup dan rela mengorbankan segala-galanya demi hakikat cinta itu sendiri.

Semua sikap dan tindakan para kekasih Tuhan didasari oleh kecintaannya yang begitu dalam kepada Tuhan mereka. Di dalam sejarah manusia, cinta altruistik seperti ini pernah terjadi pada kurang lebih 600 tahun sebelum diutusnya Muhammad saww.

Seseorang yang bernama Habib al-Najjar, yang dijuluki oleh al-Qur’an sebagai seorang rijal, laki-laki jantan, berjiwa ksatria, telah mengimani prinsip-prinsip Tawhid yang diajarkan oleh para utusan (pengikut setia) Nabi ‘Isa as.

Tetapi penduduk Antokiah telah menyiksa dan membunuhnya secara keji. Tentang Habib al-Najjar ini, Rasulullah saww pernah bersabda,”Tiga orang belum pernah kafir sekali pun kepada Allah. Mereka adalah : ‘Ali bin Abi Thalib, pemilik Yasin (Habib al-Najjar) dan mukmin dari keluarga Fir’aun. Mereka adalah orang-orang jujur, sedangkan ‘Ali adalah yang terbaik di antara mereka” 3]

Para kekasih Tuhan adalah orang-orang yang mengerti dan memahami Tuhan secara mendalam. Mereka tahu kalau Tuhan tidak berorientasi pada hasil atau kesuksesan (duniawi). Tuhan hanya berorientasi pada kesetiaan cinta mereka. Tuhan hanya melihat hati dan amal yang mereka lakukan secara tulus.

Jika Anda melihat suatu kaum yang berdakwah dengan berharap kepada imbalan, waspadailah mereka. Kemungkinan besar mereka adalah penipu-penipu berkedok agama, padahal sejatinya mereka adalah pencinta dunia.

Tetapi jika Anda melihat seseorang atau sekian orang berdakwah dan berjuang penuh tanpa pamrih (pada nilai-nilai materi), maka minimal, Anda mesti mempertimbangkan seruan orang-orang ini.

Di dalam Kitab Tanbih al-Khawatir disebutkan kisah tentang Nabi Musa as yang berkata kepada Allah ‘Azza wa Jalla : “Wahai Tuhan, perlihatkanlah kepadaku derajat kemuliaan Muhammad (saww) dan ummatnya”

Allah pun menjawab, ”Wahai Musa! Sesungguhnya engkau tidak akan bisa mencapai kedudukan (manzilah) Muhammad dan ummatnya, tetapi akan kuperlihatkan salah satu dari kedudukkan mereka yang mulia dan agung yang mana Aku telah mengutamakan mereka atasmu dan atas seluruh makhluk-makhluk-Ku…, lalu disingkapkanlah bagi Musa alam malakut langit sehingga ia pun dapat melihat kedudukkan Muhammad (saww) dan ummatnya dan hampir saja ia membinasakan dirinya sendiri karena pengaruh cahaya yang dilihatnya (dari manzilah Muhammad dan ummatnya tersebut) dan kedekatan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka Musa as pun bertanya, ”Wahai Tuhan, dengan apa sehingga mereka (Muhammad dan ummatnya) bisa mencapai kedudukkan yang sedemikian mulia?”

Allah pun menjawab, ”Mereka memperoleh kedudukan itu dengan saling mementingkan saudara (seiman)-nya ketimbang diri mereka sendiri dan itulah al-itsar! Wahai Musa! Tidaklah seorang pun yang datang kepada-Ku di antara mereka dan beramal seperti itu (al-itsar) melainkan Aku malu untuk menghisabnya dan Aku tempatkan dia di Surga yang mana pun ia mau!4]

DAKWAH PARA NABI DAN RASULULLAH SAWW TIDAK MENGHARAPKAN UPAH DAN IMBALAN
Nabi Nuh as dalam menyampaikan dakwah Tawhidnya selama 950 tahun, sama sekali tidak berharap atas upah dari umatnya atas dakwahnya itu.

Kepada umatnya, beliau as mengatakan, ”Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun darimu. Upahku tidak lain hanya dari Allah semata.” (QS Yunus 72)

Begitu juga Nabi Hud as kepada kaumnya, ‘Ad, beliau as mengatakan, ”Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku . Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang menciptakanku.” (QS Hud : 51)

Nabi Shalih pun berkata, ”Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadam,u atas ajakanku itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam.” (QS 26 : 145)

Juga Nabi Luth as, katanya, ”Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakanku itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam.” (QS 26 : 164)

Dakwah Nabi Syu’aib as kepada kaumnya, Aikah, penduduk kota Madyan, ia berseru,”Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakanku itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan Semesta Alam.” (QS 26 : 180)

Adapun Nabi Muhammad saww, ketika beliau berkata, ”Aku tidak meminta upah kepadamu sesuatu pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada keluargaku.” (QS 42 : 23), semata-mata merupakan perintah Tuhan. Allah SwT berfirman,”Katakanlah (Muhammad)…” (QS 42 : 23).

Permintaan upah berupa kecintaan kepada keluarga beliau, Ahlul Bait tersebut hakikatnya semata-mata bukan untuk kepentingan Nabi saww. Justru “kecintaan kepada keluarga Nabi” yang diminta kepada umat Islam adalah untuk kepentingan umat Islam juga.

Dalam banyak riwayat, Rasulullah saww telah bersabda, ”Didiklah anak-anakmu atas tiga perkara : Cinta kepada Nabimu, cinta kepada Ahlul Bait (keluarga)-nya dan membaca al-Qur’an” (Hadits Riwayat al-Daylami)

CINTA SAYYIDAH FATHIMAH KEPADA MANUSIA
Sesungguhnya cinta altruistik (itsar) tidak hanya dimiliki oleh seorang ibu atau seorang ayah dalam artian harfiah saja. Orang-orang yang telah mencapai tingkat spiritual yang sedemikian tinggi pun mampu mencapai bentuk kecintaan seperti ini.

Apabila seorang wanita mampu mencintai orang lain dengan bentuk cinta altruistik maka hakikatnya ia telah berperan sebagai ibu bagi orang tersebut.

Hal ini bisa dicontohkan dengan sikap dan tindakan Sayyidah Fathimah as yang setiap selesai shalat beliau membiasakan mendahulukan do’anya untuk orang lain.

Sedemikian panjangnya deretan kelompok atau nama orang-orang yang dido’akannya, membuat al-Hasan as, puteranya, gelisah menunggu giliran untuk mendapatkan do’a dari ibunya, sampai akhirnya al-Hasan as tidak dapat menahan kesabarannya dan bertanya kepada ibunya,”Kapan ibu berdo’a untuk kita?”.

Dengan lembut Putri Tercinta Nabi Saw ini pun berkata dengan kalimat yang sangat termasyhur di kemudian hari,”Tetangga dulu, baru kita” (Al-Jaar qabla al-Daar).

Kecintaan Sayyidah Fathimah as kepada manusia adalah sebuah bentuk kecintaan seorang ibu kepada anaknya, yang tiada mengharapkan imbalan.

Sebuah contoh cinta altruistik lainnya yang dilakukan oleh Sayyidah Fathimah as adalah kecintaannya kepada ayahnya, Sang Nabi, yang begitu luar biasa. Kita tidak akan menemukan sosok lainnya yang memiliki kecintaan seperti Sayyidah Fathimah as ini.

Sejak Sayyidah Fathimah as ditinggal wafat oleh ibunya, Khadijah al-Kubra as, beliau as dengan serta merta menggantikan posisi ibunya untuk melayani segala keperluan dan kebutuhan ayahnya.

Sampai pada saat-saat genting Sayyidah Fathimah as tidak memalingkan perhatiannya kepada selain ayahnya. Bahkan terhadap dirinya sendiri, Sayyidah Fathimah as sering mengabaikan kepentingan-kepentingannya, karena pikiran, kekhawatiran dan kasih sayangnya yang sangat besar kepada ayahnya.

Saya (penulis) sudah membaca beberapa buku tentang Keagungan Wanita ini, dan salah satu yang menjadi perhatian saya adalah kecintaan dan kasih sayang Sayyidah Fathimah kepada ayahnya yang sedemikian besarnya sampai pada taraf Sayyidah Fathimah melupakan dan mengabaikan kepentingan-kepentingan pribadinya. Tidaklah heran orang-orang yang hidup pada zamannya, termasuk Nabi Saw menjulukinya sebagai Ummu Abiha (Ibu dari bapaknya).

Semua yang Fathimah lakukan terhadap Rasulullah saww bukan hanya karena Nabi saww adalah ayahnya, tetapi lebih dari itu Sayyidah Fathimah memahami betul posisi penting dari ayahnya yang merupakan pengemban amanat Risalah Tuhan.

Semua pengorbanan dan cinta Sayyidah Fathimah as tersebut mendapat penghargaan dari Tuhan, sehingga Nabi saww bersabda kepada putri tercintanya itu, ”Sesungguhnya Allah murka karena murkamu dan Dia ridha karena keridhaanmu.” 5]

Dari hadits ini kita bisa memahami keselarasan dan kesatuan rasa telah terjadi antara Allah Swt dengan Fathimah as, sehingga apa yang dirasakan dan diekspresikan Fathimah menjadi tolok ukur ekspresi Tuhan juga.
(Bersambung)

Catatan Kaki :
1. Erich Fromm, The Art of Loving, hal. 81.
2. Ibid hal. 88.
3. Al-Suyuthi, Tafsir al-Durr al-Mantsur, Bab Surat Yasin.
4. Tanbih al-Khawatir hal. 142. Tidak terbayang oleh saya di manakah kecintaan kaum Wahabi yang mengaku muslim itu terhadap sesama muslim. Saya kira mereka tidak termasuk di dalam hadis ini.
5. Al-Hakim, Mustadrak al-Shahihain 3 : 153. (lihat artikel saya sebelum ini tentang Sayyidah Fathimah as)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: