jump to navigation

Waspadai Stres! (Bag. 2) Jumat, 23 November, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

stres2.jpg

 

KANKER

Bukti saat ini tidak mendukung suatu gagasan bahwa stres dapat menimbulkan kanker. Meskipun demikian, penelitian atas beberapa hewan menunjukkan bahwa kurangnya kontrol atas stres (tidak sesederhana stres itu sendiri) mempunyai efek-efek negatif pada fungsi kekebalan tubuh dan pertumbuhan tumor.

Dua studi kecil atas melanoma dan pasien-pasien kanker payudara dilaporkan bahwa gairah untuk tetap hidup mereka meningkat dengan cara terapi yang memberikan dukungan emosional. Riset lainnya belum mendeteksi keuntungan-keuntungan perjuangan hidup (survival) serupa, tetapi dukungan kelompok masih memiliki nilai yang besar dalam pengurangan stres pada pasien-pasien dengan terminal kanker.

PROBLEM PROBLEM YANG BERKAITAN DENGAN PERUT & USUS BESAR (Gastrointestinal) 

Otak dan usus mempunyai hubungan yang kuat dan berhubungan dengan banyak sistem hormon dan syaraf yang sama. (Memang beberapa riset menyatakan bahwa usus itu sendiri memiliki fasilitas dari sebuah otak primitif).

Hal ini tidak mengejutkan dibandingkan bahwa stres yang berkelanjutan dapat mengganggu sistem pencernaan, dan pembengkakan. Produksi yang berlebihan dari asam lambung di dalam perut dapat menyebabkan suatu pembakaran yang menyakitkan.  

Irritable Bowel Syndrome. Sindrom Gangguan Lambung (Irritable bowel syndrome) atau  kejang perut (spastic colon) jelas-jelas punya hubungan dengan stres. Dengan kondisi ini, usus besar menjadi terganggu, dan otot kontraksinya menjadi kejang.

Sekitar perut menjadi kejang dan si penderita mengalami kram dan bolak-balik mengalami periode sembelit dan diare. Gangguan tidur yang dikarenakan stres dapat memperparah sindrom gangguan lambung.

Radang Lambung (Peptic Ulcers). Kebanyakan radang pada dinding lambung disebabkan oleh bakteri H. pylori atau oleh penggunaan obat-obatan nonsteroidal anti-inflammatory (NSAID) (seperti aspirin dan ibuprofen).

Meski demikian, beberapa studi menyatakan bahwa stres bisa juga mempengaruhi atau menimbulkan peradangan. Beberapa ahli, memperkirakan bahwa faktor-faktor sosial dan psikologis berpengaruh sekitar 30% – 60% atas kasus-kasus radang lambung, entah itu disebabkan oleh bakteri H. pylori atau NSAIDs. Pada kasus apapun, beberapa ahli percaya bahwa hubungan antara stres dan radang sangat kuat yang perhatian pada faktor-faktor psikologisnya masih menjanjikan.

Inflammatory Bowel Disease.(penyakit gangguan pada usus)

Problem Makan

Stres dapat berdampak pada problem makan dan berat badan.

Penambahan Berat Badan (Weight Gain). Seringkali stres dihubungkan dengan bertambahnya berat badan dan kegemukan. Banyak orang yang keranjingan makan makanan-makanan asin (banyak mengandung garam), berlemak, atau manis (banyak mengandung gula) sehingga bertambahlah berat badannya. Pertambahan berat badan sering menimbulkan berbagai penyakit seperti diabetes atau problem jantung.

Pada suatu studi di tahun 2000, bersandar pada wanita-wanita yang bertambah berat badannya dalam merespon stres cenderung kurang dapat menyesuaikan diri dengan kondisi sehingga tidak dapat menangani kondisi stres.

Berat Badan (Weight Loss). Beberapa orang menderita hilangnya nafsu makan dan kehilangan berat badan. Sedikit kasus, stres mungkin memicu aktivitas berlebih dari kelenjar gondok, merangsang selera tetapi menyebabkan tubuh membakar kalori lebih cepat dari ukuran normal.

Gangguan Makan. Anorexia nervosa dan bulimia nervosa adalah gangguan selera makan yang kuat dihubungkan dengan problem-problem penyesuaian di dalam merespon stres dan persoalan emosi.

 DIABETES

Stres yang kronis (menahun) selalu dihubungkan dengan perkembangan penolakan terhadap insulin (insulin-resistance), suatu kondisi di mana tubuh kita tidak lagi dapat menggunakan insulin secara efektif untuk meregulasi glukosa (gula darah). Penolakan terhadap insulin merupakan faktor utama munculnya penyakit diabetes. Stres juga memperburuk keberadaan diabetes dengan merusak kemampuan pasien untuk mengendalikan penyakit secara lebih efektif.

 RASA SAKIT (PAIN)

Para peneliti sedang mencoba menemukan hubungan antara rasa sakit (pain) dengan emosi (emotion), namun area itu diperumit oleh banyak faktor, termasuk efek dari tipe-tipe kepribadian seseorang, rasa takut akan sakit, dan stres itu sendiri.

SAKIT SENDI OTOT DAN SAKIT PUNGGUNG (Muscular and Joint Pain).

Rasa sakit yang kronis yang disebabkan radang sendi (arthritis) dan kondisi-kondisi lainnya yang mungkin diperburuk stres. [Menurut sebuah studi atas pasien-pasien yang mederita radang sendi reumatik (encok), bagaimanapun, teknik-teknik penanganan stres (stress management) tidak tampak punya banyak efek atas sakit radang sendi]

Penderitaan stres juga memainkan peran penting pada hebatnya sakit punggung. Beberapa penelitian memiliki hubungan yang jelas dengan pekerjaan yang tidak memeuaskan dan depresi pada problem-problem sakit punggung, walaupun masih tidak jelas apakah stres merupakan penyebab langsung munculnya sakit punggung.

 SAKIT KEPALA. Episode-episode sakit kepala sering dihubungkan dengan stres atau kejadian-kejadian yang membuat stres. Beberapa penelitian menyatakan bahwa para penderita sakit kepala secara aktual mempunyai beberapa kecenderungan mengubah stres menjadi kontraksi otot.

 Di antara cakupan luas dari kemungkinan pemicu migrain adalah stres emosional (walaupun sakit kepala sering baru muncul setelah stres reda.)

Satu studi menyatakan bahwa perempuan yang punya penyakit mingrain cenderung mempunyai kepribadian yang merespon secara berlebihan terhadap situasi-situasi stres.

GANGGUAN TIDUR

Ketegangan dari stres yang tak terselesaikan sering mengakibatkan insomnia, umumnya membuat orang yang stres sering terjaga di tengah malam atau di pagi buta.

 DISFUNGSI SEX & REPRODUKSI

Gangguan Fungsi Sex. Stres dapat mengakibatkan berkurangnya hasrat sex dan kemampuan orgasme pada wanita. Respon dari stres juga dapat mengakibatkan impotens sementara bagi pria. Bagian respon stres melibatkan pelepasan kimiawi otak yang mengerutkan otot-otot halus pada penis dan pembuluh arterinya. Pengerutan ini menyebabkan berkurangnya aliran darah masuk ke penis dan meningkatkan aliran darah yang keluar penis, yang dapat mencegah terjadinya ereksi.

Sindrom Sebelum Menstruasi (Premenstrual Syndrome).
Kesuburan (Fertility). Stres mungkin juga mempunyai efek terhadap kesuburan. Hormon stres mempunyai dampak atas kelenjar hypothalamus (hypothalamus gland) 2] yang memproduksi hormon-hormon reproduksi. Meningkatnya tingkat cortisol dapat menutup menstruasi. Satu studi kecil yang menarik melaporkan bahwa insiden kegagalan hamil yang tinggi pada wanita disebabkan oleh tingkat stres yang sudah tinggi dan siklus menstruasi yang diperpanjang.

Laporan lainnya menyatakan bahwa wanita yang pekerjaannya membuatnya stres mengalami masa haid yang lebih pendek ketimbang yang tidak.

Efek-efek Pada Kehamilan. (Effects on Pregnancy).

Situasi emosi seorang wanita hamil sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental bayi yang dikandungnya. Stres seorang wanita yang sedang mengandung telah dihubungkan dengan 50% resiko yang tinggi keguguran. Hal ini juga dihubungkan dengan berat bayi yang tidak normal (kecil) atau insiden kelahiran prematur. Keduanya menjadi faktor resiko kematian bayi.

 Sebuah studi menyatakan bahwa stres yang dialami oleh ibu-ibu yang sedang hamil dapat mempengaruhi cara yang mana sistem otak dan syaraf bayi akan bereaksi atas kejadian-kejadian stres.

Stres juga bisa mengakibatkan perubahan-perubahan fisiolagis, seperti meningkatnya tingkat hormon adrenalin atau penolakan di dalam pembuluh darah, yang bisa mengganggu aliran darah ke placenta.

INGATAN – KONSENTRASI – BELAJAR

Stres mempunyai efek-efek yang signifikan pada otak, khususnya pada ingatan (memory). Korban yang khas dari stres yang berat adalah hilangnya konsentrasi di kantor maupun di rumah. Pada anak-anak, respon fisiologis terhadap stres dengan jelas dapat menghambat pembelajaran.

Walaupun beberapa ingatan yang hilang terjadi karena stres atas usia, stres mungkin akan memainkan peran yang lebih jelas pada mereka yang sudah berusia tua ketimbang mereka yang muda.

Efek dari Stres Akut pada Ingatan. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa efek dari stres akut dapat merusak ingatan jangka pendek (short-term memory), khususnya ingatan yang menyangkut verbal (verbal memory).

Dalam penelitian baru-baru ini, ketika orang terkena stres selama 4 hari, ingatan verbalnya juga ikut rusak. Untungnya, untuk kasus ini, ingatan masih tersimpan setelah satu periode relaksasi.

Efek dari Stres Kronis pada Ingatan. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa efek yang muncul pada kasus ini lebih parah, karena dengan kuat berhubungan dengan perpanjangan pembukaan kortisol (hormon utama stres) ke penyusustan di dalam hippocampus (yang merupakan pusat ingatan).

Para veteran perang Vietnam banyak menderita kasus ini.

GANGUAN GANGGUAN LAINNYA

Alergi. Riset menyatakan bahwa stres, bisa mengakibatkan alergi, eksim, sakit kepala, asma, dan problem sinus.

Gangguan Kulit. Stres sangat berperan dalam memperburuk sejumlah kondisi kulit, seperti gatal-gatal berbintik merah (hives), penyakit kulit kronis (psoriasis), jerawat, dan eksim.

Kerontokkan Rambut (Alopecia Areata).
Gigi dan Gusi.
Lepasnya gigi dan gusi yang sering berdarah.

MENGOBATI SENDIRI DENGAN POLA HIDUP YANG SEHAT
Orang yang di bawah pengaruh stres yang kronis sering mencari jalan keluar dengan menggunakan obat-obatan, minum-minuman keras, merokok, makan dengan pola yang tidak normal, atau bertindak pasif, seperti menonton televisi berjam-jam.

Kerugian dari kebiasaan yang merusak diri sendiri ini berakibat di bawah kejadian-kejadian yang biasa yang dipersulit oleh efek-efek fisiologis dari stres itu sendiri. Dan siklus pertahanan diri; sebuah rutinitas, diet tak sehat, minum minuman keras, merokok yang berakibat ke penyakit jantung, gangguan tidur, semua itu justru akan meningkatkan stres ketimbang mengurangi.

Minum kopi 4 sampai 5 cangkir, misalnya, dapat berakibat mengubah tekanan darah dan tingkat tingkat hormon stres serupa dengan yang diproduksi oleh stres kronis. Lemak hewan, gula, dan garam diketahui punya kontrubisi yang besar terhadap problem-problem kesehatan.

Catatan Kaki :

[1] Ketidakberaturan denyut jantung.

[2] Kelenjar yang ada pada bagian otak yang mengatur aktivitas internal tubuh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Komentar»

1. ezty - Selasa, 22 April, 2008

terima kasih atas info yang do berikan,,,

akhirnya dengan artikel ini saya bisa menyelesaikan tugas saya,,,

2. Quito Riantori - Rabu, 23 April, 2008

@ezty
Sama2, semoga sukses selalu!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: