jump to navigation

Bagaimana Mencapai Kesadaran Ruhani? (Bag-2) Senin, 3 Desember, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan.
trackback

mencapai-kesadaran-ruhani2.jpg

“Sesungguhnya dunia ini hanyalah imajinasi,
karena Dia-lah realitas yang sebenar-benarnya.
Siapa pun yang memahami ini,
maka dia akan mengetahui segala rahasia Jalan Spiritual”

~ Muhyiddin Ibn Al-‘Arabi

Kesadaran diri hanya dapat dicapai melalui kehidupan ruhani. Hidup dapat dibagi dalam dua bagian. Bagian yang pertama bertujuan memenuhi kebutuhan-kebutuhan duniawi kita, membanting tulang, mencari uang, memberi nafkah untuk keluarga. Ini merupakan satu sisi dari kehidupan.

Bagian lainnya adalah menyadari bahwa ada sisi lain dari kehidupan duniawi, yang memiliki tujuan yang lebih tinggi, kebahagiaan yang lebih besar, wawasan yang lebih dalam tentang kehidupan, dan kedamaian yang lebih besar. Inilah kehidupan ruhani.

Kehidupan ruhani tidak kami artikan sebagai kehidupan relijius. Karena boleh jadi seseorang menjadi relijius dan pada saat yang sama sangat keduniawian.

Ada sebuah kisah yang terjadi di masa pemerintahan Aurangzeb di India. Ia mengeluarkan perintah kekaisaran bahwa setiap orang dalam kekuasaannya harus menghadiri shalat lima waktu secara berjamaah. Pada masa itu hidup seorang arif di sana. Tak seorang pun yang mengenal dirinya, karena kebiasaan hidupnya menyepi.

Tentu saja ketentuan sang Raja pun mengena sang Arif ini juga. Namun sang Arif melupakannya dan tiada mempedulikannya. Maka diutuslah polisi untuk membawanya ke mesjid. Ia pun ikut shalat berjamaah. Ketika imam sedang membacakan ayat, sang arif segera lari ke luar dari jamaah.

Polisi mengejar dan menangkapnya. Sang Arif dibawa ke hadapan hakim, ia bukan saja melanggar hukum tetapi juga mengganggu jemaah. Sang arif berkata kepada hakim, ‘Untuk apa Imam shalat itu?’ Hakim menjawab, ‘Agama mengajarkan bahwa pikiranmu harus menyatu dengan pemikiran Imammu.’ Arif berkata, ‘Itulah yang saya lakukan.’

Pikiran Imam itu pulang ke rumahnya. Ia lupa meninggalkan kuncinya di rumah. Saya tidak bisa tinggal diam di mesjid, jadi saya lari untuk mengambil kunci itu.’ Akhirnya terbukti bahwa pada saat shalat jama’ah, sang Imam yang saat itu sedang shalat konsentrasinya tertuju pada kunci rumahnya yang tertinggal.

Menjadi relijius, menjadi ortodoks, menjadi shaleh, tidak berarti menjadi spiritualis. Spiritualis berbeda dengan ahli ibadah atau abid.

Syekh Agung Muhyiddin Ibn ‘Arabi qs mengatakan, “Sesungguhnya dunia ini hanyalah imajinasi, karena Dia-lah realitas yang sebenar-benarnya. Siapa pun yang memahami ini, maka dia akan mengetahui segala rahasia Jalan Spiritual.” 78]

Pertanyaannya adalah bagaimana seseorang memasuki kehidupan ruhani? Kehidupan ruhani dapat dipandang sebagai sebuah perjalanan menuju tujuan yang dihasratkan. Dan ada kondisi-kondisi tertentu dalam perjalanan ini.

Yang pertama-tama harus diketahui adalah bahwa perjalanan ini berat karena tidak ada kereta listrik. Ia seumpama perjalanan dengan berjalan kaki. Inilah ciri dari perjalanan ini dan membuatnya berbeda dengan perjalanan yang biasa kita lakukan. Tidak ada alat modern, dan fasilitas-fasilitas canggih.

Mungkin kita sudah lupa bagaimana seseorang menempuh perjalanan di masa lalu, seperti menerobos hutan belantara, mendaki gunung, berenang menyeberangi sungai, dengan berbagai resiko dan bahaya yang senantiasa mengintai di sepanjang perjalanan.

Inilah perjalanan yang harus kita tempuh dalam pencapaian spiritual. Saat ini perjalanan lahiriah dibuat menjadi mudah, tetapi perjalanan batiniah tetap sukar. Al-Qur’an yang mulia menyebutkan,”Maka tidakkah sebaiknya dia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?Tahukah kamu jalan yang mendaki lagi sukar itu?” (QS 90 : 11-12)

Syarat pertama dari perjalanan ini adalah bersikap hati-hati dalam perjalanan menurut kebiasaan-kebiasaan perjalanan. Misalnya, bila ingin berjalan kaki untuk perjalanan yang jauh, maka ia harus melepas semua beban yang tidak perlu. Kita harus melepas begitu banyak hal dalam kehidupan ini agar perjalanan ini sukses.

Sering tanpa kita sadari kita sendirilah yang membuat hidup kita berat. Mungkin secara lahiriah tampaknya tidak sulit, namun secara batiniah ketika kita memulai perjalanan ini, akan mulai kita sadari betapa sulit bila membawa beban yang berat.

Ketika kita harus berjalan kaki, tanggungjawab yang kita ambil, serta setiap kebiasaan-kebiasaan, hal-hal kecil yang biasanya tidak kita pikirkan, kini kita pertimbangkan kembali. Kita sudah semakin terbius dengan berbagai kenyamanan hidup, semakin tidak toleran dengan lingkungan, semakin sensitif dengan berbagai pengaruh suara yang menggelegar.

Alih-alih menjadi lebih kuat, setiap hari kita justru semakin lemah, sehingga ketika datang perjalanan ini kepada kita dan kita menghadapi berbagai kesulitan yang kita temukan dalam perjalanan, maka akan terasa semakin sulit.

Somerset Maugham mengatakan, “Apa yang membuat usia tua menjadi sulit untuk dijalani bukan karena kegagalan akan kemampuan, mental atau fisik seseorang, tetapi justru karena beban kenangan atau ingatan seseorang

Apa yang telah kita lakukan di masa lalu pasti akan menjadi beban terberat bagi seorang pejalan ruhani.

Saat memulai perjalanan ini, sudah mulai akan kita rasakan kesulitan-kesulitannya. Dari segala sisi datang berbagai godaaan yang kian besar, yang mungkin tak pernah kita temui sebelumnya. Kita akan diuji dan dicoba di setiap langkah yang kita ambil.

Akibat yang kita terima tidak seperti yang orang lain terima. Jika seorang anak memecahkan gelas, orang mungkin mengabaikannya, tetapi jika pelayan yang memecahkannya, orang akan menanyakannya kenapa ia tidak hati-hati. Hal ini karena orang yang telah dewasa mesti memiliki tanggungjawab.

Orang yang menempuh jalan spiritual adalah orang yang memiliki tanggungjawab. Ia harus menjawab segala sesuatu yang ia kerjakan, baik kepada dirinya maupun kepada kehidupan.

Kita memiliki banyak hutang yang harus kita bayar pada kehidupan kita sendiri. Sementara itu yang kita hanya tahu hutang itu hanya berupa uang, namun sebenarnya banyak hutang-hutang lainnya seperti: hutang suami kepada istrinya, hutang isteri kepada suaminya, Hutang ibu kepada anaknya, hutang anak kepada ibunya.

Hutang itu dibayarkan kepada temn-teman kita, kepada orang-orang yang berdiri di atas kita, dan kepada orang-orang yang bergantung pada kita. Begitu banyak jenis hutang yang harus kita bayar.

Namun kita tidak pernah mempedulikannya. Pada zaman dahulu bahkan yang tidak mengambil jalan spiritual, misalnya para ksatria dan orang-orang mulia, memiliki hukum ksatria, ada peraturan yang keras dalam hal pembayaran hutang.

Orang-orang dulu berpikir, ‘Ibuku telah membesarkanku dari sejak bayi, ia telah mengorbankan waktu tidurnya, dan waktu istirahatnya untukku dan mencintaiku dengan cinta yang melebihi cinta apa pun di dunia ini, ia telah menunjukkan kasih sayangnya kepadaku, yang hakikatnya merupakan kasih sayang Tuhan.’ Si anak memikirkan hutang yang harus dibayar kepada ibunya.

Seseorang datang kepada Nabi (saw) dan bertanya kepadanya, ‘Wahai Nabi, engkau berkata bahwa ada hutang besar yang harus dibayar kepada seorang ibu. Anggaplah saya memberikan semua yang telah saya nafkahkan untuknya, sudah lunaskah hutang saya?’

Nabi menjawab, ‘Belum! Sama sekali belum. Andai pun kamu melayaninya sepanjang hidupmu, hutang itu belum lunas jika dibanding dengan apa yang dilakukannya terhadapmu dalam satu hari’.

Ibumu tidak hanya memberikan pelayanan, hati dan cintanya kepadamu, tetapi juga hidupnya. Jika kamu hidup setelah ia wafat, itu pun sudah dipikirkannya. Sedangkan kamu apa yang kamu pikirankan? Kamu mungkin berpikir ‘Selama ibuku masih hidup, aku akan menjaganya sampai akhir hayatnya dan ketika.ibumu wafat, kamu seakan-akan merasa terbebaskan.’ Ini yang membuat engkau  berbeda dengan ibumu.

Ini hanyalah sebuah contoh. Tetapi masih banyak lagi bentuk-bentuk hutang-hutang lainnya, seperti hutang kita kepada tetangga, kepada orang asing, kepada orang yang mengharapkan bantuan dari kita, baik berupa pelayanan maupun nasehat. Semua hutang itu harus kita bayar. Ada juga hutang yang harus dibayar kepada Allah, akan tetapi Allah Mahapengampun. 79]

“Ada dua kesalahan yang bisa dilakukan seseorang sepanjang jalan menuju kebenaran…tidak mengambil semua jalan dan tidak memulainya” 80]

 

Iklan

Komentar»

1. indigo - Jumat, 7 Desember, 2007

Blog yang baik untuk menambah wawasan ttg dunia islam. Bisa bahas lebih lanjut tentang ‘ruh’ itu sendiri? Terima kasih.

2. Quito Riantori - Jumat, 7 Desember, 2007

Insya Allah akan kita bahas pada waktu-waktu mendatang. Terima kasih juga.

3. As-Shufi - Sabtu, 6 Juni, 2009

Assalam,…

Mengerti tentang diri berarti kita telah mengerti untuk apa kita diciptakan….

Mencari kawan yang sepaham sangat susah,…
mudah-mudahan diwaktu-waktu mendatang abang bisa membantu saya untuk memahami sedikit akan arti “sebuah pelajaran berharga” dalam beragama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: