jump to navigation

Wahabi-Salafy; Mengusung Tauhid Atau Kedangkalan Pemikiran? Selasa, 4 Desember, 2007

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, Artikel.
trackback

binbaz.jpg

Ajaran Tauhid dan penolakan atas penyekutuan atas Allah Yang Maha Esa, merupakan ajaran terpenting yang menjadi asas ajaran Ilahiyah yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul. Dari ajaran Tauhid inilah kita bisa mengenal siapa sebenarnya Tuhan kita, dan dengannya kita bisa mengetahui sifat-sifat-Nya yang layak bagi-Nya dan yang tidak layak bagi-Nya.

Allah Swt sendiri berfirman : “Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.” 1]

Ini bermakna bahwa Allah Yang Maha Kuasa tidak layak disifatkan oleh mereka yang bodoh dan tidak mengenal-Nya. Orang-orang bodoh tidak pantas untuk membicarakan sifat-sifat Allah Swt, karena penyifatan kepadanya justru hanya akan membatasi kesempurnaan-Nya.

Imam Ali as mengatakan di dalam khotbahnya, “..Kesempurnaan pembenaran atas-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.”

Penjelasan Tauhid yang disampaikan oleh Amirul Mu’minin Ali binAbi Thalib as ini merupakan penjelasan yang sangat dalam, padat dan kokoh. Kata-kata beliau ini tidak bisa dipahami oleh sembarang orang. Hanya orang-orang yang benar-benar serius menggunakan akal dan merenunginya secara hati-hatilah yang dapat memahami kandungannya.

Dari ujaran Imam inilah kita bisa menyadari bahwa ajaran Tauhid bukan sembarang ajaran yang bisa diumbar ke sana-kemari tanpa pemaknaan yang proporsional. Kita menyadari bahwa ajaran Tauhid adalah ajaran yang mulia, tinggi dan tidak ternilai pentingnya.

Namun jika ada segelintir orang-orang bodoh yang hanya bermodalkan bahasa Arab seperti yang juga dulu dikuasai Abu Jahal, lalu menyerukan ajaran Tauhid seraya berteriak ke sana-kemari menyesatkan semua orang kecuali dirinya atau golongannya, maka ajaran ‘Tauhid’ dan ajaran-ajaran Islam lainnya menjadi terlihat ganjil dan aneh. Tentu saja ini bukan karena ajaran Islam itu sendiri yang dangkal tetapi karena orang yang kurang cerdas mencoba memaksakan diri untuk menjadi mubaligh atau ustadz, padahal kemampuan otaknya jauh dari memadai.

Inilah yang terjadi dengan ajaran Tauhid ketika berada di tangan oarang-orang yang sangat terbatas kemampuan akalnya. Dan tentu saja Anda sudah bisa menebak siapa orang-orang yang sedemikian nekad berdakwah tentang Tauhid yang merupakan ajaran yang telah disampaikan oleh orang-orang supergenius seperti para Nabi dan para Rasul as.

Mungkin ungkapan yang paling relevan adalah: “Burung beo tetaplah burung beo walaupun yang diucapkannya adalah kata-kata orang bijak!

Akan tetapi semua ini jauh berbeda dengan ungkapan di atas, karena orang-orang bodoh ini menyampaikan ajaran Tauhid di tengah orang banyak dengan keyakinan bahwa hanya mereka saja yang ber-Tauhid sementara semua orang selain dirinya dan kelompoknya, sedang berada dalam gelimang kesyirikan. Ini sangat sangat berbahaya!

Inilah yang terjadi dengan ajaran Tauhid ketika berada di tangan kaum Badwi Wahabi-Salafy yang terkenal bodoh dan kasar. Ajaran Tauhid di tangan mereka menjadi ajaran yang dangkal dan ngawur!

Benarkah?

Mari kita lihat bagaimana kaum Badwi Wahabi-Salafy ini memandang atau menyifati Allah Swt.

Wahabi: Kedua Tangan Allah adalah Kanan

Di dalam situs-situs kaum Wahabi yang tersebar di jaringan internet, kaum Wahabi menafsirkan Tangan Allah di dalam ayat-ayat al-Quran dengan penafsiran literal atau tekstual. Sepereti ayat :

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Rabb dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS az-Zumar [39] ayat 67) 2]

Apa komentar Wahabi atas ayat-ayat seperti ayat di atas?

Mereka menafsirkan ayat ini dengan menyertakan sebuah hadis Shahih Muslim : “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah (mereka berada) di atas mimbar dari cahaya dari sisi kanan Allah Azza wa Jalla. Dan Kedua Tangan Allah adalah Kanan…”

Dengan panjang lebar akhirnya kaum Wahabi-Salafy ini mengatakan : Jadi, kedua tangan Allah itu kanan, karena kiri mengandung makna kekurangan! (Baca tentang ini pada situs mereka : www.salafy.or.id )

Apakah Tauhid yang seperti ini yang dianggap benar? Lalu apakah orang-orang yang tidak berpaham seperti ini dianggap musyrik?

Tentu saja pernyatan-pernyataan semacam itu hanya akan menjadi tertawaan orang-orang yang sehat akalnya.

Muslim Sunni maupun Muslim Syi’ah beriman kepada ayat-ayat Quran maupun hadis-hadis seperti itu, namun keduanya tidak memaknainya secara literal atau tekstual. Inilah yang membedakan pemahaman Wahabi-Salafy dengan Sunni maupun Syiah, yang mana keduanya (Sunni – Syiah) menafsirkan ayat-ayat seperti itu secara majazi (metaphora), karena keduanya meyakini bahwa Allah Swt tidak bisa disifati seperti makhluk-Nya. Maha Suci Allah dari penyifatan seperti itu.

Apakah badwi-badwi itu tidak pernah membaca ayat di bawah ini?

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS Al-Syura [42] ayat 11)

ALLAH MEMILIKI JARI JEMARI
Kaum Wahabi-Salafy juga percaya bahwa Allah Swt juga mempunyai jari jemari, seraya mengutip sebuah hadis dari Bukhari dan Muslim : “Telah datang seorang rahib Yahudi lalu berkata, “Allah meletakkan langit-langit di jari-Nya pada hari kiamat”, maka Rasulullah Saw pun terkagum-kagum membenarkan berita tersebut.

Hadis ini tidak aneh, tetapi akan menjadi ganjil jika dipahami bahwa jari-jemari Allah itu ada dalam bentuk jism atau tubuh. Nah inilah yang diyakini sebagai salah satu akidah kaum Wahabi-Salafy.

Masih banyak keanehan dan keganjilan akidah Tauhid yang dianut oleh kaum Wahabi-Salafy ini, disamping itu ada banyak kekeliruan yang fatal atas pemikiran mereka dalam tulisan-tulisan para gembong Wahabi seperti salah satu contohnya, termaktub dalam kitab Fathul Majid Syarah Kitab Al-Tauhid 3] :

“Idza Jalasa Al-Rabbu ‘Ala al-Kursi.” Yang artinya : “Apabila Telah Duduk (jalasa) Tuhan Di Atas Kursi.” 4]

Si penulis kitab tersebut menyebut kalimat di atas sebagai hadis Nabi Saw padahal kalimat di atas itu bukanlah hadis. Inikah Syekh Wahabi-Salafy yang dikatakan ahli hadis itu? Mengapa keliru sampai sejauh ini? Inikah orang yang menjadi kebanggaan kaum Wahabi-Salafy sehingga mereka menggembargemborkan tentang dalil-dalil syar’i dan sebagainya?

Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi di dalam kitab Najm al-Muhtadi menukil dari Al-Qadi Husain bahwa Imam Syafi’i menyatakan, “Barangsiapa beranggapan bahwa Allah duduk diatas ‘Arsy maka dia Kafir.”

Saya tidak bermaksud ingin mengkafirkan golongan A atau B, tapi saya hanya ingin menekankan bahwa Imam Syafi’i yang merupakan salah satu Ulama Ahlus Sunnah ternama menganggap bahwa orang-orang yang berpaham tajsimiyyah atau men-tasybih-kan Allah dengan makhluk-Nya itu bukanlah dari golongan Ahlus Sunnah!

Bahkan lebih jauh lagi, Syekh Shaleh Utsaimin yang banyak dikutip para blogger Wahabi-Salafy mengatakan di dalam Tafsir Ayat Kursi : “Kursi itulah tempat (Allah) meletakkan kedua belah kaki Allah.”

Luar biasa! Kemurnian Tauhid macam apa yang diingin para baduwi dungu itu jika pemahaman mereka akan Tuhan seperti ini?

Catatan Kaki :
[1] QS Al-Shâffât [37] ayat 159
[2] Lihat juga ayat2 : QS al-Haaqqah [69] : 44-46
[3] Syekh Abdur Rahman bin Hasan, Fathul Majid Syarah Kitab Al-Tauhid, dan telah dishahihkan oleh Abdullah Bin Baz yang termasyhur kegarangannya itu.[4] Perhatikan, kata yang digunakan sang Syekh bukan Istawa (bersemayam) seperti yang digunakan di dalam ayat2 al-Quran tetapi Jalasa (duduk).

Iklan

Komentar»

1. adrian - Selasa, 4 Desember, 2007

assalamu’alaikum…
tulisan yang menarik, mas quito saya mau tanya, saya pernah baca di suatu buku yang menerangkan asal usul salat tarawih berjamaah, dibuku itu jelas dikatakan bahwa tarawih berjamaah itu diperintahkan oleh Umar ra, dan penulisnya mengatakan bahwa itu adalah bid’ah karena Rasul sendiri tidak melakukannya berjamaah dan tidak pernah menganjurkan untuk berjamaah, bahkan disitu dikatakan bahwa Rasul tidak menyukai bid’ah, nah yang membingungkan saya adalah bahwa si penulis itu menganggap hal itu termasuk bid’ah yang baik. Yang saya tanyakan adalah apakah ada dalil dari Alqur’an atau hadits Rasul mengenai status2 bid’ah ini (baik atau buruk), yang sehingga menjadi dasar diperbolehkannya bid’ah sepeninggal Rasul? maaf kalau merepotkan, tapi ini penting bagi saya… wassalam

2. Fakhrurrozy - Rabu, 5 Desember, 2007

Izinkan saya berbagi sedikit ya Pak. Keterangan berikut ini paling tidak menjelaskan secara detail ttg maksud tulisan Pak Qitori ini. Selengkapnya….

Wassalam

3. Quito Riantori - Rabu, 5 Desember, 2007

Wah, terima kasih banyak, Mas Fakhrurrozy, info dari antum membuat saya semakin meyakini kekeliruan paham Tasybih kaum Wahabi-Salafy tersebut. Sekali lg terima kasih n salam.

4. Quito Riantori - Rabu, 5 Desember, 2007

Mas Adrian, antum bisa baca tentang pembahasan tentang bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah pada situs Gus-Mus (KH. Musthofa Bisri). Terima kasih.

5. ABDULLAH - Kamis, 6 Desember, 2007

YA YG TERMASUK SEPERTI YG ENTE TULIS DIATAS TUH ENTE SENDIRI.HAHAHA KEMAMPUAN DAN ILMU PAS PASAN SO MO JADI MUBALIQ,LUCU MAS MENDING ENTE BERTAUBAT DENGAN TAUBATAN NASUHAH.

6. Quito Riantori - Kamis, 6 Desember, 2007

Hei Abdullah, bagaimana dengan firman Allah Swt : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10), bukankah pada saat Bai’at itu tak pernah ada riwayat tentang adanya TANGAN ALLAH yang turun dari langit yg turut berbai’at pada sahabat? Tolong dijawab wahai orang ‘pandai’…

7. aswaja - Rabu, 12 Desember, 2007

Itulah wahabi salafi/y segerombolan preman berjubah agama, penyebar fitnah di tengah umat manusia…..

8. antoni - Sabtu, 15 Desember, 2007

assalam
wahai engkau penyebar kebencian ditengah umat!!!!
apa yang kau tahu apa juga benar?apa engkau juga sudah yakin diterima di sisiNya? kenapa engkau tak datang sendiri dan lihat bagaimana cara kita berdakwah!!!kami tunggu kedtangan antum ya ahli fitnah!

9. Quito Riantori - Senin, 17 Desember, 2007

Sebenarnya, yang paling layak disebut sebagai penebar fitnah, ahli fitnah adalah orang-orang Wahhabi-Salafy, karena sudah banyak orang tahu bagaimana dakwah mereka yang cenderung memusuhi semua kaum Muslim : PKS, Syiah, NU, Ahlussunnah wal Jama’ah, kaum Sufi, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin dan banyak lagi kaum Muslim lainnya yang mereka anggap sesat. Menyesesatkan Hasan al_Banna, Sayyid Quthb, Yusuf Qardawi, dan masih banyak lagi org2 shalih yang mereka anggap sesat. Inikah cara dakwah yang mereka anggap baik, benar dan lurus? Na’udzubillah min dzalik!

10. arie k - Senin, 17 Desember, 2007

assalamu’alaikum mas quito, mas saya sering mengunjungi blog mas ini, menurut saya bagus dari sisi keterbukaan dalam menerima pendapat dan pikiran2 sesama. bahkan saya yakin kalaupun ada orang2 nonmuslim yang memberikan pendapat di blog mas ini rasanya akan diterima dengan baik, selama cara penyampaian mereka juga baik, jadi kita dapat saling bertukar pikiran. itu menurut saya mas. saya menganggap blog ini seperti “rumah”nya mas quito, yang menuliskan pendapat2 adalah “tamu”2nya. nah yang membuat saya takjub adalah koq masih ada saja segolongan tamu2 yang selalu menyampaikan pendapat2nya dengan menegangkan urat syaraf disertai tanda seru, huruf2 dan bahasa yang menghina. padahal kan kalau mereka menulis atau berbicara dengan baik (apapun isinya) akan lebih dapat diterima, minimal didengar atau dibaca dengan senang hati. karena walaupun saya “baru” mulai nafas 30th lalu tapi saya telah melihat dari berbagai kenyataan hidup bahwa orang2 yang menyampaikan sesuatu dengan sikap seperti itu (memperlihatkan sikap keras dan marah) tidak pernah akan diikuti dengan baik, ya walaupun diikuti tapi pasti setengah hati karena takut, jadi tidak pernah menghasilkan suatu keikhlasan dalam menjalankan keinginan orang2 yang seperti itu. menurut saya, sebagai tuan rumah mas quito lebih baik layani dengan baik dan sabar aja mas (apapun isinya), itu menurut saya lagi lho.

11. Aminuddin - Rabu, 6 Februari, 2008

Mas Andrian, perkataan “inilah sebaik-baik bid’ah” bukan ucapan penulis, tapi ucapan Umar ra. Namun sebenarnya Rasulullah juga pernah melaksanakan sholat taraweh berjama’ah dua malam berturut-turut, setelah itu dihentikan. Kenapa? karena Rasulullah takut kalau sholat taraweh diwajibkan bagi umatnya (ingat saat itu wahyu masih turun).

Jadi bid’ah disini maksudnya bukan bid’ah yang dilarang itu.

12. Yogi - Rabu, 6 Februari, 2008

Sepertinya mas keliru memahaminya….
Allah punya tangan, memang benar karena itu firmannya.
Tetapi jangan difahami tangan Allah seperti tangan manusia (atau mahluk lainnya). Itu yang keliru.

Kalau Allah turun ke Bumi ya memang Allah turun ke Bumi, tapi jangan difahami turunnya Allah ke Bumi lalu Arsy ditinggalkan, bukan begitu mas memahaminya. Allah memang turun ke Bumi, tapi turunnya Allah tidak sama seperti turunnya manusia….

13. Quito Riantori - Jumat, 8 Februari, 2008

Waduh mas Yogi…coba deh mas Yogi perhatikan kalimat mas Yogi : “Allah punya tangan, memang benar karena itu firmannya, tetapi jangan difahami tangan Allah seperti tangan manusia.”
Mohon deh anda renungi, kira2 kalimat anda di atas itu bisa dipahami gak ya?

Kata “tangan Allah” di dalam ayat2 Quran hanya punya dua kemungkinan penafsiran :
1. Secara literal.
2. Secara majazi atau kiasan.
Nah coba anda pilih di antara kedua cara tersebut.
Jika anda pilih yang pertama seperti yang anda pahami saat ini, bagaimana anda menjelaskan ayat di bawah ini :
“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah . Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Quran Surah al-Fath [48] ayat 10) Bagaimana menurut anda tangan Allah pada saat itu?

Terima kasih atas kunjungannya. Salam

14. wawan - Jumat, 29 Februari, 2008

Pak Qito,

jika memang firman ALLAH swt spt itu, ya berarti memang spt itu.
hanya saja, tangan disini bukan lantas kita memahami spt tangan
manusia spt kata pak Yogi diatas.

contoh misal kaki, apakah sama kaki manusia dg kaki meja,
kaki langit dst .. dst.

Allah mempunyai tangan, bukan berarti itu tangan spt yg kita bisa jangkau
dg akal, terlebih lagi mengumpamakan dg tangan manusia.

apa dasar kita menolak firman tsb, hanya karena kita membayangkan
tangan Nya sama spt tangan manusia, jadi kita harus repot2
menafsirkan lagi dg berbagai pemahaman?

jika kita menyebut pencuri sebagai si tangan panjang,
apakah benar tangan orang itu panjang ?

15. Quito Riantori - Sabtu, 1 Maret, 2008

@Wawan
Saya himbau anda utk belajar secara lebih dalam, karena tampak disini anda cuma ikut-ikutan, cobalah anda sekali lagi gunakan kepala anda dan mata anda, baca tulisan saya di atas dengan cermat. Jika pun anda artikan begitu maka ayat tersebut menjadi sia2 karena anda sendiri tidak memahaminya, anda hanya akan mengatakan : “Pokoknya tangan Allah! Gak usah dipikirin lagi, iya begitu!” He..3x Orang-orang yang masih waras tentu saja akan tertawa. Coba anda liat di atas ada kata2 Syekh anda Utsaimin ketika menafsirkan ayat Kursi : “Kursi itulah tempat (Allah) meletakkan kedua belah kaki Allah.”, coba tafsirkan maksud kata 2 di sana? Makasih ya udah capek2 nulis komentar di sini.

16. elmughny - Minggu, 16 Maret, 2008

Assalamu’alaikum
jujur. ini kali pertama saya berkunjung ke blog mas Quito… Salam Ukhuwah..
Saya amat senang ketika berkunjung ke site ini terutama untuk menambah ilmu dan wawasan saya yang AMAT SANGAT KURANG mengenai akidah ini..
Oia. mas bisa kasih tau tidak situs2 kaum wahaby-salafi dan para ulama yang berkecimpung didalamnya… agar saya pribadi bisa tau dan berusaha menghindarinya.. karena yang saya tau dari teman saya bahwa mereka itu “MENCAP” golongan mereka adalah golongan yang terbaik dan mengatakan sesat kepada golongan yang tidak ikut kepada mereka.. benarkah itu ???
Syukron katsiron.. Jazakumullah..

17. Quito Riantori - Senin, 17 Maret, 2008

@elmughny
Wa ‘alaykum salam.
Anda bisa klik di blogroll saya : abusalafy, di sana ada tertera situs2 & blog2 wahaby-salafy.
Di blog Abu Salafy justru dijelaskan dengan rinci kitab2 mereka yang mengkafirkan semua golongan kecuali mereka sendiri.
Coba saja anda kunjungi blog tersebut. Terima kasih. Salam.

18. ali abbas - Selasa, 26 Agustus, 2008

bissmillah.akhi sangat bagus pembahasan nya mohon di kasih saran ana syukron

Rohmat Hidayat - Selasa, 8 Desember, 2009

Ahmad Syafi’i M, pernah mengatakan “Musuh terbesar dari setiap orang adalah kedangkalan berfikir dan sifat monopoli kebenaran”
pendapat ini cocok juga buat kaum salafi dan wahabi yang udah merasa kaya ‘malaikat’ paling bener. mana ada orang paling bener di dunia ini. ukuran paling bener itu kan diri/golongan mereka sendiri. jujur saya merasa miris mendengar pendapat-pendapat mereka yang menyesatkan golongan lain. terakhir tadi pagi saya ngobrol sama teman yang mulai ikut-ikutan ngaji sama orang salafi (tapi dia punya dasar agama yang cukup). si guru ngaji itu (salafi) bilang : dari pada berteman/bertetangga dengan ahli bid’ah (orang yang diluar pemahamannya dengan mereka) lebih baik berteman dengan binatang, sejenis kambing dsb. Naudzubillahi min zalik….

19. SODIK - Rabu, 20 Januari, 2010

AHLAN YA ABU SALAFY BEKHER ?
KLU MRK MAU LBH FAHAM LG..! SURUH MRK BACA BUKU…………., ;
MAFIHIM KARYA ; SAYYID MUHAMMAD ALMALIKI )……. KAMSIA

20. m.Khoirulloh - Minggu, 25 April, 2010

asssalamu`alaikum ahlan wasahlan, saya baru masuk blog anda mas Quito. saya dukung dan do`akan semoga mas Quito dalam lindungan Allah SWT. saya pribadi merasa sedih dan kasihan ama orang2 WAHABI SALAFY yang ngerasa diri paling benar dari umat Islam yang lain. Seharusnya pengikut wahabi mesti tahu sejarah perjalanannya yang telah membantai kaum muslim dari keturunan Rosululloh MUHAMMAD SAW. jadi di belakang mereka adalah orang2 KAFIR (YAHUDI&NASRANI). saya himbau kaum muslimin muslimat untuk memerangi kaum wahabi salafy dengan tulisan dan pedang. semoga Allah SWT bersama orang2 yang berjihad di jalan yang lurus dan benar.amin, terima kasih, wasaalam

21. izhar - Rabu, 28 April, 2010

salam… sya dr malaysia..sy setuju dgn penjelasan Bapak Quito mengenai tauhid ahlul sunnah (al asyaari) . Ia nya mudah , jelas dan padat..sy tetap dibelakang tuan walaupun saya byk tak tau masalah agama.. semoga Allah menegohkan perjuangan bapak.

22. agung - Senin, 17 Januari, 2011

salafy mirip khowarij, pandai tekstual, merasa paling benar menyalahkan semua, dalam sejarah islam ya hanya ada dua khowarij dan wahabi salafy

23. Luar Biasa! Inilah Kemurnian Tauhid Amburadul Versi Salafy Wahabi! « UMMATI PRESS - Jumat, 15 Juli, 2011

[…] sumber […]

24. - Ummati Press - Sabtu, 3 September, 2011

[…] sumber Posted in Tentang Wahabi | Tagged Abdullah Bin Baz, Ajaran Tauhid, Allah, Imam Syafi’i, Tauhid, wahabi, Wahabi-Salafy […]

25. habsyi - Rabu, 29 Mei, 2013

Saran ane kepada kaum Wahabiyin, agar bersikap lunaklah sedikit, Jangan suka membuat masyarakat bingung.
Jangan mengungkit-ungkit dan membid’ah-bid’ahkan serta menyesat-nyesatkan masalah-masalah khilafiyah, Masalah itu sudah selesai sejak sekian lama.
Dulu para alim ulama dan masyarakat Islam kita, bisa saling menghargai walaupun berbeda-beda mazhabnya, Tapi kenapa sekarang kalian tidak bisa.
Kalian hanya akan membingungkan umat dengan syubhat-syubhat “kembali kepada alquran dan sunnah” kalian, Tidak ada yang salah dari mazhab, tasawuf, tawasul, maulid, tahlilan, salawatan, dzikir jamaah, qunut dan amalan-amalan umat lainnya. Ini semua juga diambil dari Alquran dan Sunnah dan diamalkan oleh kaum muslimin secara turun temurun sejak sahabat hingga sekarang.
Pemahaman kalian saja yang salah dalam memahami apa itu alquran dan sunnah..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: