jump to navigation

Cinta Kepada Allah dan Cinta Kepada Manusia; Mungkinkah Dipadukan? Kamis, 13 Desember, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Love, Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

cinta-allah-cinta-manusia.jpg

Quito R. Motinggo


Nabi Muhammad Saww bersabda : “Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah-pun tiada mengasihinya! (Kanz al-‘Ummal, hadits ke : 5972)

Di Dalam ajaran Islam, Mengasihi Sesama Manusia adalah bagian terpenting dari ajaran Nabi Muhammad saww dan Ahlul Baitnya. Mencintai umat manusia adalah realisasi dari ajaran al-Qur’an, yang mana pengutusan Nabi Muhammad Saww merupakan rahmat dan wujud kasih sayang Allah SwT atas Alam Semesta ,“Tiadalah Kami mengutusmu (Wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat (Ku) atas Alam Semesta” (QS Al-Anbiya’ [21] ayat 107)

Ayat di atas sekaligus menjelaskan tujuan dari diutusnya Muhammad saww sebagi Rasul dan Nabi, yaitu memanifestasikan Kasih Tuhan ke seluruh penjuru semesta.

Di dalam hadits lainnya diriwayatkan Rasulullah saww bersabda, ”Demi Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah masuk Surga kecuali orang yang memiliki rasa kasih sayang.”

Para sahabat menyahut, “Kami semua memiliki kasih sayang!”

Nabi berkata, “Bukan itu yang kumaksudkan, kalian bisa dikatakan sebagai orang yang memiliki kasih sayang jika kasih sayang kalian juga dilimpahkan kepada seluruh umat manusia dan alam semesta” 79]

Mungkin kita pernah berdoa, ”Ya Allah, kasihanilah kami” Tetapi bagaimana jika ditanyakan kepada kita,”Apakah kalian sendiri juga suka menyayangi?”

Atau hampir setiap waktu kita berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah kami” Tetapi bagaimana jika ditanyakan kepada kita,”Seberapa banyak kalian telah memberi maaf kepada manusia?”

Nabi Saww bersabda, “Allah Yang Maha Rahman mengasihi dan menyayangi orang-orang yang memiliki kasih sayang, karena itu kasihilah mereka yang di bumi niscaya mereka yang di langit juga mengasihimu!80]

Rasa belas kasih berarti kepekaan terhadap kondisi atau status dari semua ciptaan Tuhan, baik itu manusia, binatang atau bahkan tumbuh-tumbuhan. Seseorang tidak mungkin bisa memiliki rasa belas kasih kecuali jika ia memiliki kepedulian kepada kebutuhan dan kondisi-kondisi orang lain.

Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan Zakat dan Khumus atas kaum muslimin untuk membebaskan kaum yang lemah, yatim piatu, para janda, orang-orang miskin dan tertindas demi jiwa kaum muslimin itu sendiri. Sebab kepekaan, dan kepedulian kepada mereka yang lemah (dlu’afa) merupakan stimulasi untuk membersihkan jiwa (nafs) agar tumbuh pula kecintaan dan kasih sayang dari jiwa yang telah tersucikan tadi.

Bahkan puasa yang diwajibkan pada bulan Ramadhan itu pun bertujuan untuk itu (‘illat), sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ja’far al-Shadiq as, “Allah mewajibkan puasa untuk mempersamakan si kaya dan si miskin. Dengan puasa orang kaya akan merasakan derita lapar untuk menumbuhkan rasa belas kasihnya kepada si miskin, karena selama ini si kaya tidak pernah merasakannya. Allah menghendaki untuk menempat­kan makhluk-makhluk-Nya pada suatu pijakan yang sama dengan jalan membuat si kaya turut merasakan nestapanya lapar, sehingga ia menaruh belas kasih kepada orang yang lemah dan lapar.” 81]

KISAH SUFI ABU BIN ‘AZHIM

Diriwayatkan bahwa seorang sufi besar, Abu bin Azhim, suatu waktu terbangun di tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya. Di tengah tengah cahaya itu ia melihat sesosok makhluk, seorang malaikat yang sedang memegang sebuah buku. Abu bin Azhim bertanya: “Apa yang sedang anda kerjakan?” “Aku sedang mencatat daftar pecinta Tuhan”, jawab sang malaikat.

Abu bin Azhim ingin sekali namanya tercantum sebagai salah seorang pencinta Tuhan di dalam daftar tersebut. Dengan cemas ia mencoba melongok ke daftar itu, tapi kemudian ia sangat terpukul dan kecewa, karena ternyata namanya tidak tercantum di daftar tersebut.

Ia pun bergumam: “Mungkin aku terlalu kotor untuk menjadi pecinta Tuhan, tapi sejak malam ini aku ingin menjadi pecinta manusia”. Beberapa hari kemudian ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya dipenuhi cahaya terang benderang, malaikat yang bercahaya itu hadir lagi.

Abu bin Azhim kembali mencoba melihat daftar para pencinta Tuhan, dan ia pun sangat terkejut, karena namanya tercantum pada papan atas daftar pecinta Tuhan. Ia pun bertanya kepada sang malaikat sambil terheran-heran, “Aku ini bukan pecinta Tuhan, aku hanyalah pecinta manusia, bagaimana mungkin namaku tercantum sebagai salah seorang pencinta Tuhan?”. Sang malaikat pun menjawab, “Baru saja Tuhan berfirman kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Tuhan sebelum kamu mencintai sesama manusia” 82]

Rasulullah saww juga bersabda, “Kecewa dan Merugilah orang yang Allah tidak mengaruniai di dalam hatinya rasa kasih sayang kepada umat manusia.”83]

Mencintai Rasulullah saww sama dengan mencintai Allah SwT, mencintai orang tua kita sama dengan mencintai Allah SwT, mencintai sesama manusia sama dengan mencintai Allah SwT. Seorang ‘Arif bi Allah, yaitu, Ahmad ibn Muhammad al-Sawih al-Maliki al-Khalwati berkata, “Engkaulah Muhammad, pintu Allah (Baab Allah), tanpa engkau tidak sampai orang kepada-Nya. Dia, Muhammad, pintu Allah yang agung dan rahasia-Nya (sirruhu), yang membanggakan. Sampainya seseorang kepada Muhammad juga sampainya orang itu kepada Allah, karena sesungguhnya dua hadhrat (Allah dan Muhammad) adalah satu dan siapa yang membedakannya berarti dia belum mengenyam nikmatnya Ma’rifah!84]

Kita akan mendengar satu kisah lagi yang sangat indah yang berkenaan dengan Ahlul Bait Nabi-Nya, yaitu percakapan Imam Husain as, yang saat itu masih kanak-kanak, dengan ayahnya, Imam Ali as, sang Insan kamil.

DIALOG IMAM HUSAIN AS DENGAN AYAHNYA
Sewaktu masih kecil Imam Husain as (cucu Rasulullah saww) bertanya kepada ayahnya, Imam Ali as, “Ayah, apakah engkau mencintai Allah?”

Imam Ali as menjawab, “Ya, Tentu!”

Lalu Husain kecil bertanya lagi, “Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?” (maksudnya Rasulullah)

Imam Ali as kembali menjawab, “Ya, tentu saja!”.

Imam Husain bertanya lagi, “Apakah engkau juga mencintai Ibuku?”

Lagi-lagi Imam Ali as menjawab, “Ya, Tentu saja aku mencintai ibumu”

Husain kecil kembali bertanya, “Apakah engkau juga mencintaiku?”

Imam Ali as tersenyum dan menjawab, “Ya, tentu saja aku juga mencintaimu!” Terakhir kali Husain kecil bertanya,”Ayahku, bagaimana bisa engkau menyatukan begitu banyak cinta di dalam hatimu?”

Imam Ali as kemudian menjelaskan kepada puteranya yang sangat dicintainya itu, “Wahai Anakku, pertanyaanmu hebat! Ketahuilah, cintaku pada kakek dari ibumu (Nabi saww), ibumu (Fathimah as) dan kepadamu sendiri adalah karena cintaku kepada Allah. Karena sesungguhnya semua cintaku itu adalah cabang-cabang cintaku kepada Allah Swt”
Setelah mendengar penjelasan ayahnya itu, Husain kecil tersenyum mengerti. 85]

MENCINTAI MANUSIA SAMA DENGAN MENCINTAI TUHAN
Mencintai manusia, pada hakikatnya, sama dengan mencintai Tuhan, karena manusia dan alam ini adalah manifestasi-Nya juga.

Di balik nama-nama Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, Husain atau pun isteri, anak-anak kita, atau siapa pun, sejatinya, di sanalah bersimpuh wajah-Nya dan manifestasi dari nama-nama-Nya.

Al-Qur’an bahkan mewasiati kita agar kita saling nasihat menasihati di dalam menetapi kebenaran, kesabaran dan kasih sayang! : “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakkan, atau memberi makan pada hari kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir, dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (Lihatlah al-Qur’an Surat Al-Ashr dan QS 90 : 17)

Rasulullah saww bersabda :
“Sesungguhnya Allah itu Maha Penyayang
dan menyayangi orang-orang yang memiliki kasih sayang
dan Dia melimpahkan Rahmat-Nya
atas orang-orang yang memiliki kasih sayang”

(Kanz al-‘Ummal hadits ke : 10381)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Iklan

Komentar»

1. indigo - Kamis, 13 Desember, 2007

Inspiring sekali pembahasannya…padahal belum lama ini saya juga berpikir tentang hal ini, cinta kepada Allah sekaligus mencintai manusia…bagaimana menyikapi nya dalam kehidupan ini. Keep writing 🙂
Terima kasih. Wassalam.

2. Quito Riantori - Jumat, 14 Desember, 2007

Terima kasih juga buat Indigo atas kunjungannya.

3. dennies susanto - Minggu, 30 Desember, 2007

emmm…:) sejujur nya setelah baca apa yang telah saya baca tentang Cinta Kepada Allah dan Cinta Kepada Manusia, saya baru menyadari bahwasanya begiyu dalam arti cinta dan kasih sayang…makasi ya 🙂

4. Quito Riantori - Senin, 31 Desember, 2007

Sama2 Mas Dennies. Terima ksih dah berkunjung ke blog ini. Salam.

5. rizkhy - Kamis, 4 September, 2008

mas dennis saya mo tanya ni jadi bagaimana cara membuktikan bahwa kita memang cinta kepada Allah???

6. HENDRI SYAHPUTRA - Minggu, 14 September, 2008

makasih artikel yang cukup menggugah hati kita, tapi yang jadi persoalan sekarang. apakah ada cinta seperti itu sekarang.

7. iam - Minggu, 30 November, 2008

waww!!
mas aku pinjam artikel nya yha..
hehe

8. arie kariana - Selasa, 2 Desember, 2008

@rizhky

maaf menyelak, he2, bagi saya salah satu tanda cinta pada Allah adalah ketika kita merasa wajib, bergairah dan merasa ringan untuk mengerjakan amal2 yang sunnah… rasulullah saaw pernah mengatakan bahwa derajat kekasih Allah akan diperoleh salah satunya dengan mengerjakan yang sunnah, namun tentunya dengan keyakinan dan ilmu yang benar dan bertahap, dan Allah lebih melihat pada usaha diatas hasil (an nisa 100).
Imam ‘ali pernah mengatakan “barangsiapa memetik buah sebelum matang sama saja dengan menanam di kebun orang lain”, mudah2an berguna bagi anda dan saya terutamanya… salam bagi anda dan semua

ABI ALI - Selasa, 7 September, 2010

ASS,,,,KADANG KITA MERASA TAKUT KALAU KITA LUPA TERHADAP PASANGAN ATAUPUN KERABAT LAINNYA. IRONISNYA KITA TIDAK MERASAKAN KETAKUTAN SAAT KITA INGKAR TERHADAP ALLOH SWT. PADAHAL BEGITU BESAR RAHMAT ALLOH KPD KITA. TAPI KITA TAK MENGINDAHKAN RASA CINTA KITA KPD ALLOH SWT. BAHKAN KITA SERING MELUPAKAN APA YANG MENJADI KEWAJIBAN KITA SEBAGAI MAHLUK CIPTAANNYA. SODARAKU MARI KITA TINGKATKAN KEIMANAN DAN KETAKWAAN KITA KPD ALLOH SWT.

9. TiEzZ_CuiTZz - Sabtu, 21 Februari, 2009

kadang untuk menyatukan antara cinta kepada allah,rasul,ortu,dan tentunya orang yang qt sayangi memang sulit….tapi tentu qt hrs bs menyatukan tu mua dg pusatnya cinta pd sang kholiq

10. uhibbukafillah - Minggu, 1 Maret, 2009

Assalamualaikum…
Subhalallah, Indah ^^
Akhi saya Ngopy ya ^^

11. ida fasha - Rabu, 8 April, 2009

Assalamualaikum.Cinta kepada ALLAH SWT adalah yang abadi selamanya

12. Thiea - Jumat, 5 Juni, 2009

Subhanallah..
Btapa kuatnya iman ssorg yg dpt mnyatukn smua rasa cintanya krna Allah.

13. tiwi - Sabtu, 8 Agustus, 2009

cinta adalah anugrag terindah yang diciptakan oleh allah…….

14. stainless tanks - Selasa, 22 September, 2009

subanallah..
Sangat bersukur dan sangat cinta’y saya kepada allah..

15. anto al furqon - Senin, 19 Oktober, 2009

artikel yang keren..

16. Rindu - Minggu, 24 Januari, 2010

Subhanallah..

17. Ardi - Rabu, 10 Februari, 2010

Thanx atas ilmunya. Saya sekarang, dalam proses mencari cinta-Nya Allah. semoga saya bisa mendapatkannya. Ami…n.

18. ahmad - Kamis, 1 April, 2010

Ass..wr.wb,
Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah-pun tiada mengasihinya!

19. Dewi Perindu Cahaya - Sabtu, 10 April, 2010

KOBESSA……

20. anto - Jumat, 23 April, 2010

sungguh….cinta sejati….aku sangat terkesan hingga ingin menangisi diriku sendiri….

21. ridwan - Minggu, 9 Mei, 2010

alhamdullah…

22. hosting murah indonesia - Rabu, 19 Mei, 2010

ma’af sobat mengganggu nich…ada pengumuman tentang kontes seo. yu’ ikut meramaikan, terimakasih :D203
http:www dot indositehost.com/kontes-seo.php

23. setiawan - Rabu, 26 Mei, 2010

kang terima kasih infonya…

Quito Riantori - Rabu, 26 Mei, 2010

sama2…

24. ABI ALI - Selasa, 7 September, 2010

ass….sodaraku….sebentar lg romadhon meninggalkan kita semua.apkah kita harus senang ataupun sedih?…. mdh2n Alloh menerima semua amal ibadah kita.,amien.

25. ABI ALI - Selasa, 7 September, 2010

tidak ada tuhan kecuali Alloh

26. angelia majesty - Kamis, 9 September, 2010

betul,betul,betul…………..

27. m.nasir - Selasa, 26 Oktober, 2010

mohon maaf sebelumnya hanya ala kadar : mari kita telaah apa yang dimaksud dengan cinta atau mencitai, mencintai berarti mendahulukan segala sesuatu itu untuk yang dicintai, jadi mencitai manusia belum tentu mencintai alloh, banyak orang yang cinta kepada anak, istri atau suami, cinta kepada kedua orang tuanya, tetapi orang itu tidak melaksanakan shalat lima waktu dalam artian (melaksanakan perintah-perintah Alloh dan meninggalkan larangan-Nya, berarti orang itu jauh dari cinta kepada Alloh SWT)orang tersebut dinamakan cinta dunia,(banyak orang selain Islam yang cinta kepada manusia dan bahkan sesama makhluk, akan tetapi orang itu tidak bisa dikatakan cinta kepada Alloh) rasa cinta adalah titipan dari Alloh, jadi orang yang cinta kepada Alloh berarti mendahulukan segala sesuatunya hanya kepada aturan-aturan Alloh, segala permasalahan disandarkan kepada syariat-syariat Alloh, apa yang dilarang dan diperintahkan oleh Alloh, namanya cinta yang berat menjadi ringan yang jauh menjadi dekat yang sedikit menjadi banyak (dalam hal menerima seuatu) yang banyak menjadi sedikit (dalam hal memberikan sesuatu)bahkan yang sakitpun menjadi nikmat. (contoh ketika seorang pecinta kepada Alloh sedang ditipi sakit, sang pecinta Alloh tidak lagi sakit yang dirasa tetapi sang pecinta meraskan bahwa Alloh baru mengugerahkan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya). Jadi Jika seseorang itu cinta kepada Alloh, sudah pasti orang itu welas dan asih kepada sesama bahkan kepada semua makhluk Alloh, akan tetapi kalau ada orang yang mengaku cinta kepada Alloh tetapi tidak welas dan asih kepada sesama makhluk Alloh, wajib dipertanyakan cintanya kepada Alloh. Orang yang cinta hanya kepada sesama (manusia)tidak bisa dibilang pada hakekatnya cinta kepada Alloh. sekali lagi mohon maaf lahir dan batin.

28. erick - Senin, 20 Juni, 2011

assalamu alaikum wr. saya ingin bertanya.. bagaimana caranya untuk membangun rasa cinta kepada allah swt dan apakah dosa apabila cinta kita kepada manusia lebih besar daripada cinta kita kepada allah swt.

29. maspray - Sabtu, 23 Juli, 2011

Apa sih maksud qitori? But, terimakasih artikelnya, insyaAllah akan digunakan untuk pembahasan kajian di tempat saya.
جزاك الله خيرا كثيرا

Quito Riantori - Senin, 25 Juli, 2011

qitori = quito riantori. Mohon doa antum…

30. fiki khoirul mala - Selasa, 16 Agustus, 2011

ALHAMDULILLAH..
dengan ini kita bisa dapat manffat yg begitu besar…..

31. cinta kepada Allah « norkhayeriah - Jumat, 14 Oktober, 2011

[…] a Kepada Allah dan Cinta Kepada Manusia; Mungkinkah Dipadukan? […]

32. walon - Rabu, 26 Oktober, 2011

●●●▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬●●●
(¯`’★•♥♥اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ ♥♥ •★’´¯) ●●●▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬●●●
**********************************SAWW*******************************

33. Sharlin Niff - Kamis, 1 Desember, 2011

Allah swt yang maha pengasih lagi penyayang padamu ku memohon “Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim ampunilah kami tambahkan kasih sayang dihati kami.amin ya rabb

34. w4n - Senin, 12 Desember, 2011

salam kenal, kang.
artikelnya inspiratif, mhn ijin utk bahan diskusi.

Quito Riantori - Selasa, 13 Desember, 2011

silahkan…

35. andika - Selasa, 24 April, 2012

Allahumma Shalli ‘alaa Zahra wa Abuha wa Ba’luha wa banuha wa ‘ajjil faraja lbna Zahra.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: