jump to navigation

Metode Metode Penanganan Amarah Senin, 14 Januari, 2008

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

anger1.jpg

Rasulullah saww bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudlu’.” (Mustadrak al-Wasail 1 : 353).

Sudah banyak bukti bahwa cara ini sangat efektif. Cara lainnya yang ditawarkan dari hadits-hadits Ahlul Bait as adalah menempelkan pipi kita ke atas tanah, sebagaimana sabda Nabi saww, “Sesungguhnya amarah itu ibarat bara api yang menyala di dalam hati keturunan Adam, maka jika salah seorang dari kalian marah, merahlah matanya, dan berdegup keras jantungnya. Maka barangsiapa yang mengalami hal yang demikian, hendaklah ia menempelkan pipinya ke atas permukaan tanah.” (Bihar al-Anwar 70 : 272)

Cara-cara seperti ini sangat efektif, seperti menempelkan pipi ke atas tanah mungkin punya maksud dan tujuan agar kita segera sadar bahwa kita sama-sama berasal dari tanah, sehingga kita tidak perlu merasa lebih tinggi dari yang lain. Betapa sering kesombongan menjadi sumber utama kemarahan kita yang destruktif.

Pada riwayat hadits lainnya, Imam Ja’far al-Shadiq as mengatakan, “…Maka apabila seseorang marah dan ia dalam keadaan berdiri hendaklah ia duduk, karena yang demikian itu menghilangkan kotoran setan dan jika ia dalam keadaan duduk hendaklah ia berdiri. Dan apabila seseorang marah pada orang yang ia sayangi, hendaklah ia berdiri, mendekati, dan menyentuhnya. Karena sesungguhnya seorang yang menyayangi apabila disentuh oleh orang yang disayanginya niscaya ia akan menjadi tenang.” (Wasail al-Syi’ah 15 : 363).

Semua cara-cara ini menjadi alternatif yang positif, selain perlunya pemahaman dan kesadaran akan hakikat kemarahan itu sendiri.

Kita sudah melihat kemarahan itu wajar dan biasa, namun dapat menjadi destruktif dan menakutkan. Kebanyakan dari kita tidak menyukai jenis orang-orang tertentu, yang barangkali “tidak sopan, banyak menuntut macam-macam, malas” atau juga barangkali “suka mencela, nge-boss, angkuh, dan sok menggurui.” Jika kita beruntung, kita dapat menghindari situasi konflik.

Bagaimanapun, jika kita semua mau belajar mengendalikan kejengkelan kita, kedengkian, kemarahan, kekerasan, prasangka, dan yang semacamnya, bukankah akan terjadi dunia yang lebih baik? Tentu saja itu akan terjadi, namun seperti tujuan-tujuan yang tampak sedemikian idealistis bagi banyak orang, mereka berpikir hal ini hanyalah omong kosong.

Orang-orang akan mengatakan “Anda takkan bisa mengubah sifat alami manusia.” Pernyataan ini merupakan “sikap mengalah sebelum berjuang”. Saya pikir ini bukanlah hal yang mustahil, untuk menciptakan generasi yang toleran, bahkan saling mencintai satu sama lain. Mungkin ini tugas yang mahabesar, tetapi masih layak untuk kita perjuangkan dan kita tak boleh menyerah.

Oleh karena itu, kita mesti mendedikasikan diri kita sendiri untuk meningkatkan dunia ini, dan harus kita mulai dari diri kita sendiri.

Orang yang pesimis adalah orang yang percaya akan selalu ada kebencian dan peperangan, padahal telah tercatat bahwa orang-orang yang paling primitif di muka bumi (yang ditemukan di negara Philipina tahun 1966) adalah orang-orang yang lembut dan penuh kasih.

Mereka bahkan tidak punya kata untuk perang. Bagaimana cara mereka mengendalikan agresi mereka? Sistem apakah yang mereka jalankan? Atau kita akan mengingat tentang Messiah, atau Ratu Adil, atau Imam Mahdi? Apakah ini hanya legenda atau memang sebuah janji profetik? Atau mungkin lebih tepatnya merupakan harapan setiap manusia di dunia ini?

Terwujud atau tidaknya harapan ini bergantung kepada kita semua, apakah kita hanya tinggal diam menunggu Godot? Ataukah kita akan menyongsong harapan itu dengan mempersiapkannya dengan persiapan-persiapan dan tindakan-tindakan yang jujur, adil dan bertanggung jawab?

Semua orang diharapkan untuk menyediakan suatu model yang baik dan penuh kasih untuk anak-anak (Nagler, 1982). Silahkan Anda catat : Budaya yang tidak agresif ini (suku primitif di Philipina) telah dikembangkan tanpa pendidikan modern, tanpa sarjana besar, riset dan buku-buku, tanpa pemerintahan kuat yang bekerja untuk kedamaian, dan tanpa agama-agama besar dunia.

Jika suku bangsa primitif itu dapat belajar untuk mencintai, mengapa kita tidak bisa? Betapa pun, mungkin akhirnya tidak terlalu sulit. Nagler membuat suatu permohonan berapi-api untuk tindakan tanpa kekerasan pada masa kita ini.

Sedikit sejarah lain ingin kita sharing dari Seneca, seorang filosof-pendidik Romawi, orang yang melayani beberapa Kaisar Romawi sampai Kaisar Nero mengeksekusinya pada tahun 65 AD ketika ia berusia 61 tahun. Ia adalah seorang yang luar biasa. Seneca menulis suatu buku, De Ira (Of Anger), yang telah diringkas oleh Hans Toch (1983).

Di dalamnya, Seneca mengusulkan teori tentang agresi dan metode-metode pertolongan diri yang sungguh serupa dengan apa yang terbaik dari yang kita miliki hari ini.

Hal ini sederhana tetapi dinyatakan bahwa problem-problem kemarahan yang umum bisa jadi tidak sulit untuk diselesaikan (kita telah menjadi terlalu sibuk mengibas-ngibaskan kapak peperangan untuk 2000 tahun terakhir bekerja untuk mengurangi kekerasan.

Seneca mengatakan,”permusuhan agresi” merupakan sarana untuk menuntut balas atas luka emosional. “Agresi yang sadistis,” dengan praktek, menjadi kebiasaan untuk menakut-nakuti orang lain, dengan cara itu, mengurangi keraguan diri (penguatan negatif).

Ia mencatat bahwa kemarahan sering menjadi suatu pembantaian karena kita menyifatkan sifat jahat kepada orang lain atau karena orang lain telah memukul bagian yang lemah psikologis kita, penurunan rasa percaya diri kita. Bukankah kedengarannya seperti teori kita sekarang ini?

“When we are angry or depressed in our creativity, we have misplaced our power. We have allowed someone else to determine our worth, and then we are angry at being undervalued.”

Ketika kita marah atau terdepresi dalam kreativitas kita, kita sudah salah meletakkan kekuatan kita. Kita sudah mengijinkan orang lain untuk menentukan harga diri kita, dan kemudian kita marah pada keberadaan yang bernilai rendah.” [Anonymous]

Apa saja teknik-teknik pengendalian-diri Seneca? Di bawah ini, kami paparkan beberapa teknik pengendalian diri Seneca :

(1) Hindari situasi-situasi frustrasi dengan mencatat di mana Anda marah pada masa lalu.
(2) Kurangi kemarahan Anda dengan menundanya, memusatkan pada emosi-emosi lain (rasa senang, malu, atau takut), menghindarkan senjata-senjata agresi, dan menghadirkan persoalan-persoalan yang lain.
(3) Tanggapi orang yang marah dengan tenang dengan sikap empati atau lembut, tanpa komentar-komentar yang provokatif atau tidak ada menanggapinya sama sekali.
(4) Jika Anda marah, berkonsentrasilah pada konsekuensi-konsekuensi yang bisa timbul dari akibat agresi
.
Katakan pada diri Anda sendiri, “Mengapa memberi mereka kepuasan akan pemberitahuan bahwa kamu merasa terganggu?” atau “Adalah tidak berharga jika kita sering marah.”
(5) Pertimbangkan ulang keadaan-keadaan dan cobalah untuk memahami motivasi-motivasi atau sudut pandang orang lain.
(6) Latihlah diri Anda untuk menjadi empatik dengan orang lain; bersikaplah toleran atas kelemahan-kelemahan manusia; jadilah pemaaf (tanyakanlah pada diri Anda jika Anda tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk); dan ikuti suatu “pelajaran hebat umat manusia : lakukanlah sebagaimana kita akan melaksanakannya
.”

Luar biasa!

Seneca telah menjelaskannya dengan jelas dan rinci. Ia telah melengkapi tingkah laku, ketrampilan, alam bawah sadar dan terutama aspek-aspek kognitif-sikap (the cognitive-attitudinal) pertolongan diri.

Ia hanya melakukan riset atas kehidupan di sekitarnya. Sekarang, jika kita dapat menambahkan riset penelitian-penelitian klinis masa lampau, kita mungkin mampu membuat kemajuan-kemajuan yang lebih pada 2000 tahun mendatang.

Dengan cara demikian, Seneca juga mendukung praktek-praktek pendidikan humanistik yang dirancang untuk membangun kepercayaan diri, model tanggapan-tanggapan non agresif, dan menghargai prilaku-prilaku yang konstruktif serta anti kekerasan.

Sayangnya, tak lama setelah itu, seorang pemimpin politis Yunani marah dan membunuh Seneca!

(Dikutip dari buku Anger Management, Pustaka IIMaN)

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: