jump to navigation

Pengantar Buku Husain Sang Ksatria Langit Senin, 21 Januari, 2008

Posted by Quito Riantori in All About Ahlul Bayt, Bilik Renungan.
trackback

ashura.gif

Almarhum Motinggo Busye

Dibuka dengan kata-kata “Madinah tahun 57 H, Ranting kering zaitun di hamparan gurun bergesekan bak biola, menga­lunkan lagu sendu, sebuah berita duka..”, Muhsin Labib mulai membawa pembaca memasuki lorong waktu di masa-masa kurang lebih 47 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad saw.

Penulis (Muhsin Labib) mencoba menggambarkan suasana dan kondisi di masa itu dengan gaya bahasa yang indah, kadang-kadang menggigit, bahkan beberapa penggambaran kelihatan cenderung mempengaruhi pembaca untuk seolah terlibat di saat-saat kritis yang dialami oleh pejuang-pejuang Islam Sejati, terutama Imam Husain.

Mungkin ini salah satu kelebihan penulis, dengan gaya bahasanya yang khas, pembaca seolah-olah sedang memba­ca Novel. Nampaknya hal inilah yang menjadi obsesi penulis untuk menulis sebuah sejarah yang teramat penting ini agar bisa dibaca dengan enak oleh pembaca.

Karena memang umumnya buku-buku sejarah ditulis hanya terfokuskan kepada fakta-fakta dan data-data, tanpa memperhatikan gaya bahasa dan rasa bahasa yang bisa dinikmati oleh mereka yang menginginkan informasi yang maha penting ini. Sebelumnya saya sudah membaca tulisan ini dalam bentuk buku yang berseri empat jilid.

Dan dengan menyatukan keempat bagian ceritanya menjadi sebuah buku maka sempurnalah obsesi penulis untuk menyajikan sebuah tulisan yang utuh, sarat dengan informasi sejarah, dan terakhir buku ini bisa dinikmati sebagai suatu sajian yang istimewa dari seorang penulis muda seperti Muhsin Labib.

Episode-episode sejarah yang nampak diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin terutama di Indonesia dicoba untuk dibuka dengan berani oleh penulis. Keberanian untuk membongkar suatu fakta dan realitas sejarah merupakan salah satu langkah raksasa agar umat bisa merenung atau mengambil hikmah, bahkan kalau perlu mencoba mengkaji ulang untuk lebih jauh mengorek sumber-sumber yang mungkin bisa ditemukan di tempat-tempat yang selama ini mungkin belum tersentuh.

Banyak sekali hikmah yang bisa diperoleh dari kisah kesyahidan Imam Husain: keteguhannya, moralnya, kesetiaannya kepada prinsip-prinsip Islam juga bisa menjadi pelajaran berharga bagi bangsa kita yang sedang terpuruk akibat orang-orang yang mungkin bisa disejajarkan dengan musuh-musuh Husain.

Saya (Motinggo Busye) pernah dua kali — yakni tahun 1998 dan 1999 – membacakan sebuah puisi untuk menghormati Syahidnya Imam Husain, di sana saya ingatkan bahwa masih banyak Muawiyah-muawiyah dan Yazid-yazid abad ini, tetapi di manakah Husain-Husain masa kini?

Peristiwa syahidnya Imam Husain bukan saja tragis, tetapi juga sangat ironis, karena hanya beberapa tahun saja dari wafat kakeknya, Nabi Muhammad saw, telah terjadi pembantaian keji terhadap cucu sang Nabi! Belum pernah terjadi di masa jahiliyah, adanya pembunuhan yang lebih keji dan lebih sadis dari peristiwa pembantaian terhadap Imam Husain dan keluarganya di Karbala.

Kita bisa membaca pada buku ini bahwa seorang bayi yang sedang kehausan justru dipanah lehernya oleh orang-orang durjana, yang kalau kita mau jujur mereka adalah orang-orang yang mengaku secara formal adalah muslim! Dan lebih dari itu adalah, kemana para sahabat Nabi yang masih hidup, kemana para tabi’in yang hidup pada masa itu?

Bukankah banyak buku-buku sejarah yang memuji-muji mereka, baik mengenai keutamaan, moral yang tinggi, lalu di mana mereka ini ketika seorang cucu Nabi kepalanya diarak-arak dari satu kota ke kota-kota lainnya? Ini sebuah ironi yang patut dicari jawabannya?

Ketika Pol Pot menggelar sebuah Killing Field di zaman moderen abad 20, maka sejarah hitam Islam telah mendahului kekejian ini dengan sebuah sajian yang lebih mengerikan dari kekejian dan kekejaman yang pernah ada pada sepanjang zaman hingga detik ini.

Apa yang telah dilakukan oleh sebagian besar umat ini terhadap peristiwa Sejarah seperti ini? Nampaknya ada semacam usaha untuk menutup-nutupi realitas ini agar peristiwa ini seolah-olah tidak pernah terjadi.

Jika hal ini benar, maka tentu saja ini lebih jahat dari perbuatan antek-antek Yazid! Na’udzubillah! Kita bersyukur masih ada orang-orang jujur seperti Abul A’la Maududi yang telah menulis sekelumit peristiwa ini di dalam bukunya Khilafah dan Kerajaan 1], juga kepada Sayid Quthub dalam Keadilan Sosial dalam Islam.

Karena itu, saya sangat gembira dengan hadirnya buku Muhsin Labib ini, semoga buku sejarah seperti ini, yang berani membongkar borok-borok kaum fasikin terdahulu bisa disusul dengan buku-buku lainnya.

Semoga buku ini (Husain Sang Ksatria Langit) dan penu­lisnya bisa menjadi pionir yang sanggup menghubungkan kita secara batini kepada orang-orang mulia seperti Imam Husain dan pengikutnya yang setia. Amin ya Rabbal ‘alamin!

Jakarta, Mei 1999.

Catatan :
Sebulan kemudian, pada 18 Juni 1999, Motinggo Busye berpulang ke rahmatullah. Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan kasih saynga-Nya kepada beliau. Amin ya Ilahi Rabbi…

1] Pada 2007, Mizan Pustaka telah menerbit-ulangkan buku ini dalam format yang lebih lux.

Saya sangat yakin, penyesatan terhadap Abul A’la al-Maududi oleh para ‘ulama Wahabiyyun adalah karena beliau telah dengan berani membongkar kejahatan Yazid bin Mu’awiyyah bin Abu Sufyan. – Quito R. Motinggo

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: