jump to navigation

Mengapa Phobi Terhadap Sejarah? Senin, 28 Januari, 2008

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, Artikel, Bilik Renungan.
trackback

ruin-of-history.jpg

Quito R. Motinggo

You have to know the past to understand the present.”

~ Dr. Carl Sagan

SALAH satu yang membedakan manusia dengan binatang, menurut Muthahhari, adalah ketidakmampuan binatang untuk mengetahui sejarahnya sendiri.1]

Pembedaan ini tentunya menjelaskan kelebihan manusia yang mampu mengetahui sejarahnya sendiri dan sejarah dunia, yang dengan pengetahuan inilah manusia mampu mengendalikan masa depannya sendiri.

Dengan demikian, ketidakpedulian suatu kelompok masyarakat pada sejarahnya bisa menghancutrkan masa depan mereka sendiri. Mesti diingat bahwa salah satu keberhasilan kaum imperialis menjajah suatu bangsa adalah karena ketidakpedulian bangsa tersebut akan sejarah mereka sendiri, karena mereka yang tidak peduli akan sejarah tidak akan bisa mendapatkan pelajaran berharga dari kegagalan orang-orang terdahulu yang dengannya mereka dapat mengantisipasi agar kegagalan yang sama tidak terulang kembali.

Anda mesti mengetahui masa lalu untuk memahami masa sekarang.

Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (kamu), dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.”
(QS Al-Ahzab [33]:62)

Namun inilah yang terjadi dengan umat Islam, khususnya di Indonesia saat ini. Kebanyakan kita, umat Islam enggan mengkaji kembali sejarah ‘mereka’ sendiri pada masa lalu, padahal dari sanalah kita bisa memperoleh banyak pelajaran seperti faktor-faktor apa saja yang membuat umat Islam pada masa lalu bisa memperoleh kejayaannya dan sebaliknya kita juga bisa mengetahui faktor-faktor penyebab kehancuran umat Islam pada masa lalu hingga saat ini.

Saya bersyukur bahwa di negeri ini masih banyak juga kaum Muslim yang memahami bahwa hanya orang-orang yang dungu saja yang tidak mau peduli dengan sejarah masa lalunya.

Karena bagaimana pun, perubahan yang lebih baik yang ingin diperoleh masyarakat manusia pada masa datang hanya bisa dilakukan dengan pemahaman atas kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan pada masa lalu.

Al-Quran menyebut pemahaman seperti itu dengan istilah mau’izhah atau pelajaran.

Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran (mau’izhah) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]:66)

Dari sejarah Mesir misalnya, kita bisa mengetahui lebih jauh faktor apa saja yang menyebabkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya ditenggelamkan Allah swt.

Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya, dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (QS Al-Zukhruf [43]:54-56)

Dari ayat-ayat ini kita bisa mengetahui bahwa kefasikanlah yang menyebabkan kehancuran Fir’aun beserta pengikut-pengikutnya. Namun untuk pemahaman yang lebih jauh lagi kita masih memerlukan perangkat pengetahuan lainnya seperti sejarah, sosiologi dan filsafat.

KITA TAK PERLU MENGUNGKIT SEJARAH MASA LALU?

Hampir tidak bisa dipercaya bahwa pada masa modern ini masih ada kelompok Islam yang sedemikian phobia atau skeptis terhadap sejarah, terutama sejarah umat Islam sendiri. Sejarah umat Islam pada masa lalu seolah-olah menjadi momok bagi mereka.

Pernah suatu waktu saya menanyakan suatu masalah yang berkaitan dengan penyimpangan para sahabat sepeninggal Nabi Saw, saya justru menerima jawaban, “Lho itu khan menurut para sejarawan, bukan fakta yang sebenarnya. Lagi pula apa sih untungnya ngomongin yang kayak begitu. Sudahlah…yang lalu biarkanlah berlalu!”

Terus terang saya sangat terperangah mendapat jawaban model begitu. Andai pun mereka tidak setuju atas fakta-fakta sejarah yang negatif atas sahabat Nabi (tidak semua) – karena meragukan kebenaran fakta tersebut – maka paling tidak mereka harus membuktikan kepalsuan fakta sejarah tersebut sehingga mereka tidak perlu membohongi diri mereka sendiri dengan jawaban murahan seperti itu.

Bahkan ada jawaban yang lebih parah lagi, mereka mengatakan : “Sudahlah…fakta-fakta sejarah macam begitu pantasnya dicampakkan saja ke tong sampah!”

Jika suatu masyarakat mencampakkan sejarahnya sendiri, maka sudah pasti mereka hanya akan menjadi pelanjut sejarah yang ada, dan mereka tidak akan pernah bisa menjadi PEMBUAT SEJARAH! Inilah yang dikatakan Camilo Jose Cela, “There are two kinds of man: the ones who make history and the ones who endure it.”

Hanya ada dua macam manusia: Yang satu adalah manusia yang membuat sejarah, dan yang satunya lagi manusia yang hanya melanjutkan sejarah yang sudah ada.

Kebodohan yang diakibat karena tidak mempedulikan sejarah bisa menimbulkan masalah baru.

Jika kita membaca sejarah manusia, orang-orang semacam inilah yang kelak di kemudian hari menjadi budak-budak kaum penindas. Seperti sudah kita ketahui bersama bahwa kaum penindas zaman ini adalah AS dan Zionis Israel. Atas nama hak azasi manusia, kedua setan nyata ini melakukan penjajahan gaya baru (neo-imperialism) di negeri-negeri Muslim seperti yang mereka lakukan atas Irak, Palestina dan Lebanon.

Tindak kekerasan yang mereka lakukan itu justru merampas hak-hak manusia secara terbuka dan terang-terangan. Masyarakat dunia saat ini sudah tidak bisa dibohongi lagi dengan propaganda-propaganda kosong AS. Kasus Nuklir Iran, misalnya, bisa menjadi salah satu bukti tindakan neo-imperialisme mereka atas hak bangsa lain untuk memiliki teknologi maju.

Namun ironisnya, beberapa negara muslim, termasuk pemerintah Indonesia malah mendukung imperialisme gaya baru ini! Kita pun mafhum siapa saja budak-budak kedua setan imperialis ini dan mengapa mereka mendukungnya!

DARI SEJARAH KE HUKUM SEJARAH

Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar [54]:51)

Dari sejarahlah kita bisa mengetahui apa yang dinamakan hukum sejarah, atau di dalam istilah al-Quran disebut sebagai Sunatullah.

Sunnatullah tidak pernah berubah dan pelanggaran atas hukum ini hanya akan mengakibatkan munculnya reaksi, dan mereka yang melanggarnya akan dihancurkan berikut berbagai elemen dan hasil pelanggaran mereka.

Inilah siklus ekologis dan sibemetis dari penghancuran dan peremajaan-diri, dengan menghancurkan suatu tatanan yang tidak kondusif untuk memperbarui tatanan alam.

Manusia tidak dihancurkan oleh makhluk bersayap yang turun dari langit dan menyemburkan api. Mereka justru akan dihancurkan oleh makhluk yang berasal dari diri rnereka sendiri.

Orang-orang yang mampu mengambil langkah meretas keterikatan dan melakukan perenungan bisa melihat kehancuran itu terjadi terus-menerus di dalam sejarah manusia. 2]

Dan harus diakui bahwa apa yang terjadi atas umat Islam saat ini pun merupakan buah dari apa yang dilakukan umat Islam pada masa lalu. Keterpurukkan, kemiskinan dan kebodohan umat Islam saat ini merupakan rantai kausalitas dari apa yang telah mereka perbuat pada masa lalu.

Sesungguhnya mereka dahulu hidup bermewah-mewahan. Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa besar.” (QS Al-Waqi’ah [56]:45-46)

Bacalah sejarah keruntuhan kekhalifahan Abbasiyah yang tidak pernah lepas dari gaya hidup mereka yang hedonis, berfoya-foya dan bermewah-mewahan!

Sejarawan Ibnu Katsir mengisahkan : “Saya memasuki kota Baghdad tahun 656 H. Pada tahun itu saya melihat balatentara Tatar telah mengepung istana khalifah, lalu menghujaninya dengan anak panah dari segenap penjuru, sehingga akhirnya mengenai seorang sahaya wanita yang sedang bermain-main dengan khalifah. Sahaya yang bernama Arfah itu termasuk salah satu gundik khalifah. Ketika anak panah itu mengenainya ia sedang menari-nari di hadapan khalifah. Khalifah pun terkejut ketakutan.” 3]

Menurut Khatib al-Baghdadi, “Khalifah Abbasiyah, Al-Muqtadir memiliki 11.000 orang kebiri dan ribuan budak dari Sicilia, Roma, dan Ethiopia dan kemewahan yang tidak ada taranya dalam sejarah.” 4]

Ibnu Al-Thiqthaqa yang juga menyaksikan keruntuhan kekhalifahan Abbasiyyah menulis : “Khalifah terakhir Abbasiyah, Al-Mu’tashim suka berfoya-foya, dan berpesta-pora. Majelisnya tidak pernah sepi dari kehidupan seperti itu…” 5]

Sejarah umat Islam yang hitam seperti ini sebenarnya tidak berawal dari sini, karena sebelumnya, kekhalifahan Bani Umayyah juga sudah memberikan contoh buruk tentang gaya hidup mereka kepada pelanjut dinasti berikutnya, Bani Abbas.

Beberapa tahun setelah itu, umat Islam pun porak-poranda menjadi santapan empuk bangsa-bangsa lain. Mereka ditindas, ditipu, dijajah dan dibinasakan oleh bangsa-bangsa lain sampai saat ini!

Rasulullah Saw pernah ‘meramalkan’ hal ini dalam sebuah hadits, bahwa Beliau Saw bersabda, “Akan tiba waktunya kalian akan menjadi rebutan musuh-musuh kalian sebagaimana orang-orang yang memperebutkan makanan di meja hidangan.”

Para sahabat bertanya: Apakah ketika itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah? Jawab

Rasulullah Saw: Tidak, bahkan jumlah kalian saat itu banyak sekali tetapi seperti buih-buih air bah, sedangkan kalian ditimpa penyakit wahn.

Mereka bertanya lagi: Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?

Rasul Saw menjawab: Kecintaan kepada dunia dan takut mati.” 6]

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS al-Isra [17]:16)

Kita tahu, bahwa seorang mukmin sejati tidak akan terperosok dua kali masuk ke dalam lubang yang sama, karena dia selalu mengingat tempat lubang di mana dia pernah jatuh sebelumnya.

Bagaimana pun, kita mesti belajar dari sejarah masa lalu kita sendiri agar kita tidak dihancurkan untuk kedua kalinya.

Victor Hugo mengatakan, “What is history? An echo of the past in the future; a reflex from the future on the past” – Apa itu sejarah? Sebuah echo (gema) masa lalu di masa datang; sebuah re-aksi dari masa depan atas masa lalu!

Al-Syahid Muthahhari sendiri mengatakan, “Kadang-kadang kebenaran tertentu dikaburkan dan disembunyikan, namun setelah beberapa waktu kemudian terungkap juga. Karena itu, tidaklah dibenarkan bersikap skeptis sepenuhnya atas catatan-catatan sejarah.” 7]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki
[1] Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama dan Manusia dan Alam Semesta.

[2] Syaikh Fadhlullah Haeri, Tafsir Al-Quran Surah al-Waqi’ah ayat 46.

[3] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah 13:200, saya mengutipnya dari salah satu buku Dr. O Hashem.
[4] Khathib al-Baghdadi, Tarikh al-Baghdadi
[5] Ibnu Al-Thiqthaqa, Al-Fakhri fi Al-Adab al-Sulthaniyah, hlm. 23.
[6] Hadits Riwayat Abu Dawud.
[7] Murtadha Muthahhari, Masyarakat dan Sejarah, hlm. 75, Penerbit Mizan, Cet. IV, 1993.

Iklan

Komentar»

1. a. kariana - Senin, 28 Januari, 2008

tulisan yang bagus, logis dan persuasif

2. bsw - Selasa, 29 Januari, 2008

Sejarah kadang kala memang bias, tergantung siapa pada kekuasaan dan kepentingan masing2. Tapi benar, saya setuju – mempelajari sejarah yg mungkin saja tidak benar, ;ebih baik daripada tidak mempelajarinya sama sekali. Apalagi dengan berkembangnya zaman, sumber2 sejarah makin banyak dan semakin mudah untuk di dapat. Mungkin saling bertentangan satu dengan yg lain, tapi itulah gunanya diberi kelebihan akal dan hati, kita bisa memilih mana yg terbaik (buat kemanusian & alam semesta 🙂 ngaco nih…)
O iya, satu lagi yg mungkin perlu dikritisi, pendapat bahwa generasi terdahulu (generasi awal2 Islam) adalah yg terbaik. Menurut saya dengan pendapat spt itu, maka usaha untuk mempelajari sejarah sudah pasti bias.
Maaf jadi berkepanjangan. Salam

3. Quito Riantori - Selasa, 29 Januari, 2008

Wah, tambahan pemikiran yang bagus. Terima kasih n salam.

4. arie k - Kamis, 31 Januari, 2008

@bsw

setuju n anda gak ngaco koq, dapat tambahan ilmu nih, makasi ah….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: