jump to navigation

SBY, Poco-poco Atau Manortor? Selasa, 5 Februari, 2008

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bebas.
trackback

illegal-logging2.jpg

JakartaSalah satu agenda pemerintah SBY tahun 2007 adalah akan menuntaskan kasus illegal logging. Tapi ternyata hingga tahun berganti, agenda itu tidak kunjung terealisasi. Gerakan Polri yang menangkap cukong-cukong kayu yang melibatkan dua raksasa bubur kertas di Indonesia, Sinar Mas Group dan Raja Garuda Mas Group, sampai kini tidak kunjung bergulir ke pengadilan.

Di Riau, misalnya, tercatat sekitar 143 kasus illegal logging. Tapi tak satu pun perkara yang sampai ke pengadilan. Kasus illegal logging di Riau juga menyeret 5 bupati dan gubernur. Polri sempat melayangkan
surat permohonan pemeriksaan kepada Presiden SBY. Tapi apa lacur, sampai sekarang SBY tidak memberikan

izin pemeriksaan kepada bupati dan gubenur di Riau. Penanganan kasus illegal logging hilang begitu saja, seperti lajunya kerusakan hutan di negara ini.

Belum lama ini, Megawati menyebut SBY tengah menari poco-poco dalam menjalankan pemerintahannya. Dalam tarian poco-poco, gerakan si penari adalah maju yang kemudian buru-buru dikuti gerakan mundur.

Dengan gerakan ini, si penari tetap berada di posisi yang sama. Dengan disebut menari poco-poco, maka SBY sama saja tidak melakukan kemajuan berarti.

Tapi, kalau mau mengerti sedikit soal tari, poco-poco sebenarnya masih sindiran yang teramat halus. Kondisi akan lebih gawat, bila SBY disebut menari manortor alias menari Batak. Gerakan tari tor-tor memang tidak selincah poco-poco.

Dalam manortor hanya ada gerakan lambat seperti siput, tapi jari penarinya saling bergerak untuk menjepit hepeng alias duit.

Kalau misalnya Mega sempat menyebut SBY sedang menari manortor, tentulah sama halnya, SBY aji mumpung dengan kekuasaannya. Mumpung berkuasa, dia manortor mengutip ‘setoran’ dari
sana sini. Sebab, manortor baru akan afdol kalau ada yang memberikan uang ke jemari penarinya.

Dalam kasus illegal logging ini, mungkinkah yang terjadi sebenarnya tari manortor dan bukan poco-poco lagi?

Entahlah! Tapi kata orang Batak, hepeng do namangtur nagaraon… alias uang yang mengatur negara ini. Bah!

Keterangan Penulis:
Chaidir Anwar Tanjung adalah wartawan detikcom.
Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat
tempat institusi penulis bekerja.
(Chaidir Anwar Tanjung/)

Sumber : detik.com


Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: