jump to navigation

Merayakan Maulid Nabi Saw Bid’ah? Senin, 24 Maret, 2008

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, Artikel, Bilik Renungan, Opini.
trackback

wahhabism.jpg

Sebenarnya saya sudah sangat malas membicarakan betapa bodohnya kaum Wahabi-Salafy di dalam memahami Islam, tetapi saya kembali terusik setelah membaca sebuah tulisan salah seorang blogger yang menulis tentang Maulid yang katanya sia-sia, tak bermanfaat dan bahkan bid’ah, karena Nabi Saw tak pernah memberi contoh dalam melakukannya.

Setelah membaca tulisan ‘lucu’ tersebut, saya jadi teringat sebuah peristiwa beberapa tahun silam (sekitar tahun 80-an) yang melibatkan almarhum ayah saya. Saat itu saya masih terlibat di dalam sebuah gerakan Islam garis keras dan di antara anggotanya ternyata kawan sekolah ayah saya di Padang. (kita sebut saja namanya: Pak Wawan)

Karena ayah saya enggan masuk ke dalam gerakan tersebut, akhirnya saya mengundang Pak Wawan untuk datang ke rumah agar Pak Wawan ‘mendakwahi’ ayah saya. Dan tentu saja dengan semangat yang menggebu-gebu, Pak Wawan menyambut undangan saya.

Pak Wawan yang lulusan sekolah tinggi di Bandung, adalah seorang pengusaha yang sukses dan kaya. Setelah didakwahi oleh orang-orang Islam garis keras, Pak Wawan banyak mengalami perubahan di dalam gaya hidupnya.

Dia sangat antusias sekali ingin mengikuti dan mempraktekkan sunnah Nabi. Dan saking antusiasnya, dia membuang semua perabotan furniture di salah satu rumah mewahnya di bilangan Jakarta Selatan, seperti kursi, meja, bufet, dan banyak lagi yang menurutnya tidak dimiliki Nabi Saw. Dia selalu makan dengan tangan sambil duduk di atas lantai, memelihara jenggot dan mencukur kumisnya. Keningnya hitam karena banyak sujud.

Nah, ketika dia datang ke rumah ayah saya, dia langsung mendakwahi ayah saya agar membuang semua perabotan rumah tangga yang tidak pernah dicontohkan Nabi Saw. “Itu gaya hidup orang-orang Romawi yang Nasrani, bukan gaya hidup Nabi Saw,”katanya dengan nada yang penuh semangat ‘dakwah’.

Ayah saya yang sangat sabar, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tetap mendengarkan celoteh teman lamanya itu. Dan ketika saat makan siang tiba, kami pun makan bersama. Semula Pak Wawan tidak bersedia makan di meja makan, namun ayah saya memaksanya. “Demi menghormati tuan rumah, saya terpaksa makan di meja makan,” kata Pak Wawan serius. Ayah saya tersenyum sambil menyorongkan kursi untuk Pak Wawan.

Di meja makan, Pak Wawan membuat kejutan lainnya. Pak Wawan tidak mau menggunakan sendok dan garpu. Sekali lagi dengan semangat ia berkata, “Ini juga termasuk bid’ah! Nabi Saw tidak pernah menggunakan sendok dan garpu padahal pada zaman Nabi sudah ada sendok dan garpu,” katanya semangat sekali. “Sendok dan garpu merupakan warisan gaya hidup bangsawan dan raja-raja Romawi yang Kristen!” katanya menegaskan.

Tetapi ketika Pak Wawan melihat salah satu hidangan yang disajikan berupa sup yang masih mengepul hangat, dia agak terkejut. (karena jika masih panas tentu saja tangannya akan kepanasan jika akan menceduk sup panas). Namun tanpa kehilangan akal ia bergumam, “Nabi bilang kalo makan tidak baik makan dalam keadaan yang masih panas.” Kembali saya lihat ayah saya tersenyum. Ayah saya cuek tetap makan pakai sendok dan garpu dan tidak mau menunggu sup menjadi dingin.

Setelah berbincang cukup lama (selain berisi ‘dakwah’ tentu saja ada sedikit nostalgia, maklum pertemuan dua kawan karib yang sudah sekian lama tidak berjumpa), akhirnya keduanya harus berpisah. Ayah saya mengantarkan Pak Wawan sampai ke tempat mobil Pak Wawan diparkir.

Ketika Pak Wawan membuka pintu mobilnya, ayah saya berkata kepada Pak Wawan dengan nada bercanda, “Seharusnya kursi mobilmu ini juga dibuang, atau kau naik onta saja, Nabi khan gak pernah naik mobil?

Pak Wawan sedikit terperangah, ayah saya buru-buru menghiburnya, “Aku cuma bercanda, Wan!” Ayah saya tertawa-tawa, sementara wajah Pak Wawan kelihatan cemberut dan kulitnya yang putih memperlihatkan rona merah yang tak bisa di sembunyikannya.

Itulah sebuah pengalaman yang tak pernah saya lupakan. Sebuah pemahaman agama yang sempit, dangkal dan sangat puritan!

Jika bid’ah adalah semua yang tidak pernah dilakukan Nabi Saw, maka beranikah orang-orang Wahabi-Salafy menetapkan Abu Bakar telah melakukan sebuah bid’ah besar, karena Abu Bakar menunjuk penggantinya, padahal menurut Ahlus Sunnah Rasulullah Saw tidak pernah mencontohkannya?

Beranikah kaum Wahabi-Salafy menegaskan Umar bin Khathab telah melakukan bid’ah besar, karena Umar bin Khathab membuat penjara, padahal Nabi Saw tidak pernah melakukannya, Umar melakukan shalat tarawih sebulan penuh padahal Nabi Saw hanya melakukan dua atau tiga hari saja kemudian tidak pernah melakukannya lagi?

Mengapa syekh-syekh Wahabi menuduh orang yang mengucapkan shadaqallahul ‘azhim setelah membaca al-Quran sebagai bid’ah karena Nabi Saw tidak pernah mencontohkannya, tapi bukankah justru mereka sendiri melakukan bid’ah dengan menyebut radhiyallahu ‘anhu setelah nama para sahabat Nabi dsiebut, padahal tidak ada satu contoh dari Nabi Saw?

Apakah karena Nabi Saw tidak pernah mencontohkan berziarah ke makamnya sendiri, maka berarti tidak ada sunnah berziarah ke makamnya?

Saya berlindung kepada Allah Swt dari kebodohan cara berpikir ala Wahabi-Salafy ini ya Allah ya Rabbi dan saya juga berlindung kepada Allah Swt dari kejahatan mereka…amiiin

(Bersambung)

Iklan

Komentar»

1. djunaedird - Senin, 24 Maret, 2008

Menggunakan blog juga bid’ah ❗
Karena Nabi tak pernah bermain di blogosphere ❓

2. doddy - Selasa, 25 Maret, 2008

Jangan lupa:pake listrik, lampu, handphone, kemeja, kaos, sepatu, jalan aspal, pesawat terbang, komputer, internet, nonton tv, denger radio, baca koran adalah sebagian fasilitas &aktivitas manusia modern yang TIDAK PERNAH DILAKUKAN ROSUL. Bid’ah juga ya? wah…balik ke jaman jahiliyah ini namanya…

3. padma - Selasa, 25 Maret, 2008

saya juga habis baca tulisan tentang mencela peringatan maulid nabi yang katanya penuh bid’ah karena banyak amalan yang tidak dicontohkan oleh orang2 pada jaman sahabat nabi..
barangkali penulisnya memang : tak pernah mandi(apalagi pake sabun), tak pernah denger radio,apalagi nonton TV,(mestinya)tak pernah menyentuh komputer(lha kok punya blog?), tak pernah ini, tak pernah itu yang belum pernah dilakukan jaman nabi, wahh..seperti apa ya ?

4. kakanda - Selasa, 25 Maret, 2008

Sampai kapan, kita ribut sendiri ya…
sementara diluar sana, “mereka” tertawa
kita semakin tertinggal

5. Quito Riantori - Rabu, 26 Maret, 2008

@kakanda
Ribut? Pernah baca sejarah Mua’wiyah perang dengan Imam Ali bin Abi Thalib? Pernah baca sejarah ummul mukminin, ‘Aisyah, Thalhah dan Zubair memerangi Imam Ali bin Abi Thalib? Cobalah pakai rasio anda, saya tidak mempunyai maksud kecuali ingin menjelaskan kepada kaum Muslim bahwa perayaan Maulid itu baik dan sebuah gagasan yang bagus. Tidak seperti yang disebarkan oleh blog2 dan situs Wahabi-Salafy yang menyesatkan org2 yang merayakan Maulid Nabi (tentu saja termasuk Presiden, seluruh pejabat RI, dan seluruh anggota DPR/MPR yang kemarin merayakan Maulid Nabi) Inilah yang ingin saya jelaskan melalui blog ini. Mas, kalo ada org jahat, kita mesti lawan, kalo ada org yang mengganggu istri kita, kita mesti marah, bukan begitu? Atau anda akan biarkan istri anda diganggu org? Ini masalah agama, Mas…

6. Badari - Rabu, 26 Maret, 2008

Pernah saya baca dari tulisan/majalah Salafi/Wahabi bahwa memajang hiasan tulisan ayat Al-Qur-an dan juga mencium mushhaf Al-Qur-an adalah bid’ah, tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya, padahal perbuatan tsb bisa mereka lakukan pada masanya. Sekiranya perbuatan tsb. adalah baik, tentu generasi Sahabat telah lebih dulu melakukannya. Bila perbuatan memajang ayat Al-Qur-an & mencium mushhaf dianggap baik, sedangkan Nabi Muhammad saw. & para sahabatnya tidak melakukannya, berarti pelaku perbuatan tsb. menganggap Nabi Muhammad saw. & para sahabatnya lalai melakukan kebaikan, dan berarti si pelaku menganggap dirinya telah berbuat baik lebih dari generasi awal kaum Muslimin. Begitu argumentasi Wahabi.

Pada argumentasi Wahabi terdapat frase “padahal perbuatan tsb bisa mereka lakukan pada masanya”. Menurut saya frase tsb. tampaknya ditujukan utk membatasi persoalan agar tidak membahas hal2 baru yg pada masa Nabi & Sahabat belum bisa dilakukan karena belum ada sarananya.

Saya menolak argumentasi Wahabi seperti itu. Tapi, untuk menambah wawasan saya yg masih sempit ini, saya mohon Pak Quito menjawab argumen Wahabi di atas. Akan lebih fasih bila jawaban dimulai dgn jawaban preskripsi (rumusan) dan kemudian disusul dgn jawaban deskripsi (contoh-contoh). [Kalimat terakhir saya tidak bermaksud menggurui Pak Quito, yg prestasi membaca & menulisnya jauh lebih hebat dari saya]. 🙂
Terima kasih, & Salam ‘alaykum.

7. Quito Riantori - Rabu, 26 Maret, 2008

@Badari

Sebenarnya saya ingin sekali menulis dengan cara yang lebih ilmiah dengan rumusan2 seperti itu, tetapi saya khawatir pembaca blog akan bosan membacanya, tapi saran Badari akan saya perhatikan.
Sebenarnya, argumen2 seperti itu mudah dipatahkan dengan hujjah2 yang sangat kuat.

Seperti statement bahwa generasi awal PASTI lebih baik dari generasi sesudahnya tidak memiliki argumen yang kuat, karena banyak juga hadis2 yang menyatakan bahwa generasi di masa2 akhir zaman justru lebih hebat dari generasi sahabat. Ingat hadits al-Ikhwan? Mereka yang disebut al-ikhwan oleh Nabi Saw itu adalah bahkan beberapa kali lebih hebat dari sahabat Nabi. Hadis inilah yang menginspirasi Hasan al-Banna qs menamai gerakannya dengan Ikhwan al-Muslimin.

Apa sih bid’ah itu? Jika bid’ah adalah apa yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Saw, maka banyak sekali pelanggaran yang dilakukan para sahabat karena banyak perbuatan yang tidak dilakukan Nabi Saw tapi dilakukan oleh para sahabat. Bagaimana ini? Jadi jelas ada standar ganda di sini.

Saya lebih hebat? Saya lihat Badari jauh lebih hebat dari saya, dan kalo Anda punya tulisan yang baik dengan senang hati akan kita muat di blog ini. (bukan basa basi lho). Terima kasih atas kunjungan2nya.
Salam hangat saya selalu buat Badari.

8. realylife - Rabu, 26 Maret, 2008

lebih baik kita menghormati keyakinan semua orang , sehingga orang akan menghormati keyakinan kita
lebih baik kita menjalankan sesuai dengan nurani dan keyakinan yang kita percayai
itu saja barangkali
maaf bukan menggurui

9. Quito Riantori - Kamis, 27 Maret, 2008

saya tidak akan bersikap seperti itu selama saya sanggup memberitahu ke org banyak tentang keyakinan yang berbahaya, yaitu keyakinan yang menyesatkan org banyak, keyakinan yang menghalalkan darah org banyak. saya tidak akan egois seperti itu. Na’udzubillah…semoga Allah swt menjadikan saya selalu peduli kepada org banyak (apa pun keyakinan mereka) Amin…
Terima aksih atas kunjungan anda..

10. Arwen - Senin, 31 Maret, 2008

Yang lebih Bid’ah lagi … tuh wahabi lokal ngapain aja tinggal di negeri orang, harusnya balik kampung sono’!!!

11. Ali - Selasa, 1 April, 2008

Bid’ah (perkara baru) yg tidak ada hubungannya dengan agama islam, tidaklah dilarang alias boleh-boleh saja, seperti menggunakan furniture, naik mobil, makan pakai sendok, dll.

Namun bid’ah (perkara baru) yg berhubungan atau disandarkan dengan agama islam, maka ini yg dilarang, contohnya: merayakan maulid nabi, tahlilan kematian, dll. Karena hal ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad, dan tidak juga oleh para sahabatnya.
Kalau seandainya hal ini baik, tentu para sahabat telah melaksanakannya (maulid) terlebih dahulu, karena mereka adalah orang-orang yg sangat cinta kepada Nabi Muhammad.

Untuk diketahui, Bid’ah perayaan Maulid Nabi Muhammad pertama kali dilakukan oleh Syiah Rafidah pada abad ke 4 Hijriah, jadi tidaklah mengherankan kalau Pak Qitori ini sangat membela perayaan Maulid Nabi Muhammad.

Tolong dicamkan, bahwa mencintai Nabi Muhammad itu BUKAN dengan perayaan maulid (seperti orang nasrani saja, yg merayakan natal)….
Tapi laksanakan sunnah beliau.

Wassalam,

12. RETORIKA - Selasa, 1 April, 2008

@ atas

mencintai nabi, rassullah itu yang beda hanyalah ritualnya. Selama esensinya tetap sama saia rasa itu bukan bid,ah kok.

menjalankan sunnah rasul tetapi niatnya hanya agar dianggap alim apakah itu lebih parah dari bid’ah ?

13. Quito Riantori - Rabu, 2 April, 2008

@Ali
Saya mau tanya kpd anda, apakah pakai siwak itu ada hubungannya dengan agama? Apakah pakai sajadah ada hubungannya dengan agama? Apakah menggunakan speaker saat azan itu berhubungan dengan agama? Apakah pakai AC di masjid itu ada hubungannya dengan agama? Tolong deh dibuat definisi yang gak bikin bingung umat…Benarkah semua sahabat mencintai Nabi Saw? Lho? Apakah di antara para sahabat itu tidak ada orang munafik? Lho? Kepada siapakah Allah Swt mengecam orga-orang yang enggan berperang pada masa Quran diturunkan? Siapakah orang-orang yang dihalau dari al-Kautsar (al-Haudl) pada Hari Qiyamat? Wah maaf..tampakanya anda masih kurang bacaan nih…Apakah anda ingin MENUDUH bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu mengikuti perilaku Syiah? Jadi anda saja kaum Wahabi yang benar? semua org sesat? Sebelumj munculnya si Ibn Wahhab semua kaum Muslim dalam keadaan sesat? Wah..wah..andalah yang sebenarnya sedang menebarkan benih2 permusuhan dan perpecahan…Makin terbukti bahwa anda dan keyakinan anda itulah yang sebenarnya sedang menyebar fitnah keji!
Apa yang anda ketahui tentang Syiah dan Rafidah? Saya yakin anda tidak tahu apa2 kecuali sedikit..Salam.

14. Quito Riantori - Rabu, 2 April, 2008

@Ali
Saya mau tanya kepada Anda: apakah asuransi punya kaitan dengan agama? Apakah Bank juga tidak punya kaitan dengan agama? Kalau tidak kenapa ada Bank Syari’ah? Kayaknya anda dan teman2 anda juga tidak bisa menjelaskan dengan tepat dan akurat apa sih makna dan definisi agama?
Wah…kalo makna agamanya aja masih ngawur, mbok gak usah bicara ttg bid’ah dan yang semacamnya…Mbok kalo belajar Islam jgn ke Bin Baz dan Bush…jadi ngawur, Mas!

15. arie kariana - Rabu, 2 April, 2008

rasa2nya apabila di zaman ini ada seorang anak yang tidak ingat kapan ulang tahun orangtuanya, kita bisa katakan bahwa dia kurang peduli terhadap orangtuanya yang jelas2 lebih utama dari dirinya sendiri, dan lebih bagus lagi apabila si anak tersebut “merayakannya” dengan cara yang baik, minimal menghadiahkan doa atau memberikan kenang2anlah berupa apapun, itu baru anak yang baik, begitu ceritanya.
nah, kita umat Islam pastinya sudah tahu bahwa Rasulullah Saw itu lebih utama dari diri kita dan bahkan dari orangtua kita. jadi apabila kita tidak boleh mengekspresikan cinta kita pada Beliau Saw sehubungan dengan peristiwa kelahirannya(dengan cara2 yang baik), maka apalagi dengan orangtua kita…

16. Quito Riantori - Rabu, 2 April, 2008

@Ali
Kenapa anda n teman2 Wahhabiyyun anda tidak berteriak bahwa Muawiyyah telah melakukan bid’ah padahal banyak sekali org ini tlah melakukan bid’ah? Mengutuk Imam Ali di bagian khutbah shalat Jum’at, bukankah hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Saw bahkan para sahabat Nabi? Mu’awiyyah khutbah sambil duduk (tidak berdiri)? Bukankah Nabi Saw dan para sahabat Nabi tidak pernah melakukannya? Bukankah itu semua bagian dari ritual agama? Sebaliknya anda malah memuja-muja Muawiyyah dan Yazid! Tampaknya anda para Wahabiyun punya standar ganda tentang bid’ah! Apakah anda anggap membukukan al-Quran bukan bagian dari tindakan luhur agama? Jika iya, mengapa Nabi Saw tidak melakukannya tapi Utsman melakukannya? Mana yang benar? Siapa yang dangkal?

17. Quito Riantori - Rabu, 2 April, 2008

@Arie
Thanks penjelasannya. Repot emang menjelaskan ke org2 puritan ini. Matahari mengelilingi bumi? Wah..wah….gak nyambung…

18. Frodo - Rabu, 2 April, 2008

Mas …

Biarin ajah deh si ALI,…
Kayaknya mas terlalu powerful argumentasinya. Padahal air “muara” pasti kebanyakan buat “ember timba”.

Susah deh mas …

Kalo masa kecil dihabisin buat ‘maen” pasti jadinya “karbitan” kayak gitu !!
‘Pa lagi cuman buka2 lembar awal bagian2 penting konsepsi agama, Aduuuhhh….mangkelin emang.

Salut buat kesabarannya …

19. Quito Riantori - Rabu, 2 April, 2008

@Frodo
Terima kasih sarannya…Itulah sebabnya pada awal tulisan ini saya sebut malas, karena tulisan ini dibuat bukan utk mereka. Saya tahu betul pemahaman mereka akan logika sangat lemah, sehingga walaupun saya menjelaskan panjang lebar tetep aja kemampuan mereka menyerap penjelasan saya sangat minim.
Salam…

20. Quito Riantori - Rabu, 2 April, 2008

@Retorika
Mereka, Wahabiyyun mana paham itu yang namanya esensi…kemampuan mereka mencerna satu masalah saja payah. Jika mereka buat komentar selalu menyimpang dari apa yang kita tulis. Coba mereka jawab dulu pertanyaan2 saya di atas, apakah mereka sanggup menjawabnya? Saya sangat ragu…

21. Ali - Rabu, 2 April, 2008

@Qitori
Dangkal sekali anda dalam memahami bid’ah yg berhubungan dengan agama. Bukan tools (speaker, AC,dll) seperti itu yg maksudkan, tapi yg dimaksudkan adalah amalan-amalan atau peribadatan yg disandarkan kepada agama islam, yg seolah-olah itu adalah bagian dari agama islam. Padahal bukan sama sekali.

Agama islam ini sudah sempurna, tidak boleh ditambah-tambah lagi, seperti perayaan maulid nabi, tahlilan kematian, atau yg lainnya.
Orang yg berbuat bid’ah (menambah-nambah dalam agama), sama saja dengan menuduh bahwa islam ini tidak sempurna, sehingga perlu ditambah-tambah di sana-sini. Juga termasuk menuduh bahwa Nabi Muhammad kurang dalam menyampaikan Risalah.

Mengenai Maulid Nabi, coba Pak Qitori sebutkan apakah pernah para sahabat melakukan Maulid Nabi? Siapa Namanya? Coba sebutkan hadits Nabi yg memerintahkan/mencontohkan kita untuk merayakan Maulid Nabi.
Tunjukkan dalil atau buktinya (al qur’an / hadits yg shahih) bila anda orang yg benar.

Saya tidak menuduh ahlus sunnah mengikuti prilaku syiah. Karna seorang ahlus sunnah tidak akan berbuat bid’ah. Dan jangan anda anggap bahwa seseorang yg bukan syiah seperti anda, berarti secara otomatis ia adalah ahlus sunnah, belum tentu, Bung.

Seseorang dikatakan sebagai ahlus sunnah apabila ia menegakkan tauhid, menjauhi sirik, melaksanakan sunnah Nabi Muhammad, dan meninggalkan bid’ah.

Satu lagi, anda bilang bahwa saya sangat memuja-muja Muawiyah dan Yazid. Coba anda sebutkan atau kutip dari kata-kata saya yg anda anggap memuja mereka. Bahkan saya tidak pernah menyebut nama mereka. Jangan asal menuduh ya…

🙂

Wassalam

22. Taqi Rifqi - Rabu, 2 April, 2008

Ikut nimbrung ahh..gatell hihihi..mudah2an suara orang bodoh ini ada yg denger ;))

buat Oom Ali :

Pernah Denger Ayat Qur’an yang artinya kurang lebih begini:

“..Sesungguhnya Allah dan Para malaikat bersholawat(meng-agungkan) nabi. Hai orang-orang yang BERIMAN, bersholawatlah kalian kepada nabi..”

kalo saya yang awam berfikir :
Allah dan Malaikat saja bersholawat/menagagungkan nabi..kita yang mengaku beriman juga diperintahkan untuk melakukan hal yang sama..
Semampunya tentunya
..ya..apapun caranya..salah satunya miinimal dengan mengingat kelahirannya dan BERSUKA CITA atas peristiwa itu..

itu mah saya lohh..Oomm..hehhee

Pizz ahh

23. Quito Riantori - Kamis, 3 April, 2008

@Ali
Terus terang blog ini dibuat bukan utk debat kusir.
1. Pertanyaan2 saya dalam tulisan saya tidak anda jawab, anda justru menjawab hal-2 yang tidak saya pertanyakan.
2. Maulid Nabi Saw sangat banyak dalilnya, insya Allah saya akan muat tulisan khusus tentang ini. Dan sekali lagi saya hanya akan memuat komentar2 yang sesuai dengan karakter blog ini.
3. Saya menjawab komentar2 anda sesuai dg apa yang anda definisikan ttg bid’ah. Ttg tool dsb baru anda jelaskan kemudian, tapi penjelasan anda ttg agama sendiri masih sangat rancu, karena agama Islam itu universal dan komprehensif, sehingga tidak bisa dikotak-kotakkan: “ini agama itu bukan agama”, semua bidang kehidupan manusia terkait dengan agama.
4. Definisi anda tentang bid’ah membuat ruang gerak ijtihad tertutup sama sekali, mudah2an anda pernah baca hadis Muadz bin Jabal. Di sinilah letak kebodohan kaum Wahabi!
5. Esensi Maulid Nabi Saw adalah puji-pujian terhadap Nabi Saw. Sekali lg mudah2an anda pernah baca riwayat2 yang banyak sekali tersebar tentang puji2an para sahabat terhadap Nabi Saw di hadapan Nabi Saw. Nabi Saw sendiri sangat senang mendengar puji2an yang berupa syair2 yang dilontarkan para sahabat kepada Nabi Saw, bahkan tidak jarang Nabi Saw memberi hadiah bagi pelakunya.
6. Anda tidak perlu bersilat lidah bahwa anda tidak mengatakan org2 selain kelompok anda sesat, padahal jelas di Indonesia yang mayoritas adalah Ahlus Sunnah setiap tahun merayakan Maulid Nabi Saw, bahkan pemerintah Indonesia pun merayakannya. Jadi anda tidak perlu membohongi diri anda sendiri bahwa anda tidak menyesatkan kami mayoritas bangsa Indonesia yang merayakan Maulid. Dari sini terlihat jelas anda TIDAK JUJUR!
7. Saya bilang anda dan para Wahabiyyun memuja2 Muawiyah dan Yazid. Jika anda tidak mengakuinya, berarti bacaan anda atas buku2 Wahabi masih sedikit. Terlihat di sini anda sendiri tidak mengetahui sekte yang anda anut.
8. Dari semua keterangan ini, semakin jelas siapa sebenarnya yang dangkal? Saya sarankan anda tidak perlu berkomentar di blog ini, lebih baik anda pelajari lebih dulu dan lebih dalam lagi ajaran2 sekte anda itu, tentunya dengan kepala dan hati yang jernih. Semoga anda tercerahjkan kelak. Terima kasih n salam.

24. Musta'in - Kamis, 3 April, 2008

Shollu ‘ala Nabi

25. Santoso - Senin, 7 April, 2008

Pak Quito,
Sebenarnya ada ngak sih dalil untuk merayakan maulid Nabi Muhammad?
Apa memang tidak diperlukan dalil khusus, yg penting niat kita baik, untuk ibadah dan ini semua dalam rangka karna kita cinta kepada Nabi Muhammad dan untuk mendekat diri kepada ALLAH SWT.
Tolong diberi pencerahannya…

Terima kasih,
Santoso

26. Quito Riantori - Senin, 7 April, 2008

@Santoso
Dalil2 tentang Maulid Nabi Saw cukup, jelas dan tak terbantahkan. Insya Allah saya akan buat artikel tentang ini secara khusus. Tulisan ini kelak saya peruntukkan bagi org2 yang mencari pencerahan, bukan bagi org2 yang belum apa2 sudah mempersiapkan bantahan, bantahannya pun ngawur…
Sabar, Mas…minggu2 inilah saya post-kan insya Allah.
Terima kasih atas kunjungan anda n salam.

27. addi - Rabu, 9 April, 2008

aduhhh aq kayaknya juga harus ikut ritual nih
mas ali yang terhormat
kalau itu merupakan hal yang sreg buat anda yaa udah itu lah yang kamu lakukan dan kamu imani. bukankah kita diajarkan oleh rosululloh untuk tidak menyalahkan amaliah oranglain sedangkan secara tauhid kita sama.

untuk yang sreg dengan mas quito
hendaknya kita juga berlaku bijak dalam menanggapi statement mas ali lakum a’maalukum walii a’maalii.(bagimu amalmu bagiku amalku) mas quito, aq setuju banget apa yang telah sampean utarakan karena kita mempelajari suatu ajaran tidak hanya dari buku telanjang saja dengan penulis prof ataupun doktor ataupun title yang lainnya. kita harus juga memperhatikan asbabun nuzul, keterkaitan hadis yang satu dengan yang lainnya dan rowi yang sempurna. kalaupun hal tersebut dipahami sama mas ali pasti beliau akan berfikir seribu kali lagi. jika beliau orang yang bijak pasti setelah kita sharing tentang hal ini beliau dengan sigap langsung menggali manfaat ilmu lagi tanpa berfikir bahwa statementnya yang paling benar. kita semua perlu belajar lagi tentang hal ini jika tidak maka orang tersebut adalah orang yang munafik dan pengecut.
siapa yang tdk pengen masuk golongan ahlusunnah waljamaah satu-satunya gol yang di justment masuk surga.
semoga manfaat

28. Quito Riantori - Jumat, 11 April, 2008

@addi
Shadaqta ya akhi…Amin utk doanya…
Salam…

29. abu umar - Senin, 9 Juni, 2008

assalamualaikum wr wb
menurut saya segala sesuatu yg menyangkut ibadah dalam agam islam harus berdasarkan dalil yaitu Alquran dan as sunnah dan juga ijma para ulama yg tidak bertentangan dengan Alqur an dan as sunnah

30. Quito Riantori - Senin, 9 Juni, 2008

@abu umar
Wa’alaykum salam wr wb..
Coba anda baca tulisan saya “Kupas Tuntas Pro-Kontra Maulid Nabi Saw”.
Terima kasih..

31. zainal - Selasa, 17 Februari, 2009

Kalau menurut saya yang dangkal dalam ilmu agama essensiensi bid’ah itu tidak sesuai dengan tujuannya . Maksudnya disini ada penyembah (pengabdi ) dan ada yang disembah yaitu ALLAH SWT..

Misalnya kalau kita beramal dan beribadah ikhlas betul-betul karena ALLAH SWT ini baru lurus dan betul karena sesuai perintah .

Tapi kalau kita beribadah dan beramal baik karena ingin di puji dan buat bagga-banggahan ini namanya tidak lurus .Dan ini yang disebut bid’ah

Karena Bid’ah itu tidak lurus tujuanya.
Jadi ukurannya adalah bid’ah itu adalah batin .

Jadi bukan ditambah-tambah dalam ibadah atau dikurangi.
Karena seorang Nabi bila dapat perintah atau wahyu itu ada kewajiban untuk dirinya sendiri yang tidak boleh disampaikan kepada umatnya tapi kalau rosul itu harus disampaikan kepada umatnya.

Jadi apa salahnya kita tambah berdzikir setiap tengah malam ,bertahlil atau berdo’a untuk kerabat teman dan para muslimin semuanya dikuburnya ketika meninggal.Apalagi kita memperingati Hari kelahiran Nabi ( Maulud Nabi ).
Yang penting ukuran syirik dan nggak syirik itu ada dihati ,yang tahu hanya Kita dengan ALLAH SWT.

32. syehabuddin - Sabtu, 25 Februari, 2012

shollu a’lannabiii….
tulisan yang kaya gini mang mesti di perbanyak dan sebagai pengetahuan yang insya ALLAH kita sampaikan kepada keluarga dan kerabat qta yang belom tau
seperti tergambarkan wahabiyyun menerangkan dengan dalil dan MAZHAB versi mereka ASTAGFIRULLAH… mereka seperti musuh dalam selimut, srigala berbulu domba. bayangan zionos.

33. Hamba Sahaya - Senin, 27 Februari, 2012

asalamualaikum…..terus lanjutkan tulisan2 emas ini pak quito,,,,,,,
agar umat islam berhati hati

Quito Riantori - Rabu, 29 Februari, 2012

wa’alaykum salam wr wb…doakan saya ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: