jump to navigation

Sejarah Tidak Penting! Selasa, 22 April, 2008

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bebas, Bilik Renungan, Opini.
trackback

Begitu kata seseorang yang pernah mengirimkan komentarnya ke blog saya beberapa waktu yang lalu. Terus terang komentarnya itu saya hapus. Saya pikir komentar-komentar seperti ini sama saja seperti hoax atau sampah!

Dan hal ini muncul kembali di dalam ingatan saya setelah saya membaca tulisan seseorang yang menulis sebuah kisah tragis saat-saat terakhir kehidupan Presiden pertama kita, Soekarno.

Kisah-kisah ini muncul di banyak tempat, bahkan teman saya yang pernah kerja bareng dengan saya di Puri Indah ikut mengirimkan kisah tragis tersebut seiring dengan maraknya hujatan sekaligus pujian kepada Presiden kedua kita, Soeharto menyusul kematiannya beberapa waktu lalu.

Saya tidak terlalu terkejut dengan kisah-kisah Presiden Soekarno ini, karena saya sudah mendengarnya dari ayah saya yang notabene adalah seorang PNI. Tapi yang menarik bagi saya adalah ternyata banyak juga orang yang tidak mengetahui peristiwa mengenaskan tersebut.

Sejarah memang perlu bahkan penting untuk kita ketahui dan kita teliti, karena pemutarbalikkan sejarah selalu terjadi ketika para diktator dan para tiran berkuasa.

Yang masih hangat di dalam ingatan saya adalah sebuah tontonan “menarik” yang saya yakin diprakarsai oleh Bakrie Grup, yaitu sebuah dialog terbuka pada hari Sabtu sore (23 Februari lalu) di Metro TV antara para profesor di Indonesia (Amien Rais dan Azyumardi Azra) dengan profesor di AS.

Topiknya adalah topik yang memang selalu menjadi fokus Badan Penelitian Bakrie (Freedom Institut?) yaitu : Islam dan Demokrasi.

Saya saksikan para profesor kita tampak seperti “minder” berhadapan dengan para pakar AS. [Ini mungkin berbeda jauh ketika kita membaca perdebatan seru antara Ahmadinejad dengan profesor AS di Universitas Columbia. Di sana tidak terbayang oleh kita Ahmadinejad minder berhadapan dan berdebat dengan para profesor AS.]

Setelah usai dialog tersebut saya kecewa berat dengan tayangan tersebut. Saya tidak melihat kehebatan Amien Rais seperti ketika ia memimpin demo menjatuhkan Presiden Soeharto.

Betapa tidak, kenapa profesor-profesor kita ini tidak menyorongkan kasus tragis baru-baru ini yang terjadi atas orang-orang Palestina (Hamas) yang dibantai Zionis Israel sebagai satu pertanyaan pedas atas demokrasi yang digembar-gemborkan pihak Barat.

Mengapa para profesor kita tidak bertanya demokrasi macam apa yang ingin dibanggakan AS yang memboikot Hamas padahal Hamas telah menang dengan cara yang sangat demokratis? Demokrasi macam apalagi yang hendak mereka tawarkan kepada kaum Muslim?

Ada apa dengan Bakrie yang saya perhatikan sedemikian gencar memunculkan isu-isu “Islam dan Demokrasi” di banyak siaran televisi swasta kita?

Kenapa orang sekaliber Amien Rais seperti kehilangan keseimbangan ketika berdialog dengan pakar Demokrasi AS yang jelas-jelas tidak demokratis?!

Saya pikir bisa jadi karena perhatian para profesor kita selama ini kurang tertuju kepada sejarah kaum tertindas sehingga kepekaan rasa dan rasio mereka menjadi tumpul.

Inilah pentingnya sejarah! Begitu kita mengabaikan pentingnya sejarah maka semua isi kepala kita hanya terisi teori-teori basi yang membuat kita malas bergerak atau bahkan menggeliat!

Tapi jika kita peduli dengan sejarah, — mana sejarah yang asli dan mana sejarah hasil manipulasi — niscaya…paling tidak kita tidak akan terlihat bodoh.

Ibn Asakir di dalam Tarikh-nya, meriwayatkan sebuah kisah tentang seseorang yang bernama Abu Yahya as-Sukri.

Diriwayatkan bahwa Abu Yahya as-Sukri bercerita, “Ketika aku masuk ke masjid Damaskus (Suriah), aku melihat beberapa halaqah (sekelompok orang, biasanya para pelajar yang duduk melingkar).

Aku (Abu Yahya) bergumam, “Negeri ini pernah disinggahi oleh sejumlah sahabat. Para ulama di sini pasti mewarisi ilmu mereka.” Kemudian, Abu Yahya bergabung dengan salah satu halaqah.

Di tengah-tengah mereka duduk seorang syaikh. Lalu, salah seorang anggota halaqah bertanya kepada syaikh, “Siapakah Ali bin Abi Thalib itu?”

Syaikh menjawab, “Seseorang yang lemah, yang pernah tinggal di Irak. Beberapa orang menjadi pengikutnya. Lalu, Amirul-Mukminin (yang dimaksud adalah Hajjaj bin Yusuf) memeranginya dan Allah memberi kemenangan kepada Amirul Mukminin.”

Tentu saja Abu Yahya terkejut mendengarnya, yang jawabanya tidak hanya ngawur tapi menjadi hal yang sangat menggelikan. Abu Yahya mengetahui betul siapa Ali bin Abi Thalib, khalifah al-rasyidah ke-4 dan salah seorang yang diberi kabar gembira dengan al-jannah (surga).

Abu Yahya pun akhirnya meninggalkan halaqah tersebut seraya merasa heran dengan kedunguan itu. Sebenarnya ia tidak perlu heran, karena pemutarbalikkan semacam itu memang sengaja diciptakan dan dirancang sedemikian rupa oleh para tiran penguasa Dinasti Umayyah.

Namun apa yang didengar Abu Yahya setelah itu jauh lebih mengejutkan dan mengherankannya.

Setelah meninggalkan halaqah tadi, ia melewati seorang syaikh yang sedang shalat di salah satu koridor masjid. Ia melihat penampilannya rapih, sikapnya bagus, rukun shalatnya dilaksanakan dengan sempurna, dan syaikh itu terlihat khusyuk. Ia menangkap ada tanda-tanda kebaikan pada diri syaikh tersebut. Lalu ia pun mendekatinya dengan maksud mengadukan sesuatu yang baru saja merisaukan hatinya. Ia berkata, “Ya syaikh, aku berasal dari Irak. Tadi aku ikut bergabung dalam sebuah halaqah …… Abu Yahya pun menceritakan kisahnya secara rinci kepada syaikh itu.

Dengan tenang syaikh tersebut menjawab, “Di masjid ini memang banyak sekali keanehan. Aku mendengar bahwa sejumlah orang di masjid ini sering menghujat Abu Muhammad al-Hajaj bin Yusuf al-Tsaqafi. Memangnya Ali bin Abi Thalib itu siapa?” Setelah itu ia langsung menangisi Hajjaj.

Keanehan yang ditemui Abu Yahya tidak hanya sampai di situ. la menemui sekelompok orang yang tidak kalah dungunnya dari syaikh yang menangis itu.

Kelompok itu Hajjaj bin Yusuf dan melecehkan Ali bin Abi Thalib dengan mengatakan, “siapa dia?”

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

26 Februari 2008

Catatan :

Abu Muhammad al-Hajaj bin Yusuf al-Tsaqafi atau biasa disebut Hajjaj adalah salah seorang algojo Bani Ummayyah, pembantai orang-orang shalih dan pengikut Imam Ali serta keturunan Nabi Muhammad Saw.

Iklan

Komentar»

1. Taqi Rifqi - Selasa, 22 April, 2008

Saya jadi teringat, ketika saya pernah melemparkan pertanyaan ke suatu milis tentang: “mengapa jasad Sayyidah Fatimah tidak dikuburkan didekat pusara Ayahanda-nya yang jelas-jelas sangat mencintainya. Bahkan pemakaman beliau pun sangat dirahasiakan..kemana sang khalifah waktu itu? sebaliknya sang khalifah itu dimakamkan disamping makam Rasulullah..?ada apa sebenarnya..?apa yg sebenarnya telah terjadi?

Dengan nada tegas ada salah seorang teman yg menjawab :
“Mengapa kita mempersoalkan masalah tersebut? Yang lalu sudahlah berlalu..para alim pada masa itu toh juga tidak pernah mempersoalkannya?”

Saya hanya heran kenapa ada orang yg bisa-bisanya menjawab demikian..
wallahu’alam bishawab..

2. addi - Selasa, 22 April, 2008

setinggi-tingginya ilmu seseorang, meskipun title tsbt banyaknya seperti panjangnya gerbong kereta agro anggrek,(prof, dr ir st mt mag ) tidak akan berguna n manfaat jika tidak tau sejarah, apalagi mencampakkannya!! contoh manusianya sudah dijelaskan ma akhi quito!! ngakunya ini, jawabnya ini.

3. Rinaldy Roy - Jumat, 25 April, 2008

Kenapa orang sekaliber Amien Rais seperti kehilangan keseimbangan ketika berdialog dengan pakar Demokrasi AS yang jelas-jelas tidak demokratis?!

Mungkin orang seperti “Amin Rais” ini masih buaaanyak lagi..?!!!

4. Quito Riantori - Jumat, 25 April, 2008

@ Rinaldy Roy
He…6x kalo saya bukan “mungkin lagi” tapi pasti, karena di sini masih banyak org yang jiwa nasionalismenya masih belum merah bener, jadi “minder” ama org bule!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: