jump to navigation

Keterkaitan Hamba Dengan Tuhannya Jumat, 25 April, 2008

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

Quito R. Motinggo

Nama Tuhan, al-rabb, menyiratkan adanya suatu hubungan antara Esensi Tuhan dengan seluruh makhluk-Nya. Dalam Esensinya, Dia Mahakaya, dan makhluk bergantung kepada-Nya dalam segala hal. Nama al-rabb menunjuk pada asal-muasal seluruh makhluk, karena Tuhan adalah “Tuhan” (rabb) bagi segala sesuatu, dan segalanya adalah hamba-Nya (marbub).

Al Quran menyebut kata (rabb) ini sebanyak 900 kali, akan tetapi, sebagaimana Ibn al-‘Arabi seringkali menunjukkannya, ia tidak pernah menerapkannya tanpa menisbatkan padanya sesuatu atau seseorang. Jadi, Tuhan adalah “Tuhanmu,” “Tuhan ibu-bapakmu,” “Tuhan langit dan bumi,” “Tuhan timur dan barat,” dan seterusnya, dan tidak pernah hanya sebagai “Tuhan” Itulah sebabnya mengapa makna kata “Tuhan” senantiasa menuntut (keberadaan) hamba yang dengannya Tuhan dapat disebut sebagai “Tuhan”.

Nama Tuhan tidak pernah disebut tanpa melalui suatu penisbatan, karena ia menuntut (keberadaan) hamba melalui keberadaan-Nya. 102]

HAKIKAT KEHAMBAAN DAN KEBERHAMBAAN

Al-Qur’an yang mulia mengatakan “Tiada sesuatu pun yang di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba (‘abdan)” (al-Qur’an Surat Maryam ayat 93)

Dalam pengertian ini, kata ‘abdan memiliki hubungan dengan ungkapan filosofi, “sesuatu yang mungkin” (mumkin) dan menunjuk pada kefakiran, ketergantungan, dan ketundukan seluruh makhluk di hadapan Yang Maha Wujud. Karenanya, pada hakikatnya sepenuhnya “terikat”.

Hal itu mengindikasikan bahwa eksistensi dan sifat-sifat makhluk telah ditetapkan oleh Tuhan. Manusia harus sepenuhnya memahami serta menyadari kefakirannya.

Manusia sebagai hamba Tuhan memiliki dua pengertian.

Pertama, Tuhan menjadikan manusia melalui perintah takwini-Nya, dan dia tunduk padanya dalam setiap keadaan, baik menginginkannya atau tidak.

Kedua, manusia adalah “objek” perintah taklifi, dan dia dapat menentukan pilihan untuk tunduk atau membangkang.

Dalam pengertian yang pertama, perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan, sehingga semua itu dinisbatkan pada Tuhan secara langsung.

Dalam pengertian yang kedua, manusia adalah locus pengejawantahan-diri Tuhan, dan dalam derajat tertentu, memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan. Dalam kaitan dengan yang pertama, kita berbicara tentang perbuatan Tuhan, dan dalam kaitan dengan yang ke dua, kita berbicara tentang perbuatan manusia.

Namun, bagaimanapun juga, dalam kedua kasus tersebut manusia adalah hamba. Untuk membedakan antara kedua jenis keberhambaan tersebut, Ibn al-‘Arabi menyebut yang pertama sebagai ‘ubudah, dan yang ke dua sebagai ‘ubudiyyah, yang dapat diterjemahkan sebagai “kehambaan” dan “keberhambaan”, meski keduanya seringkali digunakan secara saling tergantikan oleh Sang Syekh.

“Kehambaan” menyiratkan bahwa kebebasan kehendak merupakan bagian yang tak terpisahkan darinya, sedangkan “Keberhambaan” tidak demikian. 103] Muhyiddin Ibn ‘Arabi mengatakan,”Kehambaan adalah keterpautan hamba pada Tuhannya. Lalu, setelah itu, Keberhambaan, yang berperan sebagai locus pengejawantahan Tuhan.

Melalui kehambaan, dia mesti tunduk pada perintah tanpa memiliki kemungkinan untuk melepaskan diri darinya. Ketika Dia menyatakan, “Jadilah!”, mewujudlah ia dengan seketika, karena tiada sesuatu pun kecuali entitas abadi yang reseptif terhadap esensinya sebagai ciptaan.

Kemudian, ketika locus pengejawantahan teraktualisasikan, Tuhan berfirman kepadanya, “Laksanakan ini dan jauhi itu!” Jika dia menentang perintah, hal itu terjadi dalam hubungan dengan keberadaannya sebagai locus pengejawantahan, akan tetapi jika dia menaatinya, hal itu erat kaitannya dengan entitasnya. “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya : “Kun” (“jadilah”), maka jadilah ia” (QS 16 : 40)…

Di dalam rumah dunia ini, kaum ‘urafa, dalam kaitan dengan kehambaannya, memuja Tuhan melalui Tuhan. Sebab, mereka tidak memiliki keterpautan pada apa pun selain Tuhan. Namun, setiap orang tidak dapat melepaskan diri keberhambaannya, dan karenanya, menyangkut (keberadaan) mereka, disebutkan, “Mereka berdiri di hadapan-Nya dalam maqam keber-hamba-an.” 104]

Ibn ‘Athaillah al-Iskandari qs mengatakan, “Perjanjian tentang penghambaanmu (servanthood) adalah bahwa kamu menjadi seorang pelayan Tuhan, bukan pelayan selain-Nya, dan kamu mengetahui bahwa segala sesuatu kecuali Tuhan adalah pelayan Tuhan, sebagaimana ketika Dia Yang Maha Tinggi berfirman, “ Tiada sesuatu pun yang di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba (‘abdan)” (al-Qur’an Surat Maryam ayat 93) 105]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Iklan

Komentar»

1. addi - Kamis, 8 Mei, 2008

salam
mas ito kalau blog yg ini jarang ya commentnya

mending mbuat blog yg isi artikel ini aja mas

1. tahlil
2. istighosah
3. jamiyah
4. ziarah kubur
5. dzikir
6. ngaji kitab gundul
dan lainnya

jadi ilmunya mas ito nanti bisa keluar semua
sama kayak artikel maulid nabi
\
dari sini aq bisa belajar secara tidak langsung tentang betapa luasnya islam itu, terlebih lagi terbukanya kebutaan mata ini terhadap wahabi

2. Quito Riantori - Jumat, 9 Mei, 2008

@Addi
Saran Mas Addi akan saya pertimbangkan. Adapun tentang zikir, alhamdulillah sudah ada kategori tentang itu.
Terima kasih dan salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: