jump to navigation

Kendaraan Mi’raj-ku Adalah Rindu Jumat, 13 Juni, 2008

Posted by Quito Riantori in All About Love, Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

Kala Nabi saww hendak melakukan Isra’ Mi’raj,

Jibril mendekatkan makhluk Buraq

yang akan dijadikan sebagai kendaraan Nabi.

Nabi saww pun bertanya kepada Jibril,”Apa ini?”

“Kendaraan orang-orang yang dicintai” jawab Jibril.

“Kendaraan dan bekalku adalah kerinduanku,

buktiku adalah malamku.

Aku tidak akan sampai kepada-Nya kecuali dengan-Nya.

Tiada yang menunjukkan jalan kepada-Nya kecuali Dia.

Bagaimana binatang lemah ini mampu

membawa orang yang membawa cinta-Nya yang berat,

perahu pengetahuan-Nya, dan rahasia amanat-Nya,

yang langit, bumi serta gunung pun tak mampu memikulnya.

Bagaimana engkau mampu menunjukiku,

sementara engkau sendiri bingung di Sidrah al-Muntaha?”

(Ibn ‘Arabi, Pohon Semesta, hal. 59 )

‘ISYQ – KERINDUAN PUNCAK

Makna yang bisa disimpulkan dari kata ‘isyq adalah : perasaan cinta yang sangat kuat sehingga ingin dipertautkan dengan yang dicinta.

Al-‘asyaqah adalah sejenis pohon yang melekat dan melilit pada pohon.

‘Isyq kaum ‘urafa mempunyai ciri, pertama, ‘isyq bergerak dari dalam diri manusia hingga sampai pada Allah SwT dan ma’syuq (yang dirindu) hanyalah Allah SwT. Kedua, ‘isyq tidak terbatas pada manusia, tetapi mengalir di dalam setiap maujud. Mulla Shadra menjelaskan bahwa ‘isyq sebagai suatu hakikat yang mengalir dan menembus setiap atom dan molekul setiap maujud. ‘Isyq memenuhi udara, batu, air, gunung, pohon, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Setiap entitas adalah ‘isyq. 185]

Khwaja Nasruddin al-Thusi mengatakan,”Jika masih ada ‘yang lain’ di antara pencari (pencinta) dengan yang dicari (yang dicinta), dan dalam keadaan itu cinta masih tetap ada, di sinilah akan tumbuh ‘isyq sebagai cinta yang memabukkan” 186]

Kerinduan (syauq) adalah suatu perasaan yang disertai keinginan yang begitu mendalam. Perasaan yang tumbuh setelah keinginan menjadi semakin kuat, di mana kesadaran tentang tujuan tertinggi pun semakin menguat, sehingga seolah ada perasaan tak sabar untuk menjumpai sang kekasih. 187]

5 KECENDERUNGAN SUCI MANUSIA

Manusia mempunyai lima kecenderungan suci, yaitu, mencari kebenaran, akhlaq, estetika, kreasi dan penciptaan, kerinduan dan ibadah.

Dalam diri manusia terdapat suatu kondisi yang disebut dengan kerinduan (al-‘isyq). Kerinduan adalah kondisi yang lebih tinggi tingkatnya ketimbang cinta. Kerinduan merupakan suatu keadaan yang berbeda. Konon, al-‘isyq (kerinduan) semula merupakan nama pohon yang menempel pada pohon lain dan ‘memeluknya” sedemikian rupa seakan-akan dia adalah pemilik pohon yang dipeluknya itu. Seperti itulah kerinduan.

Berbeda dengan cinta, kerinduan bisa membuat seseorang keluar dari keadaan normalnya, sehingga dia tidak mau makan dan minum, dan memusatkan perhatiannya hanya pada titik yang menjadi pusat perasaannya, yaitu al-ma’syuq, (sesuatu atau seseorang yang dirindukan).

Dengan kerinduan tersebut, seseorang dapat memperoleh kondisi “menyatu” dengan orang yang dirindukan. Yang dilihatnya adalah sesuatu yang satu, karena ia menyatu dengan yang dia rindukan. 188]

KERINDUAN UNTUK MENYATU DENGAN YANG DICINTA

Khwaja Nashruddin al-Thusi menganggap kerinduan sebagai masyakilah bayn an-nufus (kemusykilan-kemusykilan antar berbagai jiwa). Dinyatakan bahwa dalam jiwa manusia terdapat benih-benih kerinduan ruhani dan nafsani, dan itulah yang menggerakkannya.

Ma’syuq hakiki manusia ini (yaitu hakikat yang bersifat metafisis) menyatu dengan ruh manusia, sesudah ruh itu sampai dan menemukannya. Dengan demikian, pada dasarnya, ma’syuq hakiki tersebut terdapat dalam diri manusia.

Kerinduan itu dapat mencapai suatu tingkat dimana khayalan tentang ma’syuq (kekasih yang dirindukan) lebih bernilai daripada ma’syuq itu sendiri dalam diri orang yang merindukan.

Yang demikian itu terjadi karena ma’syuq-nya hanyalah penggerak dan pendorong dari kerinduan itu sendiri, dan bahwasanya orang yang merindukannya mencari dalam batinnya suatu hakikat yang lain. Dia merasa bahagia dengan gambaran al-ma’syuq yang dia lihat dalam ruh-nya. 189]

MENCIPTAKAN KESELARASAN DAN HARMONI UNTUK MENCAPAI WIHDAH

Ibn Miskawaih mengatakan,”Diungkapkan Aristoteles, yang mengutip Heraclitus, bahwa segala sesuatu yang berbeda tidak sama satu sama lain, tidak bisa bersatu dalam keselarasan yang baik.

Segala sesuatu yang sama saling tertarik dan mendambakan. Atas dasar hal ini, dapat saya simpulkan bahwa bila subtansi-subtansi yang sederhana itu saling sama dan rindu terhadap yang lainnya, maka akan harmonislah subtansi-subtansi tersebut. Kalau sudah harmonis, maka subtansi-subtansi tadi menjadi sesuatu yang tunggal yang tak ada hal lain di dalamnya.

Kalau subtansi Ilahi yang terdapat dalam diri manusia terbebas dari kekeruhannya lantaran berhubungan dengan materi, dan jika tidak terpikat bermacam-macam hawa nafsu dan keinginan akan kehormatan, maka subtansi ini akan merindukan sesuatu sepertinya, dan akan melihat, melalui mata kecerdasannya, Kebaikan Sejati Pertama, yang tidak tercemari materi, dan akan bergegas ke sana.

Pada saat seperti itulah cahaya Kebaikan Pertama itu akan terpancar kepadanya. Kenikmatan yang diresapinya tak ada tandingannya. Entah ia memanfaatkan wadag kasar atau tidak, ia akan mencapai makna menyatu seperti yang sudah kami paparkan. Ia akan lebih patut mendapat derajat tinggi ini setelah sepenuhnya terbebas dari jasad kasar. Karena ia tidak akan bebas sepenuhnya kecuali kalau sudah terlepas dari kehidupan duniawi. 190]

Imam al-Sajjad as berkata :

“Allah menciptakan alam dari ketiadaan,

kemudian Dia bangkitkan ciptaan-Nya dengan cinta dan rindu (‘isyq)”

(Awal Do’a Shahifah al-Sajjadiyyah)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Iklan

Komentar»

1. Yaya - Sabtu, 14 Juni, 2008

ya kerinduan yg lbh dari sekedar kualitas dari realitas..

2. Frodo - Rabu, 18 Juni, 2008

Dear ..

Allahhhhh ..

3. adi - Rabu, 18 Juni, 2008

aq rindu padaMu tapi yang aq lakukan selama ini, sama sekali tidak mencerminkan kerinduan kepadaMu
Ibadah karena ketakutan bukan kerinduan?
bagaimana rasa ketakutan ini nantinya bisa berubah jadi kerinduan?
bisakah bertemu dengan Allah dengan rasa ketakutan??
kerinduan yang seperti apa ynag mampu membawa diri ini kepada Mu.
apakah kerinduan itu dikhususkan pada nabi ato rosulMU??
Kuasakah aq mencapai kerinduan itu?
mas quito mohon diberi penerangan
trims

4. Quito Riantori - Rabu, 18 Juni, 2008

@adi
Tulisan ini mah sekadar info aja. Maqam rindu mah kita-kita ini masih jauuuuuuuh…huruf u-nya panjang banget, mas Adi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: