jump to navigation

Berbincang Dengan Alam Selasa, 1 Juli, 2008

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Kearifan Universal, Tasawwuf.
trackback

Satrio Pinandito Motinggo

It is the province of knowledge to speak and

it is the privilege of wisdom to listen” (Oliver Wendell Holmes; 1809 – 1894)

“Adalah wilayah ilmu untuk berbicara, sedangkan hak kearifan adalah mendengarkan,”demikian kata Oliver Wendell Holmes.

Dari sudut pandang mistik, kehidupan dengan segala aspeknya adalah komunikatif jika saja seseorang mengetahui rahasia berkomunikasi dengan alam. Artinya, sesungguhnya alam itu melakukan komunikasi dengan manusia. Hanya saja kebanyakan manusia tidak menyadari kenyataan ini.

Banyak kisah-kisah orang bijak atau para wali yang mana diceritakan bahwa mereka mampu berbicara dengan pohon, tanaman, bahkan bebatuan, gunung dan laut. Kebanyakan orang menganggap kisah-kisah ini hanya legenda, padahal sebagian kisah-kisah itu benar-benar terjadi di berbagai belahan dunia ini.

Banyak orang percaya bahwa Nabi Sulaiman as memiliki kemampuan berbicara dengan binatang, jin, angin, dan alam lainnya sebagai mukjizat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, namun hanya sedikit orang percaya kalau orang yang bukan nabi pun sebenarnya sanggup melakukan komunikasi seperti yang dilakukan Nabi Sulaiman as.

Dalam kehidupan yang lebih rendah, kita mengakui adanya kemampuan yang kita sebut latihan kecenderungan yang membuat burung bisa terbang dan ikan bisa berenang tanpa belajar terlebih dahulu. Naluri ini juga tampak sebagai intuisi pada makhluk yang lebih rendah.

Banyak saintis hari ini mengatakan bahwa binatang tidak mempunyai pikiran, namun sebenarnya semua makhluk mempunyai pikiran, bahkan tanaman dan tumbuhan pun mempunyai pikiran.

Orang-orang yang hidup dekat dengan alam, orang-orang yang bekerja sebagai petani, orang-orang yang hidup menyendiri dan tinggal di antara binatang, mengetahui bahwa binatang sering memberi peringatan akan datangnya sakit atau kematian, datangnya badai atau banjir. Mereka memiliki intuisi. Sebenarnya, mekanisme jasmaniah manusia tentu lebih baik lagi. Dengan kata lain, manusia mempunyai kemampuan berintuisi lebih besar ketimbang hewan.

Ketika alam berkomunkasi dengan memberikan tanda-tanda tertentu, manusia semestinya lebih dulu memahami atau merasakan tanda-tanda ini ketimbang hewan. Hanya saja karena manusia begitu terserap dalam kehidupan luarnya dan kepada dirinya sebagai obyek dalam kehidupan ini, ia menjadi terbutakan dan tuli dari tanda-tanda tersebut.

Itulah sebabnya sangat sulit bagi kebanyakan manusia untuk percaya kepada kemampuan intuisinya dan karenanya kemampuan intuitifnya menjadi lebih tumpul ketimbang makhluk lain yang lebih rendah darinya. Pada tataran tertentu intuisi manusia bisa dikatakan sebagai firasat.

Diriwayatkan bahwa Imam Ja’far al-Shadiq as ketika menjelaskan ayat al-Qur’an Surat al-Hijr ayat 75: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (al-mutawasimin), beliau berkata,”Mereka itu adalah para Imam (Ahlul Bait) as, Rasulullah saww juga bersabda, “Waspadalah kalian akan firasat orang beriman! Sesungguhnya mereka melihat dengan cahaya Allah ‘Azza wa Jalla!, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam ayat ”Inna fi dzalika la ayati lil mutawassimin (Quran Surah al-Hijr [15] ayat 75)” 49]

Berkaitan dengan ini, Ayatullah Muhammad Taqi Mishbah Yazdi mengatakan bahwa ada orang yang dapat mendengar firman rahasia Allah Swt. Hal seperti itu biasa terjadi. Manusia adalah makhluk yang sedemikian agung sehingga dapat mencapai posisi seperti itu. Sesungguhnya kelompok manusia seperti itu tidak terbatas pada para nabi dan para maksum a.s. saja. 50]

Semakin tajam intuisi seseorang, semakin tajam pula daya tangkap dan daya serapnya terhadap segala tanda-tanda yang datang kepadanya. Ia tidak bersifat personal semata, namun juga umum. Menangkap tanda-tanda bukan hanya berarti memiliki kapasitas menerima, tetapi juga kemampuan menterjemahkannya ke dalam bahasa umum.

Kemampuan ini juga dapat kita lihat pada orang-orang yang sejak dilahirkan telah diberi anugerah oleh Allah dengan bakat-bakat tertentu.

Orang-orang yang dekat dengan alam dalam kesendirian, atau petani yang hidup di pedesaan umumnya memiliki intuisi lebih kuat ketimbang para intelektual yang hidup di tengah kebisingan kota.

Ini menunjukkan bahwa hidup yang kita jalani hari ini di kota-kota besar adalah kehidupan yang tidak alami. Maka manusia masa kini pun kehilangan kwalitas-kwalitas intuisinya yang merupakan warisan Tuhan.

Leo Tolstoy mengatakan, “Sangat sering orang-orang yang paling sederhana dan paling sedikit pendidikannya dapat memahami makna kehidupan dengan mudah dan tanpa sadar, sementara banyak ilmuwan kurang memiliki kemampuan semacam ini karena dididik bukan untuk memahami berbagai hal sederhana yang bersifat mendasar bagi seluruh manusia” 51]

Contoh lainnya adalah orang-orang yang baik dan lembut lebih intuitif ketimbang orang-orang yang kasar. Lihatlah wanita! Mereka lebih intuitif ketimbang kaum pria.

Wanita secara alami lebih tanggap, daya penerimaannya yang lebih halus membuatnya lebih intuitif. Ketika kaum pria mencoba membantah, berdalih dan berargumen, kaum wanita pun berkata, “Tetapi saya merasakan ini atau itu” dan perasaannya itu terbukti benar, walau mereka tidak dapat memberikan alasannya.

Tiap-tiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam merasakan kesan, dan kemampuan ini merupakan langkah awal terhadap intuisi. Semakin baik seseorang, semakin baik pula persepsinya.

Namun kadang-kadang setiap orang merasakan berbagai kondisi sebuah tempat, watak orang-orang yang ia temui, kecenderungan mereka, motif mereka, hasrat mereka, dan tingkatan evolusi mereka, sebagai kesan-kesan baginya.

Bila ini terjadi dan ia ditanya kenapa merasa seperti ini, ia pun tidak selalu dapat memberikan penjelasan. Mungkin ada yang mengatakan dari wajahnya, dari lingkungannya, dari yang telah dikatakannya.

Tetapi sebenarnya ia merupakan suatu perasaan yang ada di luar deskripsi. Orang yang bebas, sensitive, cerdas, selalu mendapat kesan ketika melihat seseorang.

Dengan intuisi seseorang menerima peringatan akan datangnya marabahaya, janji keberhasilan, pertanda kegagalan; jika perubahan terjadi dalam kehidupan ia merasakannya.

Tetapi sangat sering manusia karena kurang percaya diri, ia kehilangan kemampuan intuitifnya. Orang sering berfikir bahwa mungkin saja intuisinya tidak benar.

Karena intuisinya gagal, iapun mengambil jalan lain. Yakni jalan akal, logika. Dan secara alami intuisinya pun menjadi tumpul. Jadi jika seseorang jarang menggunakan kemampuan ini, maka kemampuan ini pun lambat laun akan hilang. Seseorang yang pada awalnya secara intuitif mampu merasakan, lalu lambat laun kehilangan kemampuan tersebut.

Hal menakjubkan lainnya yang berkenaan dengan intuisi adalah orang yang dianugerahi dengan intuisi karena keikhlasannya. Jika seseorang bersungguh-sungguh, ikhlas, simpatik, baik, ia akan dikaruniai intuisi. Tetapi jika sifat-sifat ini berkurang, maka akan berkurang pula intuisinya.

Orang yang tidak memiliki intuisi, akan sulit dalam mencapai tujuan spiritual, karena kepercayaan spiritual tidaklah datang dari pengalaman lahiriah, tidak datang dari akal atau logika, tetapi bersemi dari dalam, dalam bentuk intuisi.

Dan bila kemampuannya tidak dikembangkan, maka kepercayaannya pun tidaklah kuat. Seseorang yang kurang kuat intuisinya, maka kurang pula kepercayaannya. Jadi jika ia memiliki kepercayaan, kepercayaannya itu lemah karena tidak dibangun di atas fondasi suara.

(Bersambung)

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: