jump to navigation

Berdoa dan Berzikir Tidak Dengan Teks Yang Rasulullah Saw Ucapkan Adalah Bid’ah? Selasa, 5 Agustus, 2008

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, All About Zikir, Artikel, Bilik Renungan.
trackback

Di antara sekian banyak kebodohan kaum Wahabi-Salafi adalah tuduhan bid’ah atas orang-orang yang berdoa atau berzikir tidak sama dengan teks yang diucapkan Rasulullah Saw. Benarkah tuduhan keji seperti itu?

Al-Thabrani meriwayatkan, bahwa Nabi saw pernah melewati seorang Arab Badui yang sedang berdoa di dalam salatnya :

“Wahai Zat Yang tidak dilihat oleh mata,

tidak dapat dicampuri oleh sangkaan,

tidak dapat disifatkan oleh orang-orang yang menyifatkan,

tidak dapat diubah oleh kejadian,

dan tidak mengkhawatirkan malapetaka.

Dia mengetahui apa yang dikandung oleh gunung,

apa yang ada di dalam lautan,

bilangan tetesan hujan,

bilangan daun pohon,

bilangan yang digelapkan oleh malam,

dan bilangan yang disinari oleh siang.

Tidak tersembunyi dari-Nya langit yang terletak di atas langit,

tidak pula bumi yang terletak di bawah bumi,

tidak pula lautan dan apa yang ada di kedalamannya (dasarnya),

dan tidak pula gunung dan apa yang ada di dalam.

(Ya Allah), jadikanlah sebaik-baik umurku pada akhirnya,

sebaik-baik amalku pada penutupannya,

dan sebaik-baik hariku adalah pada hari aku berjumpa dengan-Mu.”

Maka, Rasulullah saw menyuruh seseorang mendatangi orang Arab Badui itu, “Jika dia (orang Arab Badui itu) selesai salat, bawa dia menemuiku!

Saat itu Rasulullah saw baru saja mendapatkan hadiah berupa emas. Ketika orang Arab Badui itu datang, Rasulullah saw memberikan emas itu kepadanya, lalu beliau berkata kepadanya, “Apakah engkau tahu, mengapa aku memberimu emas?”

Orang Arab Badui itu menjawab, “Karena kekerabatan antara diriku denganmu.”

Rasul yang mulia bersabda, “Sesungguhnya kekerabatan itu memiliki hak. Akan tetapi, aku memberimu emas itu karena pujianmu yang bagus kepada Allah.” *]

Bandingkanlah sabda Rasulullah saw tersebut dengan apa yang dikatakan al-Syadzili (ulama Wahabi) bahwasanya dia berkata, “Barangsiapa yang berdoa selain doa yang Rasulullah panjatkan, maka dia adalah pembuat bid’ah.” (Ismail Haqqi al-Barusawi, Ruh al-Bayan, 9:385)

Padahal kita tahu bahwa Rasulullah Saw telah memberi emas kepada laki-laki Arab Badui itu tidak lain justru karena dia berdoa tidak seperti yang diajarkan Rasulullah Saw. Laki-laki itu telah melakukan “bid’ah” tetapi Rasulullah Saw justru menghadiahinya emas. Bukankah ini aneh? Padahal laki-laki badui itu asli Salaf dan dia mencontohkan cara berdoa Salaf, bukankah begitu?

Laa hawla wa laa quwwata illa billah!

Catatan Kaki :

*] Muhammad al-Ghazali, Turatsuna al-Fikri fi Mizan al-Syar’ wa al-‘Aql, hlm. 102

Iklan

Komentar»

1. arie kariana - Kamis, 7 Agustus, 2008

setuju mas, sebab doa merupakan salah satu alat kita berdialog dengan Allah, tentu saja kita harus mengerti betul apa yang kita ucapkan dalam “curhat” kita padaNya, dan ini berarti setiap doa masing2 individu akan berbeda2, sesuai dengan tingkat pemahaman dan pengalaman masing2 selama masih dalam koridor adab2 yang diperbolehkan, disamping juga kita harus terus mempelajari doa2 yang diajarkan Rasulullah saaw, mendalami maknanya, dan semuanya ini merupakan buah dari karunia Allah yang sangat besar pada kita, yaitu akal..
salamun’alaykum

2. Quito Riantori - Kamis, 7 Agustus, 2008

Allah Swt Maha Pengasih lagi Maha Pemurah…Salamun ‘alaykum…

3. grandofvotes - Kamis, 16 Desember, 2010

dengan TUHAN itu seperti pacaran 🙂
kalo pernah pacaran pasti ngerti! *wahabi bisa terbakar jenggotnya baca ini. hehehhe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: