jump to navigation

Nilai Ibadah Tidak Didasarkan Pada Hasil Senin, 27 Oktober, 2008

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback


Katakanlah, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya (syakilatihi) masing-masing”.

Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.”

(Al-Qur’an Surat al-Isra’ ayat 84)

Diriwayatkan dari Imam al-Shadiq as, bahwa beliau berkata, “Niat itu lebih utama daripada amalnya. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya niat itu adalah amal”, kemudian beliau membaca ayat : ”Katakanlah : ”Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya (syakilatihi) masing-masing”, yaitu menurut niatnya.” 74]

Islam telah mengikatkan nilai suatu ibadah dan kerja berdasarkan niatnya. Dengan demikian, Islam memisahkan nilai dan hasil suatu kerja atau ibadah seseorang. Nilai sebuah perbuatan dalam Islam tidak didasarkan pada hasil atau pencapaian yang dihasilkan oleh para pelaku, akan tetapi pada niat yang melatarbelakanginya, kesucian, serta besarnya kesungguhan di dalam usaha atau ibadah seseorang.

Contohnya, orang yang berhasil menemukan obat sebuah penyakit berbahaya telah menyelamatkan nyawa jutaan orang. Allah tidak menilai seberapa besar hasilnya juga jumlah orang yang telah terselamatkan dari kematian.

Allah menilainya dari perasaan dan keinginan yang terbentuk di dalam niat sang penemu. Jika usaha penemuannya itu hanya untuk mendapatkan keuntungan jutaan dollar, perbuatan ini tidak Allah anggap sebagai pengabdian yang memiliki nilai, kecuali semata-mata komersial.

Karena motif seperti ini tidak berbeda dengan seseorang yang menemukan suatu penemuan, senjata pemusnah, misalnya, yang mana usahanya itu didorong untuk memperoleh keuntungan finansial.

Sebuah perbuatan baik dan dianjurkan jika niat yang melatarbelakanginya berada di luar pengaruh ego, dan dilakukan semata-mata demi Allah dan hamba-hamba-Nya. Semakin besar penafian diri seseorang, maka semakin tinggi nilainya dalam pandangan Tuhan. 75]

Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat kepada (bagusnya) tubuh-tubuh kalian, tidak juga kepada (cermatnya) perhitungan kalian, tidak juga pada (banyaknya) harta-harta kalian, melainkan Dia melihat kepada hati kalian. Karena itu barangsiapa yang memiliki hati yang shalih niscaya Allah menyayanginya” 76]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki :

74] al-Wasail 1 : 36

75] Ayatullah Syahid Muhammad Baqir al-Shadr Aspek Filosofis Ritual Islam, Jurnal al-Huda Vol. II, No. 4, 2001.

76] Mizan al-Hikmah 10 : 272, hadits no. 20656

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: