jump to navigation

Apa itu Khusyu’? Senin, 24 November, 2008

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

khusyu1

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati (khusyu’) mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun , dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Hadiid [57] : 16)

Di dalam salah satu doanya, Imam Ali Zainal ‘Abidin as berdoa : “Dan aku berlindung dari jiwa (nafs) yang tidak pernah puas (qana’ah), dan dari perut yang tidak pernah kenyang, dan dari hati yang tidak pernah khusyu’1]

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata : “Barangsiapa yang khusyu’ kalbunya niscaya khusyu’ pula seluruh anggota tubuhnya.” 2]

Apa itu Khusyu’?

Di dalam bahasa Arab, kata khusyu bermakna : tunduk, takluk, dan merendahkan diri. Di dalam bahasa Arab kata khusyu’ tidak selalu berkaitan dengan shalat. Misalnya saja ayat QS 57:16 di atas, kata khusyu’ pada ayat tersebut tidak berhubungan langsung dengan pelaksanaan ibadah shalat. Fokus ayat tersebut adalah hati. Hati yang khusyu’ adalah hati yang tunduk untuk senantiasa mengingat Kebesaran Allah Swt. Menurut Ibn Abbas, ayat ini diturunkan setelah 13 tahun Kerasulan Muhammad Saw (menurut Ibn Mas’ud 14 tahun). Ayat ini merupakan teguran langsung Allah Swt kepada sebahagian sahabat Rasulullah Saw yang keimanan mereka masih dangkal, yaitu keimanan yang tidak disertai ketundukkan total yang bisa berakibat kesatnya hati sebagaimana hati orang-orang Yahudi yang kemudian menjadi congkak dan rusak. 3]

Apa Tanda-tanda Khusyu’?

Di dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda: “Ada pun tanda-tanda khusyu’ itu ada empat : 1. Muraqabah kepada Allah dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan dan

2. Manajemen yang bagus (Rakûb al-Jamîl)

3. Merenungkan Hari Qiyamat

4. Senantiasa bermunajat kepada Allah Swt. 4]

Di dalam hadis lainnya, disebutkan bahwa seseorang telah bertanya kepada Nabi Saw : Apakah Khusyu’ itu?

Rasulullah Saw menjawab : “Tawadlu’ atau merendahkan diri pada saat shalat dan menghadapnya hati seorang hamba secara total kepada Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung 5]

Kita lengkapi penjelasan Khusyu’ ini dengan uraian Sang Arif Sejati, Imam Khomeini qs :

Pada prinsipnya, keKhusyu’kan adalah ketundukan penuh yang bercampur dengan kecintaan atau ketakutan yang diperoleh melalui penghayatan akan kedahsyatan, kekuatan dan kewibawaan Allah Yang Maha Agung dan Maha Indah.

Penjelasan lebih jauhnya adalah sebagai berikut: kalbu-kalbu para pejalan ruhani (salik) berdasarkan watak dan fitrahnya berbeda satu dengan lainnya. Sebagian darinya ada yang bersifat ‘penuh kerinduan’ (‘isyqiyy) dan keadaan ini (berasal dari) manifestasi sifat Jamal (Keindahan).

Kalbu yang demikian secara fitrah akan menghadap kepada Keindahan Sang Kekasih. Apabila golongan ini menemukan teduhnya Sang Maha Indah atau menyaksikan inti Keindahan dalam perjalanan ruhani (suluk) mereka, maka Keagungan (Jalal) Ilahi yang tersembunyi di balik Keindahan-Nya itu akan menyentakkan mereka hingga mereka tak sadarkan diri.

Hal itu karena di balik setiap Keindahan (Jamal) Ilahi ada (Jalal) Keagungan yang tersembunyi dan di balik setiap Keagungan-Nya ada Keindahan yang terselubung.

Dan agaknya untuk menyiratkan keadaan seperti itulah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata: “Mahasuci Allah yang Rahmat-Nya meliputi para wali-Nya dalam keganasan Murka-Nya dan Murka-Nya mengganasi musuh-musuh-Nya dalam keluasan Rahmat-Nya.”

Maka, kewibawaan dan kedahsyatan Keindahan-Nya akan menghantam golongan ini sehingga mereka akan terbawa menjadi Khusyu’ di hadapan Keindahan Sang Kekasih. Keadaan seperti ini pada mulanya akan menggoncangkan dan mencemaskan kalbu sang pejalan ruhani (salik).

Namun, setelah suatu upaya penanggulangan (tamkin), sang salik akan mendapatkan keadaan uns (keintiman dan kemesraan). Kecemasan dan kegoncangan kalbu yang diakibatkan oleh (penyaksian akan) Keagungan dan Keperkasaan Ilahi berubah menjadi uns dan ketenangan sampai kemudian datanglah kepadanya keadaan thuma’ninah (ketenteraman) sebagaimana yang telah dialami oleh Khalil Allah, Nabi Ibrahim as.

Sebagian lain para salik memiliki kalbu yang penuh ketakutan (khauf) dan (berasal dari) manifestasi sifat Jalal (Keagungan) Allah SWT. Para pemilik kalbu ini senantiasa menghayati (sifat) Kebesaran, Keangkuhan dan Keagungan Ilahi. KeKhusyu’an yang mereka peroleh timbul dari rasa takut dan merupakan tajalli (penampakan) Nama-Nama Allah yang berciri Perkasa dan Agung (asma qahriyyah wa jalaliyyah) dalam kalbu mereka; seperti yang dialami Nabi Yahya as.

Dengan demikian, keKhusyu’an terkadang bercampur dengan kecintaan dan terkadang dengan ketakutan dan kecemasan, meskipun sebetulnya dalam rasa cinta ada kecemasan dan dalam rasa takut ada kecintaan.

Tingkat keKhusyu’kan kita sebanding dengan tingkat pengetahuan (ilmu) dan penghayatan kita akan Keagungan dan Kebesaran serta Keluhuran dan Keindahan Allah SWT. 6]

_____________

Catatan Kaki :

1. Bihar al-Anwar 98:93

2. Mizan al-Hikmah, hadits no. 4710

3. Tafsir Quran Ayatullah Mahdi Puya

4. Tuhaf al-‘Uqul, hlm. 22

5. Mustadrak al-Wasail 1: 10

6. Imam Khomeini, Hakikat & Rahasia Shalat – Mikraj Ruhani – Tuntunan Shalat Ahli Makrifat, hlm. 35-36

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: