jump to navigation

Stres? Siapa Takut! Selasa, 25 November, 2008

Posted by Quito Riantori in Artikel, Stress Management.
trackback

stress2

Sebenarnya, definisi stres bisa diperluas termasuk di dalamnya keseluruhan rangkaian kejadian yang kompleks, seperti :

(1) suatu peristiwa yang mengharuskan atau memaksa timbulnya beberapa perubahan (perubahan eksternal atau perubahan mental; sesuatu yang nyata atau sekadar imajinasi)

(2) proses-proses internal (persepsi, interpretasi atas suatu kejadian, pembelajaran, penyesuaian, atau menanggulangi beragam mekanisme),

(3) reaksi-reaksi emosional (atau perasaan-perasaan yang sensitif) dan

(4) sikap atau reaksi-reaksi biologis lain (seperti : rasa khawatir, tangan atau bagian tubuh yang berkeringat, sering mengucapkan kata-kata secara salah, tekanan darah tinggi, dan semua kondisi medis semacam itu.

Dalam penggunaan definisi yang lebih terbatas, stres merupakan situasi yang menyebalkan atau ketegangan yang berkaitan dengan reaksi-reaksi mental atau pun fisik.

Bagaimanapun, kebanyakan dari kita menggunakan istilah stres secara longgar yang hanya berkaitan dengan situasi yang mengancam atau suatu reaksi atas kecemasan.

Stres juga bisa dikatakan suatu “tuntutan” agar kita melakukan sesuatu, apakah tuntuan itu baik, masuk akal, atau menyenangkan seseorang.

Misalnya, seseorang yang diberikan satu promosi jabatan yang menggembirakan sekali pun, maka itu berarti merupakan pelimpahan tanggung-jawab atau satu pekerjaan yang lebih berat lagi.

Di sekolah atau di kampus, stres terjadi ketika kita mesti belajar sedemikian giat agar kita memperoleh nilai yang tinggi di dalam ujian.

Tak seorang pun dapat bekerja dan dapat mengangkat ‘derajat’ keluarganya tanpa mengalami stres. Mungkinkah seseorang yang berjuang demi memperoleh kedudukkan tinggi, tujuan yang kompetitif, atau melakukan pengorbanan demi mencapai hidup yang layak tanpa mengalami stres?

Tentu saja tidak mungkin! Stres merupakan bagian dari ‘penemuan diri’, ‘pengembangan diri’ dan bahkan dapat memaximalkan seluruh potensi seseorang.

Hal ini juga menyadarkan kita bahwa kita tidak mengetahui sampai di mana kemampuan kita yang maximal tanpa kita mengerahkan seluruh upaya dan usaha keras kita untuk mencapai tujuan kita tersebut.

Dan juga harus kita sadari, bahwa kegagalan pun bukan suatu ‘tanda’ batas kemampuan kita tersebut. Kadang kita harus terus mencoba dan mencoba, walaupun beratus-ratus kali kita harus menelan pahitnya kegagalan yang berulang-ulang, sampai akhirnya kita berhasil mencapai apa yang kita tuju dan dambakan.

Bahkan kejadian-kejadian yang luar biasa menyenangkan dalam hidup kita pun – seperti cinta, persahabatan, keluarga, hubungan sex, perjalanan, hari-hari berlibur – justru menambah stres kita, karena situasi-situasi ini mengharuskan kita untuk menanggulangi dan menyesuaikan keadaan.

Oleh karena itulah banyak psikolog menyebut stres dengan dua jenis : stres yang baik dan stres yang buruk. Dan kita semua punya kedua-duanya!

Setiap hari kita mempunyai kata lain dari stres, sesuatu yang lebih berat ketimbang rasa cemas atau gelisah, untuk suatu kerja yang berat, sesuatu yang tidak menentu, dan sesuatu tekanan yang dihubungkan dengan pekerjaan yang baik di tempat kita bekerja, di sekolah, atau dalam hubungan-hubungan interpersonal kita.

Seseorang mungkin saja mengatakan,”Ini pekerjaan yang berat, tetapi nyatanya dia dapat mengatasinya”, ketimbang “Pekerjaannya ini membuatnya sedemikian gelisah!”.

Ketika kita menggunakan ungkapan “dia cemas” atau “dia merasa tidak aman” atau “dia ketakutan” atau “dia gugup”, kita biasa memaksudkannya bahwa ada sesuatu yang tidak beres, atau seseorang hampir kehilangan kontrol atau terancam kegagalan.

Oleh karena itu, kata-kata yang mengisyaratkan bentuk-bentuk kecemasan dan stres yang kita alami menjadi “barometer” seberapa jauh kita dapat menangani satu atau beberapa masalah dalam hidup kita.

Namun, kecemasan atau kegelisahan yang sangat tinggi merupakan sebuah aspek yang paling berpengaruh di dalam gangguan psikologis.

Maka, stres selalu dihubungkan dengan kata-kata seperti yang telah kita sebutkan di atas: selalu menceritakan kepada orang lain bahwa kita sedang berada dalam beberapa situasi yang benar-benar sangat sulit untuk diatasi.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: