jump to navigation

Abdullah bin Saba : Fiktif atau Fakta? Rabu, 28 Januari, 2009

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, Artikel.
trackback

wababi-sapi6

Pada pertengahan abad kedua Hijrah muncul dua buah buku berjudul al-Futuh al-Kabir wa ar-Riddah dan al-Jamal wa Masiri ’Ali wa Aisyah, yang ditulis Saif bin ’Umar Tamimi (w. 170 H.). Para penulis sejarah Islam, terutama Thabari (w. 310 H.), Ibn ’Asakir (w. 571 H.), Ibn Abi Bakr (w. 741 H.) dan Dzahabi (w. 748 H.) mengutip riwayat dari Saif Tamimi (tanpa menya­takan penilaian tentang kesahihannya). Orang-orang lain mengutip dari Thabari dan lain-lain itu, hingga semua seperti ’telah sepakat” menerimanya tanpa pertanyaan atau memeriksa keabsahannya.

Seorang ulama ahli sejarah, Murtadha al-’Askari, meneliti riwayat tentang tokoh ’Abdullah bin Saba’ ini dan setelah menelusuri nama­nya, ia berkesimpulan bahwa tak ada seorang ulama jarh dan ta’dil yang turut menyebarkan cerita Saif bin Umar Tamimi khususnya tentang ’Abdullah bin Saba’.

la juga mendapatkan bahwa setidaknya ada 13 ulama ahli jarh dan ta’dil yang jadi anutan mazhab Sunni yang memberi penilaian tentang berita yang diriwayatkan oleh Saif bin Umar Tamimi, dengan menyatakan sebagai berikut:

1. Yahya bin Mu’in (w. 233 H.): “Riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi lemah dan tidak berguna.”

2. Nasa’i (w. 303 H.) di dalam kitab Shahih-nya, “Riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi lemah, riwayat-riwayat itu harus diabaikan karena ia orang yang tidak dapat diandalkan dan tidak patut di percaya.”

3. Abu Daud (w. 316 H.) mengatakan, “Tidak ada harganya, Saif bin Umar Tamimi seorang pembohong (Al-Khadzdzab).”

4. Ibn Abi Hatim (w. 327 H.) mengatakan bahwa, “Mereka telah meninggalkan riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi.

5. Ibn AI-Sakan (w. 353 H.), “Lemah.” (dhaif).

6. Ibn ’Adi (w. 365 H.), “Lemah, sebagian dari riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi terkenal namun bagian terbesar dari riwayat-riwayatnya mungkar dan tidak diikuti.”

7. Ibn Hibban (w. 354 H.), “Saif bin Umar Tamimi terdakwa sebagai zindiq dan memalsukan riwayat-riwayat.”

8. AI-Hakim (w. 405 H.), “Riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi telah ditinggalkan, ia dituduh zindiq.”

9. Khatib al-Baghdadi (w. 406 H.) tidak memercayainya.

10. Ibn ’Abdil Barr (w. 463 H.) meriwayatkan dari Abi Hayyam bahwa “riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi telah ditinggalkan; kami menyebutnya bahwa sekadar untuk diketahui saja.”

11. Safiuddin (w. 923 H.): “Dianggap lemah (dhaif).

12. Fihruzabadi (w. 817 H.) di dalam Tawalif menyebutkan Saif bin Umar Tamimi dan lain-lain mengatakan bahwa mereka itu lemah (dha’if).

13. Ibnu Hajar (w. 852 H.) setelah menyebutkan salah satu dari riwayat-riwayatnya menyebutkan bahwa riwayat itu disampaikan oleh musnad-musnad yang lemah, yang paling lemah di antaranya (assyadduhum) ialah Saif bin Umar Tamimi.



Ulama-ulama di atas ini adalah para peneliti perawi (orang yang meriwayatkan) dan menilai sampai di mana ia dapat dipercaya. Mereka menyusun kitab semacam ensiklopedia atau biografi lengkap tentang para perawi yang disebut Kitab Rijal seraya memberikan penilaian tentang dapat dipercayai atau tidaknya seorang perawi, dan sebagainya.



“Perawi” yang namanya tidak terdapat dalam berbagai Kitab Rijal itu berarti tidak ada. Fiktif atau majhul.

Mereka mengingatkan umat Islam bahwa Saif bin Umar Tamimi tak dapat dipercayai. Riwayat-riwayatnya dhaif, lemah (1, 5, 6, 11, 12, 13), tidak diikuti (6), telah ditinggalkan (4, 6, 8, 10), tak berguna (1), tak ada harganya (3) tak dapat diandalkan (2), tak dapat dipercaya (9, 2), hares diabaikan (2), mungkar (6), pemalsu (7), kadzdzab (3), yakni pendusta, penipu. la terdakwa zindiq, (7, (*) yakni berpura-pura Muslim.



Allamah Murtadha al-’Askari menelusuri riwayat-riwayat dari Saif bin Umar Tamimi dan melihat jelas perbedaan riwayat dari Saif dengan riwayat orang lain.



Beliau menemukan bahwa Saif dengan sengaja mengada-adakan cerita untuk mengadu domba kaum Muslimin dan menodai kemurnian Islam.

Beliau juga menemukan bahwa Saif telah mengada-adakan perawi yang menjadi sumber beritanya. Sejarawan ini pun menemukan dalam buku-buku Saif 150 Sahabat Rasul yang direkayasa oleh Saif bin Umar Tamimi, yang pada hakikatnya tidak pernah ada di dalam sejarah.



Sebagai hasil penelitiannya, Murtadha al-‘Askari menulis 2 buah kitab: ’Abdullah bin Saba’ wa Asathir Ukhra (’Abdullah bin Saba’ dan Mitos lainnya) dan Khamsun wa Miatu Shahabi Mukhtalaq (150 Shahabat Fiktif).



Kitab-kitab itu (masing-masingnya 2 jilid) diterbitkan di Najaf (Iraq) tahun 1955, kemudian diterbitkan lagi di Beirut dan Mesir.



Hasil penelitian Murtadha al-’Askari ini telah menimbulkan berbagai reaksi, antara lain:



– Kaum cendekiawan menyambutnya dengan hangat karena sejak lama merasakan keganjilan kisah mengenai ’Abdullah bin Saba’ sebagai tambalan yang tak sesuai dan merupakan interpolasi sejarah.

– Kalangan Syi’ah yang selama ini dituduh sebagai penganut aliran ’Abdullah bin Saba’, dan cerita ini sangat sering digunakan sebagai alat pemukul terhadap Syi’ah.

– Kalangan yang menghendaki pendekatan Sunnah-Syi’ah dan Persatuan Umat dan Ukhuwwah Islamiyyah.



Sebaliknya, hasil riset Murtadha al-Askari ini telah menimbulkan reaksi hebat dari kalangan-kalangan lain. Yang paling mencolok adalah reaksi para pembenci Syi’ah, terutama kaum Wahabi-Salafi.



Ketika seorang muslim yang bukan Syi’ah membaca buku-buku anti-Syi’ah yang mengatakan bahwa mazhab Syi’ah itu berasal rekayasa ’Abdullah bin Saba’ menjadi takjub bahwa :



– Betapa hebatnya Abdullah bin Saba yang merupakan tokoh setani yang sedemikian kejinya dan sedemikian hebatnya bisa mengadu domba Umat Islam selama lebih 1.000 tahun ini, dan konon bahkan bisa mempermainkan para Sahabat besar Nabi saw seperti Thalhah, Zubair, Ammar bin Yassir, bahkan ‘Aisyah istri nabi pun bisa dikibulinya.



Yang lebih ajaib lagi, lelaki yang muncul dari negeri antah barantah ini bisa mendirikan sebuah mazhab yang dianut jutaan manusia dan sanggup bertahan hidup selama belasan abad, melintasi pengalaman-pengalaman sejarah yang jarang ditemukan pada penganut mazhab atau agama lainnya.



Dan, bahkan mazhab ini memiliki para ulama, ahli pikir dan ilmuwan yang diakui di mana-mana, seperti Thabathaba’i, Muthahhari, Baqir Sadr, Syari’ati dan sederetan panjang lainnya.



Kita juga akan tak habis pikir bagaimana seorang Ahmadinejad, Presiden Iran yang terkenal berani menantang hegemoni AS dan Zionis Yahudi ini ternyata juga salah seorang penganut mazhab Abdullah bin Saba? Aneh bin ajaib!



Buku-buku anti Syiah selalu disebarkan oleh Kerajaan Saudi Arabia melalui lembaga-lembaga (seperti LIPIA, misalnya) yang tersebar di seluruh dunia dengan sekte mereka Wahabi-Salafinya memfitnah bahwa Syiah :

–  berasal dari Abdullah bin Saba

–  memiliki Al-Quran yang berbeda dengan saudara mereka Ahlus Sunnah.

– dan masih banyak lagi fitnah-fitnah keji mereka yang tiada henti.



Namun kita senantiasa bersyukur bahwa Allah SWT tidak akan tinggal diam bersama para pejuang kebenaran, baik dari kalangan Muslim Sunni maupun Syiah untuk terus melawan kejahatan mereka, para antek AS dan Zionis Yahudi!



Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahi ilhamd!

Allahumma sholli ‘ala Muhammadin wa aali Muhammad!

Iklan

Komentar»

1. Badari - Rabu, 28 Januari, 2009

Dari 13 ulama ahli jarh&ta’dil di atas, hanya disebutkan 2 kitab yg memuat jarh thd Saif bin Umar, yaitu Shahih (/Sunan?) Nasa’i dan kitab Tawalif oleh Fihruzabadi. Akan lebih lengkap bila ditulis juga nama kitab2 yg memuat penilaian jarh atas Saif bin Umar dari 11 ulama lainnya.
Jarh yg keras (selain dari Nasa’i) adalah dari Abu Dawud, Ibnu Hibban, Al-Hakim, & Ibnu ‘Adi. Bisakah mohon dituliskan nama kitab2 yg memuat jarh atas Saif bin Umar dari 4 ulama tersebut?
Terima kasih atas bantuannya. Salam ‘alaykum.
P.S. Saya lebih suka theme wordpress yg sebelumnya, Pak Quito. 😀

2. Quito Riantori - Kamis, 29 Januari, 2009

@Badari
Terima kasih atas masukannya, Badari. Saya akan coba cari.
Salamun ‘alaykum…

PS: Iya ya..

3. kuliinternet » top pos - Kamis, 29 Januari, 2009

[…] Abdullah bin Saba : Mitos atau Fakta? Pada pertengahan abad kedua Hijrah muncul dua buah buku berjudul al-Futuh al-Kabir wa ar-Riddah dan al-Jamal wa […] […]

4. blog kopas » top post - Jumat, 30 Januari, 2009

[…] Abdullah bin Saba : Fiktif atau Fakta? Pada pertengahan abad kedua Hijrah muncul dua buah buku berjudul al-Futuh al-Kabir wa ar-Riddah dan al-Jamal wa […] […]

5. Badari - Selasa, 31 Maret, 2009

Pak Quito, sebagian dari jarh ulama hadis thd Saif bin Umar dalam tulisan Bapak di atas disebutkan kitab rujukannya oleh sahabat kita, J Algar di: http://secondprince.wordpress.com/2007/07/27/19/
Analisisnya tajam dgn sumber rujukan yg luas. Terima kasih lagi kpd J Algar.

6. Quito Riantori - Rabu, 1 April, 2009

@Badari
Wah, thanks banget infonya, Mas Badari. Btw, alamat rmh Badari masih yg dulu khan? Sy mau kirim 2CD buat Badari berisi kompilasi hadis2 Ahlus-Sunnah, tolong konfirmasinya. Salam.

7. juragan - Selasa, 2 Juni, 2009

Assalamu’alaikum, Pak Quito.

Salam kenal,
Nama saya…Islamuddin Jr., atau panggil saja Juragan. 🙂
Membaca artikel bapak yang tulis, saya jadi teringat sebuah pertanyaan yang pernah saya mau lontarkan tapi nggak tau mau nanya ke mana.
Mudah-mudahan pak Quito bisa membantu, insya Allah.
Artikel di atas berkata bahwa Wahabi-Salafi memfitnah kalo Syi’ah mempunyai Al-Qur’an yang berbeda dengan Ahlul Sunnah.

Saya belum pernah dengar kepastian soal yang satu ini. Apa benar Al-Qur’an-nya Syi’ah itu berbeda dengan Al-Qur’an yang banyak beredar sekarang ini?

Kalau boleh tau di mana website atau blog yang berisi info tentang Syi’ah tapi yang dasar dulu, pak. Kalo yang berat-berat dijamin langsung saya skip.

Mohon pencerahan, pak Quito.

Mungkin pak Quito ingin bertanya, saya Sunni atau Syi’ah.. saya nggak tau, pak. Saya nggak tau apa itu Sunni apa itu Syi’ah, saya nggak mau ikut Sunni maupun Syi’ah. Kadang saya yakin dan sependapat dengan Sunni, kadang juga saya mengiyakan apa pendapat Syi’ah.

Salam,
juragan.

Quito Riantori - Rabu, 3 Juni, 2009

@juragan
Wa’alaykum salam, Mas Islamuddin. Setahu saya al-Quran Syi’ah sama persis dengan al-Quran yang dimiliki Muslim Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tuduhan bahwa al-Quran Muslim Syi’ah berbeda dari saudaranya, Muslim Sunni adalah fitnah keji. Coba saja mas Islamuddin melihat atau sebaiknya membeli buku Doktor Cilik Hafal dan Faham al-Quran terbitan Pustaka IIMaN, dalam buku versi edisi lux-nya ada VCD yang memuat sang Doktor Cilik yang notabene adalah seorang Muslim Syiah yang hafal Quran. Atau, kalau Anda tinggal di Jakarta, Anda bisa datang ke pusat kebudayaan Islam Iran, Islamic Culture Centre. Di sana ada al-Quran Syiah yang ternyata sama persis dengan al-Quran Sunni.
Pada blogroll di blog ini Anda bisa jumpai beberapa blog Syiah dan Sunni. Silahkan Anda kunjungi blog-blog tersebut.
Mas Islamuddin, saya tidak peduli apakah anda Sunni atau Syiah, bagi saya Sunni dan Syiah adalah saudara sesama Muslim yang mesti SALING MENGHORMATI dan MENGHARGAI satu sama lain.
Sekian dulu ya…jika Anda ada alamat email, saya akan kirimkan beberapa artikel tentang mazhab Ahlul-Bayt.
Terima kasih & salam,
QR

juragan - Rabu, 3 Juni, 2009

Terima kasih atas responnya, Pak Quito.

Saya sangat apresiatif dengan tanggapan bapak. Buku yang bapak maksud kebetulan sudah saya miliki, pemberian seorang sahabat yang juga seorang Syi’ah (walaupun dia tidak mengakui secara terbuka 🙂 ). Cuman.. pernah juga saya membaca pendapat orang lain yang ngaku Syi’ah tapi tidak mau mengimani Al-Qur’an yang katanya produk (bikinan) khalifah Utsman yang dibenci oleh orang itu. Wallahu a’lam.

Saya juga terima kasih atas tawaran bapak untuk mengirimkan artikel-artikel ke imel saya, ximi08@gmail.com. Kalo bisa artikelnya yang dasar-dasar dulu saja, pak.

Namanya juga belajar dan belajar. Selama ini saya cuma cari tau sendiri lewat internet misalnya, tapi agak kewalahan karena kadang tidak menemukan apa yang dicari. Saya tidak cuma cari info tentang Syi’ah, tapi juga tentang salafi, ahlus sunnah, dll. Saya malah sempat ikut pengajian mereka, dan juga “berlangganan” artikel dari salah satu rekan yang mengaku ahlus sunnah yang murni.

Mudah-mudahan saya bisa sedikit banyak belajar juga dari Pak Quito.

Wassalam ‘alaykum
Islamuddin, jr.

Quito Riantori - Rabu, 3 Juni, 2009

@juragan
Kalo orang yang mengaku Syiah itu bilang Quran yang sekarang itu berbeda dengan Quran Syiah versi dia, coba aja tanya ke dia yang ngaku Syiah itu, “Mana Quran Syiahmu itu, coba tunjukkan pada saya!”. Menurut saya, jika Anda ingin belajar Syiah atau mazhab apa pun, belajarlah dari sumbernya, jangan belajar dari musuhnya. Jika Anda menanyakan siapa sebenarnya Prabowo kepada musuh-musuhnya, maka sudah hampir pasti Anda akan mendapatkan informasi yang miring dan negatif tentang Prabowo. Jadi, menurut hemat saya, belajar Islamlah dari sumber aslinya : Al-Quran dan Hadits plus bersikap jujurlah anda pada diri anda sendiri, insya Allah, Allah Swt akan membantu anda menuju ke jalan yang lurus.
Salamun ‘alaykum wr. wb,
QR

8. Ricky - Kamis, 1 April, 2010

Salamun mas Quito, kenalkan saya Ricky,
kebetulan saya sangat awam dengan sejarah terbentuknya sunni dan syiah, yang ingin saya tanyakan apakah kita bisa memutuskan untuk kembali ke AlQuran dan Hadist? apakah perlu pikiran kita terkotak2 antara sunni atau syiah yang saat inipun dipihak masing2 belum ada yang bisa menjamin bahwa yang diajarkan perawi adalah benar, sementara dimasa Rasulullah hal tersebut (sunni dan syiah) belum ada. maksudnya terlepas dari sejarah, bagaimana bila semua dikembalikan kepada AlQuran dan Sunah Muhammad, karena jelas bahwa sejak Rasulullah wafat umat islam kembali terjebak dengan golongan dan kesukuan hingga terjadilah penambahan atau pengurangan dan masing2 mempunyai hujah bahwa salah satu diantaranya adalah yang ‘benar’..meskipun dasarnya adalah sama dari Al Quran, jika memang benar difahami maka perbedaan itu tidak harus ada…
terus terang pendapat saya pribadi ingin mencari tahu bagaimana kembali memurnikan ajaran tauhid ini sehingga dapat diterima semua umat..terlepas dari suku, golongan, ras, dan negara..esensi apa yang harus dibangun saat ini?…berbeda di jaman Rasulullah, beliau selalu menjadi tempat bertanya dan tempat mencari keadilan..saat ini siapa yang bisa memahami dan menjadi imamah?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: