jump to navigation

Abu Dzarr : Siapkan Bekal Untuk Akhirat Selasa, 10 Februari, 2009

Posted by Quito Riantori in Artikel, Khazanah Hikmah Ahlul-Bayt.
trackback

dove_of_peace3

Di dalam sejarah Islam, nama Abu Dzarr ra relatif masih kurang dikenal di kalangan kaum Muslim. Padahal beliaulah orang ke-5 yang memeluk Islam jauh sebelum para sahabat lainnya. Beliaulah – bersama sahabat-sahabat kentalnya, yakni Salman Al-Farisi, Ammar bin Yasir, dan Miqdad al-Aswad – yang senantiasa setia mendukung Nabi Saw dan keluarganya.

Sejak awal sampai akhir hayatnya, Abu Dzarr termasuk salah seorang perawi hadis dari Ahlul Bayt Nabi. Keprihatinannya yang sangat dalam kepada kaum papa menyebabkan ia tegak berdiri melakukan protes keras terhadap khalifah Utsman bin Affan, dan gubernurnya di Syria, Mu’awiyah.

Di dalam sejarah Islam, keduanya dikenal dengan kekayaan yang melimpah sehingga karena itulah sepanjang kekuasaan Utsman bin Affan, Abu Dzar acapkali memprotes kebijakan khalifah yang tidak berorientasi kepada rakyat.

Karena gerakannya itu, khalifah membuangnya ke Rabadzah sampai akhirnya sahabat setia Nabi ini wafat dalam keadaan yang sangat mengenaskan.

Di bawah ini kami kutip beberapa Nasihat Abu Dzarr yang semoga dengannya kita memperoleh manfaat dan berkah. Amin ya Ilahi Rabbi…

Nasihat-Nasihat Abu Dzarr al-Ghifari ra Tentang Bekal Untuk Akhirat :

Kecintaan kepada Ahlul Bayt Nabi Saw :

Wahai manusia! Sekalipun punggung kalian dibebani dan anggota tubuh kalian tidak lagi berfungsi karena kebanyakan shalat dan ibadah lainnya, itu semua tidak akan menguntungkan kalian kecuali jika di dalam hati kalian ada kecintaan kepada Ahlul-Bayt. Oleh karenanya, yang pertama kali mesti ada di dalam hati kalian adalah kecintaan kepada Ahlul-Bait Muhammad (saww).

Menyiapkan Bekal untuk Akhirat :

Wahai saudara-saudaraku …. setiap orang di antara kalian mengumpulkan perbekalan untuk perjalanan dan menyambut perjalanan itu setelah perbekalan telah terkumpul. Di sana ada kesulitan bagi orang yang memulai perjalanan tanpa perbekalan. Wahai saudara-saudaraku! Perjalanan kalian menuju Hari Kebangkitan itu dekat. Oleh karena itu, penting bagi kalian untuk mempersiapkan perbekalan demi perjalanan itu.”

Orang-orang berkata kepada Abu Dzarr, “Wahai saudaraku! Tidak ada keraguan tentang perjalanan yang menuju Hari Kebangkitan itu, tetapi kita tidak tahu perbekalan apa yang harus kits bawa.”

Perbekalan untuk perjalanan ini…” lanjut Abu Dzar, “adalah pergi Haji ke Ka’bah yang bekalnya adalah berpuasa selama hari-hari yang panas dan melaksanakan shalat dua rakaat agar terbebas dari kengerian alam kubur di malam yang gelap. Wahai saudaraku! Kerjakanlah amal-amal yang baik. Tahanlah lidah kalian dari perkataan-perkataan yang buruk. Keluarkanlah harta kalian dengan bersedekah. Laluilah hari-hari kalian dengan mengejar akhirat dan carilah barang yang halal. Jika kalian membawa 2 dirham, keluarkanlah satu dirham untuk para sahabat dan sanak keluarga kalian dan berikanlah selebihnya dalam bersedekah demi kebahagiaan di akhirat.

Sekarang, dengarkanlah! Kehidupan kalian terbagi dalam 2 tahapan (dunia dan akhirat). Salah satu tahapan sedang kalian jalani dan yang lainnya mengikuti. Kerjakanlah amal-amal yang baik dan selamatkanlah diri kalian dari dosa-dosa saat ini untuk tahapan selanjutnya.

Dengarlah! Jika kalian tidak berbuat mengikuti nasihat-nasihat ini, kalian pasti akan binasa dan celaka di akhirat!

Seseorang bertanya kepada Abu Dzarr, “Baiklah! Bolehkah kami mengetahui mengapa kami tidak menyukai kematian ?”

Abu Dzar menjawab, “Karena kalian telah merusak akhirat kalian dengan kecintaan yang berlebihan kepada dunia. Kalian tahu bahwa kalian tidak melakukan apapun untuk akhirat dan karenanya kalian akan menemui kesukaran di sana. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang pergi ke suatu tempat yang ia tahu bahwa tempat itu buruk baginya.”

Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana kami akan dihadirkan di hadapan Allah?”

Abu Dzarr menjawab, “Orang-orang yang melakukan amal-amal baik akan menjumpai Allah seperti seorang musafir yang kembali ke rumahnya dan orang-orang yang berdosa akan sampai di sana seperti seorang pelarian yang tertangkap.”

(Bersambung)

_______________

Sumber : Abu Dzarr : Pengikut Setia Ahlulu-Bait, yang diterbitkan oleh Yayasan as-Sajjad, 1991, diterjemahkan oleh Satrio Pinandito Motinggo.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: