jump to navigation

Imam Husain : Syahadah Sebagai Aktualisasi Cinta Senin, 16 Februari, 2009

Posted by Quito Riantori in All About Ahlul Bayt, Artikel.
trackback

imam-hussain5

Quito R. Motinggo

Jika  hari  ini, esok, lusa atau kapan  saja  kita  membicarakan perjuangan Imam Husain as, itu masih aktual dan akan senantiasa aktual dan up-to-date. Itulah karenanya ada motto “Setiap hari adalah ‘Asyura  dan setiap  jengkal  tanah di bumi ini adalah Karbala!”

Motto ini bukanlah motto yang berlebihan atau seperti hal yang nampak didramatisir. Motto ini juga bukan motto para idealis. Bagi mereka yang memahami makna  yang terdalam dari perjuangan Imam Husain as, niscaya akan tampak jelas baginya bahwa tidak ada motto perjuangan bagi kaum tertindas yang lebih indah dan lebih realistis dari motto tersebut!

Dengan motto inilah Imam Khomeini bersama sahabat-sahabat dan murid-muridnya berjuang menegakkan kebenaran hingga berdirilah sebuah negara yang berlandaskan Al-Quran dan ajaran-ajaran Itrah Ahlul-Bayt Rasul.

Dan dengan motto ini pula pejuang-pejuang Hizbullah yang dipimpin Sayyid Hasan Nasrullah melawan kebuasan kaum penindas Zionis Israel.

Dan kelak Imam al-Mahdi al-Muntazhar pun berjuang memerangi para Kuasa Setan Dunia dengan motto yang sama : “Kullu Yaumin ‘Asyura wa Kullu Ardlin Karbala!”

BAHASA PEMIMPIN PERJUANGAN

Imam  Husain, sebagai seorang pemimpin kaum  beriman, terutama mereka  yang tertindas  di dalam proses pendidikkannya memberikan contoh dan teladan dengan tindak laku. Pertama-tama Imam mengajarkan kepada para pengikutnya, yaitu: membuang otoriterianisme dan intelektualisme yang membelenggu.

Tidak cukup intelektual tanpa aksi.

Imam Husain mengaktualisasikan keimanan dan cintanya  pada  malam ‘Asyura. Setelah semalaman Imam beserta keluarga dan para sahabatnya tenggelam dalam ibadah, akhirnya Imam mengumpulkan mereka semuanya dan beliau pun berpidato di hadapan mereka:

“Amma ba’du,  maka sesungguhnya tiada kumengenal sahabat-sahabat yang lebih setia dan lebih baik dari sahabat-sahabatku ini. Dan tiada keluarga yang lebih berbakti, lebih erat hubungannya dan lebih mulia dari keluargaku ini! Maka kunyatakan semoga Allah  membalas kebaikan kalian dengan sebaik-baik ganjaran.

Sungguh  kalian telah berbakti dan menolong. Aku kira bagi kita hanya tinggal satu hari saja dengan musuh-musuh itu, yaitu esok!

Ketahuilah bahwa aku telah memberi kalian izin. Kalian semua BEBAS untuk tidak membai’atku tanpa suatu tuntutan. Malam telah semakin gelap, oleh karena itu jadi­kanlah dia sebagai kendaraan dan hendaklah setiap orang dari kalian memimpin seorang dari keluargaku.

Berpencarlah di dalam gelap malam dan biarkanlah aku sendiri menghadapi mereka, karena sesungguhnya mereka itu tiada  menginginkan kecuali diriku!”

Lihatlah, betapa indahnya pidato sang  Imam, dan betapa bersahabatnya beliau ini. Ini sebuah contoh bahasa  Pemimpin  Kaum Tertindas.

Pertama, Imam  menyatakan terima kasihnya kepada para sahabat dan kaum kerabatnya atas kesetiaan mereka selama ini.

Kedua, Imam memberikan izin bagi mereka untuk meninggalkannya dan tidak menuntut mereka untuk ikut serta berjihad melawan musuh.

Imam telah mengajarkan secara langsung dengan tindakan untuk tidak bersikap otoriter dan memaksakan kehendak pribadinya kepada pengikutnya mau pun keluarganya.

Dan yang ketiga, Imam memberikan teladan utama bahwa seorang pemim­pin, seorang pejuang dan seorang pencinta tidak mengenal gentar dan  takut. Jelas sekali terlihat bahwa pernyataan Imam bukanlah pernyataan sentimentil. Bahkan kata-kata beliau telah menyingkapkan tabir yang semakin nyata akan sebuah karakt­er gabungan yang dimiliki Imam Husain : yaitu karakter Pencinta Kebenaran dan Kesucian dengan  karakter  Pejuang Kebebasan  dan  Keadilan.

Karakter gabungan seperti ini tidak banyak dimiliki orang, hatta dalam kisah-kisah fiktif sekalipun!

AJARAN SANG PENCINTA

Tatkala Imam Husain as mengizinkan para sahabat dan kaum keluargan­ya  untuk meninggalkannya, tentu saja itu bukan basa-basi. Imam Husain as sedang mengajarkan melalui tindakannya kepada pengikut setianya bahwa sebelum seorang pejuang membebaskan orang lain dari ketertindasan, maka pertama-tama yang paling mendesak untuk dibebaskan dari  belenggu itu adalah diri mereka  masing-masing.

Seorang  pejuang harus membebaskan diri mereka sendiri dari belenggu cinta diri dan cinta dunia. Dan inilah logika sang pencinta. Logika sang pencinta lebih tinggi dari logika sang pejuang (mujahid).

Ketika Nabi Isa as hendak melaksanakan Jihad, beliau mengajak para pengikutnya untuk menyertainya di dalam perjuangan menegakkan agama Allah, Al-Quran mencatat peristiwa itu:

Maka  tatkala Isa mengetahui (tanda-tanda) keingkaran mereka (Bani Israel), maka berkatalah Isa:  “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku  untuk  Allah?”(QS Ali Imran ayat 52).

Sebaliknya ketika Imam Husain mengetahui pengkhianatan penduduk Kufah, beliau justru memberikan kebebasan kepada pengikut dan keluargan­ya untuk meninggalkannya. Sekali lagi, inilah logika sang pencinta! Logika yang hampir mustahil dapat dipahami.

Logika sang Pencinta tidak bisa dipahami kecuali oleh mereka yang telah melibatkan cinta di dalam hidup dan perjuangannya.

Cinta mengatasi logika dan intelek, begitu kata para penganut paham Ibn ‘Arabi.

Perjuangan seorang  pencinta bukan lagi untuk kepentingan dirinya. Ego dan dirinya telah terbakar api cinta!

MENELADANI DUA KEKASIH ALLAH

Ketika Allah SwT memerintahkan kepada Ibrahim as untuk menyembe­lih  putranya yang dicintainya, Ismail, beliau tidak membantah perintah tersebut. Ibrahim as bukanlah seorang yang tidak rasional – Justru dari beliaulah kita banyak belajar bagaimana menggunakan akal kita secara benar – Kecintaan Ibrahim kepada Tuhan telah mengatasi rasio dan inteleknya.

Sebelumnya  bahkan beliau juga diperintahkan untuk meninggalkan Hajar, isterinya yang dicintainya dan Ismail yang ketika itu masih bayi. Atas perintah Tuhan, beliau meninggalkan mereka berdua tanpa seorangpun yang menemani mereka di tengah gurun pasir yang sangat luas.

Ketika itu belum ada kota Mekkah dan juga beliau tidak meninggalkan mereka di dekat oasis atau sumber air.

Dari kakek-buyutnya inilah (Ibrahim) Imam Husain mengambil suri tauladan.

Juga dari ayahnya, Imam Ali bin Abi Thalib, ketika rumah Rasulullah Saw dikepung kaum ingkar Quraisy, Rasulullah Saw meminta Imam Ali as untuk tidur di tempat tidur beliau. Rasulullah dan Imam Ali tahu dan sadar bahwa resiko yang bakal dihadapi oleh siapa pun yang tidur di tempat tidur Rasulullah Saw adalah maut, tetapi tanpa sedikit pun rasa gentar, Imam Ali as menjalani apa pun yang diminta kekasihnya, Muhammad Rasulullah Saw.

Allah Swt merekam pengorbanan Imam Ali as ini di dalam ayat Quran yang mulia :

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS Al-Baqarah ayat 207)

Sebagaimana Nabi Ibrahim as, Khalilullah (Sahabat Tuhan) dan Imam Ali as, Asadullah (Singa Tuhan),  Imam Husain as beserta para sahabat dan keluarganya menyumbangkan darahnya untuk umat Muhammad Saw dikemudian hari; sebagai teladan dan pelajaran di dalam menghadapi kaum penindas.

Bagi  Imam Husain , Karbala telah menjadi altar pengorbanan. Bagi  kaum durjana, Karbala menjadi ladang pembantaian dan bagi kita, pengikut Ahlul Bayt Rasul, Karbala adalah ruh kehidupan, semangat untuk meraih cinta Ilahi.

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim  dan orang-orang yang bersama dengannya” (QS 60:4)

LOGIKA PARA PENCINTA

Al-Quran yang mulia mengatakan: “Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai  Allah mendatangkan  keputusan-Nya”  Dan Allah tidak memberi petunjuk  kepada orang-orang fasiq” (QS Al-Taubah ayat 24)

Ketika Imam Husain as memutuskan untuk ke Padang Karbala, paman  beliau, Ibnu Abbas, menasihatinya agar Imam mengurungkan niatnya itu. Imam Husain menolak nasihatnya. Karenanya Ibnu Abbas berkata:  “Anda akan terbunuh!”

“Lalu apa?” kata Imam.

“Orang yang pergi sementara ia mengetahui bahwa dirinya mungkin terbu­nuh tidak akan membawa isteri dan anak-anaknya bersamanya”

“Tetapi saya harus”

Imam tetap berangkat bersama seluruh anggota keluarga dan para sahabatn­ya yang setia. Imam menyadari, bahwa Allah Swt tidak menilai hasil dari usaha seseorang di dalam mewujudkan kehendak-kehendakNya. Yang Allah Swt nilai adalah seberapa besar ketulusan cinta dan tekad seseorang di dalam memenuhi panggilan-Nya.

“Barangsiapa yang meninggalkan rumahnya  dengan maksud berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpan­ya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah” (Qur’an Surah  al-Nisa’ ayat 100)

Seseorang  yang ingin menempuh jalan menuju Tuhannya harus dengan suka rela melepas jubah rasio dan nafsunya untuk  menggantikannya dengan pakaian cinta. Sebagaimana seorang hajji harus menanggal­kan pakaian kemewahan dan atribut-atribut duniawinya dan rela mengganti­kannya dengan pakaian ihram, begitu pula seorang pecinta Tuhan.

Pakaian ihram adalah lambang kesederhanaan, kebersahajaan, ketulusan dan kerendahan hati. Dan hati yang bersemayam­kan cinta akan mengekspresikan kebersahajaan, ketulusan dan  kerendahan hati. Tatkala keakuan atau ego menguasai seseorang, maka cintapun beran­jak pergi dari lubuk kalbunya!

Ketika Imam Husain as berangkat ke Karbala, beliau tidak peduli jika maut menerjangnya. Bagi Imam Husain, kematian bukan akhir kehidupan, al-Quran yang telah menyatu dengan dirinya sudah mengatakan :

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya. (QS Al-Baqarah ayat 154)

Tentu saja ini sulit kita pahami, apalagi kita sadari. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk senantiasa berdoa agar memperoleh syahadah. Mudah-mudahan dengan terus-menerus berdoa dan beramal shalih, kita akan memperoleh cinta yang dengannya kita dapat melihat keindahan syahadah.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah…

____________

Jakarta, 4 Mei 1999

pernah dimuat di buletin at-Tanwir

Iklan

Komentar»

1. doddy - Selasa, 17 Februari, 2009

Lisa Howard(wartawati amerika) bertanya pada Che Guevara:Apa yang harus dimiliki oleh sebuh revolusi?
Ernesto Che Guevara: L’amor.
Ernesto Che Guevara: Cinta
Lisa Howard: Cinta?
Ernesto Che Guevara: Cinta kemanusiaan… pada keadilan dan kebenaran. Revolusi sejati memiliki semua ini (dikutip dari film Che:bagian pertama)

2. Quito Riantori - Rabu, 18 Februari, 2009

Wartawan AS. Lisa Howard terkejut : “Cinta?”, karena kata Cinta di AS bermakna sex dan sex.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: