jump to navigation

Kepada Penyair Besar Sutardji Calzoum Bachri Kamis, 2 April, 2009

Posted by Quito Riantori in Puisi & Syair, Tasawwuf.
trackback

sutardji_calzoum_bachri3

Motinggo Busye

Kau bilang padaku

keningmu lecet karena

bersujud,

Kubilang padamu

lantai lecet karena

sujud keningku

______________

Kumpulan Puisi-puisi Islami, Motinggo Busye, Aura Para Aulia,

Penerbit M. Sonata, Jakarta, 1990

Iklan

Komentar»

1. arie kariana - Jumat, 3 April, 2009

puisi yang bagus dan mengilhami, kalau saya mah boro-boro, yang lecet justru malahan shalatnya, hehe, salam untuk keluarga, salamun ‘alaykum

2. Quito Riantori - Jumat, 3 April, 2009

Sebenarnya ini semacam sindiran buat org2 yang secara tdk sadar telah salah memahami ayat : “min atsari sujud” secara literal. Lagi pula bekas sujud seperti itu akan membuat pemilik jidat item itu menjadi riya’ tanpa sadar, bahkan ‘ujub. Kita berlindung dr : pemahaman yg ngawur, riya’ apalagi ‘ujub!

3. arie kariana - Jumat, 3 April, 2009

insyaAllah saya ngerti sekarang, yang penting bukan jidatnya ya, hehe

4. oi.. aan - Minggu, 12 April, 2009

assallamu’alaikum

saya setuju.. memang mungkin mereka bertujuan baik.. tetapi semua itu secara tdk langsung menuju ke Riya’ meskipun tanpa d sadari dan d sengaja.

5. adjie saka - Kamis, 16 April, 2009

jangan tertipu dengan hal-hal yg lahiriah,..
lihatlah dengan mata bathin mu ke arah dalam dirimu,
adili dirimu, evaluasi , introspeksi,..
sudahkan kau temukan yang kau cari?

6. Bambang Hendiswara - Jumat, 17 April, 2009

Tuhan tersenyum padaku
di relung dada sebelah kananku
dengan dzikir
ku tengok Dia

oh…..ternyata hampa
ilusi semata
oleh ke-Aku-anku
sudahkah ku temukan yang kucari?

7. Putri Malu - Rabu, 22 April, 2009

lecet kening dan lantai adalah ungkapan yang teramat dalam untuk difahami dan keluar dari seorang memiliki kedalaman spiritual…

dan ini adalah suatu instrospeksi diri kita masing-masing dalam penghambaan…

Sudah bertemukah kita dengan Tuhan …
Sudah mengertikah kita adalah seorang hamba …

kita belum mengerti apa-apa…

8. Linda Mellisa - Selasa, 4 Agustus, 2009

Ass.. Bang Rio, Om Bus…
“…Li qo_a ROBBihy…” (AL Kahfy:110)
dalam bersujud, lantai dan puisi2x beliaupun kan menjadi saksi.
Bahwa tetesan airmata tercurah pada pena.
Mengkiaskan KERINDUAN tuk Segera.. Berjumpa dgn ROBB nya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: