jump to navigation

Jangan Main-main Lagi Rabu, 15 April, 2009

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

rumi3

Di dunia debu ini, berapa lama lagi

kita akan melumuri pakaian kita dengan

kotoran, batu-batu dan tanah,

bak seorang bocah?

Mari kita tinggalkan debu dan terbang

ke langit, melepaskan diri dari kekanak- kanakan

menuju kematangan!

(Rumi, Diwan i Syams : 14306 – 14307)

Secara alami, manusia memiliki berbagai kecenderungan dan cinta kepada dunia adalah salah satunya. Semua manusia cenderung cinta kepada dunia hatta dia seorang nabi atau wali sekali pun.

Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS Ali Imran [3]: 14)

Islam tidak mengharamkan manusia untuk mencintai dunia, yaitu : wanita, anak, dan harta, karena Allah Swt lah yang menciptakan kecenderungan ini di dalam diri manusia.

Hanya saja jika kita tidak bisa mengendalikan kecenderungan ini, maka kita bisa menjadi lupa diri, menjadi orang-orang yang berlebih-lebihan. Dan Allah Swt tidak mencintai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa dan tidak sama. Makanlah dari buahnya bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya; dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-An’am [6] : 141)

Tapi kebanyakan manusia yang bergelimang kesenangan menjadi lupa diri, hanyut dalam permainan duniawi dan tenggelam dalam syahwat. Dan manusia lainnya pun ingin memperoleh kesenangan yang serupa dan berangan-angan untuk mendapatkan apa yang telah diperoleh orang-orang yang telah hilang kesadarannya.

Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Al-Qashash [28] : 79)

Inilah yang sedang terjadi di negeri yang kita cintai ini. Banyak orang yang ingin menjadi caleg, bukan karena niat untuk membangun bangsa tapi karena menginginkan dunia.

Tanpa melihat kemampuan dan latar belakang yang dimilikinya, berbondong-bondong orang-orang yang dimabuk mimpi menghambur-hamburkan uangnya demi memperoleh uang atau harta yang lebih banyak lagi.

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (QS Al-Qashash [28] : 80)

Dalam bentuk yang berbeda mungkin kita juga sedang hanyut dalam permainan duniawi ini. Lupa bahwa pada akhirnya kita akan kembali kepada Tuhan Yang Mahaadil.

Memang tidak mudah menghentakkan diri kita dari lamunan atau menyadarkan kita dari asyiknya bermain dalam permainan yang melalaikan ini.

Bak seorang bocah, kita lupa bahwa suatu waktu permainan ini akan berakhir, game is over!, dan kita baru tersadarkan! Kita mesti segera sadar dan bangun dari kelalaian dan dari permainan dunia yang sering menghisap kesadaran kita.

Jangan sampai kita baru tersadarkan setelah kematian datang kepada kita secara tiba-tiba. “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS Qaaf [50] ayat 22)

Ketika kaum Muslim berhasil mengalahkan kaum kafir Quraisy di Badar, beberapa mayat kaum kafir itu dilemparkan ke dalam sumur-sumur tua.

Rasulullah Saw berkata kepada mayat-mayat tersebut : “Apa yang telah dijanjikan Tuhan kepada kami telah nyata kebenarannya. Apakah itu juga terjadi pada kalian?”

Sebagian sahabat merasa heran melihat Rasulullah Saw berbicara kepada mayat, lalu bertanya, “Apakah tuan berkata kepada mayat-mayat itu? Apakah mereka dapat mendengar apa yang tuan katakan?”

Rasulullah Saw menjawab, “Mereka bahkan lebih peka/tajam pendengarannya ketimbang kamu!” *)

Inilah yang mengerikan, menurut saya, karena ternyata ketika manusia mati, mereka justru memiliki indera yang lebih tajam ketimbang ketika mereka hidup.

Dan ketika itulah manusia baru tersadarkan dari ketertidurannya dan dari keasyikannya bermain di dunia yang fana ini. Sebuah hadis menyebutkan : “Manusia dalam keadaan tertidur, ketika ia mati barulah ia terbangun (tersadarkan)” **)

Rumi menggunakan ungkapan ketertiduran ini dengan istilah kekanak-kanakan dan keterjagaan dengan kematangan! Mari kita tinggalkan debu dan terbang ke langit, melepaskan diri dari kekanak- kanakan menuju kematangan!

Rasulullah Saw juga bersabda, “Muutuu qabla antamuutuu” : Matilah kalian sebelum kalian menemui kematian. Sadarlah kalian sebelum kematian merenggut kalian!

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS Ali Imran [3] : 185)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

_____________________________________

* Murtadha Muthahhari, Eternal Life

** Imam Khomeini, Rahasia Basmalah dan Hamdalah, hlm. 72

Iklan

Komentar»

1. Bambang Hendiswara - Rabu, 15 April, 2009

“Muutuu qabla antamuutuu = Matilah kalian sebelum kalian menemui kematian ” ini bagaimana caranya? amat penting ini karena hidup ini untuk dinikmati dengan perilaku yang benar. be carefull don’t be zombi in your life. Enjoy your life with pangestu The Guru’s

Quito Riantori - Kamis, 16 April, 2009

Matilah kalian sebelum kalian menemui kematian“, kata mati yang pertama adalah metafora untuk hawa-nafsu yg berlebihan, ada pun kata mati yang kedua adalah kematian atas jasad yang umum terjadi pada kita.

2. JAlujagad - Kamis, 16 April, 2009

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.”
mohon dijeLASKAN TENTANG AYAT NI….
trus kalo mau ikutan diskusi online gmn caranya??

Quito Riantori - Jumat, 17 April, 2009

@Jalujagad
Insya Allah jika ada waktu saya akan menulis tentang ini. Doakan saja ya…
Maaf saya belum ada waktu utk online.
Salam.

3. adjie saka - Kamis, 16 April, 2009

mungkin pertanyaannya belum terjawab,
bagaimana caranya mati yang pertama itu?
bagaimana “membunuh” (hingga mati) hawa-nafsu yg dijelaskan bang ito?
punya formula atau petunjuk?
salam,
aji

Quito Riantori - Jumat, 17 April, 2009

@adjie saka
Insya Allah saya akan menulis tentang ini, mudah2an saya diberi waktu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: