jump to navigation

Al Qaeda Diduga Susupi Aksi-aksi Perompakan Rabu, 6 Mei, 2009

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, News.
trackback

somali_pirate3

Isu aksi perompakan di Teluk Aden, di lepas pantai Somalia, semakin rumit dan serius. Patroli kapal-kapal perang Barat dilengkapi helikopter tempur dan peralatan canggih lain yang dilakukan secara masif sejak Desember 2008 ternyata tidak mampu menumpas penuh aksi perompak laut itu.

Sebuah kantor berita asing mensinyalir, setelah penyelamatan kapten kapal AS Richard Phillips pertengahan April lalu, perompak Somalia masih menahan sebanyak 260 sandera, di antaranya termasuk hampir 100 warga negara Filipina.

Sebanyak 17 kapal juga telah dibajak sejak itu. Sepanjang April 2009, perompak sudah berhasil membajak sedikitnya sembilan kapal barang dari berbagai negara.

Para analis dan pakar intelijen kini melihat isu perompakan laut itu bukan semata persoalan Somalia dengan segala keterbatasannya, tetapi lebih jauh dari itu.

Banyak kekuatan politik di Somalia yang terlibat dalam aksi perompakan itu. Namun, yang mencemaskan adalah dugaan soal keterlibatan sebuah jaringan internasional, dalam hal ini Al Qaeda.

Itulah yang menjadi sumber kegelisahan negara-negara kawasan, Seperti Yaman, Djibouti, Mesir, Arab Saudi, dan negara Arab Teluk lainnya. Lalu lintas kapal di Terusan Suez-Mesir kini menurun hingga 30 persen sejak maraknya aksi perompakan di Teluk Aden.

Terusan Suez adalah salah satu dari empat sumber penghasil devisa terbesar bagi Mesir, selain minyak, wisata, dan transfer gaji warga Mesir yang bekerja di luar negeri.

Pertemuan Presiden Mesir Hosni Mubarak dengan Presiden Somalia Sheikh Sharif Ahmed pertengahan April lalu di Kairo membahas secara fokus cara mengatasi fenomena perompak di lepas pantai Somalia.

Presiden Somalia saat itu berjanji akan menggunakan semua kemampuan untuk menumpas para perompak. Kejatuhan Barre Tanzim Al Qaeda sejak awal tahun 1990-an melihat Somalia sebagai pijakan yang menjanjikan, menyusul ambruknya negara Somalia setelah jatuhnya pemerintahan Presiden Siad Barre tahun 1991.

Al Qaeda semakin terpikat dengan Somalia setelah pasukan AS yang masuk ke negara itu pada akhir 1992 menghadapi perlawanan sengit dari rakyat Somalia.

Akhirnya, AS hengkang dari Somalia setelah 18 bulan menduduki negara itu. Pada akhir 1993, sejumlah pimpinan Al Qaeda mengadakan kunjungan ke Somalia guna menjajaki kemungkinan membangun pangkalan dan pusat pelatihan pemuda-pemuda Somalia.

Kunjungan pimpinan Al Qaeda itu dinamakan “Perjalanan Pahala”. Al Qaeda semula berhasil menjalin kerja sama dengan Kelompok Pengadilan Islam pimpinan Sheikh Sharif Ahmed (Presiden Somalia sekarang).

Kelompok ini adalah sebuah kubu politik di Somalia yang ingin menegakkan hukum Syariah. Namun, lambat laun Kelompok Pengadilan Islam menjauh dari Al Qaeda dan memilih ikut serta dalam proses politik di Somalia.

Al Qaeda kini disinyalir menjalin koordinasi dengan kelompok Shabab Mujahidin, sempalan dari Kelompok Pengadilan Islam. Shabab Mujahidin beraliran radikal dan menuduh Kelompok Pengadilan Islam sebagai pengkhianat karena ikut serta dalam proses politik yang dirancang Barat.

Butuh uang Seperti halnya kekuatan-kekuatan politik lainnya di Somalia, Shabab Mujahidin juga membutuhkan uang untuk mendanai aktivitas gerakan dan menghidupi para anggota dan simpatisannya.

Merompak adalah opsi yang kini paling menggiurkan bagi Shabab Mujahidin dan kekuatan-kekuatan politik lainnya di Somalia. Negara ini memiliki pantai Sepanjang 3.213 kilometer dan segera menjelma menjadi surga bagi para perompak dari semua latar belakang organisasi.

Menurut Menlu Kenya Moses Wetangula, komplotan bajak aut d Somalia bisa meraup 150 juta dollar AS tahun 2007. Ini adalah hasil dari uang tebusan atas kapal-kapal laut yang dibajak dan disandera.

Dinas intelijen Norwegia mensinyalir, Al Qaeda dan Shabab Mujahidin kini memiliki 15 hingga 23 kapal berbendera Somalia dan Yaman yang digunakan untuk mengejar dan merompak kapal-kapal yang lalu lalang di Teluk Aden.

Di sebuah situs milik kelompok yang dekat dengan Al Qaeda ada sebuah tulisan berjudul “Serangan Laut, Sebuah Keniscayaan Strategis”. Tulisan pada April 2008 itu menegaskan, satuan bersenjata di lepas pantai Yaman telah berhasil menangkap kapal-kapal dagang dan tanker minyak asing.

Menurut pesan tersebut, setelah para Mujahidin berhasil menguasai banyak wilayah di daratan, kini tiba saatnya menguasai laut dalam upaya menegaskan Khilafah Islamiyah.

Pesan itu juga menegaskan, lepas pantai Yaman dan Somalia adalah jalur strategis untuk menguasai perairan vital internasional yang menghubungkan benua Eropa dan Asia. Seperti diketahui, sekitar 16.000 kapal melintasi Teluk Aden setiap tahun.

Kapal-kapal itu lalu lalang antara Eropa dan Asia. Berpengalaman Dalam konteks ini, Al Qaeda punya pengalaman dalam menyerang sasaran kapal-kapal Barat.

Pada bulan November 2000, Al Qaeda berhasil menyerang kapal perang AS USS Cole di pelabuhan Aden, Yaman. Pada Oktober 2002, Al Qaeda berhasil menyerang kapal tanker raksasa Perancis, Limburg, di Teluk Aden.

Inilah panggung baru dari pertarungan Barat dengan Al Qaeda, yakni pertarungan yang berubah dari wilayah daratan ke laut yang berpusat di Teluk Aden atau lepas pantai Somalia. (MTM)

___________________

Sumber: Kompas, Minggu, 3 Mei 2009

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: