jump to navigation

Rasulullah Saw dan Ali bin Abi Thalib Saling Mencintai Rabu, 6 Mei, 2009

Posted by Quito Riantori in All About Ahlul Bayt.
trackback

ali

1. Ibnu Abil Hadid al-Mu’tazili, seorang komentator (pensyarah) kitab Nahjul Balaghah, menyebutkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa ia (Ibnu Abbas) berkata:  “Suatu kali aku bertanya kepada ayahku (Abbas bin Abdul Muthalib) : “Wahai Ayah, saudara sepupuku, Muhammad Saw, mempunyai banyak anak laki-laki, tetapi semuanya meninggal ketika mereka masih bayi. Lalu yang manakah di antara mereka itu yang ‘paling Nabi Saw cintai?”

Ayahku menjawab: “Ali bin Abi Thalib,” lalu kataku: “Ayah, yang aku tanyakan adalah anaknya?”. Ayahku menjawab: “Nabi Saw lebih mencintai Ali dari semua anak-anaknya! Ketika Ali masih kanak-kanak, aku tak pernah melihat dia (Ali) terpisah dari Muhammad Saw barang setengah jam saja, kecuali jika Muhammad Saw pergi keluar dari rumahnya untuk suatu pekerjaan. Dan tak pernah kulihat seorang bapak yang mencintai anaknya sebagaimama Nabi Saw mencintai Ali; dan tak pernah kulihat seorang anak mencintai bapaknya sebagaimana Ali mencintai Nabi Saw.”

2. Ibnu Abil Hadid juga menyebutkan sahabat Nabi, Jubair bin Mathth’um bin Addi bin Naufil telah berkata bahwa suatu kali ayahnya mengirimnya bersama beberapa anak muda dari keluarganya, “Apakah kamu memperhatikan kecintaan Ali (waktu masih kanak-kanak), penghormatan dan ketaatannya kepada lelaki muda itu, Muhammad, sebagai pengganti ayahnya sendiri, betapa dalam kecintaan dan penghormatannya. Aku bersumpah demi tuhan-tuhan kita, Latta dan Uzza, sungguh lebih kusukai mempunyai anak laki-laki seperti Ali daripada mempunyai banyak keturunan dari Naufil disekelilingku.”

3. Perawi hadits al-Allamah Tirmidzi mengutip: Nabi Saw bersabda: “Wahai Ali! Aku ingin mencapai segala sesuatunya untukmu sebagaimana hasratku memperolehnya untuk diriku sendiri dan aku ingin menjauhimu dari segala sesuatu yang tiada aku sukai.” (Jami’ al-Tirmidz Jil.1 hal.38, Miskauth Jil. 11 hal.8 dan Musnad Imam Ahmad Jil. I hal.146)

4. Perawi hadits al-Allamah Thabrani (di dalam kitab Ausath- nya) juga Imam al-Hakim (di dalam Sahih-nya) telah meriwayatkan bahwa di saat Nabi SAw sedang marah, maka tiada seorangpun yang berani menegur beliau kecuali Ali.

5. Ibnu Abil Hadid (di dalam komentarnya untuk kitab Nahjul Balaghah Jil.III, hal.251) sekali lagi meriwayatkan dari paman Nabi Saw, Abbas, bahwa ia (Abbas) berkata bahwa mereka (Nabi Saw dan Ali) saling sangat mencintai. Suatu ketika, saat Ali masih kecil, Nabi Saw mengirimnya keluar untuk suatu keperluan, namun Ali kecil tidak juga kembali dalam waktu yang cukup lama, sehingga Nabi Saw mulai cemas dan merasa khawatir. Pada akhirnya Nabi Saw berdo’a kepada Tuhan : “Ya Allah, jangan biarkan ia mati sampai aku melihatnya kembali” (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Tirmidzi)

6. Imam Ali mulai menampakkan sikapnya pada saat ia menjadi pengawal khusus Rasulullah Saw, walaupun pada saat itu ia baru berusia 13 atau 14 tahun. Beberapa pemuda-pemuda Quraisy di bawah pengaruh hasutan orang-orang tua mereka melempari Rasul Saw dengan batu. Imam Ali dengan sigap segara melindungi Nabi Saw, Imam Ali merobohkan pemuda-pemuda itu, mematahkan hidung salah seorang dari mereka, merontokkan gigi pemuda yang lainnya. la sering berkelahi dengan orang-orang yang lebih tua darinya sehingga tidak jarang Imam Ali menderita luka; tetapi ia tak pernah mengabaikan tanggung jawab dan kewajibannya. Setelah beberapa hari dari peristiwa tersebut ia mendapat panggilan Quazeem, si peremuk atau si peroboh. dan sejak itu pula tak seorangpun yang berani berbuat apa-apa lagi terhadap Nabi saww, jika Ali ada bersama Rasul saww dan Imam Ali memohon kepada Nabi saww untuk tidak keluar rumah seorang diri. (A’yan Jil.III, ha1.280).

Dengan tawarannya sendiri ia bersedia berkorban pada malam hari pada saat Rasul saww berhijrah. Pengorbanan Imam Ali kw demi ridha Allah dan cintanya kepada Rasul saww ini diabadikan Allah SWT di dalam firmannya: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.” (QS: Al-Baqarah [2]: 207)

Iklan

Komentar»

1. azerila - Sabtu, 9 Mei, 2009

Jelas, ini bukan sekedar kecintaan atas dasar ponakan, saudara, atau atas kesukuan Bani Hasyim… Fanatisme bangsa Arab Quraisy jauh dari mereka… Inilah (bukti) kecintaan dalam Allah…

2. AhlulBayt Lover - Selasa, 12 Mei, 2009

Allahumma Sholli Ala Muhammad wa Ali Muhammad
Barangsiapa tdk mencintai keluarga nabi adalah pendusta ayat2 Allah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: