jump to navigation

Mengapa Jargon SBY Berbudi diganti? Mau tau? Jumat, 22 Mei, 2009

Posted by Quito Riantori in Humor.
trackback

SBY-Bush

Ternyata alasan  “Mengapa Jargon SBY Berbudi diganti” sangatlah menarik. Coba Anda simak penjelasan berikut di bwah ini :

Tim sukses SBY sdg pusing mengadakan pembenahan di Palembang, alasannya :

Ketika mereka mengajukan jargon “SBY berbudi”, mereka tidak memikirkan kalo di palembang arti kata Budi = Menipu/berbohong

Jadi artinya SBY berbudi = SBY berbohong … sehingga slogan2 di
Palembang yg naik cetak harus di batalkan semua! Jika itu terjadi SBY bisa mengubah Tim Sukses-nya menjadi Tim Suksesi! Gawatkan?!

Oleh karena itulah org Palembang lebih suka SBY berpasangan dgn Hata
Rajasa agar jargonnya jadi “SBY berjasa”!

Tetapi masih untung SBY tdk berpasangan dgn Salahudin krn jargonnya
jadi “SBY bersalah”!

Dan juga PAN tdk mengajukan ketumnya Sutrisno Bahir karena jadi “SBY berahir”!

Tapi siapapun “ber sama nya, tetap SBY depannya” ….

termasuk Rani kalo jadi cawapres menjadi SBY berani.

Tapi ada sedikit perubahan dalam slogannya SBY, yang selama ini
menggunakan jargon ‘LANJUTKAN’ ternyata sejak JK hilang berubah
menjadi ‘LANUTAN’…….

Demikian sekilas info!

Iklan

Komentar»

1. Nainggolan - Jumat, 22 Mei, 2009

Asli keren..salut

2. rasydania - Jumat, 22 Mei, 2009

maksud nya ?? 😛

3. ressay - Jumat, 22 Mei, 2009

huahahaha…kocak banget.

4. Akmal - Jumat, 22 Mei, 2009

kocak n kreatif, top markotobb! 🙂

5. kopral cepot - Jumat, 22 Mei, 2009

jadi yang bener yang mana ???
bener kocek …

6. aRuL - Jumat, 22 Mei, 2009

hahahahaha…
lucu2… 🙂

7. AKHMAD SUDRAJAT - Sabtu, 23 Mei, 2009

Postingan yang sangat cerdas

8. Dije the 7th - Sabtu, 23 Mei, 2009

wkakaka.. lucu juga. 😀

9. Panca Wardani - Sabtu, 23 Mei, 2009

Katanya SBY-Boediono tidak akan menyerahkan perekonomian kepada pasar bebas. Akan ada campur-tangan negara. Namun, masih hangat dalam ingatan kita, pada tahun 1996-1998, ketika Boediono menjabat sebagai Direktur I BI urusan analisa kredit, terkucurlah Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar Rp 400 triliun. Kemudian ketika Boediono menjadi Kepala Bappenas, dalam masa itu terkucurlah dana rekap perbankan Rp 600 tirliun. Ironisnya, para obligor BLBI justru diberikan Release and Discharge alias dibebaskan dari masalah hukum. Akhirnya, rakyatlah yang harus membayarnya hingga tahun 2032. Kita juga tidak lupa, tahun 2001-2004 ketika Boediono menjadi Menkeu, keluarlah kebijakan privatisasi dan divestasi yang ugal-ugalan. Banyak aset strategis yang dilego: Indosat, BCA, dll.

10. Ita - Minggu, 24 Mei, 2009

Kwakaka…Usil abies.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: