jump to navigation

Jangan Tertipu dengan Pemahaman Raja’ Yang Keliru! Senin, 25 Mei, 2009

Posted by Quito Riantori in Tasawwuf.
trackback

lotus bahman farzad2

Perbedaan Raja’ dan Ghurur

Oleh : Imam Khomeini (qs)

Disebabkan cinta dan bangga diri, manusia menjadi lupa diri. Apalagi ia menyangka bahwa kekurangan-kekurangan dan aib-aibnya sebagai kesempurnaan dan keindahan.

Sering kali terjadi kesalahpahaman (isytibah) berkenaan dengan sifat-sifat nafs, dan sedikit orang yang mampu membedakan dengan benar perbedaan sifat-sifat tersebut.
Ini merupakan salah satu makna atau tingkatan lupa diri, yang lahir dari kealpaan kepada Allah SWT. Seperti diisyaratkan dalam Surah al Hasyr ayat 19, Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang upa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” Namun saat ini penulis (Imam Khomeini) tidak bertujuan untuk menjelaskan masalah ini secara detail.

Salah satu perkara yang, menimbulkan kesalahapahaman dan keterkecohan manusia olehnya disebabkan keterhijaban, yaitu ketika membedakan antara ghurur (ketertipuan) dan merasa aman (bangga diri) dengan raja` (berharap) dan percaya kepada Allah.

Padahal jelas sekali bahwa ghurur termasuk tentara terbesarnya Iblis, sedangkan raja’ adalah salah satu tentara akal rahmani. Di samping itu keduanya secara mendasar dan dampaknya juga berbeda.

Dasar raja’ adalah ilmu atau mengenal keluasan rahmat, mengimani keluasan karunia, kesempurnaan asma’ (nama-nama-Nya) dan sifat-sifat-Nya. Sedangkan ghurur bertolak dari mengabaikan perintah Allah dan bodoh tentang alam-alam gaib, bentuk-bentuk af’al (perbuatan-perbuatan) ghaibiyah dan sifat nafs malakutiyah.

Dari sisi ini, dampak raja’ dan ghurur berbeda. Sebab, hamba yang memiliki makrifat dan mengimani keluasan rahmat dan nikmat Allah, akan memperoleh kondisi raja’.

Makrifat inilah yang menyeru dan mengajaknya kepada penjernihan amal perbuatan dan penyucian akhlak serta bersungguh-sungguh dalam menaati perintah Tuhan Sang Pemilik nikmat.

Dan manusia yang tertipu (ghurur), berada dalam perangkap setan dan nafs ammarah, terhalang memperoleh makrifat dan akhlak yang mulia serta amal saleh.

Jiwa-jiwa yang berharap di saat itu, dalam segala hal mereka melaksanakan perintah, mereka tidak bersandar pada amal perbuatan dan keadaan-keadaan diri mereka. Karena mereka mendapati keagungan Allah dan mengetahui bahwa selain keagungan Allah, segala sesuatu adalah kecil dan segala kesempurnaan tak bernilai. Dan dihadapan keagungan-Nya, semua amal shalih bukanlah apa-apa. Sandaran mereka adalah rahmat dan limpahan karunia Zat Yang Maha Suci.

Namun, jiwa-jiwa yang tertipu, tidak mendapatkan semua kesempurnaan dan berjalan serta menyejajarkan diri mereka pada barisan sifat-sifat hina binatang.

Mereka berpaling dan lupa kepada Allah SWT dan rahmat-Nya, dan sekadar menggerakkan lisan mereka mengatakan, “Ya arhamar rahimin!” dan “Allahu Akbar!

Mereka dimasuki setan serta dituntun dan dibimbing untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat besar dan meninggalkan kewajiban-kewajiban utama.
Kemudian mereka mengungkapkan alasan, dan mengatakan, “Allahu akbar!

Andaikan mereka mendapati setitik saja dari keagungan Allah SWT, tidak mungkin di hadapan dan dalam kehadiran-Nya, dengan nikmat yang diberikan kepada mereka, mereka akan menentang-Nya.

Mereka mengingat Allah dengan keagungan dan kebesaran-Nya, mengakui (i’tiraf) rahmat-Nya yang mahaluas terhadap dirinya dan orang lain. Namun amal perbuatan mereka tidak seperti hamba yang di dalam hatinya terwujud keagungan Allah dan terpancar sinar dalam ruang dirinya dari cahaya keluasan rahmat-Nya.

Mereka meremehkan dan malas dalam urusan akhirat, dan menyebut peremehan mereka ini sebagai raja`. Namun dalam urusan-urusan duniawi, mereka sibuk dengan kerakusan yang teramat hebat. Seolah Allah SWT hanya di akhirat dan dalam urusan akhirat saja. Dia Mahabesar, tetapi dalam urusan dunia Dia tidak mempunyai kebesaran.

Di dalam urusan dunia, mereka sepenuhnya bergantung kepada diri mereka dan makhluk, serta lalai sepenuhnya dari Allah Swt, sampai-sampai nama-Nya pun mereka lupakan, namun dalam urusan akhirat mereka mengatakan, “Kami tawakal kepada Allah!” Inilah ketertipuan (ghurur).

Intinya, para ahli raja` tidak diam berpangku tangan, bahkan kesungguhan mereka melebihi orang lain. Namun sandaran mereka bukanlah amal, mereka bersandar kepada Allah Swt. Sebab mereka melihat kelemahan diri mereka sekaligus keluasan rahmat Allah.

Bukan seperti kaum yang tertipu (maghrurin), yakni orang-orang yang sibuk dengan kesia-siaan dan permainan pada masa penaburan benih dan bercocok tanam, dan melewatkannya dengan malas seraya mengucap, “Allahu Akbar! Tanpa menebar benih pun Allah mampu memberi!” *]

(Bersambung)

_____________________

* Imam Khomeini, Insan Ilahiah, Pustaka Zahra, Jakarta, 2004 M.


Iklan

Komentar»

1. sugiarno - Selasa, 26 Mei, 2009

Sebuah pencerahan. Salam.

Quito Riantori - Rabu, 27 Mei, 2009

Salam kembali…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: