jump to navigation

Menyembunyikan Ibadah Rabu, 10 Juni, 2009

Posted by Quito Riantori in Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

flower1

Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya para Wali Allah itu lebih suka  dengan keadaan sebagai seorang hamba mu’min yang sedikit harta bendanya, perhatiannya selalu tertuju kepada  Shalat, dan mereka selalu memperbaiki (menyempurnakan) ibadah mereka kepada Tuhannya. Mereka senantiasa menyembunyikan ketaatan mereka, sehingga jika mereka berada di tengah-tengah manusia, mereka sering tidak dihargai manusia” 54]

Sahabat Imam al-Shadiq as, ‘Ammar al-Sabathi bertanya kepada Imam, ”Manakah yang lebih utama, ibadah dengan sembunyi-sembunyi bersama imam dari Ahlul Bait yang tersembunyi di dalam  pemerintahan yang batil atau ibadah di saat munculnya kebenaran (al-haqq) bersama pemerintahan imam dari Ahlul Bait secara terang-terangan?”

Imam al-Shadiq as menjawab,”Wahai ‘Ammar! Sedekah dengan sembunyi-sembunyi, demi Allah, lebih utama daripada sedekah secara terang-terangan. Begitu juga, demi Allah, ibadah kalian secara sembunyi-sembunyi bersama imam kalian tentu lebih utama!” 55]

Ada masa-masa atau tempat-tempat tertentu di mana komunitas muslim tidak dapat mempraktekkan peribadatan ritualnya secara bebas, disebabkan larangan oleh pemerintahan zalim, misalnya. Baru-baru ini kita mendengar pelarangan pemakaian hijab (jilbab) atas kaum muslimah di beberapa negara Eropa.

Banyak alternatif yang diberikan Islam untuk mencari jalan keluarnya, antara lain membentuk lembaga komunitas muslim yang solid dan kuat, atau hijrah (exodus). Jika kaum muslim di dunia ini solid dan kompak, serta memiliki kepemimpinan religius yang berkwalitas maka hal-hal seperti itu tidak akan pernah terjadi.

Kalau pun terjadi maka jalan keluar yang terbaik akan mudah dilakukan. Imam Ali as pernah berkata,”Al-Haqqu bilaa nizham yughlibuhu al-baathil bi al-nizham – Kebenaran tanpa sistem lembaga yang terpadu akan dikalahkan oleh kebatilan yang memiliki sistem lembaga yang terpadu” (al-Hadits).

Bergabung dengan sistem lembaga Islam yang terpadu (al-nizham atau al-wilayat) merupakan suatu kewajiban atas umat Islam agar mereka tidak dizalimi atau bahkan terseret menjadi kaki tangan kaum yang zalim. Salah satu ajaran Ahlul Bait  itu adalah Tawalla’ (berwali kepada wala positif) dan Tabarra’ (berlepas diri dari wala’ negatif atau wala syetan)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: