jump to navigation

Saatnya Tak Mendustai Publik Senin, 3 Agustus, 2009

Posted by Quito Riantori in Apa Kabar Indonesia?, Artikel.
trackback

Oleh Soe Tjen Marching

Raja itu telanjang bulat. Tapi, ia berkeliaran ke tengah kota memamerkan jubah indah yang seolah ia kenakan. Semua orang mengelu-elukannya, mengelu baju indah yang dipakainya.

Kisah klasik HC Andersen itu tidak lain berkisah tentang sebuah kebohongan yang disulap menjadi kebenaran, jadi kenyataan. Bermula dari kebohongan penjahit kepada sang raja tentang baju ajaib dan istimewa yang dibuatnya. Lalu, kebohongan para pembesar istana karena rasa takut kepada sang raja. Akhirnya, kebohongan publik yang juga jeri karena cengkeraman kekuasaan tiran.

Semua kebohongan itu terjadi lewat sebuah konspirasi, baik horizontal maupun vertikal, sehingga membuat apa yang tak ada (unreal) menjadi ada (real). Dalam masyarakat kita, konspirasi kebohongan seperti ini sungguh terjadi. Kenyataan dusta—dalam politik, kehidupan elite, ekonomi, dan sebagainya—lewat diseminasi media, modern ataupun tradisional, ia lalu menjadi sebuah kenyataan yang ”dibayangkan” dan akhirnya menjadi sebuah kebenaran.

Bisa jadi karena itulah, massa yang bersekongkol ini, secara psikologis mudah sekali disetir oleh kepentingan para penguasa.

Demikianlah cerita rakyat dalam dongeng Andersen yang terkonspirasi oleh Raja Telanjang, sang Ego. Sedangkan sang Raja tertipu oleh si penjahit, kaum oportunis. Konspirasi pun terjadi hingga pada tingkat pemikiran dan akal sehat. Manusia pun kehilangan kemandiriannya, termasuk mempertanyakan kebenaran hidupnya sendiri.

Di mana seni?

Saat perang dunia pertama meledak di Britania Raya, seorang penyair, Rupert Brooke, menjadi terkenal karena puisinya. Karyanya ”The Soldier” memuja nasionalisme dan perang demi membela negara. Seni baginya adalah keindahan yang membuat publik terkesan. Dengan ini, Brooke bisa mendapat pengagum berlimpah, menarik perhatian Winston Churchill, dan publik Inggris yang dengan bangga menggempur negara lebih lemah.

Pada waktu hampir bersamaan, seorang pujangga tersisih, Wilfred Owen, mempertanyakan ”kebenaran” ini. Dalam karyanya, ”dulce et decorum est pro patria mundi”, ia menulis dengan bahasa lugas, berbeda dari tradisi puisi Inggris saat itu. Ia menggambarkan kebrutalan perang. Ia menegaskan kebohongan di balik semboyan ”Hal yang terindah adalah gugur demi membela negara”. Namun, puisi ini baru terbit setelah dia gugur.

Owen adalah anak kecil pada kisah Raja Telanjang. Ia adalah suara yang berbeda dari mayoritas, yang menyatakan kebenaran sesungguhnya, suara hati nurani. Dan itulah seni. Suara seni.

Sebagaimana Nietzsche menyatakan, seorang seniman hebat tidak mengutamakan keindahan untuk membuai publik. Namun, demi menyampaikan kebenaran akal dan hati, ia berani mengambil risiko menentang tradisi, kepercayaan, bahkan kekuasaan yang diamini umum. Ia tidak hanya mencari kenyamanan dan keamanan bagi dirinya sendiri.

Seorang seniman yang teguh dan tangguh tidak berkarya hanya dengan sebuah ekspektasi pemujaan dari publik, banjirnya penonton, atau jumlah buku yang laku. Ia lebih memusatkan perhatian pada dunia idea yang dibangun oleh imajinasi dan renungannya. Ia akan membawa perubahan pada cara pandang yang mapan. Betapapun bila karena itu, ia mungkin dicerca oleh khalayak, dikejar tentara, atau dinafikan oleh industri.

Dalam musik, misalnya Slamet A Syukur, Michael Asmara, dan Otto Sidharta kalah pamor di mata publik dibandingkan pemusik rock, pop, dan dangdut, atau bahkan pemusik klasik dengan komposisi dan nada-nada ringan dan awam. Konser para seniman avant-garde ini terkadang tidak dipenuhi pengunjung karena mereka tidak mampu—dalam istilah Rendra—menjilat selera publik.

Namun, justru karena itu mereka harus lebih diperjuangkan oleh siapa pun yang punya kesadaran bahwa pendapat umum bukanlah satu-satunya kebenaran. Barangkali mereka tidak bersedih. Tentu saja. Namun, sudah menjadi tanggung jawab kultural, sosial, juga sejarah, bila kita tidak membiarkannya begitu saja. Dapat dibayangkan, betapa tak beradabnya para pemimpin, juga kita semua, bila tidak mampu dan mau menjawab persoalan itu.

SOE TJEN MARCHING Komponis, mengajar di SOAS University of London

_________________

Sumber :

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/03/04111698/saatnya.tak.mendustai.publik

Komentar»

1. hiroali - Senin, 3 Agustus, 2009

Bahwa manusia hidup di atas bangunan opini atau
pendapat orang lain. Pada umumnya manusia tidak mengetahui hakikat hidupnya sendiri, dan tidak mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi pada dirinya. Pikiran sebagian besar orang merupakan pendapat orang lain, sehingga kita berbicara menggunakan bahasa orang lain. Mereka yang berpengaruhlah yang telah menanamkan pengaruhnya yang berupa bahasa, perilaku, pendapat, dan sebagainya untuk membangun identitas tunggal.
Jadi, bukan kebenaran hakiki atau kebenaran harfiah suatu pendapat yang perlu diperhatikan. Yang perlu diperhatikan adalah apakah pendapat itu bisa digunakan untuk menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi umat manusia, minimal bagi mereka yang meyakini pendapat itu. Dan, yang perlu kita tolak adalah pendapat yang menimbulkan kezaliman, kesengsaraan dan kriminalitas bagi manusia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: