jump to navigation

Wahabi Salafi Abaikan Konsep Rahmatan Lil Alamin Kamis, 3 September, 2009

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, Bilik Renungan.
trackback

syaithon

GERAKAN Wahabi pada awalnya merupakan gerakan permurnian (puritanisme) terhadap ajaran Islam yang mulai kehilangan elan vitalnya. Namun, pada titik tertentu, aktivis gerakan tersebut melakukan penyebaran ide dan gagasan baru tersebut dengan cara pemaksaan dan mengabaikan konsep Islam rahmatan lil alamin.

Hal itu diutarakan secara terpisah oleh pengamat Timur Tengah dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Hasibullah Satrawi dan pemerhati social keagaaman Faisal Djindan kepada Indonesia Monitor, Kamis (20/8).

Menurut Hasibullah Satrawi, Muhammad bin Abdul Wahab sebagai pendiri aliran Wahabi menyebarkan permikirannya dengan menggunakan tangan kekuasaan Raja Saudi. Makanya Wahabi menjadi ajaran yang begitu kuat dan mayoritas di Arab Saudi.

Gerakan Wahabi bisa berkembang pesat di Timur Tengah karena ditunjang dengan modal yang penuh karena melimpahnya minyak di sana. “Wahabi mempunyai motif kekuasaan. Jadi, slogan pemurnian yang dibawa Wahabi sangat politis, sekaligus ekonomis, dan bekerjasama dengan penguasa, sehingga slogan pemurnian ala Wahabi bercorak otoritarianistik,” ujar Satrawi.

Gerakan Wahabi, kata dia, cenderung menghabisi semua tradisi-tradisi yang ada dan menganggap kelompok yang berbeda pandangan dengan mereka sebagai “kafir”. Karena gerakan ini tadinya bekerjasama dengan militer penguasa, maka ada pemaksaan, pemberantasan besar-besaran terhadap tradisi lokal.

Sebenarnya, kata dia, nuansa-nuansa ekstrem di tubuh Wahabi terjadi di tengah jalan yang cenderung menyalahkan pihak lain, clan mengkafirkan orang lain serta tidak toleran sama orang lain.

“Nah, ini yang kemudian berkembang di Indonesia. Karena budaya masyarakat kita kadang-kadang kurang selektif terhadap gerakan yang dibawa ke Indonesia, kemudian menjadi gerakan yang ekstrem seperti tindakan teror seperti sekarang,” paparnya.

Menurut Faisal Djindan, paham Wahabi sering disebut sebagai neo-Khawarij, yaitu paham yang timbul pada awal abad lahirnya Islam, persisnya di zaman kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ciri mencolok dari paham ini adalah penuh kesalehan clan kehati-hatian dalam melaksanakan ibadah formal, pemahaman agama secara harfiah (tekstual), dan berlaku hitam-putih dalam pemahaman keagamaan yang berakibat mudah menuduh kepada yang selain mereka sebagai “kafir”, “sesat”, “ahli bid’ah”, dan sebagainya.

Setelah lima belas tahun memproklamasikan jihad mereka, kata Faisal, Wahabi sudah menguasai sebagian besar jazirah Arab, Hijaz, serta Yaman. Hal ini tidak terlepas dari cara-cara brutal, bahkan pemaksaan dengan ancaman senjata yang membuat setiap muslim saat itu terpaksa menerima praktik-praktik Wahabi. Salah satu agenda mereka adalah merobohkan makam-makam keluarga serta sahabat Nabi, situs-situs peninggalan sejarah Islam, semua itu dengan alasan untuk “pemurnian agama”.

“Dewasa ini jika kita mengunjungi Mekah atau Madinah, maka akan kita saksikan bagaimana tidak ada satupun dari bekas peninggalan Islam yang tersisa, karena sudah dirobohkan oleh mereka,” ujar Faisal Djindan.

Sejarah Wahabi, kata dia, tidakpernah pernah lepas dari aksi-aksi kekerasan, baik doktrinal, kultural, maupun sosial. Dalam penaklukan jazirah Arab tahun 1920, lebih dari 400 ribu umat Islam dibunuh. Selain itu, kekayaan dan para wanita dari daerah yang mereka taklukkan diambil sebagai pampasan perang.

Moh Anshari, Sri Widodo

___________________________

Sumber : Indonesia Monitor, Edisi 61 Tahun II/26 Agustus – 1 Sepember 2009

Komentar»

1. iwan - Kamis, 3 September, 2009

“Dalam penaklukan jazirah Arab tahun 1920, lebih dari 400 ribu umat Islam dibunuh. Selain itu, kekayaan dan para wanita dari daerah yang mereka taklukkan diambil sebagai pampasan perang.”

Barangkali ada yang punya referensi tentang fakta yang ditulis dalam paragraf di atas, tolong di-share. Terima kasih.

2. Quito Riantori - Kamis, 3 September, 2009

@iwan
As Frontline states, by 1925 the Saud family had conquered Mecca and Medina and united the Arabian Penninsula. However, Frontline glossed over what this entailed. Algar: “The second Wahhabi-Saudi conqest of the penninsula came at a cost of some 400,000 killed and wounded. In cities such as Ta’if, Burayda, and al-Huda, straightforward massacres were carried out by the Ikhwan. The governors of the various provinces appointed by Ibn Saud are said to have carried out 40,000 public executions and 350,000 amputations in the course of subduing the penninsula.” Said Aburish, in The Rise, Corruption and Coming Fall of the House of Saud, supports these figures adding that “the Ikhwan did not take prisoners.” He claims that over a million people fled the territories conquered by Ibn Saud, becoming refugees in neighboring countries.

3. Quito Riantori - Kamis, 3 September, 2009

@iwan
1. Killing Civilian by Hugo Slim, lihat pada catatan kaki no. 21
2. In Wahhabism: A Critical Essay, by Hamid Algar
3. Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud, by
Dr. Abdullah Mohammad Sindi*, Seorang professor di Universitas King Abdulaziz di Jeddah, Saudi Arabia. (Artikel ini sudah saya terjemahkan, coba anda cari di blog ini. Di sana ada referensinya)
4. Fitnatu-l-Wahhabiyyah, karya Mawlana Shaykhu-l-Islam Ahmad Zayni Dahlan al-Makki ash-Shafi’i,
Chief Mufti of Mecca al-Mukarramah. (Edisi Bahasa Inggeris :
http://www.amislam.com/fitnah.htm

iwan - Kamis, 3 September, 2009

Jika cuplikan tersebut benar, betapa jahatnya Rezim Saud tersebut. Na’udzubillah. Sya akan jenguk referensi yang Anda tunjukkan. Terima kasih.

4. amat - Jumat, 2 Oktober, 2009

allahu kariim, begitu banyak kesalahan dan kebodohan begitu banyak dosa dan kemaksiatan, begitu banyak kemiskinan dan penderitaan begitu banyak perpecahan dan peperangan begitu banyak hitam dan putih apalagi yang akan Engkau perlihatkan di dunia yang penuh dengan kedengkian dan kemunafikan apalagi yang akan Engkau perlihatkan di dunia yang penuh dengan kebencian, ya Rasul tolonglah kami dalam menjaga warisanmu

5. Ali el-Mahmudi - Selasa, 13 Oktober, 2009

konsep pemahaman seperti apakah yang di terapkan oleh kaum wahabiyah dalam memahami ajaran islam yang di bawa oleh nabi Muhammad SAW.

Quito Riantori - Selasa, 13 Oktober, 2009

Wahabi-Salafy memahami teks2 Islam (Quran & Hadis) selalu dengan pemahaman literal atau tekstual, sehingga Islam yang mereka praktikan menjadi kerdil dan kaku. Sebenarnya hal ini juga disebabkan kemalasan mereka untuk mencoba berpikir dan menggunakan akal mereka sebaik mungkin utk mendapatkan pengertian yang lebih dalam dan luas.

6. wawan - Selasa, 1 Desember, 2009

kira-kira ada ketersinggungan ide salafi dan wahabi ya?

7. salafytulen - Kamis, 22 April, 2010

wahabi sadiz

8. radithya 86 - Kamis, 13 Desember, 2012

wahabi keparat………

9. Fikri - Kamis, 20 Juni, 2013

Tolong dong admin, comment dgn bahasa yang kotor2 nya di hapus, mungkin itu orang yg Islamnya radikal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: