jump to navigation

Kemana Jiwa Heroik Imam Husain as? Kamis, 17 Desember, 2009

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

Oleh al-Syahid Murtadha Muthahhari

Dalam salah satu topik ceramah saya (Murtadha Muthahhari) yang berjudul “Himaeh-e Husaini” (Semangat Husain) saya mengkritik sebagian mereka yang biasa naik ke mimbar dan menukil cerita Imam Husain as.

Saya mengatakan bahwa peristiwa Asyura’ memiliki dua lembaran atau dua sisi; lembaran putih dan hitam, atau sisi terang dan sisi gelap. Ibarat dua sisi mata uang logam.

Satu sisinya berbentuk kezaliman, kejahatan, kekejaman, kepengecutan, dan kekerasan hati. Jumlah para “pahlawan” yang berada pada sisi ini cukup banyak. Seperti Umar Ibnu Sa’ad, Syimr, Sinan Ibnu Anas, Harmalah al-Kufi, dan sejenisnya. Lembaran tersebut merupakan lembaran paling hitam yang pernah ada dalam sejarah.

Sedangkan sisi lainnya merupakan lembaran sejarah paling benderang dan cerah. Pada lembaran ini, kita menyaksikan bentuk yang sebenamya dari keimanan, ketawakalan, perjuangan, kesabaran, dan keridhaan. Para pahlawan pada lembaran ini adalah pribadi Imam Husain as, saudara Imam Husain as, anak-anak Imam Husain as, serta para sahabat Imam Husain as.

Jika kita bandingkan lembaran indah ini dengan lembaran yang buruk tadi, akan semakin tampak kehebatan-kehebatan mereka. Akan tetapi, sebagian penceramah di mimbar-mimbar tampaknya telah terbiasa menceritakan Asyura’ kepada khalayak ramai menyangkut sisi gelapnya semata, seakan-akan peristiwa sejarah ini tidak memiliki sisi terang sama sekali .

Imam Husain as berserta sahabat dan pendukungnya seolah-olah menjadi orang-orang yang kalah, tertindas, dan tidak memiliki jiwa heroik. Padahal, sebagaimana yang kita ketahui bersama, peristiwa tersebut memiliki dua lembaran, di mana lembarannya yang indah dan terang benderang jauh lebih layak untuk diungkapkan ketimbang lembaran buruknya yang kelam.

Sanggahan ini serupa dengan sanggahan yang ditujukan kepada para sejarahwan Materialis, yang senantiasa berusaha menggambarkan sejarah umat manusia sebagai sesuatu yang benar-benar hitam kelam.
______________________
Syahid Murtadha Muthahhari, Neraca Kebenaran & Kebatilan; hlm. 31-32, Penerbit Cahaya, Cet. III, 1984

Komentar»

1. Murtadza - Minggu, 20 Desember, 2009

Salam perkenalan ke atas anda dari saya, saudara anda di Malaysia.

2. Quito Riantori - Senin, 28 Desember, 2009

@Murtadza
Salam kenal juga, saudara Murtadza, senang bersaudara dengan anda.

Ito


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: