jump to navigation

Islam Radikal atau Wahabisme Menyusup Ke SMU-SMU Kamis, 17 Desember, 2009

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism.
trackback

Beberapa hasil penelitian menemukan fakta lapangan bahwa gerakan dan jaringan radikalisme Islam telah lama menyusup ke sekolah umum, yaitu SMU. Siswa-siswi yang masih sangat awam soal pemahaman agama dan secara psikologis tengah mencari identitas diri ini menjadi lahan yang diincar oleh pendukung ideology radikalisme. Targetnya bahkan menguasai organisasi siswa intra sekolah (OSIS), paling tidak bagian rohani Islam (ROHIS).

Tampaknya jaringan ini telah mengakar dan menyebar di berbagai sekolah, sehingga perlu dikaji dan diresponi secara serius, baik oleh pihak sekolah, pemerintah dan orangtua. Kita tentu senang anak-anak itu belajar agama. Tetapi yang mesti diwaspadai adalah ketika ada penyebar ideology radikal yang kemudian memanfaatkan symbol, sentimen dan baju Islam untuk melakukan cuci otak (brainwash) pada mereka yang masih pemula belajar agama untuk tujuan yang justeru merusak agama dan menimbulkan konflik.

Ada beberapa ciri dari gerakan ini yang perlu diperhatikan oleh guru dan orangtua. Pertama, para tutor penyebar ideologi kekerasan itu selalu menanamkan kebencian terhadap negara dan pemerintahan. Bahwa pemerintahan Indonesia itu pemeritahan taghut, syaitan, karena tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai dasarnya. Pemerintahan manapun dan siapapun yang tidak berpegang pada Al-Qur’an berarti melawan Tuhan dan mereka mesti dijauhi, atau bahkan dilawan.

Kedua, para siswa yang sudah masuk pada jaringan ini menolak menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, terlebih lagi upacara hormat bendera. Kalaupun melakukan, itu semata hanya untuk mencari selamat, tetapi hatinya mengumpat. Mereka tidak mau tahu bahwa sebagai warga negara mesti mengikuti dan menghargai tradisi, budaya dan etika berbangsa dan bernegara, dibedakan dari ritual beragama.

Ketiga, ikatan emosional pada ustadz, senior dan kelompoknya lebih kuat dari ikatan keluarga dan almamaternya. Keempat, kegiatan yang mereka lakukan dalam melakukan pengajian dan kaderisasi bersifat tertutup dengan menggunakan lorong dan sudut-sudut sekolah sehingga terkesan sedang studi kelompok. Lebih jauh lagi untuk pendalamannya mereka mengadakan outbond atau mereka sebut rihlah, dengan agenda utamanya renungan dan baiat.

Kelima, bagi mereka yang sudah masuk anggota jamaah dikenakan membayar uang sebagai pembersihan jiwa dari dosa-dosa yang mereka lalukan. Jika merasa besar dosanya, maka semakin besar pula uang penebusannya.

Keenam, ada di antara mereka yang mengenakan pakaian secara khas yang katanya sesuai dengan ajaran Islam serta bersikap sinis terhadap yang lain.

Ke tujuh, umat Islam di luar kelompoknya dianggap fasiq dan kafir sebelum melakukan hjrah bergabung dengan mereka.

Ke delapan, mereka enggan dan menolak mendengarkan ceramah keagamaan di luar kelompoknya. Meskipun pengetahuan mereka tentang Al-Qur’an masih dangkal, namun mereka merasa paling benar keyakinan agamanya sehingga meremehkan dan bahkan membenci ustad di luar kelompoknya.

Kesembilan, di antara mereka itu ada yang kemudian keluar setelah banyak bergaul, diskusi secara kritis dengan ustadz dan intelektual di luar kelompoknya, namun ada juga yang kemudian bersikukuh dengan keyakinannya sampai masuk ke perguruan tinggi.

JUGA MENYUSUP KE KAMPUS-KAMPUS

Mengingat jaringan Islam yang tergolong garis keras (hardliners) menyebar di berbagai SMU di kota-kota Indonesia, maka sangat logis kalau pada urutannya mereka juga masuk ke ranah perguruan tinggi. Bahkan, menurut beberapa sumber, alumni yang sudah duduk sebagai mahasiswa selalu aktif berkunjung ke almamaternya untuk membina adik-adiknya yang masih di SMU. Ketika adik-adiknya masuk ke Perguruan Tinggi, para seniornya inilah yang membantu beradabtasi di kampus sambil memperluas jaringannya.

Beberapa sumber menyebutkan, kampus adalah tempat yang strategis dan leluasa untuk menyebarkan gagasan radikalisme ini dengan alasan di kampuslah kebebasan berpendapat, berdiskusi dan berkelompok dijamin. Kalau di tingkat SMU pihak sekolah dan guru sesungguhnya masih mudah intervensi, tidaklah demikian halnya di kampus. Mahasiswa memiliki kebebasan karena jauh dari orangtua dan dosen pun tidak akan mencampuri urusan pribadinya.

Namun karena interaksi intelektual berlangsung intensif, deradikalisasi di kampus lebih mudah dilakukan dengan menerapkan materi dan metode yang tepat. Penguatan mata kuliah Civic Education dan Pengantar Studi Islam secara konprehensif dan kritis oleh Professor ahli mestinya dapat mencairkan faham keislaman yang ekslusif dan sempit serta merasa paling benar.

Sejauh ini kelompok-kelompok radikal mengindikasikan adanya hubungan famili dan persahabatan yang terbina di luar wilayah sekolah dan kampus. Yang patut diselidiki juga menyangkut dana. Para aktivis radikalis itu tidak saja bersedia mengurbankan tenaga dan pikiran, namun rela tanpa di bayar untuk memberikan ceramah keliling. Lalu kalau berbagai kegiatan itu memerlukan dana, diri mana sumbernya? Ini juga suatu teka-teki.

Disinyalir memang ada beberapa organisasi keagamaan yang secara aspiratif dekat atau memiliki titik singgung dengan gerakan garis keras ini. Mereka bertemu dalam hal tidak setia membela NKRI dan Pancasila sebagai ideologi serta pemersatu bangsa. Mereka tidak bisa menghayati dan menghargai bahwa Islam memiliki surplus kemerdekaan dan kebebasan di negeri ini. Di Indonesia ini ada Parpol Islam, Bank Syariah, UU Zakat dan Haji dan sekian fasilitas yang diberikan pemerintah untuk pengembangan agama. Kalau pun umat Islam tidak maju atau merasa kalah, lakukanlah kritik diri, tetapi jangan rumah bangsa ini dimusuhi dan dihancurkan karena penghuni terbanyak yang akan merugi juga umat Islam.

Kita berharap baik Mendiknas maupun Menag menaruh perhaian serius terhadap gerakan radikalisasi keagamaan di kalangan pelajar.

Sumber :

http://news.okezone.com/read/2009/10/23/58/268509/radikalisme-islam-menyusup-ke-smu

(SINDO, 23 Oktober 2009)

Komentar»

1. abu thurab - Kamis, 17 Desember, 2009

assalamualaikum!
syukron ustad atas tulisannya, info ini sangat berguna, karena memang kenyataannya seperti itu, di sekolah saya juga ada kegiatan seperti itu dan hampir di semua sekolah di daerah sy juga ada kegiatan seperti itu. semoga info ini menjadikan kita lebih hati2 dan selalau waspada, tidak boleh lengah dalam memperhatikan keluarga dan anak didik kita.
salam.

2. peluang usaha dunia akhirat - Kamis, 17 Desember, 2009

lam kenal,,,,

3. nusan - Minggu, 20 Desember, 2009

golongan kepemudaan memang dari golongan kegilaan, hati pemuda memang bagaikan lahan yang kosong, terima kasih atas tulisannya semoga anak anda tidak mudah terpengaruh nantinya…🙂

4. dini forum - Kamis, 7 Januari, 2010

very nice to blog tanks site admin

5. gayatri wedotami - Senin, 8 Maret, 2010

bang Quito…aku pernah menjadi bagian dr mereka…tp gak pernah merasa nyaman, dan selalu kritis kok Islam begini banget seh…sekarang sepupu-ku salah satu nya…kalo diskusi soal agama kami lumayan panas…padahal baru kenal Islam sejak di kampus..

Quito Riantori - Selasa, 9 Maret, 2010

@Gayatri W.
Iya memang justru yang mudah termakan adalah mereka yang dasar pengetahuan agamanya masih jauh dari kurang. Mereka inilah yang mudah teracuni DOGMA2 agama yang ternyata cuma PENAFSIRAN dari HAWANAFSU KUASA para PEJUANG GADUNGAN. Thanks ya sudah berkunjung…Salam…

6. caraka - Jumat, 19 Maret, 2010

salam hormat buat menthor quito,
sy seorang kepala rmh tangga. umr sy 30th sy seorang mualaf. kami br kehilangan anak laki2 kami yg berumur 4th, karena kecelakaan. akhir2 ini kami sekeluarga sering ke tempat seorang hajah. kata beliau kejadian itu karena tempat/rmh kami yg angker. dari penglihatan mata bathin beliau kami di wajibkan u berzakat k anak yatim/kifarat. sebesar 1,5jt. soal penyaluranya beliau yang akan mengaturnya, hal ini di maksudkan karena nyawa anak kami yg pertama terancam keselamatnya. mohon arahan menthor quito dalam hal ini apakah benar bahwa dg menyerahkan 1.5jt kami sekeluarga akan terhindar dari bahaya/ancaman ghoib. lantas mengenai hal ruqiyah apakah di perbolehkan dalam islam. terima kasih atas tausiyah yg sdh d berikan untuk kami. wasalam

Quito Riantori - Senin, 22 Maret, 2010

@Caraka
Pertama, yang mesti diyakini oleh Bpk Caraka adalah bahwa apa pun yg telah terjadi pada kita & keluarga kita semua sudah tercatat dalam ketetapanNya. Allah Swt berfirman : “Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS al-Taubah ayat 51)
“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS Al-An’am ayat 17)
Dua ayat di atas sangat jelas mengingatkan kita agar pertama2 mencari perlindungan kepada Allah Swt. Harus diyakini bahwa Hanya Allah sajalah yang mampu menghilangkan segala kemudaratan yg menimpa kita.
Kedua, Allah Swt juga berfirman : “Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri. ” (QS al-Nisa ayat 79).
Ayat ini seolah-olah bertentangan dengan 2 ayat di atas, padahal tidak. Ke2 ayat pertama di atas menjelaskan bahwa Allah Swt telah menetapkan hukum causalitas yang ketetapannay tak dapat diubah kecuali oleh Allah Swt sendiri. Jadi jika kita tertimpa bencana adalah disebabkan oleh tindakan kita sendiri yang telah menjalani huku causalitas tsb. Sederhananya, jika anak bapak melakukan hal-hal yg bisa menyebabkan anak bapak celaka, maka tak pelak lagi anak bapak akan mengalami kecelakaan.
Jadi, ketiga, setelah kita memohon ampun kepada Allah dan terus bertawakkal kepadaNya, kita mencari penyebabnya, apa yg menyebabkan anak bapak celaka? Cari penyebab fisiknya terlebih dahulu.
Keempat, Di dalam beberapa hadis disebitkan bahwa, Nabi Muhammad saww bersabda, ”Sedekah itu dapat menolak bala’ dan ia adalah obat yang paling mujarab” dan hadis lainnya Nabi Saw bersabda : ”Sesungguhnya Allah, yang tiada Tuhan selain Dia! Sungguh sedekah itu dapat menolak penyakit, bencana, kebakaran, tenggelam, keruntuhan, dan penyakit gila” juga hadis “,”Sedekah itu dapat menolak tujuh puluh macam bala’, yang paling buruk adalah lepra dan kusta” dan “,“Sedekah itu menolak seratus kejelekan”
Jadi, bersedekahlah…carilah anak yatim, bapak tidak perlu terikat oleh ibu haji tsb, bapak bisa mencari anak yatim dan melakukan sedekah lewat tangan bapak sendiri. Itu lebih baik. Berapa banyak?
Kalau bapak sanggup, buat nasi kotak minimal 40 kotak dan berikan anak2 yatim di tempat yang terdekat dg rumah bapak. Kalau tidak sanggup lakukan apa yg bapak sanggup, insya Allah barakah.
Kelima, sering2lah membaca al-Quran, kalau belum bisa membaca beli mp3 al-Quran banyak yg jual, pasang dan dengarkan bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga, sambil melihat artinya di Terjemahan al-Quran.
Keenam, lakukan shalat berjamaah dengan anggota keluarga, dan setelah shalat Isya, biasakan membaca Surah Yasin.
Insya Allah jika semua itu bapak laksanakan, semua akan aman dan tentram. Yang paling utama adalah yakin dan selalu tawakkal kepada Allah Swt.
Oke, pak itu aja, ya…Salam, dan semoga semua bisa teratasi dengan pertolongan allah Swt…amiin…

7. zidez999 - Rabu, 24 Maret, 2010

Assalaamu’alaikum, Tadz,
Strategi da’wah mereka, memang banyak melalui sekolah-sekolah, saya termasuk yang pernah merasakannya, sampai proses baiat, isi kajiannya betul seperti yang maz Quito jabarkan…. waktu mrka mau jemput sy, murobbi nye kagax mau mampir kerumah ( sy kan harus IZIN dulu sama Ortu )…alasannye belon seprinsip…pengajiannye di rumah-rumah dan tertutup ( dalam artian—–nggak ada yang bisa ngeliat pas lagy ngaji, karena memang tertutup dan di tutup )….Ane pikir perlu juga kiranya jama’ah yang mengetahui gerakan wahabi, untuk MASUK PULA melalui sekolah-sekolah.. ( minimal mantau dah )…atau mungkin perlu dikaji di PENGAJIAN TERBUKA….. tentang WAhabi ini yeh tadz…btw… Salam Ta’aruf u maz Quito yah…

8. amuli - Selasa, 30 Maret, 2010

Modus seperti ini, setahu saya, banyak dilakukan oleh NII KW IX pimpinan Abu Toto. Dengan kamuflase pesantren Al-Zaytun, sebagian umat Islam terkecoh dengan pesantren ini. A.M.H, seorang petinggi BIN, termasuk orang yang sering berkunjung ke pesantren menurut para mantan NII KW IX yang, syukurnya, mereka sudah beralih ke Mazhab Syi’ah Dua Belas Imam setelah mendapatkan argumentasi-argumentasi yang lebih rasional.
Waspadalah-waspadalah, dengan gerakan-gerakan “keagamaan” seperti itu.
Terimakasih mas quito

9. moehaimine - Jumat, 4 Juni, 2010

salam….kasih info juga bang….apa mereka dah masuk ke pesantren2…??

10. netral - Rabu, 23 Juni, 2010

ingin islam yg diajarkn rasullullah,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: