jump to navigation

Apa & Siapakah Ahlul-Bayt Itu? Senin, 11 Januari, 2010

Posted by Quito Riantori in All About Ahlul Bayt, All About Love, Bilik Renungan.
trackback

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya” (Al-Qur’an Surah Al–Ahzaab [33]: ayat 33)

Ath-Thabari di dalam Tafsirnya Jami’ul Bayan, Cetakan Daar Al-Ma’rifah, Beirut, Jilid 22, halaman 5 menjelaskan sbb :

“Perkataan pertama yang kita jumpai pada ayat tersebut (menurut teks aslinya dalam bahasa Arab) ialah “hanya” (innama). Perkataan “hanya” atau innama di dalam tata bahasa Arab disebut “harf hasr” untuk menunjukkan arti : menguatkan makna kalimat sesudahnya dan menafikan (meniadakan) apa yang selain itu.

Jadi, makna perkataan innama dalam ayat ini ialah ; menetapkan dan menegaskan bahwa masalah pensucian Ahlul Bait merupakan sesuatu yang telah ditetapkan (itsbat) dan menafikan adanya kehendak Allah untuk memberikan pensucian bagi orang-orang selain Ahlul Bait.

Bagi orang yang mengenal bahasa Arab dengan baik, mengenal dasar-dasar kaidahnya dan mengenal cara orang yang menggunakan bahasanya, pengertian ayat tersebut di atas cukup jelas dan tidak meragukan.

Kemudian kita jumpai kalimat berikutnya, yaitu Allah menghendaki (Yuridu Allahu). Dalam hal ini jelas, bahwa yang berkehendak ialah Allah SWT kehendak Allah tersebut bersifat takwiniyah (penciptaan), bukan kehendak yang bersifat tasyri’iyyah (penetapan).

Sebagaimana diketahui, kehendak Allah SWT menurut ilmu Tauhid terbagi dalam dua sifat, ada yang bersifat takwiniyyah dan ada kehendak yang bersifat tasyri’iyyah. Kehendak takwiniyyah ialah kehendak lain, tidak tertinggal dan tidak ada sesuatu yang menghambat atau menghalangi. Mengenai hal itu Allah SWT berfirman “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berfirman kepadanya : “jadilah, maka jadilah ia” (QS : Ya sin : 82)

Adapun kehendak tasyri’iyyah ialah kehendak yang realisasinya diserahkan oleh Allah SWt kepada kemauan bebas dan pilihan Allah supaya hamba-hamba-Nya. Misalnya saja seperti kewajiban yang dikehendaki ada manusia yang setia melaksanakan dan ada pula yang membangkang atau ingkar.

Dalam kaitannya dengan ayat suci tersebut di atas (S. Al Ahzab : 33), tidaklah diragukan lagi, bahwa kehendak Allah mengenai pensucian Ahlul Bait, bukanlah kehendak tasyri’iyyah. Sebab kalau dalam hal itu kehendak-Nya bersifat tasyri’iyyah, maka pembatasan (al-hasr) dengan perkataan “inama” akan kehilangan makna, sebab pada dasarnya Allah juga menghendaki pensucian semua hamba-Nya, tanpa pengecualian, hal ini diisyaratkan dalam firman-nya dalam S. Al Maidah : 6, “Allah tidak hendak menyulitkan kalian dan menyempurnakan nikmat karunia-Nya kepada kalian, agar kalian senantiasa bersyukur.

Dengan demikian jelaslah, bahwa kehendak Allah mengenai pensucian Ahlul Bait dalam ayat tathir (Al – Ahzab : 33), bersifat takwiniyyah, yang realisasinya tidak tertunda atau terselingi oleh apapun juga.

Kalimat selanjutnya dalam ayat tathir itu adalah “menghapuskan noda kotoran (al-rijs) dari kalian”. Menurut Al Raghib, perkataan al-rijs berarti segala sesuatu yang kotor. Al-Thabariy dalam tafsirnya mengenai ayat tersebut menguraikan sebagai berikut : “Bahwasanya Allah SWT hanya hendak meniadakan keburukan dan kekejian dari kalian, hai para anggota Ahlul Bait Muhamad, dan hendak mensucikan kalian dari noda kotoran sesuci-sucinya, yaitu noda kotoran yang ada pada orang-orang yang berbuat durhaka kepada Allah, dst.

Dalam menafsirkan ayat tersebut An Nisaburiy mengatakan, “Allah menggunakan perkataan al-rijs untuk menyebut dosa-dosa”.

Jadi kesucian pada Ahlul Bait sudah menjadi kehendak Allah. Tidak ada sesuatu yang dapat menolak kehendak-Nya untuk meniadakan dosa, noda, kotoran dan kedurhakaan dari Nabi dan Rasul-Nya dan para Ahlul Baitnya.

Dalam batas pengertian seperti yang kami utarakan tersebut di atas, tidak ada alasan untuk berselisih pendapat atau meragukan arti ayat suci tersebut. (Muhammad Ridla Ar-Radlawi, Membina kerukunan Muslimin hlm. 187-189, Penerbit Pustaka).

Komentar»

1. helmi mohd. foad - Selasa, 12 Januari, 2010

jadi inilah dalil menyatakan Ahlul Bait tu sebagai maksum…inilah yang tidak difahami oleh setengah khalayak ahlul sunnah dalam memberikan senarai ciri-ciri syiah sebagai sesat.

2. ressay - Minggu, 7 Februari, 2010

mantap. aku juga nulis tentang ini. jos…

3. abu thurab - Minggu, 14 Februari, 2010

Allahuma Shalli Ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajjil farajja aali Muhammad

4. Rizky - Kamis, 1 April, 2010

Halo kang Ari…bravo untuk tulisannya tentang ahlul bait. Semoga banyak individu or kelompok mulai mau mengkaji lagi isi Alquran seperti anda. N mulai menyadari lagi bahwa ada yang lebih baik dari surga terbaik….salam buat keluarga

5. love islam - Rabu, 23 Juni, 2010

assalamualikum…
allah swt tidak memandang dari siapa kamu berasal…mau dari ahlibait atau dari manusia biasa..yang allah pandang adalah TAQWA…sdh jelas..

6. Satria Mahdy - Senin, 20 Juni, 2011

allohuma sholi ala muhammad wa ali muhammad………………..

7. walon - Selasa, 25 Oktober, 2011

Assalamualaikum…Semoga sukses selalu.
Ana senang membaca blog mas lto semoga Allah senantiasa menambah petunjuk & ilmunya kpd mas lto utk dpt disebarluaskan kpd umat Muhammad SAWW. izinkan ana copy ke PC ana.

Allahumma Shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala Aali Sayyidinaa Muhammad SAWW.

Quito Riantori - Jumat, 28 Oktober, 2011

Silahkan, mas…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: