jump to navigation

Jangan Menyembah Thaghut, Setan, dan Uang Rabu, 23 Juni, 2010

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan.
trackback



“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu” (Al-Qur’an Surat Al-Nahl ayat 36)

APA MAKNA KATA ILAH?

Ilah dalam bahasa Arab bermakna segala sesuatu yang disembah. Kata ilah sendiri merupakan bentuk masdar dari kata kerja alaha yang berarti menyembah atau kagum. Walaupun ilah merupakan bentuk masdar namun ia mengandung arti ism al-maf’ul (object participle) sehingga ilah juga berarti : yang disembah atau yang dikagumi. Disebut ilah karena ia disembah atau karena ia menimbulkan kekaguman atau keheranan pada akal manusia. [1]

Hakikat penyembahan, penghambaan, dan pelayanan adalah ketaatan atau kepatuhan. Dan jika kita menuruti semua hasrat hawa nafsu kita yang tidak searah dengan hukum-hukum-Nya, pada hakikatnya kita telah menyembah hawa nafsu kita.

Allah SwT berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut akan kebesaran Tuhannya seraya menahan dirinya dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (QS al-Nazi’at (79) : 40-41)

Seseorang yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Tuhan senantiasa melatih dirinya dan hawa nafsunya untuk tunduk kepada perintah-peintah Tuhan.

Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin as berkata, “Orang yang paling baik dan sempurna adalah orang yang menjadikan hawa nafsunya mentaati perintah Allah” [2]

APA ITU THAGHUT?

Menurut bahasa, kata thaghut berakar dari kata thagha – yathghu – thughyan yang artinya : melampaui batas atau ukuran. Dari akar kata tersebut banyak makna lainnya seperti: bergelombang, meluap, durhaka, memberontak, zalim, sombong, congkak, bodoh, dan tirani. Thaghut sendiri sering dimaknai : setan, orang sombong, orang zalim atau tiran (penguasa zalim).

Imam al-Shadiq as berkata, “Thaghut adalah orang yang tidak menghakimi dengan benar, membuat keputusan yang menentang perintah Allah lalu perintahnya ditaati.” [3]

SEBUAH KISAH DI ZAMAN NABI ISA AS

Di riwayatkan bahwa Imam al-Shadiq as berkisah, “Suatu waktu Isa putera Maryam as memasuki sebuah dusun yang semua penduduknya mati, termasuk burung-burung dan binatang-bintang melata. Isa as pun berkata, “Mereka ini tidak mati kecuali karena kemurkaan (Allah). Walaupun mereka mati berserakan, hendaklah kalian menguburkannya”. Para pengikut setianya (al-hawariyyun) berkata, “Wahai Ruhullah dan kalimat-Nya, berdoalah kepada Allah agar Dia menghidupkan mereka sehingga mereka dapat menceritakan kepada kita apa yang telah mereka perbuat (sehingga mereka mendapat ‘azab sedemikian rupa), sehingga kami dapat menjauhi perbuatan seperti itu” Isa as pun berdo’a kepada Tuhan, lalu beliau menyingkir dari (mayat) yang sudah berbau busuk itu.

Di malam harinya Isa as berdiri di suatu tempat yang tinggi, kemudian beliau berseru, “Wahai penduduk dusun!”

Maka menjawab salah seorang dari mereka, “Kupenuhi panggilanmu wahai Ruhullah dan firman-Nya!”

Isa as berkata, “Celaka kamu! Apa yang telah kalian perbuat (sehingga kalian seperti ini)?

“Kami menyembah thaghut dan mencintai dunia dengan disertai rasa takut (kepada Tuhan) yang sedikit, angan-angan yang jauh dan lalai dalam permainan dan senda gurau”

“Bagaimana kecintaan kalian kepada dunia?” tanya Isa as.

“Seperti bayi yang mencintai (sangat bergantung kepada) ibunya. Jika dunia menghadap kami, kami pun merasa senang dan gembira, namun jika dunia membelakangi kami, kami menangis dan sedih”

“Bagaimana bentuk penyembahan (ibadah) kalian kepada thaghut itu?” tanya Isa as.

“Kami mentaati ahli maksiat”

“Bagaimana akibat dari perbuatan kalian itu?” tanya Isa as lagi.

“Di malam hari kami berada dalam keadaan sehat, namun di pagi hari kami berada di dalam al-Hawiyah”

“Apa itu al-Hawiyah?” tanya Isa as.

“Al-Sijjin”

“Apa itu al-Sijjin?”

“Sebuah gunung dari bara api yang membelenggu kami sampai Hari Qiyamat”

“Apa yang kalian katakan dan apa yang dikatakan kepada kalian?”

“Kami telah mengatakan, “Kembalikanlah kami ke dunia, pasti kami akan berlaku zuhud terhadap dunia” Lalu dikatakan kepada kami, “Kalian berdusta!”, cerita laki-laki itu.

“Celaka kalian! Lalu bagaimana yang lainnya tidak ikut berbicara kepadaku?” tanya Isa as.

“Wahai Ruhullah, sesungguhnya mereka di kekang dengan tali dari api neraka oleh tangan para malaikat yang kasar lagi kejam. Sesungguhnya aku berada di antara mereka, tapi aku bukan salah seorang dari mereka, namun ketika ‘azab turun meliputi mereka, aku pun tersangkut, sehingga rambutku berada di tepi neraka Jahannam. Aku tak tahu apakah aku terus terikat dan terbelenggu di dalamnya ataukah nanti aku dapat terbebaskan daripadanya” Akhirnya Isa as berpaling darinya”. [4]

Di dalam kitab al-Kafi ini, thaghut bermakna : ahli maksiat yang ditaati. Ketaatan kepada mereka merupakan bentuk peribadatan atau penyembahan. (Naudzu billahi min dzalik)

JANGAN MENYEMBAH SETAN

Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, wahai keturunan Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu dan hendaklah Kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus” (QS 36 : 60-61)

Dari segi bahasa, kata Setan diambil dari beberapa akar kata seperti:

1. syathana – yashthunu – syathnan, yang artinya menyalahi atau menjauhkan.
2. asy-syaathinu juga berarti yang keji, yang jahat, yang jauh dari kebenaran, yang sengit, atau yang bengkok.

Kata asy-syaithaan sendiri memiliki arti: yang membangkang, liar, ular, kehausan. Dari tinjauan bahasa di atas kita mendapat gambaran bahwa makna kata Syaithan cenderung kepada hal-hal yang buruk, dengan karakteristik :

1. Suka menyalahi (janji)
2. Menjauhkan diri dari Rahmat Allah.
3. Yang keji dan jahat.
4. Yang sengit permusuhannya, tidak mau mengalah (keras kepala).
5. Yang Bengkok, yang selalu cenderung kepada Jalan Yang Bengkok, atau Menyimpang.

PEMAHAMAN YANG MENYIMPANG

Banyak orang cenderung hanya menekankan makna setan kepada jenis jin ketimbang jenis manusia. Padahal jika kita selidiki al-Qur’an lebih teliti lagi, Allah SwT lebih sering menekankan makna setan jenis manusia ketimbang jenis jin. Seperti ayat-ayat awal dari Surat al-Baqarah, Allah SwT menyebut kaum munafiqin sebagai syayathinihim yang jika diterjemahkan secara tekstual adalah setan-setan mereka.

“Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka (syayathinihim), mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok!” (QS 2 :14)

Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa pemimpin-pemimpin munafiqin (yang manusia) itulah yang dimaksud dalam ayat tersebut!

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu: setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin” (QS 6 :112)

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa siapa pun yang lengkap memiliki karakteristik seperti di atas, maka sebenarnya itulah yang dimaksud sebagai setan, baik ia berupa jin atau pun manusia.

JANGAN MENYEMBAH SETAN

Allah SwT melarang kita menyembah setan jin, dengan ritual-ritual sesat seperti : voodoo dan semacamnya. Dan juga melarang penyembahan setan manusia, yaitu dengan patuh serta mentaati perintah-perintah orang-orang yang berwali kepada setan. Al-Qur’an yang suci mengatakan,”Barangsiapa yang mengambil setan sebagai wali-nya selain Allah, maka sesungguhnya dia menderita kerugian yang nyata!” (QS 4:119)

“Dan sesungguhnya orang-orang zhalim itu sebagian mereka menjadi wali atas sebagian yang lain dan adalah Allah wali orang-orang yang bertaqwa!”(QS 45 :19)

TERKUTUKLAH PENYEMBAH UANG

Rasulullah saww bersabda, “Terkutuklah, terkutuklah barangsiapa yang menghamba kepada dinar dan dirham” [5]

Pada hadits lain, Rasulullah saww diriwayatkan juga bersabda, “Terkutuklah! Terkutuklah orang yang lebih buta dari orang buta ! Terkutuklah! Terkutuklah orang yang menghamba kepada dinar dan dirham! Terkutuklah! Terkutuklah orang yang menikah karena haimah (kebingungan) * ” [6]

(* Haimah juga memiliki arti orang yang pikirannya telah dikuasai hawa nafsu, sehingga ia seperti orang gila, sehingga ia tak lagi dapat mengendalikan dirinya dan mengabaikan pertimbangan-pertimbangan akal dan agama)

Abu Thalib al-Makki, penulis kitab Qut al-Qulub mengatakan, “Bagaimana seseorang bisa menjadi hamba Tuhan jika (pada waktu yang bersamaan) dia menjadi hamba dari seseorang hamba? Jika dia dituntun oleh sesuatu maka itulah tuhannya. Jika dia mengekor di belakang sesuatu, maka itulah tuhannya” [7]

Seseorang dikatakan menyembah sesuatu apabila ia menjadikan sesuatu tersebut sebagai tujuan dan poros di dalam hidupnya. Sehingga dikatakan bahwa seseorang telah menyembah uang, jika seluruh hidupnya ia abdikan semata-mata untuk mencari uang dan menumpuk harta. Orang seperti ini seperti senantiasa dituntun menuju kepada apa yang menjadi tujuan dan dambaannya.

Al-Qur’an yang mulia mengatakan, “Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya” (QS 104 : 2-3)

Di dalam kitab al-Khishal, diriwayatkan bahwa Muhammad bin ‘Isma’il bin Bazi’ berkata, “Aku mendengar Imam al-Ridha as berkata, “Tidaklah (seseorang) menumpuk harta kecuali karena 5 hal :
(1) Kekikiran yang teramat sangat,
(2) Angan-angan yang panjang,
(3) Ketamakan yang menguasainya,
(4) Putusnya hubungan kasih sayang (silaturrahim), dan
(5) Mengutamakan dunia dari akhirat” [8]

Orang yang mengumpulkan harta dan mencari perlindungan dan penguatan dengan menghitungnya terus-menerus. Penumpukan terus-menerus dan memeriksa apa yang dimiliki seseorang adalah bentuk lain dari mencari keamanan. Orang-orang saleh berkata, ‘Orang yang mencintai harta adalah seorang munafik, dan orang yang menimbun harta adalah orang jahil. Bukti kemunafikan (nifaq) dan kejahilan terdapat pada pengumpulan dan penimbunan harta (mal). Ia mengira bahwa ia bergerak mendekati khuld (keabadian) dengan menghitung dan melindungi apa yang secara keliru dikiranya akan memberinya umur panjang dan kekekalan.

Ibadahnya sesat. Kekal adalah sifat Allah lainnya: al-Khalid. Kita semua ingin mengetahui yang Mahakekal karena hanya dengan begitu kita akan selamat, kita mengetahui bahwa yang ada hanyalah keabadian. Tapi barangsiapa percaya bahwa apa yang telah ditimbunnya akan memberi dia keamanan maka ia benar-benar telah tergelincir dari jalan yang benar. [9]

Rasulullah Saw diriwayatkan telah bersabda, “Biarlah penghamba dinar, dirham, beludru, dan kain-kain yang halus itu jatuh pada wajahnya. Jika semua ini diberikan dia senang dan jika ini semua tidak diberikan dia tidak senang” [10]

JANGAN MENYEMBAH HAWA NAFSU

Al-Quran suci mengatakan, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya (al-hawa’) sebagai tuhan (ilah)–nya?” (QS 25 : 43)
Seberapa pun besarnya ibadah kita jika diiringi penyekutuan atau syirik maka semuanya menjadi sia-sia. Kita sering terjebak oleh pemahaman syirik sebatas penyembahan kepada berhala atau patung (paganisme), padahal banyak bentuk syirik seperti yang dikatakan dalam ayat di atas.

‘Allamah Thaba’thaba’i rahimahullah menjelaskan ayat di atas, ‘al-Hawa’ adalah kecondongan ego atau diri (al-nafs) kepada keinginan-keinginan (syahwat) tanpa pertimbangan akal. Jadi, yang dimaksud ‘mengambil al-hawa’ sebagai tuhannya’ adalah karena ketaatan dan mengikutinya di luar (bimbingan) Allah.

Dan kebanyakan Allah SwT dalam firman-firman-Nya mencela ketaatan kepada al-hawa’ dan mengkategorikan ketaatan kepada sesuatu sebagai ‘ibadah sehubungan dengan firman-Nya yang lain, “Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu hai Keturunan Adam supaya kamu tidak menyembah syetan? Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (QS 36 : 60-61) ] [11]

Berapa banyak orang yang rutin melakukan ibadah-ibadah ritual, seperti shalat misalnya, sementara di luar shalatnya, lebih banyak waktu yang ia habiskan untuk menuruti keinginan-keinginan hawa nafsu rendahnya.

Dan Rasulullah saww bersabda, “Sejelek-jelek seorang hamba adalah orang yang menghambakan dirinya kepada hawa nafsunya, sementara hawa nafsunya menyesatkannya dan nafsunya menjadikannya hina” [12]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki :

1. Ibn Manzhur al-Anshari, Lisan al-‘Arab 12 : 359-361, Digitally Library.
2. Majmu’ah Waram 2 : 100
3. Tafsir al-Burhan 1 : 387
4. Al-Kafi 2 : 318
5. Bihar al-Anwar 72 : 221
6. Syekh Shaduq, al-Khishal 1 : 129, hadits no. 132
7. Abu Thalib al-Makki, Qut al-Qulub Bab 25, hal. 177
8. Tafsir Nur al-Tsaqalayn 5 : 667, baris ke 20
9. Syekh Fadlullah Haeri, Tafsir Juz’amma, Surat al-Humazah
10. Bukhari, Bab Jihad 70, Riqaq 10, dan Ibn Majah Bab Zuhud, 8
11. ‘Allamah Thaba’thaba’i, Tafsir al-Mizan 15 : 242
12. Bihar al-Anwar 72:201

Komentar»

1. amuli - Kamis, 24 Juni, 2010

Kadang-kadang baca kaya begini letih ya. Soalnya, bagiku, tasawuf itu ilmu tinggi. jadi, kalo gak siap, kita akan letih sendiri. Takut tak mampu menunaikannya, Bagaimanapun, terima kasih postingannya.

2. haris - Kamis, 24 Juni, 2010

salam..

saya sangat kagum dengan tulisan tuan.
Menarik dan menusuk jiwa pabila dibaca dan difahami.
Meminta kebenaran untuk saya sebarkan

terima kasih

3. Quito Riantori - Jumat, 25 Juni, 2010

@Amuli
Menurut saya, tulisan ini bukan tulisan tasawuf, apalagi ilmu tingkat tinggi. Tulisan ini sederhana, tapi memang justru hal-hal sederhanalah yang sulit kita lakukan. Terima kasih atas komentarnya.

4. YOYOw - Jumat, 25 Juni, 2010

Salam mas Quito,

Tulisan yang menyegarkan. Tulisan yang mengingatkan kita tentang hakekat hidup. Sederhana tapi (kadang) sulit tuk dikerjakan jika tanpa niat dan usaha yang sungguh sungguh + tanpa ada yang mengingatkan.

Ijin tuk co-pas, sharing ke beberapa teman.

Wassalam,

5. duniaahlulbayt - Selasa, 29 Juni, 2010
6. gugun - Senin, 18 Oktober, 2010

ini site-nya ahlul bait-kah?

7. yusuf The Doublehorn(zulkarnain) - Jumat, 10 Desember, 2010

Syukron jadzilan, Mas-atas kunjungannya di http://yusufzulkarnain.blogspot.com. izinkan saya untuk ikut menyebarkan isi posting di blog baru sy sekalian belajar, Mas. Salam saking sami-sami tiyang Yogjo, asli Demangan.

8. andraarial - Rabu, 20 Juli, 2011

Assalammualaikum Waramatullahi Wabarakatu …

Afwan ya akhy …Izin copas ke blog ana http://phobhia.wordpress.com

Jazakallahu khairan …

Quito Riantori - Jumat, 22 Juli, 2011

silahkan…

9. Gerizal - Kamis, 12 Januari, 2012

Izin share

Quito Riantori - Selasa, 17 Januari, 2012

Silahkan, tapi jgn lupa cantumkan sumbernya.

10. lana - Kamis, 12 April, 2012

sangat dalam sekali…

11. WRZ - Kamis, 16 Agustus, 2012

Mohon izin utk di share


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: