jump to navigation

Cinta Meluluhkan Kebencian & Prasangka Kamis, 26 Agustus, 2010

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback


“…dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil” (Al-Qur’an, Surah Al-Maaidah ayat : 8)

“The hatred you’re carrying is a live coal in your heart – far more damaging to yourself than to them.”- “Kebencian yang Anda bawa, seumpama sebuah batu bara yang ada dalam hati Anda – yang jauh lebih merusak diri Anda sendiri ketimbang mereka (yang Anda benci)” ~ Lawana Blackwell

Suatu waktu seorang laki-laki dari Syam (Suriah) diupah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan untuk mencaci-maki Keluarga Rasulullah saww. Di Madinah, lelaki ini berjumpa dengan Imam Hasan as (putera Imam Ali dan Fathimah & cucu Nabi Muhammad Saw) dan langsung saja ia mencerca dan mengutuk beliau. Imam Hasan tidak marah, bahkan ia menunggu sampai lelaki itu menyelesaikan “hajatnya”.

Setelah lelaki Syam ini selesai dan puas mengutuk beliau, Imam Hasan menyapanya sambil tersenyum :

“Anda pasti bukan orang sini. Apakah Anda tersesat? Jika Anda butuh pertolongan, mari saya tolong.
Jika Anda butuh sesuatu, akan saya beri.
Jika Anda butuh petunjuk ke suatu tempat, mari saya tunjukkan,
Jika Anda butuh orang untuk membawakan barang-barang Anda, mari saya bawakan.
Jika Anda lapar, mari bersama saya makan bersama.
Jika Anda butuh pakaian, nanti saya akan beri.
Jika Anda diusir dari kampung halaman Anda, mari saya carikan tempat tinggal.
Jika Anda punya keperluan-keperluan, mari saya penuhi semua kebutuhan Anda dan
Jika Anda berada dalam perjalanan, tinggallah bersama saya untuk menjadi tamu saya, nanti akan saya beri Anda bekal….”

Setelah mendengar tawaran Imam Hasan yang sangat simpatik itu, lelaki dari Syam itu menangis seraya berkata, “Saya bersaksi bahwa Tuan adalah khalifah Allah di muka bumi ini. Allah Mahatahu bahwa sebelum ini, tuan dan ayah tuan adalah orang yang paling saya benci dan sekarang tuan dan ayah tuan adalah orang yang paling saya cintai di antara seluruh manusia di dunia ini!” (*)

Imam Hasan as, cucu Rasulullah saww ini, tidak segera marah ketika ia dicerca dan dikutuk sedemikian rupa. Pertama-tama ia berkata, “Pasti Anda bukan orang sini!”. Dengan demikian Imam Hasan mengawali pandangannya terhadap lelaki Syam ini dengan prasangka baiknya, bahwa beliau meyakini si lelaki malang ini bukan penduduk Madinah sehingga ia tiada mengenal Imam Hasan yang sesungguhnya.

Provokasi Mu’awiyyah terhadap penduduk Syam telah membentuk pandangan kebencian terhadap Ahlul Bait Rasulullah, namun sikap santun dan simpatik dari Imam Hasan mengubah pola pikir dan pandangannya tentang Ahlul Bait.

Hal seperti ini pun terjadi pada kita semua. Kita sering mengecam dan mencela seseorang atau suatu kelompok yang hanya kita ketahui dari musuh-musuh mereka, bukan dari orang yang kita kecam itu sendiri.

Informasi yang terdistorsi telah merusak pandangan kita yang jernih. Ketelitian dan kejujuran kita untuk mengamati pandangan orang lain sangatlah diperlukan.

Rumi bersyair :
Siapa menabur benih duri di dunia ini,
Waspadalah! Jangan mencarinya
di kebun mawar!
(**)

Asumsi-asumsi serta prasangka-prasangka yang tak beralasan mesti disingkirkan dari benak pikiran kita.

“Hatred is settled anger” – “Kebencian dimantapkan dengan kemarahan” ~ Marcus Tullius Cicero

Allahumma shallii ‘alaa Muhammad wa Aali Muhammad…Ya Allah taburkanlah senantiasa kepada kami berkah cintaMu, cinta MuhammadMu, dan Ahlul-bayt RasulMu…amiin..
____________________

(*) Ali Muhammad Ali, Para Pemuka Ahlul Bait, Imam Hasan as, Pustaka Hidayah

(**) Matsnawi II:153)

Komentar»

1. 1990desember - Kamis, 26 Agustus, 2010

Subhanallah..
Maha Suci Allah yg telah menggerakkan hati manusia..

2. Herry165 - Kamis, 26 Agustus, 2010

Subhanallah … ijin share pak…

Quito Riantori - Kamis, 26 Agustus, 2010

silahkan…

3. susan nasution - Jumat, 24 September, 2010

subhanallah

4. Kim Gien - Jumat, 15 Oktober, 2010

Asslammu’alaikum wr wbt
Om… Quito
Saya minta Isin Copy
artikel2 Anda….
saya sebarkan buat mereka yg memperlukannya..
terimakasih banyak….
maaf’in kelancangan saya
karena saya jg masih perlu menimba Ilmu agama gitu jg dgn sahabat2 saya……….//

5. wa..ade bandung - Senin, 25 Oktober, 2010

kang quito bagus sekali tulisannya sederhana tapi penuh makna, andaikkan orang sombong yang punya cinta tapi iya sembunyikan muka dan mulutnya, membaca tulissan ini mereka memahaminya pasti bakal sadar…bukan bekitu kan quitoo..

6. husen - Jumat, 29 Oktober, 2010

Masya Allah kita memang harus selalu mendapat pencerahan setiap hari dengan keteladanan pribadi agung Rosul dan keluarganya yang sermakin hari semakin tidak disampaikan oleh para orang tua yang mendapat amant dari sang kholiq kepada anak2nya. alhamdulillah kita masih bisa membaca tulisan2 bpk quito yang sarat dengan makna krn memang lahir dari teladan2 untuk kita yang ada di bumi ini. Terima kasih dan terus menulis untuk mencerahkan hati kita yang hidup di zaman yang carut marut ini dan saya yakin banyak manfaatnya untuk para pembaca .

7. Joss gandos - Kamis, 13 Januari, 2011

thanx untuk share cintanya… marilah kita saling mengasihi bukan hanya pada saudara seiman kita tapi kepada semua orang dengan adil dan benar… semoga Allah melimpahkan berkatNya pada kita sekalian …amin

8. Luengsa - Kamis, 13 Januari, 2011

Artikel yg bagus dan menarik. Dan memang benar junjungan kita Rasulullah saw adalah org pilihan dan mejaga ahli baitnya dengan menurunkan sifat sifaat yg mulia.

Kemulian kita sebenarnya sudah Allah swt sebutkan dalam salah surat pendek yaitu Wal-asr. Bahwa kita semua dalam kerugian kecuali org yg beriman dan beramal sholeh. dst akhir ayat.

Akhak merupakan bentuk dari amala sholeh. pertanyaannya adalah bagaimana kita mencoba secara keseharian menjaga akhlak agar terjaga kemuliaannya.

1. Dengan banyaknya senetron dan gosip yg dilangsir di TV merupakan didikan terhadap jiwa utk menjadi org yang berperasangka buruk.
– Hindari menonton hal hal demikian.
2. Membaca qur’an. Qur’an sebagai cahaya di dunia dan simpanan di akhirat. InsyaAllah hal hal buruk yg ada disekitar kita Allah swt akan bukakan secara nyata sehinga kita bisa mengetahui mana yg benar dan salah.
3. Banyak banyaklah beristighfar dengan menyadari bahwa kita manusia yg lemah dan pasti pernah berbuat salah. Dengan ini mendidik kita menjadi manusia yg rendah hati.
4. Doakan kepada org org yg pernah menyakiti hati atau berlaku tidak baik terhadap kita dengan doa doa kebaikan. Hal ini akan membuat kita dapat menyintai secara kemanusiaan dan menghilangkan dendam.

Semoga ada manfaatnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: