jump to navigation

Mengapa Kalian Membiarkan Mereka Melubangi Kapal? Rabu, 27 Oktober, 2010

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

Quito R. Motinggo

Imam Ali as berkata, “Pelaku kezaliman, yang membantunya dan yang rela (ridha) dengan perbuatan tersebut, ketiganya bersekutu dalam kezaliman!” (Ihqaaq al-Haq 12 : 432)

Ketidakpedulian adalah salah satu bentuk kerelaan. Kita harus peduli dan harus benci kepada ketidakadilan, kejahatan dan kemesuman sekali pun.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Luth as atas kaumnya yang menganut paham kebebasan seks : Luth berkata, “Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatan kalian! (Lalu Luth berdo’a): “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan. Lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya semua” (QS al-Syu’araa [26] : 168-170) Ayat ini menjelaskan bahwa ketidakridhaan Nabi Luth as atas perbuatan homoseks kaumnya menyebabkan beliau as beserta keluarganya diselamatkan dari ‘azab Tuhan yang keras.

PEMBUNUH UNTA NABI SHALIH ITU HANYA SEORANG
Pembunuh unta Nabi Shalih hanya seorang saja, tetapi Allah menimpakan azab atas seluruh kaum Tsamud, kaum Nabi Shalih. Mereka diazab dengan azab yang sangat pedih. “Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya” (QS Hud [11] ayat 67)

Imam Ali as berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya manusia itu berkumpul berdasarkan keridhaan dan kebencian mereka. Dan sesungguhnya yang membunuh unta Tsamud itu hanyalah satu orang laki-laki, akantetapi Allah timpakan siksa kepada seluruh kaum Tsamud karena mereka ridha atas perbuatan satu orang laki-laki itu!” (Mizan al-Hikmah 6 : 269, Nahjul Balaghah Khutbah ke 200)

DOSA INDIVIDUAL & DOSA SOSIAL
Mungkin dosa bisa dikategorikan menjadi dua tipe : dosa individual dan dosa sosial. Seseorang yang melakukan suatu dosa, misalnya meninggalkan shalat, itu merupakan dosa yang terkait dengan tanggung jawab pribadi atas dirinya sendiri. Dosa seperti ini (meninggalkan shalat) adalah dosa besar, walau pun dosa ini termasuk ke dalam kategori dosa individual. Tuhan bisa saja mengampuni dosa seperti ini, jika orang yang bersangkutan sungguh-sungguh bertaubat dan meng-qadla (mengganti) shalat-shalat yang pernah ia tinggalkan.

Hal ini berbeda dengan dosa sosial, misalnya seseorang yang melakukan tindak kezaliman atau kejahatan sosial, korupsi, atau kolusi, misalnya, maka Tuhan tidak akan mengampuni atau memaafkan dosanya sampai ia mengganti uang yang telah ia curi dan ia mesti memohon maaf kepada masyarakat banyak. Itu pun jika masyarakat rela memaafkannya. Jika tidak, Tuhan tidak akan memaafkannya sampai masyarakat menjadi rela. Dosa seperti ini, tidak bisa dimaafkan hatta oleh seorang presiden atau seorang alim sekali pun. (Na’udzubillah min dzalik)

MENGAPA KALIAN MEMBIARKAN MEREKA MELUBANGI KAPAL?
Manusia adalah makhluk sosial yang hidup bermasyarakat yang saling menopang satu dengan lainnya. Kehidupan mereka yang berada di dalam suatu lingkungan diibaratkan oleh Baginda Rasul Saw dengan indahnya bak berada di dalam sebuah bahtera di tengah laut lepas.

Rasulullah Saw bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang melanggar larangan-larangan Allah dan orang-orang yang menaatinya adalah ibarat satu kaum yang bersama-sama naik ke sebuah kapal layar. Sebagian mereka berada di atas dan sebagian lagi berada di bawah (dek). Bila orang-orang yang berada di bagian bawah ingin mengambil air, maka mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu orang-orang yang berada di bagian bawah mengatakan,”Kita lubangi saja lambung kapal ini agar kita memperoleh air tanpa harus menyusahkan orang-orang yang di atas kita”. Jika mereka dibiarkan melakukan niat mereka, maka semua orang yang berada di kapal tersebut pasti celaka. Tetapi jika mereka dicegah, maka orang-orang itu bisa selamat dan selamat pula seluruh penumpang kapal itu!” (Shahih Bukhari dan Tirmidzi)

Penyebab terjadinya banjir dan bencana longsor di berbagai pelosok negeri kita ini antara lain sama seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Saw di atas. Sebagian masyarakat di dalam suatu lingkungan tertentu tidak mencegah sebagian masyarakat lainnya yang melakukan penebangan liar atas hutan-hutan yang berada di sekitar mereka. Kekejian dan ketamakan yang telah memabukkan sebagian masyarakat menjadikan mereka sedemikian lupa diri dan dengan sewenang-wenang mereka “menzalimi” alam (hutan), dengan membabat habis pepohonan yang sebenarnya merupakan pelindung bagi manusia itu sendiri.

Ketika semua ini telah jauh melampaui batas, maka alam pun mengamuk murka atas perbuatan zalim saudara kecilnya yang tak tahu diri ini. Sebagian masyarakat yang tidak melakukan penebangan liar pun akhirnya menjadi korban amuk murka alam. Hal ini sama seperti para penumpang kapal yang tidak mau peduli atas apa yang dilakukan penumpang lainnya yang melubangi lambung kapal demi kepentingan mereka sendiri tanpa menghiraukan bencana yang bakal terjadi akibat perbuatan bodoh yang mereka lakukan.

SEKADAR MUSIBAH ATAU MURKA TUHAN?
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS al-Anfal [8] ayat 25)

Kaum spiritualis percaya bahwa ALAM ini adalah saudara besar manusia. Mereka menyebut alam sebagai Makrokosmos, dan manusia adalah Mikrokosmosnya. Hubungan keduanya adalah hubungan yang tak dapat dipisahkan, karena keduanya saling mempengaruhi, baik langsung maupun tidak langsung. Perbuatan-perbuatan manusia berpengaruh langsung pada Alam serta lingkungannya.

Jika manusia kerap berbuat hal-hal yang buruk dan keji maka Alam pun menjadi “murka”. Kemurkaan Alam tersebut dikarenakan banyaknya pengaruh kejahatan dan kekejian yang secara langsung maupun tidak langsung merusak tatanan alam. Ketamakan dan keserakahan manusia menjadikan manusia tiada peduli akan keseimbangan alam. Kebanyakan manusia hanya memikirkan keuntungan sebesar-besarnya dan mengeksploitasi alam tanpa batas.

Hanya memikirkan kepentingan ego pribadinya, golongan atau partainya. Akibatnya terjadilah apa yang disebut bencana alam, seperti kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, gempa dan gunung meletus.

Masih banyak orang yang menganggap bahwa bencana alam seperti itu tidak ada hubungannya dengan perbuatan manusia. Padahal dengan tegas dan lugas Allah SwT berfirman, “Telah tampak kerusakkan (al-fasad) di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” (QS Al-Ruum [30] ayat 41)

Menurut al-Raghib, fasad mengandung arti “terjadinya ketidakseimbangan atau ketidak harmonisan” [Al-Raghib al-Isfahani : 379]

Al-fasad di dalam ayat tersebut menurut Allamah Thabathaba’i berkonotasi umum. [Thabathaba’i, Tafsir al-Mizan 16: 205-206]. Yaitu fasad yang mencakup semua bentuk kerusakan berupa hilangnya tatanan yang baik di dunia ini, baik yang dikaitkan dengan kehendak manusia maupun yang tidak. Misalnya gempa, kemarau, banjir, wabah penyakit, perang, perampokan dan segala bentuk yang mengganggu ketentraman kehidupan manusia.

Segala kejadian seperti itu termasuk peristiwa-peristiwa alam dianggap sebagai akibat ulah manusia. Baik langsung maupun tidak langsung manusialah yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi kejadian-kejadian seperti itu sebagai pertanda murka Allah terhadap manusia yang larut dalam kemungkaran. Sebagaimana penegasan al-Quran, “Andaikata kebenaran (al-haq) itu menuruti hawa nafsu mereka pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya” (QS al-Mukminuun [23] ayat 71).

Seandainya manusia menjadikan hawanafsu sebagai tolok ukur kebenaran maka pastilah hancur binasa seluruh tatanan alam semesta ini. Sebaliknya al-Quran pun memandang bahwa keutuhan tatanan alam semesta ini pun berkaitan erat dengan ulah dan tingkah laku manusia. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS al-A’raaf [7] ayat 96)

Imam Ja’far ash-Shadiq as juga mengatakan, “Tidaklah kesusahan, musibah dan penyakit yang menimpa seseorang melainkan karena dosa. Karena itulah Allah SwT berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (QS al-Syuura [42] ayat 30) (Bihar al-Anwar 73 : 315)

Jika Manusia (mikrokosmos) diam membisu melihat kezaliman merajalela, maka Alam (makrokosmos) menggeliat murka memuntahkan kemuakan yg tak tertahankan…

Jika mereka percaya kpd Tuhan dan hukum sebab- akibat (causalita) fisik, mengapa mereka tdk percaya pada hukum sebab-akibat non-fisik?

“Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya,” (QS al-Anfaal [8] ayat 51)

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? . Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS al-Taubah [9] ayat 70)

Ya Allah ampunilah kami yang telah menzalimi diri kami sendiri…nastaghfirullah al-‘azhiim….

Komentar»

1. Ijabi Yogya - Kamis, 11 November, 2010
Quito Riantori - Jumat, 12 November, 2010

silahkan…

2. Luengsa - Kamis, 13 Januari, 2011

Tulisan yang bagus. Saya tertarik mengomentari tentang shalat- Penulis menyebutkan bahwa dosa org yg tidak sholat merupakan dosa pribadi. saya setuju dengan hal ini secara sepihak karena bisa jadi memang org tuanya atau yang membesarkannya sudah mengajarkan sholat tapi kemudian dia tidak melakukannya.

Namun efek yg terbesar dari sholat adalah akhlak yang akan berpengaruh luas kepada masyarakat. Bukankah sholat mencegah keji dan mungkar?

Dan org org yang korupsi, manipulasi dan apapun kejahatan yang disebut sebagai kejahatan sosial merupakan perbuatan keji dan mungkar.

Jaminan yang Allah swt sebutkan dan Rasulullah saw pernah khabarkan bahwa seseorang yg datang kepada Beliau saw mengabrakan bahwa ada seorang yang mencuri dan kemudian Beliau saw bertanya kalau org tersebut sholat dan dijawab “YA”, maka kemudian Beliau saw bersabda bahwa sholatnya akan memperbaikinya.

Bukankah di sini peran sholat sangat besar?
Dan jika manusia manusia ini memang benar benar melakukan sholatnya secara benar, maka kejahatan kejahatan pribadi dan kejahatan sosial tidak akan terjadi. Karena Allah swt dan RasulNya sudahpun menjaminnya.

Jadi sholat merupakan dasar yg perlu dibina sejak dini, serta perlu terus ditingkatkan kadar kualitasnya. Terutama sholat yg dilakukan bejemaah.

Perhatikanlah kepada daerah yang mesjid mesjidnya penuh di lima waktu sholatnya, kedamaian dan ketentraman akan berada disana. InsyaAllah.

Quito Riantori - Jumat, 14 Januari, 2011

Tulisan saya tidak bermaksd sedikit pun untuk meremehkan shalat, tapi sekadar menekankan bahwa umat Islam lebih memerhatikan hubungan Horisontalnya dengan Tuhan ketimbang hubungan sesama manusia. Semestinya seimbang. Namun begitu mesti diperhatikan bahwa Dosa Sosial lebih besar dan lebih berat ketimbang Dosa Individual semacam meninggalkan shalat dan yg semacamnya.

3. Sayyed Muhammad Alsukoni - Minggu, 23 Januari, 2011

Assalaamualaikum wr wb…

Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, banyak yang shalat, kenapa kemungkaran masih dilakukannya ? Sesungguhnya shalat yg diterima Allah adalah shalat yang diikuti oleh kalbu. Latihlah kalbu, dia ibarat bayi yg perlu disusui, diajak bicara, sampai pada tingkatan kalbu itu memerintah lisan. Tahap awal sungguh sulit, tapi dgn latihan hal yg sulit bisa menjadi mudah. Bila shalat sdh hadir dalam kalbu, maka itulah baru namanya mendirikan shalat. Shalat yg dilakukan dgn kehadiran kalbu pasti shalat itu butuh waktu, jiwa bergetar, dan rasa kenikmatannya luar bisa. Salah satu contoh dan caranya= Allahu Akbar dimulut, langsung hati mengikuti Allah Akbar, dan seterusnya sampai shalat selesai. Lama kelamaan mulut anda tdk usah lagi bergerak, hanya hati….(melalui latihan hari demi hari, bln demi bulan)….ingatlah setan tdk tinggal diam, dia akan mengajak pikiran utk keliling dunia, bila sdh demikian, tarik kembali pikiran anda kedalam kalbu, agar bacaan shalat tetap dibawah kuasa kalbu….Demikianlah shalat para anbiyya, wali, dan org2 saleh. Bila gagal mintalah pertolongan Allah….agar shalat kita hari demi hari dibawah bimbingan Allah.

4. supardi, S.Pd - Kamis, 17 Februari, 2011

ARTIKEL YANG AMAT BERMANFAAT


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: