jump to navigation

Menaklukkan Ego: Mungkinkah? Kamis, 13 Januari, 2011

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

Quito R. Motinggo

DI DALAM kitab Mizan al-Hikmah diriwayatkan sebuah hadits bahwa seseorang bernama Majasyi’ datang kepada Rasulullah saww dan bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana jalan menuju pengenalan kepada Allah (al-Haq)?”
Rasul saww menjawab, “Pengenalan diri (nafs).”
Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara menyesuaikan diri dengan Allah?”
Rasulullah saww menjawab, “Menyelisihi ego (nafs).”
Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana jalan menuju keridhaan Allah?” Jawab Nabi Saw, “Membenci ego (nafs)”
Dia bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara untuk sampai kepada Allah?”
Jawab Nabi Saw, “Hijrah dari ego (nafs)”
Orang itu masih bertanya lagi, “Wahai Rasulullah bagaimana jalan untuk taat kepada Allah”
Jawab Nabi Saw, “Menentang ego (nafs)”
Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara berzikir kepada Allah?” Jawab Nabi Saw, “Melupakan ego (nafs)”
Dia terus bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara mendekat kepada Allah?” Jawab Nabi Saw, “Menjauhi ego (nafs)”
Dia bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara berakraban dengan Allah?”
Nabi menjawab, “Melepaskan diri dari ego (nafs)”.
Sampai pada akhirnya orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana jalan untuk mencapai-Nya”
Rasulullah Saw menjawab, “Memohon pertolongan kepada Allah di dalam mengatasi ego (nafs)” [1]

Buanglah seluruh keakuanmu,
karena ia tidak lain adalah rumput liar dan belukar
Pergilah, bersihkan relung hatimu,
tatalah sebagai tempat semayam Sang Kekasih.
Ketika kau beranjak, Dia akan masuk,
dan kepadamu, dengan keakuan yang terbuang,
Dia kan menyingkap Keindahan-Nya.

~ Mahmud Syabistari, Kebun Mawar Rahasia (Gulshan i Raz) h. 112,

Kalimat Laa ilaha illallah adalah kalimat pembebasan dari belenggu ketundukkan kepada siapapun termasuk kepada hawa nafsu dan ego kita sendiri.

Orang yang bodoh berusaha melindungi egonya, ia tak ingin dan tak mampu melihat keadaan sebagaimana adanya. Orang yang tidak tahu dan tahu bahwa ia tidak tahu jauh lebih baik daripada orang yang sok tahu, karena orang yang pertama lebih terbuka terhadap pengetahuan. Orang yang egois dan mementingkan diri sendiri lebih suka menyembunyikan ketidaktahuannya daripada mengakui bahwa dirinya tidak tahu. [2]

Kebenaran berarti bahwa kita datang dari hal yang tak diketahui dan kita akan kembali kepada hal yang tak diketahui itu; sepanjang perjalanan ini, tugas kita adalah mencari tahu.

Imam Ali as mengatakan, “Iblis telah menyembah Allah selama enam ribu tahun, yang kita tidak tahu apakah itu merupakan tahun dunia ini atau tahun akhirat” [3]

Iblis telah menyembah Allah selama enam ribu tahun, tetapi hakikat sujud dan penyembahannya tidaklah kepada Allah. Pada lahirnya Iblis bersujud kepada Allah, tetapi batinnya bersujud dan menyembah dirinya sendiri. Hal ini terbukti ketika ia diuji untuk bersujud kepada Adam as, Iblis menolak dan enggan untuk bersujud kepada Adam as, karena sombong dan congkak. Perintah Allah yang merupakan ujian ini membuktikan bahwa sujud dan penyembahan Iblis selama ini adalah palsu.

Kisah ini menjadi pelajaran yang besar buat diri kita, bahwa hakikat ibadah itu adalah ketaatan dan ketundukkan. Siapapun dengan mudah meletakkan keningnya untuk bersujud di atas tanah, tetapi apakah hati, ego dan hawa nafsu kita juga bersujud dan tunduk kepada Allah, Tuhan Alam Semesta?

Itulah sebabnya dikatakan bahwa berhala yang paling besar yang ada di dunia ini adalah ego dan hawa nafsu kita sendiri. Ego dan hawa nafsu inilah yang kerap membuat kita enggan untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Agung.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah (tuhan) nya?” (QS 45 : 23)

Kita mesti menyadari bahwa kebebasan tertinggi terletak pada pembebasan diri kita dari rantai ego diri kita sendiri. [4]

Jika Dia memancarkan
Cahaya-Nya ke wajahmu,
kau menjadi dekat dengan-Nya
dan menjauh dari keakuanmu
karena berdekatan dengan-Nya
berarti menjauh dari ego-mu.

~ Mahmud Syabistari, Gulshan i Raz (Kebun Mawar Rahasia)

Mereka yang niat buruknya ditampakkan amatlah beruntung, karena ia bisa melihat akal bulus ego dirinya yang tersembunyi dan dengan demikian diberi kesempatan untuk berubah dan berkembang.

Pertanyaan terakhir di dalam hadis di atas (hadis menaklukkan ego), orang itu bertanya lagi kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, bagaimana jalan untuk mencapai-Nya”
Rasulullah Saw menjawab, “Memohon pertolongan kepada Allah di dalam mengatasi ego (nafs)”

Orang-orang yang memahami ibadah secara mendalam akan sadar di dalam kekhusyuan mereka. Untuk sampai pada kondisi ini, hijab berupa penipuan diri dan ego harus disingkap dan dihilangkan. Ini merupakan tugas yang sulit. Setiap orang harus membuka dirinya dengan merenungkan kebenaran: bahwa alam ini, yang termanifestasi sebagai dualitas yang nyata, pada dasarnya terserap oleh Tauhid.

Nisanmu tidak dipercantik oleh batu, kayu atau pun semen,
tapi dengan menggali sendiri kuburan bagi kesucian ruhanimu,
dan mengubur ke-aku-anmu dengan ke aku-anNya,
dan menjadi debu-Nya serta meleburkan diri dalam cinta-Nya,
Hingga nafasmu mengisi dan mengilhamimu…

~ Rumi, Matsnawi III : 128 – 37

(Bersambung)

Catatan Kaki :
1. Mizan al-Hikmah 6:142-143
2. Syaikh Fadhlullah Haeri, Tafsir Surah Ali Imran, ayat 12.
3. Ibid, ayat 17.
4. Imam Ali, Nahjul Balaghah, al-Fayd, h. 779
5. Syaikh Fadhlullah Haeri, Tafsir Surah Ali Imran ayat 54

Komentar»

1. Luengsa - Kamis, 13 Januari, 2011

Bagus sekali artikelnya. Kalau boleh saya tambahkan bahwa ke egoan yg kita miliki merupakan karunia Allah swt juga.

Menurut saya, cara agar ego kita bisa kita pakai utk ke taatan adalah mendidik selubung yg dipakai ego (nafs) yaitu jasmani, dengan cara puasa.

Puasa akan mendidik jasmani mengontrol gerak dan proses yang secara langsung dan tidak langsung akan mempengaruhi nafs (ego) tadi.

InsyaAllah dengan doa dan pertolongan Allah swt kita mencapai kemuliaan sebagai manusia yang dapat mengontrol ego (nafs) kita menuju ketaatan.

2. syarah mugikawuryan - Senin, 28 November, 2011

saya adlh org yg bnr2 ingn mraskn kmbli nikmatnya mengenal Allah, .stlah skian tahun hti d belenggu oleh nafsu yg blm dpt sya redam. .
bgm sya bs kembli pada-Nya lbh dr yg dlu, .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: