jump to navigation

Meracik Ramuan Kebahagiaan Selasa, 18 Januari, 2011

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback


Quito R. Motinggo

“Menjadi bahagia bukan berarti bahwa segala sesuatu yang kita cintai dan miliki mesti sempurna, tetapi adalah kemampuan kita melihat dan memahami secara bijak semua yang berada di balik ketidaksempurnaan yang kita cintai dan kita miliki itu.”

Kita sering dibingungkan dengan perbedaan makna kebahagiaan dengan kesenangan, padahal kesenangan hanyalah ilusi, kesenangan hanyalah bayangan dari kebahagiaan. Dalam banyak kasus orang lebih banyak terjebak di dalam delusi sepanjang hidupnya, setelah sekian lama mencari kesenangan, mereka tidak jua pernah menemukan kepuasan.

Ada seorang bijak yang mengatakan orang yang mencari kesenangan, justru menemukan rasa sakit. Setiap kesenangan disangkanya adalah kebahagiaan dari sisi luarnya, yang seolah menjanjikan kebahagiaan, padahal kesenangan hanyalah bayangan kebahagiaan. Seperti kenikmatan yang banyak disangka merupakan kebahagiaan padahal hanyalah bayangan kebahagiaan bukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Ketika kita menyantap dan menikmati sebuah hidangan yang enak, lalu kita mensyukurinya, maka ketika kita bersyukur itulah kita merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan pada saat kita menikmati santapan tersebut. Hal ini menjadi jelas bahwa kebahagiaan berada di wilayah ruhani bukan berada di wilayah jasmani, sehingga bisa kita katakan bahwa kebahagiaan adalah kenikmatan ruhani, bukan kenikmatan jasmani.

Jarang orang yang menemukan jiwa di dunia ini yang benar-benar mengetahui apa sebenarnya kebahagiaan itu. Kebanyakan manusia selalu menemui kekecewaan dalam upaya mereka menemukan kebahagiaan yang menjadi harapan mereka. Barangkali inilah hakikat kehidupan di dunia yang selalu menipu bahwa jika seseorang kecewa seribu kali ia akan tetap mengambil jalan yang sama, karena ia tidak mengenal jalan yang selain itu.

Semakin kita mempelajari kehidupan, semakin kita menyadari betapa jarang ada orang yang benar-benar jujur bisa mengatakan, “Saya bahagia.”
Hampir setiap orang, apa pun posisinya di dalam kehidupannya, akan mengatakan dia tidak bahagia dalam beberapa cara atau lainnya, dan jika Anda bertanya mengapa, dia mungkin akan mengatakan bahwa itu karena dia tidak bisa mencapai posisi, kekuasaan, properti, harta benda, atau peringkat yang mana ia telah bekerja selama bertahun-tahun.

Mungkin ketidakbahagiaanya adalah karena keinginannya untuk memperoleh pendapatan yang besar tidak terpenuhi, sehingga ia teramat sangat kecewa. Sayangnya, dia tidak menyadari bahwa harta tidak pernah bisa memberikan kepuasan.

Imam Khomeini qs mengatakan, “Orang-orang yg menyandarkan kebahagiaannya pada kesuksesan duniawi pasti berhadapan dengan penderitaan dan keletihan batin dan takkan pernah mengenyam ketenangan dan kedamaian. Ketika mereka menghadapi kesulitan dan musibah, ambruklah vitalitas dan kesabaran mereka di hadapan peristiwa2 yg mereka hadapi.” (Telaah 40 Hadis, Hadis Ttg Rezeki, h. 684.)

Mungkin juga ketidakbahagiaannya disebabkan ia mencintai seseorang yang justru tidak mencintainya. ‘Ala kulli hal, bisa ada seribu alasan lebih mengapa manusia tidak bisa berbahagia.

Mereka yang tidak mengetahui rahasia kebahagiaan sering di dalam jiwanya berkembang sifat tamak. Ia ingin ribuan, dan ketika itu terpenuhi ia merasa tidak puas, lalu ia pun ingin jutaan dan ketika sampai pada apa yang diingininya ia tetap merasa tidak puas, ia ingin lebih, lebih, lebih dan terus lebih. Tak ada habis-habisnya!

“Kita cenderung melupakan bahwa kebahagiaan tidak datang sebagai akibat mendapatkan sesuatu yang sebelumnya tidak kita miliki, melainkan dari mengenali dan menghargai yang apa yang sudah kita miliki.”

Jika Anda memberi rasa simpati kepadanya disertai pelayanan yang layak, ia masih merasa tidak bahagia, bahkan jika Anda menyerahkan semua yang Anda miliki, ia tetap merasa tidak cukup, bahkan cinta Anda pun tidak dapat membantunya, karena ia mencari kebahagiaan ke arah yang salah, dan akhirnya kehidupannya sendiri menjadi sebuah tragedi.

“Contentment is natural wealth, luxury is artificial poverty” – “Kepuasan adalah kekayaan yang alami, sebaliknya kemewahan adalah kemiskinan artifisial.”
~ Socrates

(Bersambung)

Iklan

Komentar»

1. luengsa - Selasa, 18 Januari, 2011

Artikel yang menarik untuk tidak hanya dapat dibaca dan terlebih untuk coba diterapkan dalam kehidupan kita, sehingga hasilnya akan nampak dan tentu saja teori kadang tidak sama dengan praksisnya. Yang utama adalah mencoba sekuat daya upaya kita.

Saya perlu tambahkan sedikit saja, bahwa sesungguhnya kebahagiaan dan puncak kebahagiaan itu terletak pada saat kita dapat mengontrol ke egoan kita. Dimana kadang kebahagiaan itu kita dapatkan dari seseorang yang kadang kita lupa apakah hal ini juga dirasakan oleh org tersebut.

Pernahkan kita ketika bangun pagi berniat “Apa yg dapat aku lakukan hari ini agar aku dapat membahagiakan pasanganku, anakku ??”

Semoga bermanfaat…

2. anang nurcahyo - Kamis, 20 Januari, 2011

nasehat luar biasa untuk memulai hari yang baru, trima kasih bnyak

3. apakah cinta sejati benar-benar ada di dunia nyata ini? :: Membesarkan Payudara - Minggu, 13 Februari, 2011

[…] Meracik Ramuan Kebahagiaan « Somewhere Over The Rainbow […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: