jump to navigation

Sayyidah Fathimah & Husain Kecil (1) Rabu, 26 Januari, 2011

Posted by Quito Riantori in All About Ahlul Bayt.
trackback


Wajah teduhnya bercahaya,
Bekas air wudu seakan tak kering dari kulitnya
Matanya menunduk penuh kerendahan-hati
seorang hamba Tuhan yang sempurna
Bibirnya bergerak terus melantunkan zikir
Dia tetap bekerja layaknya perempuan biasa
Tak pedulikan nasab mulianya
Bilal menitikkan airmata memandang putri Nabi
satu-satunya itu,

Bilal mencoba menawarkan tenaganya untuk membantunya
Senyum perempuan suci itu mengembang indah
“Tak perlu, Bilal, ini tak seberat menggilng gandum.”

Putranya, Husain kecil terus mengikutinya dari belakang
Tak lepas pandangannya memandang bundanya yang penuh cinta
Sesekali, Fathimah menoleh ke putra tercintanya,
“Hai pahlawan!” seru Fathimah lembut
“Hai bundaku kesayangan kakek!” balasnya
Dibelainya rambut putranya, dikecup keningnya,
Tak terasa airmata Fathimah menetes di wajah Husain kecil,
Husain kecil terkejut, sambil mengusap airmata suci itu
“Mengapa bunda menangis?”
Fathimah berhadap-tatap dengan putranya yang masih
melihat genangan airmata mengambang di pelupuk mata bundanya,
“Suatu waktu kita kan berpisah, anakku…”
“Mati? Bukankah itu hal biasa, Bunda?”
“Kematian seorang pahlawan sepertimu tak mungkin biasa, anakku..”
“Bukankah karenanya aku masuk surga, Bunda?”
“Tentu, anakku..”
“Bukankah kematian seorang pahlawan di medan perang sangat mulia, Bunda?”
“Tentu, anakku…” Fathimah menunduk menahan tangisnya.
“Tapi, kenapa Bunda malah bersedih?”
“Seorang pahlawan sepertimu berbeda, anakku…”
“Apa bedanya?”
“Engkau seorang pahlawan yang berjuang ketika kerusakan moral sudah sedemikian kritis, tapi pendukung sejatimu hanya sedikit, malah engkau dikhianati sebagian pengikutmu…inilah yang menyedihkan penduduk bumi dan langit.”
“Malaikat?”
“Ya”
“Mangapa mereka tidak menolongku, Bunda?”
“Engkau yang telah dewasa kelak kan menolak bantuan mereka seraya berkata: “Wahai para malaikat mulia, ini adalah perjuanganku, perjuangan manusia dan kemanusiaan, bukan perjuangan kalian para malaikat…Hebat bukan, apa yang engkau ucapkan kepada mereka?” Fathimah semakin tersedu.
Husain kecil mengangguk seolah mengerti apa yang diucapkan Bundanya.
Fathimah memeluknya.
Tangisnya tumpah ruah, Husain kecil mempererat pelukannya.

Salamun ‘alayka ya Husain…Salamun ‘alayka ya Fathimatuz Zahra
Salamun ‘alaykum ya Ahlal Baytar Rasulullah…
Isyfa’ lanaa ya habibinaa…

Komentar»

1. fidya - Rabu, 26 Januari, 2011

Allahumma shalli ala muhammad wa ali muhammad…

2. yodi - Kamis, 27 Januari, 2011

Allahumma shalli ala muhammad wa ali muhammad
izin Share ya Mas…

3. Quito Riantori - Jumat, 28 Januari, 2011

silahkan…

4. fidya - Jumat, 28 Januari, 2011

Pak kok profile facebook ny tdk bs d buka ya?

Quito Riantori - Senin, 31 Januari, 2011

sudah saya buka lagi…

5. bintangzohra - Minggu, 13 Februari, 2011

Allahumma ssalli a’la muhammad wa a’la ali muhammad
selamat menyambut maulidur rasul

6. Sayyidah Fathimah & Husain Kecil (1) (via Somewhere Over The Rainbow) « BintangZohra's… - Minggu, 13 Februari, 2011

[…] Wajah teduhnya bercahaya, Bekas air wudu seakan tak kering dari kulitnya Matanya menunduk penuh kerendahan-hati seorang hamba Tuhan yang sempurna Bibirnya bergerak terus melantunkan zikir Dia tetap bekerja layaknya perempuan biasa Tak pedulikan nasab mulianya Bilal menitikkan airmata memandang putri Nabi satu-satunya itu, Bilal mencoba menawarkan tenaganya untuk membantunya Senyum perempuan suci itu mengembang indah “Tak perlu, Bilal, ini tak seb … Read More […]

7. bchree - Senin, 14 Februari, 2011

mari jadi bunda fatimah dan pejung tanggu layaknya husain

8. SITI FATIMAH AHMAD - Selasa, 22 Februari, 2011

Assalaamu’alaikum saudara Quito….

Teladan dialog di atas, cukup menggegar hati walau tidak pernah bertemu tetapi terasa dekat sekali. Indahnya pesan bunda Fatimah dalam kesayuan dibalas penuh semangat tanpa takut oleh sang pahlawan islam yang terkenal ini.

Semoga kita bisa mengambil teladan dari bicara kedua2 ahli bait tersebut.

Salam hormat dari saya di Sarikei, Sarawak.

Quito Riantori - Rabu, 23 Februari, 2011

Salam hormat kembali…

9. bintangzohra - Selasa, 15 Maret, 2011

Assalamualaikum pak Quito,
Adakah lagi sambungan kisah ini?

Salam,
Bintangzohra, Singapura

Quito Riantori - Kamis, 17 Maret, 2011

@bintangzohra
Wa’alaykum salam wr wb
Belum tahu…hehe

10. haidar - Senin, 11 April, 2011

Labaika Ya Husain


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: