jump to navigation

Jalan Penghambaan Selasa, 29 Maret, 2011

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback


Ibadah, bagi sebagian besar orang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Hanya saja bagi mereka menjadi semacam beban yang lambat laun kehilangan ruh dan maknanya. Ibadah ritual sekadar menjadi suatu rutinitas yang kering dan tidak memiliki potensi mengubah pribadi bahkan moral bagi pelakunya. Padahal, sejatinya seperti shalat, bisa menjadi media untuk membentuk pribadi yang luhur dan mulia.

Al-Quran menyebutkan, “…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS al-Ankabut [29] ayat 45)

Sudah banyak buku yang membahas tentang ayat ini, tetapi masih banyak yang belum menyentuh esensi dari permasalahannya, yaitu hakikat ibadah. Membahas tentang shalat berarti membahas tentang ibadah yang menjadi esensi dari shalat itu sendiri. Lalu apa esensi atau hakikat ibadah itu sendiri?

Tidak ada seorang makhluk pun yang dipandang lebih mulia di mata Tuhan ketimbang seseorang yang benar-benar tulus dalam pengabdian, pelayanan, ketaatan dan penghambaannya kepada Tuhannya. Tidak ada satu pun maqam ruhani yang lebih tinggi daripada maqam keberhambaan (‘ubudiyyah).

Dengan alasan inilah Tuhan Yang Maha Kuasa mensyaratkan setiap orang yang ingin memeluk Islam agar bersaksi (syahadat) dengan kalimat yang indah yang menyebut ke-hamba-an kekasih Tuhan, Muhammad : Asyhadu an laa ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu :
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan pesuruh-Nya. Tuhan memahkotai penghambaannya dan memberkatinya dengan risalah-Nya.

Pada kesempatan lain, Allah SwT bahkan mengundang hamba-Nya yang mulia ini melampaui ruang dan waktu, menembus dimensi-dimensi ciptaan-Nya dengan memperjalankan (isra’) sang hamba pada suatu malam.
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…” (QS al_Isra’ [17] : 1)
Dalam hal ini, perlu dicatat bahwa Dia mempertalikan “hamba-Nya” dengan pernyataan keesaan (melalui term “pengagungan”
Dengan demikian terbentuklah suatu acuan kepada kebesaran yang tanpa tanding atas penghambaannya. Betapa yang paling bermakna adalah di mana suatu peristiwa ruang dan waktu seolah masuk ke dalam Ketakterbatasan dan Cahaya Rahmat Ilahi serta Keindahan-Nya Yang Meliputi segala eksistensi. Seluruh eksistensi tersebut mengucapkan selamat datang kepada sang hamba, dan Tuhan Yang Maha Kuasa menekankan totalnya penghambaan beliau, lalu menyatakan,” Dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa-apa yang Dia wahyukan” (QS al-Najm [53] : 10)

Imam Ali bin Abi Thalib asa berkata, “Cukup menjadi kebanggaan bagiku di mana aku menjadi hamba-Mu!” (Bihar al-Anwar 9 : 94, hadits no. 10)

Komentar»

1. teguh - Jumat, 1 April, 2011

pantaskah diriku ini menempuh jalan penghambaan

semoga masih cukup usiaku…

yaa kariim…karunikanlah diri ini

dzolamtu nafsi…

2. Syafuan Nur - Kamis, 26 Mei, 2011

Rendah tapi tinggi, tinggi tapi rendah, sebuah keadaan/gambaran bagi makhluk, kalau ingin sempurna, penghambaanlah jalannya. Jangan lihat arti kata (apalagi pengertiannya oleh orang umum), tapi lihatlah maknanya, siapa dibalik layar semua itu ?,
Siapa didalam semua itu ?
Bagus, saya setuju dan sepemikiran


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: