jump to navigation

Doa Harian Di Bulan Ramadhan Senin, 8 Agustus, 2011

Posted by Quito Riantori in Berita Buku, Breaking News.
trackback


“Prayer changes things? No! Prayer changes people, and people change things.”
~ Burton Hills

Salah satu kekuatan doa adalah kemampuannya mengubah sang pendoa menjadi lebih optimis, lebih kuat, dan lebih percaya diri. Kekuatan inilah yang menggerakkan sang pendoa untuk berbuat sesuatu yang sesuai dengan ilham yang datang seiring dengan doanya yang khusyuk.

Doa adalah kehendak. Ia adalah rentangan kehendak dan hasrat; pemantapan tiang-tiang keyakinan serta pelestarian kehendak. Jika tidak demikian, maka jiwa akan tetap bersimpuh dalam pasungan materi dan fisik yang nista dan menjijikkan.

Siapakah sang pendoa itu? Dia adalah personal dengan segenap potensi, cinta, keguncangan dan kelembutan dirinya mengharapkan sesuatu. Dialah orang yang menyingkap betapa jauh jarak antara modus being dan becoming yang harus ditempuhnya. Intinya, di dunia ini manusia selalu dilingkupi dua corak keberadaan atau dua modus ontologism yaitu being dan becoming. Being merujuk kepada keadaan yang telah dimiliki manusia baik secara spiritual, kognitif, mental, psikologis, maupun material. Sedang modus becoming merujuk kepada proses manusia yang sedang meningkatkan dirinya menuju kepada sesuatu yang semestinya. (Ali Syari’ati, al-Du’a)

Orang yang benar-benar berdoa adalah orang yang mengalami guncangan dan bergetar karena menginginkan sesuatu. Dia merindukan sesuatu, membutuhkan, kehausan dan merintih.
“Atau siapakah yang memperkenankan orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan ? Amat sedikitlah kamu mengingati (nya)” (Quran Surah al-Naml [27] ayat 62)
Doa yang benar berisi sebuah jiwa yang kehausan dan kasmaran, yang menjadi mikraj keabadian, pendakian ruhani menuju Yang Maha Mutlak, sebuah perjalanan melampaui dinding-dinding pembatas keluar dari alam fisik. (mundus sensibilis).

Bulan Ramadhan adalah sebuah momentum yang paling berharga bagi kaum Muslim untuk melakukan doa. Karena selama bulan Ramadhan berlangsung pintu-pintu langit terbuka. Ini artinya kesempatan pengabulan dari Yang Maha Pengasih sangatlah besar. Inilah sebuah momen yang tak boleh dilewatkan begitu saja oleh para pencari kebahagiaan, berkah dan pengampunan. Di dalam doa-doa yang diajarkan Nabi Saw dan Ahlul-Bayt Nabi selalu ada pelajaran berharga yang bisa dirasakan selama sang pendoa berdoa sejauh ia meresapi makna dari kata-kata yang tertulis. Seiring makna yang meresap ke dalam sanubari kalbu sang pendoa, keyakinannya pun tumbuh, jiwanya diperhalus, batinnya diperteguh, kesabarannya dipertebal dan terakhir tawakkalnya semakin kokoh tertanam di segenap relung jiwanya.

Kadang doa juga disebut sebagai munajat, karena doa yang sebenarnya bukan sekadar permintaan atau permohonan tetapi juga sebuah percakapan atau dialog. Dialog antara sang hamba dengan Yang Maha Terkasih. Doa semestinya menjadi hubungan mesra antara sang hamba yang gemar berdoa dengan Sang Terkasih, Yang Maha Rahman lagi Maha Rahim. Sesungguhnya Allah mencintai hamba-hambaNya yang gemar berdoa. Rasulullah Saw bersabda, “Allah mencintai orang yang terus-menerus dalam berdoa.” (Nahjul Fashahah, hadis no. 800).
Nah, saat bulan Ramadhan ini adalah saat yang paling tepat, yaitu ketika kemurahanNya disebarkan dan ditebarkan kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari rahmat dan belas-kasihNya. Ini pula kesempatan bagi kaum Muslim untuk mencari keridhaan dan cintaNya.
Rasulullah Saw bersabda, “Tiga orang yang doanya berhak tidak ditolak Allah: orang berpuasa hingga berbuka, orang teraniaya hingga beroleh pertolongan, dan orang bepergian hingga kembali.” (Nahjul Fashahah, hadis no. 1249.)

Inilah momen untuk beramal ibadah dengan amalan-amalan ritual dan sosial. Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa beliau sangat gemar bersedekah selama bulan Ramadhan. Rasulullah Saw sendiri bersabda, “Sedekah itu menolak 100 kejelekan” (Bihar al-Anwar 96:124)

Doa membawa kita ke setengah jalan menuju Allah,
puasa membawa kita ke halaman gerbang istana-Nya,
dan sedekah memberikan kita izin untuk memasuki istanaNya.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: