jump to navigation

MARTIN BUBER DAN TEORI DIALOG Rabu, 13 Agustus, 2014

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

Prof. DR. KH. Jalaluddin Rakhmat

Salah satu tema besar dalam filsafat komunikasi ialah mencoba menjawab pertanyaan “how do we know”, bagaimana kita tahu kalau komunikasi kita telah berhasil mengikat hubungan kita dengan sesama manusia dan memperluas wawasan individual kita. Bagaimana komunikasi melewati tujuan-tujuan individual dan meningkatkan the sense of community.

Dan tokoh terkenal yang menjawab dua pertanyaan besar dalam filsafat ini adalah Martin Buber. Martin adalah seorang Jerman, sebetulnya berasal dari sebuah daerah di Austria yang juga menggunakan bahasa Jerman.

Pada waktu kecil, ibu Martin Buber melarikan diri ikut suami yang lain, atau mencari suami yang lain sebagai pengganti ayah Buber. Dan Buber sebagai korban broken home dititipkan kepada kakeknya yang tinggal di sebuah daerah, di Austria. Ketika Martin yang kecil ini bersama kakeknya, ia diasuh oleh seorang baby sitter, dan Martin curhat kepada baby sitternya, lalu baby sitternya mengatakan bahwa kamu sebetulnya tidak pernah berjumpa dengan ibumu, kamu boleh jadi bertemu dengan ibumu, tapi kamu tidak pernah berjumpa dengan ibumu. Lalu dari pertemuan itulah, Buber melahirkan teori dialog.

Dia mengatakan ada dua pertemuan, yang untuk itu ia menciptakan kata-kata baru dalam bahasa Jerman, ada pertemuan yang sekedar pertemuan alamiah biasa saja, seperti pertemuan ibu dengan tukang sayur di pinggir jalan yang lewat di rumahnya, atau pertemuan kita di mobil dengan teman yang duduk satu barisan kursi, pertemuan itu dia sebut “vergegnung”, yang sebetulnya tidak ada dalam bahasa Jerman kata tersebut. Kata “vergegnung” ia ciptakan itu untuk membedakan dengan pertemuan seluruh diri kita dengan seluruh pribadi kita, bukannya pertemuan luar saja tapi pertemuan seluruh pribadi kita, ia menyebutnya dengan istilah Jerman “begegnung” .

Dan sebetulnya hakikat dari kemanusiaan kata Buber ialah kemampuan untuk menciptakan situasi begegnung, yaitu ketika kita berjumpa dengan orang lain dalam suasana dialog, ketika kita berdialog/berjumpa dengan orang lain, kita melibatkan seluruh diri kita bahwa kita siap untuk berubah karena proses pertemuan itu.

Ketika ibu rumah tangga berjumpa dengan tukang sayur yang lewat di rumahnya, tidak ada perubahan pada diri tukang sayur dan ibu rumah tangga itu, itu hanya pertemuan selintas saja berdasarkan kepentingan, si ibu ingin membeli sayuran dan tukang sayur itu ingin menjual sayurannnya, jadi pertemuan itu hanyalah pertemuan kepentingan untuk tujuan masing-masing, tidak ada perubahan dalam diri kedua orang yang berkomunikasi tersebut. Dan Buber menyebutkan pertemuan yang merubah diri kita betapa pun pendeknya adalah “begegnung”. Pertemuan yang selintas itu adalah begegnung.

Boleh jadi ada suami istri yang selama ini bertemu tapi pertemuannya hanyalah pertemuan vergegnung, dan bukan pertemuan begegnung. Sekiranya istri saya mengalami perubahan besar dalam hidupnya karena kehadiran saya dalam kehidupan dia, yang terjadi adalah begegnung, dan itu kata Buber adalah komunikasi yang paling ideal yang merupakan esensi dari kemanusiaan kita. (Transkripsi dari youtube by. A.Safri Bachtiar)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: